Mimpi Pembawa Jodoh

By On Sunday, March 12th, 2017 Categories : Cerita

Subhanallah, begitu indah cara tuhan mempersatukan cinta…
Tidak memerlukan sebuah alasan…
Tidak pula kesempurnaan…
Tetapi hanya membutuhkan keilkasan yang mendalam…

Malam itu tiba-tiba saya dijumpai seorang laki-laki di tempat yang begitu gelap tak ada penerangan apapun yang ada hanya cahaya kecil terlihat dari lorong-lorong sempit. Laki-laki itu penuh dengan luka dia merintih kesakitan sambil terus-menerus meminta pertolongan, saat itu pula bergulir tetesan peluh yang mulai membasahi sekujur tubuh, saya berlari sekuat tenaga dari tempat itu tetapi sepertinya lelaki tersebut terus mengikuti, sekuat dan secepat apapun saya berlari laki-laki itu tetap saja bisa mengejar… sampai-sampai gludak… aduh badan saya, berasa jatuh dari pesawat lion air kemudian meluncur melewati gunung dan mendarat di atas bebatuan runcing… ternyata benar…! saya terjatuh dari tempat tidur patesan kerasa sakit.

Saya segera bangun dari lantai dan mengambil segelas air minum, jantungku masih berpacu tak beraturan seperti habis memutari stadion GBK atau gelora bung karno bolak-balik 100 kali… Padahal lihat batang hidungnya stadion GBK aja belum… ternyata itu semua hanya mimpi… ya allah pertanda apa ini…! saya segera mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud dan menenangkan diri.

Setelah malam itu tidur saya tidak pernah tenang, mimpi itu terus saja menjumpai, dan masih dengan orang yang sama. Seorang laki-laki dengan tubuh penuh luka… pernah sekali dalam mimpi, saya mencoba bertanya kepada laki-laki itu kenapa dia menjumpai saya bukan orang lain dan apa maksud dari semua ini tetapi tak ada respon sedikit-pun, dia hanya menangis sambil berulang kali meminta pertolongan. Pernah saya berfikir apakah mimpi ini adalah peringatan dari allah, untuk selalu melaksanakan sholat malam, karena jujur saja saya belum bisa istiqomah untuk melaksanakan sholat malam dan karena mimpi itu berkali-kali mengampiri, saya sering terbangun ditengah malam dan kemudian melaksanakan perintahnya.

Kecemasan dan kegelisahan memuncak hingga saya berinisiatif untuk menanyakan hal tersebut kepada ustadzah yang sering mengisi acara pengajian di masjid. Sore itu kebetulan waktu kuliah telah usai, saya segera bergegas menuju masjid tempat biasanya pengajian diadakan, kebetulan pengajian baru dimulai segera saya menyesuaikan diri mengikuti barisan yang sudah tertata rapi. 60 menit berlalu pengajian pun berakhir, sesegera mungkin saya mengambil kesempatan untuk berbincang-bincang dengan ustadzah tersebut. Saya menceritakan kejadian itu kepada ustadzah bahkan pikiran tentang sholat malam juga saya sampaikan. Ustadzah hanya bisa tersenyum setelah mendegar cerita saya.

“ustadzah kenapa senyum…?” celetukku pada beliau “beneran ustadzah mimpi ini berulang kali menjumpai saya…” saya kembali meyakinkan ustadzah atas kejadian itu
“betul dek azna… saya percaya dek azna tidak mengarang cerita atau berbohong kepada ustadzah… tetapi coba dek azna pikirkan mimpi itu adalah bunga tidur, semua orang sering mengalaminya, dek azna tidak boleh mempercayai hal seperti itu, memang… terkadang ada mimpi yang benar-benar terjadi… tetapi itu sangat jarang, coba dek azna koreksi saja dulu mungkin ketika mau tidur dek azna lupa berdoa. Dek azna ambil saja maslahatnya dari kejadian ini, dek azna jadi sering shalat malam, tidak pernah bangun kesiangan…”
“iya ustadzah… saya memang berubah menjadi lebih baik setelah kejadian itu…”

Oh iya kalian semua pasti bertanya-tanya siapa itu azna… saya beritahu sebentar ya… azna itu adalah nama panggilan saya…!

Setelah mendengar nasihat dari ustadzah… saya kemudian berusaha membuang jauh-jauh pikiran negatif itu. Kehidupan saya kembali normal, beraktivitas seperti biasa aktif sebagai mahasiswa dan rutin mengisi acara-acara pengajian disela-sela kesibukan. Sampai suatu ketika saya berjumpa dengan seorang laki-laki yang sangat berbeda jauh dari saya. Berbeda menurut pandangan saya disini bukan tentang bagaiman fisiknya tetapi tentang bagaimana dia bertingkah-laku, cara bersosialisasi dengan sesamanya. Dia itu aneh kayak ansos gitu alias anti sosial. Pertama kali bertemu laki-laki tersebut ketika penerimaan mahasiswa baru, kebetulan saat itu saya menggantikan salah satu senior sebagai senat yang belum bisa hadir karena suatu kepentingan. Dia merupakan mahasiswa transfer dari kampus lain dengan alasan DO atau drop out. Kalau saja dia tidak di DO mungkin sudah semester 5. Jujur sebenarnya saya sering kali menjumpai orang seperti ini tetapi… “hey…” tiba-tiba ada yang menepuk punggung saya dari belakang dan ternyata itu bunga.
“hey kamu…, saya kira siapa… kenapa…? acaranya sudah mau dimulai ya…?”
“belum kok… gabung sama senior-senior di sana yuk, tuh lagi asyik pada bimbing maba (mahasiswa baru)… daripada bengong sendirian di sini…”.

Saya kemudian bergabung dengan para senior-senior yang berada di tengah lapangan, mereka sedang asyik membimbing para maba. Sebenarnya saya sendiri juga binggung mau ngapain, maklum saya belum terbiasa dengan kegiatan seperti ini, memang sudah sering kali mengisi berbagai acara tetapi acara-acara pengajian begitu, jadi beda banget dengan kegiatan seperti ini, lumayan agak canggung. “Kalau aja bukan mbak dara yang minta bantuan nggak bakalan mau ini”.
Baru beberapa menit berdiri di lapangan ada sosok mata yang terus-menerus memandangi saya, yaps… benar ada satu mahasiswa baru dan ternyata sosok itu mahasiswa DO yang baru saja saya ceritakan.

“na bisa bantu…” salah satu senior memanggil… saya segera mencari dan bergegas menuju asal suara, dan kabar buruk datang… ternyata suara itu berasal dari barisan dimana mahasiswa DO itu berdiri.
“iya… kenapa kak…?”
“na bisa tolong gantiin sebentar…? saya dipanggil pak rektor ini…! terserah kamu mau apa, yang penting sesuai jadwal kita…” sambil menyerahkan beberapa lebar kertas
Mau nolak gimana, mau nerima juga tidak enak posisinya… ya terpaksa saya iya’in..!

Di tempat itu saya mencoba untuk seenjoy-enjoynya sesantai-santainya meskipun tak bisa dibohongi kalau itu semakin membuat saya terlihat panik, dan alhamdulilah tidak begitu lama terdengar kumandang adzan menandakan isoma dimulai. Setelah isoma ternyata mbak dara senior yang menyuruh menggantikannya sudah datang, dengan begitu saya tidak harus berhadapan dengan para mahasiswa baru dan bisa segera pulang.

Sore harinya saya hanya diam di kost karena memang sedang tidak ada kegiatan, tiba-tiba ada mbak lina mendatangi kamar saya, mbak lina ini merupakan seseorang yang dipercaya oleh pemilik kost sebagai pengurus. Dia memberitahukan kalau ada seseorang yang mencari. Seketika saya kaget mendengarnya sebelum-sebelumnya tidak pernah ada yang mencari saya apalagi tahu tempat ini, bahkan teman-teman kampus atau rekan-rekan sesama pengajian juga jarang sekali datang mereka biasanya menelepon atau bertemu di suatu tempat, saya berpikir kalau itu mungkin ayah sama ibuk tapi tumben kok tidak memberitahu terlebih dahulu kalau mau datang. Kemudian saya bertanya kepada mbak lina kira-kira siapa yang ingin bertemu, seketika saya terkejut ketika mbak lina mengatakan bahwa orang yang ingin menemui saya adalah seorang laki-laki. Padahal sampai saat ini saya tidak pernah memberitahukan alamat kost ini kepada laki-laki, satu-satunya laki-laki yang tahu hanya ayah saja.

Setelah berbincang-bincang bersama mbak lina saya memutuskan untuk menemui orang tersebut. Saya dibuat binggung pasalnya di tempat yang diberitahukan mbak lina tadi hanya ada seorang laki-laki yang bahkan saya belum mengenalnya dan kali pertama melihat, setelah saya ingat-ingat ternyata orang itu yang di kampus tadi… mahasiswa DO… iya bener masih ingat betul saya dengan tatapannya itu. Spontan saya berpikir kalau orang itu ingin menemui sesorang yang tinggal di kost ini. Tapi yang membuat saya heran… saya tidak pernah lihat dia barengan atau berbincang-bincang dengan seseorang jadi agak aneh kalau dia ingin menemui seseorang di sini.

Setelah tenggak-tengok mencari ternyata tidak ada sosok yang dikatakan mbak lina tadi, saya memutuskan untuk kembali ke dalam, belum sampai 5 langgah berjalan tiba-tiba ada yang memanggil.
“oe…!”
“maaf, ada yang bisa dibantu…?”
“bisa ngomong bentar…” dengan nada yang kurang ajar
“maaf mas mau bertemu siapa?… akan saya panggilkan…?”
“gue tu mau ketemu loe…!”
“saya…? mas siapa ya…? sepertinya saya tidak mengenal mas dan saya tidak pula sedang ada urusan sama mas…?”
“gue yang ada urusan sama loe, mungkin loe nggak ngenal gue tapi gue kenal loe…!”
“maaf saya lagi ada urusan…!” sambil berpaling dari laki-laki tersebut.
“oe… mau kemana loe…? gue belum kelar ngomong main cabut aja loe…?” sambil memegang tangan saya
Tanpa basa basi saya langsung menghempaskan tangannya dan mundur beberapa langkah dari tempat dimana sebelumnya saya berdiri.
“maaf ya mas yang sopan… saya tidak kenal anda jadi maaf sekali saya harus pergi…”
Sebenarnya dari awal percakapan, saya memang tidak suka dengan laki-laki itu.
Baru sekitar 1o langkah saya meninggalkan tempat ini…! tiba-tiba
“gue mau loe nikah sama gue…!”
Seketika saya syok tak bisa bergerak, tidak tahu harus bereaksi seperti apa, pokoknya diam seribu bahasa layaknya patung. Otak dan hati saya semuanya bergejolak yang pertama, saya tidak tahu siapa orang ini yang tiba-tiba muncul, yang kedua dari pertama kali melihat orang ini saya sudah tidak suka sikap dan perilakunya, dan yang ketiga tidak pernah sekali-pun terpikirkan untuk menikah diusia saya saat ini.

“hoe… jawab…” dengan cara bicara khasnya yang selalu kasar.
Disituasi seperti itu saya berusaha untuk tenang dan mencoba berbicara sesopan-sopannya.
“maaf mas sebelumnya, mungkin mas ini salah orang… saya sendiri terkejut ketika mas berbicara seperti itu… ini kali pertama saya bertemu dengan mas bahkan saya juga tidak mengenal nama mas… jadi saya akan anggap pembicaraan yang tadi hanya iseng belaka…”
“bukan gue yang nggak kenal loe.. tapi loe yang nggak kenal gue… dan soal tadi gue nggak bercanda, gue serius…!”
Laki-laki itu tetap kekeuh dengan apa yang diucapkan…! setelah laki-laki itu meninggalkan tempat tadi saya segera menuju ke dalam kamar, saya mencoba meyakinkan diri kalau itu hanya keisengan belaka… tetapi seberapa-pun saya meyakinkan diri tetap saja teringat.

Entah kenapa setelah kejadian itu saya terus saja kepikiran, kemudian saya mencoba untuk meminta nasihat teman-teman. “begini lo awal mulanya tiba-tiba ada orang mendatangi saya dan… begitu ceritanya… bagaimana menurut kalian…?”
“apa saya acuh saja ya, anggap kalau itu cuma perbuatan orang yang kurang kerjaan…?”
“iya saya setuju, kamu saja tidak mengenalnya… mungkin cuma orang iseng itu… dan lagian kita sering mendengar banyak orang-orang di kampus yang membicarakan kalau laki-laki itu tidak baik” komentar ratih
“kalau menurut saya lebih baik kamu cari tahu terlebih dahulu maksud dia seperti itu apa, jangan suudzon dulu sama orang hanya kalian dengar dari orang lain berbicara tidak baik tentangnya lantas kalian juga berpikir seperti itu…” nasihat dari sintia
“iya benar itu.. kita akan coba bantu kamu mencari tahu” sahutan bibah, lutfi dan dinda.

Benar beberapa hari ini kita menyisihkan waktu yang kita miliki untuk mencari informasi tentang laki-laki itu, meskipun kita sempat mengalami kendala tetapi alhamdulilah sedikit demi sedikit kita bisa mendapat informasi itu, mulai dari namanya ternyata laki-laki itu bernama reno, di kampus dia terkenal dengan kebandelannya sering tidak masuk kelas, tidak pernah mengerjakan tugas, selalu membangkang sama dosen bahkan predikat DO sudah melekat di dia. Mendengar hal itu entah saya tidak habis pikir kenapa dia berbuat seperti itu. Belum selesai terheran-heran salah satu teman saya kemudian memberitahukan kelanjutan informasi yang sudah diperolehnya. Saya spontan mengelus dada mendengar perbuatan laki-laki itu, ketika di luar kampus ternyata dia sering mabuk-mabukan dan satu lagi yang membuat saya tak henti-hentinya membaca istighfar (astaghfirullah haladzim) kalau ternyata dia pernah menghuni rutan selama 2 tahun karena tertangkap sedang mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Tak cukup disitu ternyata kedua orangtuanya pun sudah tidak peduli dengan apa yang diperbuat laki-laki itu, mereka hanya tahu memberi uang sebanyak yang laki-laki itu minta. Saya sontak teringat dengan mimpi yang beberapa minggu lalu sering menghampiri, apa mungkin ini semua jawaban atas mimpi itu. Jika memang ini semua kehendakmu ya allah bagaimana saya harus menolong laki-laki itu, pikiran saya terus diusik dengan hal tersebut.

Seminggu berlalu saya belum jua memperoleh jawaban dari semua keresahan itu, ditambah lagi setiap hari laki-laki itu tak henti-hentinya menghampiri saya entah di kampus maupun di kost. Sudah berulang kali saya memberitahukan kepada dia untuk tidak lagi datang dan menemui saya, tetapi tetap saja setiap saya bicara tak pernah digubris ibarat masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Semua itu semakin membuat hidup saya tidak tenang, saya kemudian memutuskan untuk mengambil izin 2 hari untuk pulang. Saya ingin memberitahu orangtua mengenai hal ini.

Sebenarnya pernah sekali terlintas di dalam hati untuk menerima pinangannya, saya ingin melihat dia berubah. Niatan tersebut juga saya sampaikan kepada orangtua, tetapi tanpa mendengar alasan saya mau menerima pinangan itu, orangtua saya langsung menolaknya mentah-mentah, mereka tidak mau saya menikah dengan orang seperti itu. Saya juga sudah sempat mengatakan kepada kedua orangtua kalau saya juga tidak mau menerima tunangan laki-laki itu sebelum dia berubah, tetapi tetap saja dari awal citra laki-laki itu buruk di mata mereka. saya hanya bisa terdiam dan menganggukkan setiap ucapan mereka.

2 hari berlalu saya kembali ke bandung untuk melanjutkan kuliah.
Baru saja tiba di kamar sudah ada yang mengetuk pintu.
“assalamualaikum…”
“waalaikumsalam… mbak lina… ada apa mbak…?”
“maaf na menganggu istirahat kamu… cuma mau ngasih ini…!” menyodorkan sebuah kado.
“tidak apa-apa mbak… ini apa lo mbak..?”
“iya kemaren saat kamu pulang, ada orang yang mencari kamu terus saya bilang kamunya tidak ada, dia nitip ini buat kamu..”
“siapa lo mbak orangnya? mbak lina belum kenal…?”
“oh iya saya lupa tanya namanya, sepertinya orang yang sering datang ke sini menemui kamu itu lo…”
“terima kasih mbak kalau begitu…”
“sama-sama, saya pamit na… assalamualaikum…”
“waalaikumsalam…”.

Selepas kepergian mbak lina, saya menaruh kado tersebut ke dalam lemari. Saya tidak punya hak atas kado itu dan berniat untuk segera mengembalikan. Saya masih bimbang dengan keputusan apa yang harus saya ambil di satu sisi saya tidak mau durhaka kepada orangtua dengan membangkang mereka tetapi di sisi lain saya juga ingin membantu laki-laki itu supaya kembali kejalan yang benar, malam itu saya berusaha meminta petunjuk dari allah dengan melaksanakan shalat istikharah. alhamdulilah, malam itu juga saya mendapat ilham dari allah melalui mimpi. Dan karena petunjuk itu saya bisa tenang dan iklas untuk mengambil keputusan.

Seperti biasa pagi-pagi sekali saya sudah berangkat ke kampus, pagi itu memang aktivitas terbilang cukup padat… disela-sela menunggu dosen saya berusaha untuk mencari dia, sebenarnya tidak ada maksud apa-apa hanya ingin mengembalikan hadiah kemarin dan memberikan kepastian. Sebenarnya untuk bertemu reno itu tidak sulit cukup datang ke area bebas rok*k pasti ketemu. Benar dia sedang duduk sendirian dengan ditemani sebatang rok*k di tangannya. Asap-asap pembunuh itu berterbangan kesana-kemari mengincar hidup mereka, tetapi dengan acuhnya mereka malah menikmati.

Sesampainya di tempat itu saya binggung harus memulai pembicaraan dari mana, alhamdulilah setelah mengembalikan kado pemberiannya kemarin sontak membuatnya membuka pembicaraan, dia kaget mengapa kok hadiah ini dikembalikan… saya menjelaskan alasan kenapa hadiah itu tidak bisa saya miliki… bahwa saya tidak bisa menerima sesuatu dari orang yang bukan mahram saya. Agaknya dia dibuat penasran dengan kata mahram. Saya kemudian menjelaskan bahwa mahram kalau untuk seorang wanita adalah orang yang dihalalkan atau diperbolehkan berada di dekatnya baik itu bersifat selamanya maupun tidak diantaranya yaitu sudara laki-laki, ayah, suami, paman. Dia begitu fokus dengan kata suami karena dari keempat hanya satu peluang yang bisa dicapai, dia tidak mungkin di posisi yang tiga itu. “ya udah loe nikah aja sama gue… kan nggak mungkin juga kalau gue jadi ayah, paman atau saudara loe…” celetuknya tanpa pikir panjang. Setelah saya pikir-pikir inilah kesempatan baik untuk memulai pembicaraan panjang ini. ”ren sebenarnya saya mau menerima pinangan kamu… tapi…!” belum saya selesai dia sudah menyautnya… “tapi apa…?”
“saya mau menikah dengan orang yang sama dengan saya…!”
Pernyataan itu membuat reno sedikit emosi.
“maksud loe… gue nggak pantes gitu sama loe nggak pinter, ugal-ugalan… dan bla… bla…” sampai-sampai saya pusing mendengarnya
“bukan ren… bukan maksud saya seperti itu…! saya ingin menikahi orang yang nantinya bisa menjadi iman dan menuntun saya ke jalan allah, siapapun dan bagaimanapun orangnya saya tidak peduli!” “ya udah… loe sama gue nikah aja… gampang kalau itu sih…” dengan entengnya dia berbicara seperti itu. Dari pembicaraan itu saya menegaskan kalau dia siap berubah dan meninggalkan semua kebiasaan-kebiasaan buruknya selama ini, saya dengan ikhlas akan menerima pinangannya selain itu saya juga ingin dia untuk meminta izin kepada kedua orangtuanya secara baik-baik. Dia tidak serta merta menjawab, tidak seperti celotehnya tadi… yang begitu yakin.

2 minnggu berlalu… dan 2 minggu itu pula reno menghilang, dari sikap reno saya berasumsi kalau dia hanya main-main tidak pernah serius dengan ocehannya kemarin. Alhamdulilah kalau demikian saya tidak harus memberikan penjelasan kepada ayah dan ibuk tentang semua itu begitu pikir saya. 2 bulan berlalu… hidup saya kembali seperti biasa tidak ada lagi sang penggemar yang setia menunggu di depan kost dan mengusik dengan celotehannya.

Hembusan angin pagi menemani saya dengan secangkir teh hangat di teras rumah, berbincang-bincang bersama ayah dan ibuk… ya… saya memang sudah di rumah sejak seminggu yang lalu… liburan sambil menanti waktu PPL dimulai. Tiba-tiba terlihat sebuah mobil minibus warna putih berhenti tepat di depan rumah, awalnya saya mengira kalau itu paman atau bibi yang datang berkunjung… tak berselang lama terlihat sosok kaki dengan sepatu berwarna hitam dan kaos kaki dengan warna selaras menuruni mobil… entah ini hanya halusinasi atau fatamorgana saja, saya sepertinya melihat sosok penggemar itu, saya tercengang melihat dia sedang ada di hadapan saya… seketika itu suara saya entah menghilang kemana… hanya bisa terdiam dan memandang wajah itu tanpa henti-hentinya… dia sangat berubah, berbeda sekali dengan pertama kali kita bertemu. Dia kemudian memberi salam kepada kedua orangtua saya, dia juga mengutarakan kalau tujuannya datang untuk meminta restu menjadikan saya sebagai miliknya. Ayah dan ibu saya sangat terkejut mendengarnya… mereka binggung tiba-tiba ada orang datang tidak kenal siapa terus tiba-tiba meminang anaknya. Dengan seketika saya menyela pembicaraan antara reno dengan mereka. Saya hanya ingin meminta penjelasan kenapa dia datang seenaknya setelah selama ini dia menghilang tidak ada kabar sama sekali. Dia kemudian menjelaskan kalau kepergiannya selama ini untuk memenuhi permintaan saya. “Selama 2 bulan ini aku menghilang dari kamu karena berusaha mati-matian untuk berubah meninggalkan semua perbuatan negatifku selama ini, setelah pertemuan terakhir dengan kamu sore itu, aku langsung menemui orangtuaku untuk meminta maaf dan meminta restu mereka agar mengizinkan dan mengikhlaskan aku meminang kamu. Tetapi ternyata orangtuaku tidak mengizinkannya mereka malah menjodohkan aku dengan anak temannya, bahkan mereka mengatakan kalau aku tetap mengambil keputusan itu mereka tidak akan menganggap aku sebagai anaknya lagi. Yang aku pikirkan saat itu hanya untuk memilikimu, aku tidak peduli dengan semua yang dikatakan orangtuaku… malam itu juga aku pergi dari rumah dengan membawa uang 300 ribu… uang itu aku gunakan untuk naik bus yang lewat didepanku saat itu…saya sudah tidak peduli bis itu tujuan mana atau berhenti dimana yang aku tahu hanya ingin pergi sejauh-jauhnya dari rumah, semua orang di tempat itu tidak menerima keberadaanku. Selama satu minngu lebih aku terlantung-lantung di jalanan… tidak punya tujuan tidak ada teman, sampai aku bertemu dengan orang yang sangat baik… orang itu terkenal dengan kebaikan dan kearifannya di daerah situ. Dia memiliki sebuah pesantren… di pesantren itulah awal kehidupanku yang sesungguhnya. 2 bulan aku lalui sangat sulit rasa kebergantunganku terhadap barang haram dan miras masih saja mengikuti… alhamdulilah perlahan-lahan rasa kebergantungan itu mulai menghilang… aku mulai disibukkan sebagai pengajar di pesantren itu dan aku juga dipercaya pemilik pesantren untuk mengelola sebauh toko elektroniknya. Memang nikmat allah begitu indah… obsesiku terhadap kamu lama-kelamaan menghilang… tinggal obsesiku menjadi orang yang lebih baik lagi dan pantas menjadi imammu. Dua minggu terakhir ini aku memutuskan untuk pulang ke bandung dan meminta maaf kepada orangtua karena telah menjadi seorang pembangkang. Perubahanku dinilai positif oleh mereka… tidak hanya tutur kataku tetapi juga perbuatan dan sopan santunku terhadap mereka sangat berbeda. Melihat itu semua mereka tidak lagi memaksakan kehendaknya yang ingin menjodohkanku. Oleh karena itu aku berani datang ke rumah untuk meminang kamu di depan kedua orangtua kita dan ini adalah kado yang sempat kamu tolak waktu. Aku berharap kamu sekarang mau menerimanya”.

Mendengar semua pengorbanan dan kesungguhannya saya kemudian menerima pinangan itu… kedua orangtua saya dan orangtua reno memutuskan kalau keesokan harinya kita berdua melangsungkan pernikahan. Alhamdulillah setelah semua yang dilalui, saya dan mas reno sudah sah menjadi suami istri, hari-hari pernikahan kami begitu indah… saya begitu takjub dengan sikap mas reno yang bisa berubah begitu drastis… kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini mengikatnya kini telah sirna hanya kebiasaan-kebiasaan baik yang ada. Rasa salut saya sama mas reno tak henti-henti… setelah menyelesaikan kuliah strata 1-nya mas reno mengatakan kalau dia ingin membangun sebuah pesantren kecil-kecilan dan memberikan pendidikan gratis untuk anak-anak yang kurang mampu… subhanallah…!

Satu pertanyaan yang selama ini masih menjadi misteri bagi saya… bagaimana mas reno bisa mengenal saya dan keluarga saya… tetapi biarlah ini menjadi misteri buat saya…!