Mengenal Batik : Definisi, Periode Perkembangan, dan Jenis-Jenis Batik

By On Friday, March 10th, 2017 Categories : Sains

Batik merupakan warisan budaya nusantara (Indonesia) yang mempunyai nilai dan perpaduan seni yang tinggi, sarat dengan makna filosofis dan simbol penuh makna yang memperlihatkan cara berpikir masyarakat pembuatnya. Batik adalah kerajinan yang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak dahulu. Keterampilan membatik digunakan sebagai mata pencaharian dan pekerjaan ekslusif bagi perempuan-perempuan Jawa hingga sampai ditemukannya batik cap yang memungkinkan masuknya laki-laki dalam pekerjaan membatik ini.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi turun temurun, sehingga motif batikannya pun dapat dikenali dan menjadi corak atau motif dari keluarga atau daerah tertentu. Motif batikan juga dapat menunjukkan status sosial di masyarakat, karena berdasarkan periode perkembangannya, batik Indonesia bekembang pada zaman Kerajaan Majapahit, yang notabene hanya dipakai oleh keluarga kerajaan.

Perkembangan batik di Indonesia memuncak pada tanggal 2 Oktober 2009, yakni UNESCO –United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization– menetapkan Batik Indonesia sebagai sebuah keseluruhan teknik, teknologi, pengembangan motif dan budaya yang terkait dengan batik tersebut sebagai karya agung warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity) yaitu pengakuan internasional bahwa batik Indonesia adalah bagian kekayaan peradaban manusia.

Definisi Batik
Batik, dari sisi etimologi –cabang ilmu linguistik yang mempelajari asal-usul suatu kata–, batik merupakan gabungan dari dua kata bahasa Jawa, yaitu “amba” yang berarti menulis, dan “titik” yang berarti titik (tanda kata, disimbolkan . ). Kata batik merujuk pada dua hal, yaitu :

  • Teknik pembuatan corak
  • Pewarnaan kain dengan malam (lilin)

Berdasarkan literatur tekstil Internasional, rujukan dua hal tersebut memberikan definisi batik sebagai wax-resist dyeing, yaitu bagian kain tertentu yang ditutupi malam/lilin, sehingga zat pewarna tidak akan terserap pada bagian kain pada saat pewarnaan.

Adanya keragaman corak atau motif yang berasal dari daerah-daerah tertentu di Indonesia, batik telah didefinisikan dengan berbagai ungkapan yang berbeda-beda walaupun memiliki tujuan yang sama. Berikut ini adalah beberapa pendapat yang mengungkapkan definisi-definisi batik yang ada :
K. Kuswadji, seorang pelopor seni modern lukisan batik
Batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu “mbatik”, yang terdiri dari dua kata yaitu “mbat” yang dapat diartikan dengan melontarkan atau melemparkan dan “tik” yang diartikan dengan titik. Kata “mbatik” dapat diartikan melemparkan titik berkali-kali pada selembar kain.
Soedjoko (Babad Sengkala, 1633 dan Pandji Djaja Lengkara, 1770)
Batik berasal dari bahasa Sunda, yang berarti menyungging pada kain dengan proses pencelupan.
Yudoseputro
Batik adalah gambar yang ditulis pada kain dengan mempergunakan malam sebagai media sekaligus penutup kain batik.

Periode Perkembangan Batik
Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam (lilin) merupakan bentuk seni kuno dari zaman dahulu kala. Penemuan seni pewarnaan kain tersebut diawali pada abad ke-4 SM, yaitu dengan ditemukannya kain pembungkus mumi yang dilapisi dengan malam (lilin). Seni “batik” juga berawal dari Tiongkok pada Dinasti Tang (618-907), di India dan di Jepang (645-795). Seni “batik” juga ditemukan di Afrika oleh SukuYoruba (Nigeria), Suku Soninke dan Suku Wolof (Senegal).

Berdasarkan catatan-catatan sejarah, batik di Indonesia mulai berkembang semenjak zaman Kerajaan Majapahit dan penyebaran Islam di Jawa pada awal abad ke-19. Walaupun kata batik berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik itu sendiri tidaklah tercatat secara akurat, dan kemungkinan kain yang ada teknik batiknya itu diperkenalkan dari India atau Srilanka pada abad ke-6 atau ke-7. Catatan-catatan perkembangan batik dari mana berawal dan berkembang memang terdapat beberapa perbedaan, diantaranya terdapat dalam legenda literatur Melayu dan literatur Eropa.

Sejarah mencatat bahwa batik di Indonesia, saat itu dibuat dan hanya digunakan oleh keluarga kerajaan yang kemudian pengikutnya ini keluar keraton dan berkembanglah batik di masyarakat. Adanya interaksi antara pengikut kerajaan dengan masyarakat awam inilah lama-kelamaan kesenian membatik ditiru oleh masyarakat dan menjadi mata pencaharian bagi kaum perempuan untuk mengisi waktu senggang. Motif dan keindahan yang diberikan oleh batik itulah, yang kemudian menjadi busana atau pakaian sehari-hari masyarakat.

  • Periode Kerajaan Majapahit
    Kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan maritim di Nusantara –sebutan Indonesia– yang berada di daerah Mojokerto dan Tulungagung. Perkembangan batik berawal dari daerah tersebut. Pada saat kerajaan Majapahit memperluas wilayah kekuasaanya, batik pun ikut berkembang dan menyebar. Tatkala menaklukan Tulungagung, tentara-tentara Majapahit keluar dari keraton, menetap dan tinggal di Tulungagung dengan membawa kesenian membuat batik. Batik-batik yang dihasilkan dari daerah tersebut memiliki warna dasar putih dan corak cokelat muda dan biru tua. Warna-warna tersebut didapatkan dari pewarna alami yang berasal dari tanaman soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi, dan lain sebagainya.
  • Periode Kerajaan Islam
    Pada saat Islam mulai berkembang di daerah Ponorogo Jawa Timur, batik juga ikut berkembang. Perkembangan batik dimulai dari istri Kyai Hasan Basri atau Kyai Agung Tegalsari yang merupakan menantu Raja Keraton Surakarta yang kemudian dikembangkan di pesantrennya di daerah Ponorogo. Daerah batik yang berkembang hingga saat ini di daerah tersebut antara lain daerah Kauman atau Kepatihan Wetan, dan meluas ke daerah Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono, dan Ngunut. Motif batik yang berasal dari Ponorogo ini banyak dipengaruhi oleh motif Surakarta dan Yogyakarta. Dalam pembatikan, obat-obatan yang dipakai dibuat dari kayu-kayuan yang berasal dari tanaman pohon tom, mengkudu, kayu tinggi, sedangkan bahan kain putihnya terbuat dari tenunan gendong.
  • Periode Batik Jawa (Solo dan Jogjakarta)
    Perkembangan batik di daerah Solo dan Jogjakarta dikenal pada abad ke-17, semenjak Kerajaan Mataram. Batik di Solo dan Jogjakarta berawal pada masa Panembahan Senopati, yakni Kerajaan Mataram I yang berkembang di daerah Plered. Kali pertama, batik digunakan oleh keluarga kerajaan pada upacara-upacara resmi kerajaan. Masa-masa Kerajaan Mataram adalah masa-masa penjajahan Belanda, sehingga pada masa ini banyak terjadi peperangan. Akibat dari peperangan tersebut, keluarga-keluarga kerajaan banyak yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah baru, seperti Banyumas, Pekalongan, Cirebon, Tegal, Ponorogo, Tulungagung, Gresik, Madura dan daerah-daerah lainnya. Keluarga-keluarga kerajaan inilah yang kemudian mengembangkan dan menyempurnakan pembatikan di daerahnya yang baru.
  • Periode Perkembangan Batik di Wilayah Lain
    Perkembangan batik di wilayah-wilayah lain seperti di Banyumas, Pekalongan, Cirebon, Tegal, Ponorogo, Tulungagung, Gresik, Surabaya, Madura, dan wilayah yang lain di bawa oleh keluarga dan pengikut Kerajaan Mataram pada tahun 1830, usai peperangan Pangeran Diponegoro. Keluarga dan pengikut Kerajaan Mataram ini kemudian berhasil mengembangkan kerajinan membatik di daerahnya. Motif dan coraknya pun berbeda walaupun berasal dari corak batikan Solo dan Jogjakarta. Berikut ini adalah beberapa perkembangan batik yang terkenal hingga sekarang yang berhasil dikembangkan oleh keluarga, pengikut maupun masyarakat di wilayahnya yang baru.

    • Perkembangan Batik di Wilayah Banyumas
      Perkembangan batik di wilayah ini menggunakan bahan mori yang dibuat sendiri, sedangkan obat pewarnanya berasal dari tanaman pohon tom, pace dan mengkudu yang memberi warna merah kesemuan kuning. Di daerah ini batikannya memiliki motif dan warna yang khusus, sehingga batik dari daerah ini dikenal dengan sebutan batik Banyumas.
    • Perkembangan Batik di Wilayah Pekalongan
      Perkembangan batik di wilayah ini tumbuh pesat di daerah Buawaran, Pekajangan, dan Wonopringgo. Batikan dari Pekalongan ini memiliki proses dan desain yang dipengaruhi oleh batik dari Demak.
    • Perkembangan Batik di Wilayah Cirebon
      Adanya percampuran masyarakat Cirebon dengan pengungsi keluarga dan pengikut Kerajaan Mataram dari Solo dan Jogjakarta, menjadikan batik di daerah ini berkembang dan meluas ke Kerajaan Kanoman, Kasepuhan, dan Keprabonan. Batik di daerah ini memiliki motif laut, hutan, dan margasatwa. Motif laut lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran Cina, sedangkan gambar garuda dipengaruhi oleh motif batik Solo dan Jogjakarta.

Jenis-Jenis Batik
Berdasarkan teknik pembuatannya, batik dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis sebagai berikut :

  • Batik Tulis
    Batik tulis dilakukan sepenuhnya oleh keterampilan seorang pembatik, proses pembuatannya diawali dari pembuatan pola atau motif, mengisi pola, hingga pewarnaan.

    Batik Tulis

    Pembuatan batik memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan. Batik tulis memiliki ciri-ciri yaitu :

    • Warna batik terlihat sama terang pada kedua sisi, karena proses pengerjaan dilakukan di kedua sisi kain.
    • Batik memiliki aroma khas yang terbentuk dari hasil penggunaan malam (lilin) dan proses pewarnaan.

 

  • Batik Cap
    Batik cap dibuat dengan menggunakan bantuan motif batik yang dibuat dalam bentuk stempel atau cap tembaga. Proses pengerjaan batik cap ini adalah cap tembaga diberi malam panas, kemudian distempelkan di atas kain polos, selanjutnya dilakukan secara terus menerus hingga membentuk motif atau pola yang teratur.

    Batik Cap

    Pembuatan batik memakan waktu kurang lebih 2-3 hari. Batik cap memiliki ciri-ciri yaitu :

    • Warna batik terlihat terang pada satu sisi, hanya pada bagian dalam nyaris sama dan cenderung lebih buram.
    • Pola atau motif batik senantiasa simetris dan teratur.

 

  • Batik Sablon atau Printing
    Batik printing dibuat dengan menggunakan motif pabrikan atau motif sablon, yaitu motif batik yang telah dicetak secara otomatis.

    Batik Printing atau Sablon

    Batik printing atau sablon ini dibuat tanpa menggunakan metode dasar batik, karena dalam pengerjaannya tidak lagi menggunakan proses pencegahan serap warna pada malam. Batik printing memiliki ciri-ciri yaitu :

    • Pola atau motif tampak rapi dan simetris baik letak maupun ukurannya.
    • Warna batik hanya tampak nyata pada satu sisi kain saja, hal ini dikarenakan proses pewarnaan saat pencekatan dengan mesin hanya terjadi di satu sisi kain.

 

  • Batik Sablon Malam
    Batik sablon malam dibuat dengan cara menyablonkan malam atau lilin secara langsung seperti pada pembuatan batik printing. Batik sablon malam dibuat dengan perpaduan kombinasi batik sablon dengan batik cap.

    Batik Sablon Malam

    Pembuatan batik sablon ini pun tidak melewati tatanan pembuatan batik sebagaimana pembuatan batik tradisional, walaupun dalam pembuatannya masih menggunakan bahan malam atau lilin.
    Batik sablon malam memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

    • Pola atau motif tidak berulang
    • Desain lebih detail
    • Warna pada kain sama di kedua sisi
    • Warna lebih tahan lama dan mengkilap[]