Mengenal Lebih Jauh Adisutjipto Sang Bapak Penerbang Indonesia

By On Sunday, December 27th, 2015 Categories : Cerita
Advertisement

Adisutjipto – PRIA yang kini dikenal sebagai Bapak Penerbang Indonesia dan salah seorang perintis TNI Angkatan Udara ini bernama Agustinus Adisutjipto.

Adisutjipto dilahirkan di Salatiga, 4 Juli 1916. Sementara, Wikipedia menulis 3 Juli 1916. Ayahnya bernama Ruwidodarmo, seorang pemilik sekolah di Salatiga. Keluarga Ruwidodarmo memeluk agama Katolik.

Mula-mula, Adisutjipto bersekolah di Sekolah Dasar (HIS), lalu ke MULO, yaitu Sekolah Menengah Pertama. la lulus MULO pada tahun 1933.

Sesudah tamat MULO, Adisutjipto ingin mengikuti pendidikan di Sekolah Penerbangan di Kalijati. Tetapi, ayahnya tidak merestui. Beliau menginginkan agar putra sulungnya ini kelak menjadi dokter.

Adisutjipto menuruti keinginan ayahnya. la meneruskan sekolah di Alegemeene Middelbare School (AMS) bagian ilmu Pasti (B), setingkat dengan SMA Paspal di Semarang.

Sesudah lulus dari AMS dengan nilai bagus, Adisutjipto sekali lagi mohon izin kepada ayahnya agar diperkenankan meneruskan sekolah ke Akademi Militer di Breda, Belanda.

Saat itu, Akademi Militer di Breda hanya menerima kadet yang berkebangsaan Belanda. Pemuda Indonesia ada juga yang belajar di sana tetapi harus dari kalangan bangsawan tinggi. Tentu sulit bagi Adisutjipto untuk masuk ke Akademi Militer di Breda itu.

Lagi pula, ayahnya tetap menginginkan agar Adisutjipto memasuki Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta.

Adisutjipto mengikuti saran ayahnya dan belajar di Geneeskundige Hooge School (GHS) atau Perguruan Tinggi Kedokteran di Jakarta. Dengan tekun ia berkuliah di Perguruan Tinggi Kedokteran itu, tetapi sebenarnya hatinya tidak sepenuhnya berada di sana. Ia masih memendam cita-cita menjadi penerbang atau pilot.

Tidak dapat menahan gejolak hatinya, Adisutjipto diam-diam mengikuti tes pada Sekolah Pendidikan Penerbangan Militer (Militaire Luchtvaart Opleidings School) di Kalijati, Subang.

Kala itu, Perang Dunia II pecah di Eropa. Suasana di Indonesia (Hindia Belanda) sudah mulai hangat menjelang masuknya pasukan Jepang. Karena harus bersiap-siap menghadapi kekuatan militer Jepang, Pemerintah Hindia Belanda membuka kesempatan bagi pemuda-pemuda Indonesia untuk dilatih menjadi penerbang.

Ternyata, Agustinus Adisutjipto lulus pada tes masuk dengan nilai memuaskan. Meski demikian ia masih belum merasa mantap, karena izin dari orangtua belum dikantongi. Ia tahu benar, ayahnya akan menghalang-halangi keinginannya itu.

Dia pun meminta bantuan Asisten Residen Salatiga agar ayahnya memberi izin. Ternyata, kali ini sang ayah meluluskan keinginan putranya itu. Sejak itu, Adisutjipto mengikuti latihan-latihan terbang di Kalijati.

Dengan disiplin tinggi, ia berlatih dan ternyata hasilnya memuaskan. Masa pendidikan yang seharusnya ditempuh dalam tiga tahun, dapat ia selesaikan lebih cepat. Dalam tempo dua tahun, Adisutjipto mengikuti pendidikan kemudian diangkat dalam dinas militer dengan pangkat Letnan Muda Calon Penerbang.

Kemudian ia meneruskan pendidikan untuk memperoleh brevet penerbang tingkat pertama. Di antara sepuluh calon penerbang bangsa Indonesia yang mengikuti latihan ini, hanya lima yang memperoleh brevet penerbang tingkat pertama, di antaranya Adisutjipto.

Ia masih belum puas dan berusaha untuk mencapai brevet penerbang tingkat atas. Ternyata, dari lima orang asal Indonesia itu, hanya dua orang yang berhasil, yaitu Adisutjipto dan Sambujo Hurip.

Sambujo Hurip kemudian gugur di Semenanjung Malaka pada awal perang Asia Timur Raya melawan Jepang. Dengan demikian, waktu itu tinggal Agustinus Adisutjipto yang memegang brevet penerbang tingkat atas.

Adisutjipto lalu bertugas sebagai penerbang dari Skuadron Pengintai Angkatan Udara KNIL (Angkatan Perang Hindia Belanda) pada tahun 1939, berkedudukan di Tuban, Jawa Timur.

Ia juga diangkat sebagai ajudan Kolonel Clason, pejabat Angkatan Udara KNIL di Jawa hingga tahun 1942.

Pada waktu di Kalijati, Adisutjipto  berkenalan dan bersahabat dengan S. Suryadarma, seorang lulusan Akademi Militer di Breda yang sedang mengikuti pendidikan Penerbangan Militer Angkatan Udara.

Di kemudian hari, persahabatan S Suryadarma dan Adisutjipto itu makin berkembang, sehingga pada waktu Indonesia merdeka, kedua tokoh itulah yang mula-mula memperoleh kehormatan untuk membina Angkatan Udara Republik Indonesia atau TNI Angkatan Udara.

Ketika Hindia Belanda di ambang keruntuhan, banyak penerbang mengungsi ke Australia. Namun, Adisutjipto memilih tetap di Tanah Air.

Pada zaman pendudukan Jepang, Adisutjipto tidak lagi menjadi penerbang. la pulang ke rumah orangtuanya di Salatiga. Dia bekerja sebagai juru tulis pada perusahaan angkutan bus. Tahun 1944, Adisutjipto menikah dengan Rahayu.

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan diumumkan dan Revolusi Indonesia meletus, Adisutjipto terlibat dalam kegiatan yang penting. la pindah ke Yogyakarta.

Pada waktu itu, S Suryadarma ditunjuk sebagai Komandan Bagian Penerbangan pada Markas Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Yogyakarta yang kemudian berkembang menjadi TKR Jawatan Penerbangan. Suryadarma segera memanggil Adisutjipto untuk membantu membangun kekuatan udara Indonesia.

Adisutjipto diangkat menjadi Komodor Muda Udara dengan tugas mengambil alih seluruh perlengkapan, tenaga kerja, dan instalasi penerbangan.

Di Lapangan Terbang Maguwo. Yogyakarta, ia menerima tanggung jawab langsung dari panglima divisi setempat, yang secara resmi berlaku sejak tanggal 15 Desember 1945.

Tugas TKR Jawatan Penerbangan sungguh berat, yaitu mengadakan konsolidasi organisasi di markas besar. Selain itu, harus melakukan persiapan operasi secepat-cepatnya agar dapat segera ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan secara nyata, antara lain menyusun kesatuan udara, pengelolaan lapangan terbang dan pengadaan fasilitas lainnya.

Dia juga harus segera mengadakan pendidikan yang bersifat ulangan maupun perekrutan baru.

Karena Komodor Muda Udara Adisutjipto adalah satu-satunya penerbang Indonesia yang memiliki brevet penerbang tingkat atas (Groot Militaire Brevet atau GMB), dia diserahi tugas bidang pendidikan dengan wewenang penuh.

Selain itu, dia juga memimpin kesatuan operasi di Pangkalan Maguwo. Jadi, Komodor Muda Udara Adisutjipto tercatat sebagai perintis utama dalam sejarah pendidikan penerbangan di Indonesia.

Tugas yang dipikul para perintis penerbangan Indonesia sungguh berat. Sebab, tahun 1945 itu keadaan serba sulit.

Jumlah penerbang dan ahli teknik penerbangan bangsa Indonesia dapat dihitung dengan jari. Pesawat terbang bekas milik Jepang jumlahnya cukup lumayan, tetapi semuanya lebih pas disebut rongsokan.

Ada pesawat terbang tipe Cureng buatan tahun 1933, pesawat pembom jenis Tuntai, Rocojunana, dan Suky. Juga pesawat penyergap tipe Hayabusa dan Sausykisin, serta pesawat pelatih jenis Cureng Cukiu dan Nishikoren.

Jika dihitung, saat itu terdapat sekira 102 pesawat terbang, termasuk sebuah pesawat pengangkut jenis Bristol Blenheim. Tetapi tidak ada yang mulus, semuanya dalam keadaan rusak.

Selain itu, para penerbang Indonesia pada zaman Jepang tidak ada yang berkesempatan atau diberi kesempatan menerbangkan pesawat.

Buku pemandu pesawat terbang semuanya ditulis dalam bahasa Jepang, sehingga sungguh sulit untuk memahaminya. Namun, para perintis penerbangan Indonesia itu tidak mau mundur. Mereka berusaha dengan sekuat-kuatnya. Pesawat-pesawat terbang itu diperbaiki.

Suryadarma berhasil menghimpun para penerbang dan teknisi bangsa Indonesia. Adisutjipto juga bekerja siang dan malam untuk membina dunia penerbangan Indonesia.

Dengan ketekunan, keberanian yang luar biasa, Komodor Muda Udara A. Adisutjipto pada tanggal 27 Oktober 1945 berhasil menerbangkan pesawat Cureng yang sudah diberi tanda merah putih melayang-layang di angkasa Kota Yogyakarta.

Itulah hari bersejarah, karena untuk pertama kalinya ada pesawat milik Republik Indonesia terbang di udara Indonesia merdeka. Bagi Adisutjipto, peristiwa itu begitu berkesan dan menakjubkan, karena sudah kira-kira empat tahun lamanya tidak mengemudikan pesawat terbang.

Adisutjipto segera mendidik pemuda-pemuda untuk menjadi penerbang. Pada tanggal 1 Desember 1945, didirikanlah Sekolah Penerbang yang pertama di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta.

Adisutjipto menjadi kepala Sekolah Penerbangan itu. Dalam waktu singkat, terkumpul beberapa pemuda yang baru memperoleh brevet penerbangan tingkat pertama dan ada pula yang telah mempunyai brevet penerbangan nonmiliter.

Ada juga yang sudah pernah belajar menerbangkan pesawat terbang tetapi belum mempunyai brevet. Sisanya adalah pemuda-pemuda yang sama sekali belum mempunyai pengalaman penerbangan.

Pemuda-pemuda yang sudah mempunyai pengalaman penerbangan, dengan cepat dapat lulus dan segera diangkat menjadi instruktur. Dengan semangat tinggi, Adisutjipto melatih para calon penerbang itu.

Mereka memperoleh pengetahuan teori penerbangan dan pengetahuan militer. Mereka juga harus mahir dalam praktik, sehingga mampu menerbangkan pesawat terbang.

Saat itu adalah zaman perang kemerdekaan melawan Belanda. Para penerbang itu sekaligus harus mampu dalam perang yang sebenarnya.

Kebanyakan pesawat terbang Rl waktu itu terpaksa harus lepas landas pada pagi hari sekali dan mendarat sore atau malam hari untuk menghindari intaian pesawat terbang Belanda.

Sementara itu, organisasi Angkatan Udara Republik Indonesia makin maju. Pimpinannya tetap dipegang oleh Komodor Udara S. Suryadarma, sedangkan Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto menjabat sebagai Wakil II/Kepala Staf AURI.

Adisutjipto tidak hanya melatih para calon penerbang. la juga ikut langsung dalam penerbangan jarak jauh. Bersama penerbang-penerbang lainnya, Adisutjipto memimpin suatu penerbangan formasi jarak jauh yang pertama dari Maguwo ke Jakarta dengan pesawat-pesawat Tatcikawa Army 98 Cakiu.

Mereka bertugas membawa para pucuk pimpinan TNI pada tanggal 23 Juli 1946 ke Jakarta untuk berunding dengan Pimpinan Pasukan Sekutu mengenai penyelesaian tawanan perang dan kaum interniran Sekutu.

Belanda yang ingin menjajah kembali Tanah Air melakukan blokade baik di daratan, lautan, maupun udara. Tetapi Komodor Muda Udara Adisutjipto dapat menerobos blokade itu.

la pernah terbang ke India dan mengunjungi Perdana Menten India Jawaharlal Nehru untuk meminta bantuan pinjam pesawat terbang Dakota dan penyediaan tenaga instrukturnya. Misinya itu berhasil dan seorang industriawan India bernama Patnaik bersedia meminjamkan pesawat terbang Dakota kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Sementara itu, pasukan Belanda melancarkan Agresi Militer I pada tanggal 21 Juli 1947. Berbagai lapangan terbang seperti Gorda, Kalijati, dan Maospati dibom.

Kira-kira delapan hari sesudah penyerangan Belanda itu, tepatnya pada tanggal 29 Juli 1947, naiklah beberapa pesawat terbang AURI, terdiri dari pesawat pembom Guntai dan dua pesawat Cureng menuju daerah pendudukan Belanda di Jawa Tengah.

Pesawat-pesawat terbang AURI itu dengan keberanian luar biasa menjatuhkan beberapa buah bom di pangkalan militer Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Serangan ini berhasil. Belanda sangat terkejut dan marah

Sore hari itu juga, ada pesawat Dakota VT-CLA dari Singapura berangkat ke Yogyakarta, Indonesia dengan membawa obat-obatan sumbangan Palang Merah Malaya kepada Palang Merah Indonesia. Kepala Staf S Suryadarma dengan mengendarai jeep, secara khusus datang menyambut rombongan itu di Lapangan Udara Maguwo.

Beberapa saat pesawat itu berputar-putar mengelilingi landasan untuk mengadakan pendaratan. Namun, di luar dugaan, dari arah utara muncul dua buah pesawat pemburu Kittyhawk milik Belanda langsung memuntahkan pelurunya ke arah pesawat Dakota VT-CLA yang tak bersenjata itu.

Tembakannya tepat mengenai sasaran. Akibatnya, keseimbangan pesawat itu hilang. Saat itu nampak pilot masih berusaha mengadakan pendaratan darurat, namun pesawat terus meluncur menabrak sebatang pohon yang akhirnya jatuh dan terbakar.

Peristiwa yang sangat menyedihkan ini terjadi di dekat daerah Jatingarang, sebelah utara Ngoto, dekat Kali Code. Ternyata, hanya seorang penumpang yang selamat yaitu A. Gani Handonocokro.

Yang lain gugur, yakni Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr Abdurrachman Saleh, penerbang berkebangsaan Australia A.N. Constantine, kopilot berkebangsaan Inggris R. Hazelhurst, juru radio Opsir Udara Adisumarmo Wiryokusumo, juru teknik berkebangsaan India Bhida Ram, Nyonya Constantine, dan wakil Perdagangan RI di Singapura Zainal Arifin.

Adisutjipto dimakamkan di pekaman umum Kuncen I dan II. Kemudian pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan di Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Marsekal Muda TNI Anumerta Agustinus Adisutjipto yang gugur dalam usia masih muda, 31 tahun, diangkat menjadi Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 071/TK/TH 1974 tanggal 9 November 1974.

Publikasi oleh: Dzikry Subhanie
Pada: Minggu,  27 Desember 2015 (05:00 WIB)
Dimuat pada laman: Sindo

Advertisement (Dibawah ini adalah Iklan)
loading...