Merah Jambu

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Bukannya aku pernah bilang untuk selalu mengerjakan PR? Harris, kau ini selalu menyusahkan aku!

“Kenapa, Mir?” Tanya Harris, aku menggeleng. Harris kembali mengerjakan PRnya. “Kau lucu.”

Harris. Sungguh, kau bilang apa? Lucu? Harris melambaikan tangannya. “Kenapa, Mir?” Tanya Harris kesekian kalinya. Aku salting lalu menggeleng. aku sih, melamun.

Harris menggeleng-geleng lalu sibuk mengerjakan PRnya kembali. Ris, berbicara tentangmu tidak akan ada habis-habisnya. Kapan wajahmu leyap dari otakku selain tugas numpuk itu?

Kutinggal Harris sejenak ke luar, Harris yang sepertinya sudah usai mengerjakan PR segera menyusul. Ris memang selalu menguntit di belakang.

Aku menghirup udara dalam-dalam. Awan gelap itu membuat murid banyak yang belum datang. Airnya sudah turun sejak sepuluh menit yang lalu dan sekarang sudah makin lebat saja.

“Mir, kamu kenapa sih?” Tanya Harris. Bingung dengan tingkahku tadi. Aku menggeleng lalu membalikkan badan. Bukannya apa-apa, Harris selalu menatapku begitu. Kan, jadinya aku sendiri yang repot menyembunyikan wajah merah jambuku.

“Enggak.” Kataku, Harris, setelah mendapatkan jawaban itu akhirnya mengangguk-angguk lalu duduk di teras. Di sampingku.

Dia mulai memainkan gatgetnya, aku belakangnya lagi untuk menghindari pertanyaan lain.

Harris, kalau dijelaskan apa yang aku rasakan, mengertikah kamu? Sisi merah jambuku ini datang saat bertemu kamu. kamu mungkin pandangan pertamaku.

“Mirna kamu tau gak besok aku tanding?” Seru Harris, aku menoleh dan mengangguk. “Sayang, sekarang kamu udah keluar club basket.”

Memang sangat disayangkan. Tetapi aku ingin berubah menjadi cewek tulen. Bukankah kau suka cewek feminin?

“Kalo aku gak datang gimana?” Tanyaku, Harris mengalihkan pandangannya. Sepertinya kaget, matanya saja mendelik.
“Kamu ngomong apa, sih Mir? Gak mau ngehadiri sahabatnya tanding? Gila kamu!” Kata Harris ngambek. Aku sendiri senang mendengarnya, cuma kata itu…
“Kalo aku enggak mau jadi sahabat kamu gimana?” Harris benar-benar sudah naik pitam. Ia berdecak lalu bangkit meninggalkan aku.

Kamu benar-benar tidak mengerti. Kamu gak peka, Ris. Bodoh juga aku yang mencintaimu.