Menikah atau Pacaran – Istilah Pacaran adalah

Istilah pacaran mungkin sudah kita ketahui atau setidaknya kita dengar sejak kita usia kanak-kanak. Hanya bedanya mungkin letak pengertiannya atau pengetahuanya tentang pacaran dengan kondisi umurnya. Bila dulu kita diusia kanak-kanak sering bermain ratu dan raja, atau kebetulan iseng-iseng bermain permainan nikah-nikahan. Kita sudah mengerti istilah pacaran yaitu siapa yang menjadi lawan pasangan main kita. Ini biasanya juga di dukung dengan ejekan teman-teman bahwa pasangan main kita dalam permainan ratu dan raja adalah pacar kita. Hihihi.. lucu yah? Itulah anak-anak.

Tapi. Kalau kemudian isitlah pacaran berganti dengan menyatunya dua hati yang saling mencintai dengan kesepakatan atau biasa kita sebut dengan “jadian” adalah definisi pacaran di usia ABG, bukan kemudian itu menjadi kesalahan kita memahaminya tentang istilah pacaran yang waktu kanak-kanak dulu cukup kita tahu dengan definisi teman main nikah-nikahan. Apapun istilahnya yang jelas pacaran itu adalah sebuah kesepakatan kedua orang untuk menjalani kehidupan berdua dengan rasa sayang.

Kalau di Indonesia kita lebih mengenal pacaran dengan istilah teman jalan, teman main, atau teman kencan dalam konteks barat istilah kencan pun berbeda dengan kita sebagai orang timur. Di sana kencan sudah dapat di kategorikan hidup bersama layaknya suami istri, menjalani kehidupan serumah tanpa adanya ikatan perkawinan. Itulah pacaran istilah dan pengertiannya juga berbeda-beda bukan dari usia tapi juga dari kultur budaya.

Kalaupun untuk saat ini kita sudah mengenal istilah kencan dengan pengertian lain, juga bukan salah kita karena kelihatannya kultur budaya kita sudah mulai luntur terbawa arus modern. Istiah nge date sekarang bukan lagi seperti pengertian jalan-jalan bersama atau sekedar happy fun. Nge date 2010 sudah menjadi sesuatu yang pengertiannya lebih intim. Bukan rahasia lagi kalau  pengertian “pacaran” saat ini lebih mendekati pengertian “pacaran” versi kultur budaya barat. Free sex dan pergaulan bebas sudah menjadi perbincangan yang tidak tabu lagi.

Kalau melihat kenyataannya seperti itu kadang kita juga harus mengurut dada, akankah kultur budaya ketimuran kita luntur dengan berkembangnya jaman, arus pergaulan modern yang mengagung-agungkan kebebasan. Masihkan ada beberapa dari kita yang masih mampu mempertahankan budaya kita ini, budaya Indonesia yang Jawani, mengedepankan toto kromo dan rasa malu. Tak di pungkiri lagi bahasa kita juga sudah mulai luntur dan terjadi perluasan makna yang memang itu juga menunjukkan sikap-sikap dari pelaku “pacaran”. Kalau kita memahami sebenarnya istilah “bojo” (bahasa jawa red) itu adalah istlah untuk suami atau istri.

Tapi kemudian bahasa itu meluntur, meluas maknanya menjadi istilah untuk pacar kita. Kalau biasanya kita menyebut “sir-siranku” (sir-siran: gebetan, pacar), kita lebih sering mendengarnya dengan istilah “bojo”. Dalam bahasa Indonesia untuk lebih kerennya kita menyebut pacar kita dengan panggilan “Mami-Papi”, hmm…coba saja memaknai itu semua. Bukankah itu meunjukkan bahwa pacar sudah kita perlakukan seperti suami-istri, sex diluar nikah bukan barang rahasia lagi. Mereka begitu bebas mengekspresikan rasa cinta dengan segala hal yang sebenarya hanya pelampiasan nafsu saja.

Sebenarnya istilah bojo-bojoan atau mami-papian itu takkan pernah ada bila kita sebagai wanita bisa mengendalikan diri. Yah..! kenapa aku hanya mengatakan wanita. Karena sesungguhnya wanita adalah sumber dari segala permasalahan tentang perilaku laki-laki yang bertindak melebihi batas dengan kaum hawa. Tentu saja itu dengan persetujuan dari wanitanya. Kalaupun ada istilah paksaan itu sekian persen dari beberapa khasus hubungan sexual. Jika dari awal wanita mampu menolak, laki-laki tidak akan mungkin bisa berbuat apa-apa. Yah mungkin lain kali ia akan mencoba melakukannya lagi tapi, bila si wanita menolak dan terus menolak aku yakin lebih dari 3 kali ia akan menyerah. Kalau ia hanya mengedepankan nafsu dia akan meninggalkan pacarnya. Kalau ia benar-benar memikirkan cinta ia akan salut dan mempertahankan pacarnya.

Tapi.. ketika ia selalu membujuk wanita dengan rayuan akan selalu setia, atau istilah untuk menunjukkan cinta goblok sekali ya kalau kita menurutinya. Apakah cinta hanya dibuktikan dengan sex? Dimanakah arti cinta yang seharusnya menghargai dan menghormati. Kalau dia benar-benar cinta dia tidak mungkin mempu untuk menyentuh orang yang dicintainya apalagi membiarkan kita tersentuh orang lain. Bila benar-benar cinta ia akan menjaga kita hingga waktunya tiba. Jadi.. bedakanlah antara cinta dan nafsu.

Kadang-kadang pernahkah terpikir tentang sebuah pernikahan? Kehidupan yang nyata, dengan komitmen yang sakral karena adanya janji suci sebuah pernikahan. Bukankah kalau dipikir-pikir itu lebih indah dari sebuah hubungan pacaran. Hubungan yang tidak pernah ada status hukumnya. Jika kalian wanita cerdas seharusnya kalian tidak akan terbawa arus dnegan iming-iming keindahan sebuah hubungan “pacaran”. Apalagi menyikapi kehidupan pacaran saat ini yang sudah melau terkontaminasi dengan kehidupan modern. Senjata amph untuk menangkal nya hanya satu. Jika ada yang ingin mekat menjadikan kita sebagai pacar katakana padanya
“ saat ini yang kubutuhkan adalah suami, jika kau menginginkan aku jadi pacarmu tembaklah aku dengan kobiltu”

Tags:

Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie (Masa Bakti 1998 – 1999) – Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 @more..
Suatu hari seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa mnuju kediaman Khalifah Umar Bin Khatab. Tujuannya semula ialah ingin mengadukan pada Khlaifah karena ia sudah tidak tahan dengan istrinya yang cerewet. Sudah beberapa hari ini ia ingin menyampaikannya kepada Umar namun selalu tidka ada kesempatan, makanya ia bermaksud langsung engunjungi kediaman Khalifah. Mendadak orang itu berhneti di depan @more..
Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al-Razi atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 – 930. Beliau lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Di awal kehidupannya, al-Razi begitu tertarik dalam bidang seni musik. Namun al-Razi juga tertarik @more..
(Kisah Nabi Adam AS tentang Iblis Membangkang) – Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain,yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya. Iblis merasa dirinya lebih mulia, @more..
(SMPN 4 Blitar, Tahun 2012 Hanya Terima Siswa Baru Sebanyak 263) – Bulan Juni merupakan bulan yang menjadi awal pendidikan, dimana banyak sekolah-sekolah yang baru saja meluluskan siswanya ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga harus menggantinya dengan siswa-siswi yang baru. Seperti yang dilakukan oleh salah satu sekolah negeri yang ada di Kota Blitar, yakni SMPN @more..