Mengenal Nomophobia, Ketakutan Berlebihan Saat Jauh dari Ponsel

By On Monday, February 13th, 2017 Categories : Technology
Loading...

Fakta:
Kita mengecek ponsel rata-rata sebanyak 34 kali dalam sehari dan sering kali membawanya juga ke dalam toilet.

Survey tahun 2008 menunjukkan bahwa 53% pengguna ponsel merasakan “ketakutan” saat jauh dari ponselnya.
Ketakutan tersebut termasuk namun tidak terbatas pada kehilangan panggilan masuk, tidak dapat sinyal, kehabisan baterai dan ketinggalan atau kehilangan ponsel.

Mungkin beberapa dari Anda menganggap istilah “phobia” pada tulisan berikut adalah berlebihan atau kurang tepat. Alasannya mungkin adalah, phobia secara umum adalah istilah untuk “ketakutan di luar rasional manusia” – atau simpelnya ketakutan berlebihan terhadap sesuatu secara ekstrem. Namun dalam kasus kali ini, phobia yang nyatanya dirasakan oleh banyak kalangan tersebut adalah bentuk perasaan “yang tak dapat dimengerti” karena Anda “terputus dari dunia luar” saat ponsel Anda tak bersama Anda.

Pernah merasakannya juga?

Itulah mengapa akhirnya istilah baru untuk menggambarkan ketakutan semacam ini tercipta: nomophobia, akronim dari no mobile phone phobia. Beberapa cirinya antara lain adalah “ketidakberdayaan” membiarkan ponsel Anda mati dalam waktu yang lama; terobsesi untuk selalu mengecek ponsel dari missed call, surel (email) atau SMS; selalu memastikan baterai ponsel Anda cukup; stress ketika pesan BBM Anda pending atau “lemot”; dan, seperti disebutkan di atas, membawa serta ponsel Anda ke kamar mandi untuk tetap terhubung.

Sekali lagi, pernah merasakannya juga?

Studi yang dilakukan oleh SecurEnvoy terhadap 1000 orang di Inggris Raya setidaknya mengalami (atau mengakui pernah mengalami) hal tersebut. Pengguna usia muda, antara 18 hingga 24 tahun, adalah rentang usia terbanyak yang mengalami adiksi atau kecanduan terhadap perangkat bergerak mereka. 77% di antaranya mengaku tak dapat jauh dari ponsel mereka dalam waktu yang cukup lama (baca: beberapa menit!), sementara “hanya” 68% dari rentang umur 25 sampai 34 tahun merasakan hal serupa.

Selain mengecek ponsel mereka setidaknya 34 kali dalam sehari, menggunakan ponsel saat berada di WC digambarkan sebagai “bentuk modern dari membaca koran di toilet”. Selain itu, penelitian tersebut juga menemukan fakta bahwa sekitar 49% persen pengguna ponsel merasa risih jika pesan atau SMS dalam ponsel mereka dibaca pasangannya. Kebanyakan dari mereka (atau kita) juga tidak menggunakan sistem pengaman untuk ponsel. Setidaknya hanya 46% pengguna yang menggunakan kode password untuk mengamankan isi ponsel mereka, dan hanya 10% menambahkan enkripsi pada data-data penting.

Nomophobic atau penderita nomohphobia tentunya memiliki kesempatan untuk sembuh. Bahkan ada beberapa klinik di Amerika Serikat yang sudah bisa melakukan perawatan pada para nomophobic. Salah satu metodenya adalah dengan memisahkan pasien dari ponsel dan barang elektronik lainnya selama 10 hari. Setidaknya dalam 10 hari itu, pasien akan dapat melihat bahwa dunia tidak kiamat dan terus berjalan normal walaupun tidak ada ponsel di tangan.

Jika Anda merasa memiliki ketergantungan pada ponsel, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan sendiri. Misalnya, buat komitmen pribadi untuk mematikannya beberapa jam dalam satu hari. Jangan keluarkan ponsel saat sedang makan bersama keluarga atau saat berolahraga. Isi waktu luang dengan kegiatan fisik lain seperti olahraga atau membuat prakarya.