Mudahnya Mencari Teman, Sukarnya Diingat dan Mengingat

By On Thursday, January 26th, 2017 Categories : Artikel

Di era teknologi komunikasi dan jejaring sosial di dunia maya, berteman dan mendapatkan teman baru adalah hal yang lebih mudah dari masa – masa sebelumnya. Pertemanan dimulai hanya sekedar diawali dengan menekan tombol ‘undang’, ‘ikuti’ atau ‘tambah’. Lalu setelah itu, komunikasi akan berjalan lancar dengan sarana online chatting, voice call atau bahkan video call. Kemudahan fasilitas antar userini layaknya bertemu muka secara nyata.

Tak hanya memfasilitasi kemudahan berkomunikasi, jumlah teman, pengikut atau koneksi, di masing – masing akun media sosial yang dipunyai, tak bisa dipungkiri masih dipandang sebagai bukti seseorang memiki ketenaran atau setidaknya menunjukkan seseorang memiliki banyak pertemanan. Walaupun mungkin saja, dari ribuan teman yang dimiliki hanya sedikit saja yang rutin berinteraksi secara langsung bahkan dikenal secara akrab.

Seserius apa seseorang menjalin pertemanan dengan orang lain di dunia maya, sebenarnya bergantung kepada niat masing – masing individu saat di awal pertama kali membuka akunnya. Niat ini pulalah nanti yang akan ‘tampak’ kentara saat seseorang tersebut secara rutin berakivitas di dunia maya. Ada yang secara ketat membatasi pertemanan dan menyaring dengan sedemikian rupa segala hal yang dibagikannya di dunia maya. Namun ada pula yang begitu bebas terbuka menjalin hubungan pertemanan dengan siapapun.

Ada orang-orang yang secara bebas membagikan pernak-pernik kehidupannya di social media. Bahkan mendudukkan dunia maya sebagai dunianya yang kedua. Cerita bahagia, keluh kesah bahkan sumpah serapah ditampilkan bergantian dengan doa – doa. Hingga semua orang yang melihatnya lalu mengernyitkan dahi, bertanya – tanya. Ada apa dengan dia?

Dari beberapa bahasa berkultur Jawa dan Sunda, teman dibahasakan menjadi konco, abdi, batur atau rencang dalam tingkatan ujaran halusnya. Rencang hampir senada dan semakna dengan rewangyang berarti ‘membantu’. Setidaknya dari hal tersebut bisa disimpulkan bahwa keberadaan teman pada dasarnya untuk ‘membantu’. Bantuan bisa berupa tenaga, nasihat, saran, koreksi, kritikan bahkan jikapun hanya dalam sebentuk doa. Dan setidaknya teman tak akan membiarkan teman yang lainnya bersedih, menyandang sengsara atau berduka karena tertimpa musibah. Lebih dari itu, sejatinya seorang teman adalah pengingat juga, apabila teman yang lainnya berbuat yang tidak semestinya dan tidak pada tempatnya. Karena bukanlah teman namanya, jika membiarkan temannya yang lain berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri atau kepada orang lain.

Lalu bagaimana jika nama seorang yang dianggap teman saja, kita lupa? Atau bagaimana pula jika hanya nama saja yang kita ingat, sedang gambaran tentang si pemilik nama saja lupa? Tentunya jika suatu saat bertemu dengan mereka para teman ‘yang kita lupa’ terbukalah saja bahwa kita memang lupa. Karena lupa adalah manusiawi dan hanya teman yang sebenar – benarnya temanlah yang bisa memaafkan kelemahan kita sebagai manusia, walaupun berarti hal itu menunjukkan kenyataan bahwa mereka yang mengingat kita justru kita lupakan.

Mulailah belajar kembali mengingat nama dan wajah teman – teman kita, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Bukankah mengingat lalu mengenali nama dan wajah beberapa teman kita adalah salah satu solusi yang ditawarkan oleh salah satu media sosial, apabila akun kita bermasalah atau tak mengingat kata kunci pembuka?

Seribu teman akan terasa kurang, sedang satu musuhpun sudah terlalu banyak.

Siapa tahu teman – teman yang kecewa karena kita lupa wajahnya atau namanya berubah menjadi musuh kita?