Membuatnya Berkata Pada Mereka

By On Wednesday, March 15th, 2017 Categories : Cerita
Gratis Samsung

Aku berjalan terburu-buru ke tempat parkir yang masih kosong. Hanya satu motor yang sudah terparkir di sana, yaitu motorku. Teringat baju olahragaku yang tertinggal di rumah, mengharuskannya untuk kembali mengambilnya ke rumahku yang jauh. Masih pagi memang, tapi jika aku tak buru-buru maka bisa jadi aku kesiangan menuju kembali ke sekolah karena jarak rumahku yang jauh. Itulah mengapa setiap hari aku harus berangkat pagi sekali, juga agar belum banyak motor maupun mobil yang berlalu lalang karena aku masih belum terlalu mahir mengendarai sepeda motor.

Segera aku hidupkan motor, keluar dari tempat parkir sekolah. Aku tidak ngebut, karena belum terlalu mahir menjalankan motor. Lebih baik pelan asal selamat. beberapa meter dari tempat parkir, di sana ada sebuah pertigaan, aku menjalankan dengan hati-hati namun ada sebuah motor yang tiba-tiba menabrak motorko begitu saja. Aku terdampar di jalan, pelan memang tekanannya tapi tetap saja membuat aku dan motorku jatuh. Terlihat sesorang namun tak terlalu jelas melihat wajahnya, karena kaca mata tak terpasang di mataku yang minus. Pria itu tak terjatuh begitupun motornya.

Dia memposisikan motornya di pinggir jalan, lalu berjalan cepat ke arahku. Aku bisa melihatnya dengan jelas, dia adalah laki-laki yang juga bersekolah dimana aku sekolah. Dia bernama ibrahim. Dia Membangunkan motor yang menjepit kaki kiriku. Lalu memposisikan motorku di dekat motornya. Awalnya tak terasa sakit dengan kakiku, namun setelah ibrahim mengangkat motorku, kakiku terasa sangat sakit sekali nyutnyutan rasanya tak karuan. Setelah memposisikan motorku dia lalu menaiki motornya lalu meninggalkanku begitu saja.

“Oh tuhan” batinku yang melihat motor ibrahim menuju parkiran sekolah. Begitu teganya dia membiarkanku sendiri di tempat sepi sepagi ini, apakah dia tak melihat keadaanku sama sekali? Air mataku mulai menggenangi mataku dan tak butuh bebarapa detik untuk membuat air mata itu menetes. Aku menangis saat itu, memandang ke arah parkiran yang menelan ibrahim tanpa mengembalikannya. Aku sangat kesal pada seseorang yang bernama ibrahim itu. ternyata benar yang dikatakan banyak orang itu kalau dia orang aneh, dan bagiku dia laki-laki yang sangat tak punya hati. Tapi apakah tak ada rasa kasihan untuk seorang wanita yang tergeletak di pinggir jalan sendiri, itu juga karena ulahnya.

Aku melihat ke arah motorku, yang juga mengarah ke arah tempat parkir. Tak lama terlihat ibrahim yang berjalan ke arahku, berjalan pelan seperti kuya. Aku hanya menatapnya nanar. Aku mulai menghapus air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Sampailah ibrahim di depanku, dia tak mengatakan apapun, Hanya memandangiku yang sedang menangis tersedu-sedu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, kata maaf pun tak berhasil keluar dari mulutnya. Hanya menatapku, tanpa mencoba menenangkan. “Bangunlah” ucapnya yang berdiri. Aku mencoba tapi kaki kiriku rasanya sangatlah sakit amat sakit.

Aku kembali menangis dengan air mata yang mengalir sangat deras, sangat sakit kakiku tapi dia menyuruhku bangun. Oh tuhan, ibramin pria macam apa dia? Aku berfikir lebih baik orang lain yang menolongku daripada ibramin laki-laki aneh itu yang tak punya perasaan sedikitpun. Aku mencoba kuat untuk bangun tapi kaki kiriku tak mengijikanku untuk berdiri. Ibrahim tiba-tiba duduk membelakangiku dengan posisi jongkok tepat di hadapanku. “Naiklah” ucapnya yang menoleh ke arahku. “Apa itu dia?” Tanyaku dalam hati. Aku pun mencoba meraih punggung ibramin dengan kedua tanganku menggunakan kaki kanan untuk menjadi tumpuan.

Dia menggendongku sampai ke motor, lalu melaju hinggga ke tempat parkir. Sampailah di tempat parkir yang luas. Baru motor kami berdua yang terparkir di sana. Dia mendudukanku di tangga yang menuju ke atas yaitu tangga yang menuju ke arah kelas. Aku hanya menatapnya, kini tak kusadari air mata tak lagi menetes. entah kapan air mataku berhenti mengalir di pipiku. Dia berjongkok di bawahku, aku memakai rok jadi aku curiga apa yang akan ia lakukan padaku. “Mau apa?” Tanyaku yang meletakan kedua tangan menyilang pada kedua lutut. Dia tak menjawab apapun. Dia langsung membuka tali sepatu kiriku dengan perlahan, lalu membuka sepatuku dengan perlahan pula. Dia mencoba membuka kaos kakiku namun aku menghentikan tangannya, “sudah aku saja” ucapku yang langsung membuka kaos kaki yang menempel di kaki kiriku dengan pelan karena kakiku sakit bila tersentuh.

Sedari tadi tak sadar aku menatapnya, aku baru menyadarinya ketika dia mengangkat kepalaku. Dia sadar kalau aku memperhatikannya, dia mengangkat kepalanya seakan kode kalau dia bertanya “ada apa?” Namun aku hanya menggeleng. Dia mengusap kakiku “aww” teriaku yang membuat dia menghentikan tangannya yang memegang kakiku yang memar. “Maaf” katanya, aku hanya mengangguk pelan dengan sedikit senyuman. “Aku ingin ke kelas, tolong antar aku” kataku.

Kini dia tak menggendong, namun dia membawaku dengan kedua tangannya, badanku berada di atas tangan bawahnya(seperti mengangkat orang yang pingsan). Aku berada dalam pangkuannya. Aku sudah berkata kalau aku ingin berjalan saja, namun seperti sebelumnya dia tak menjawab melainkan langsung mengangkat tubuhku tanpa aba-aba. Kami menelusuri beberapa kelas yang masih kosong. Aku hanya menatap ke atas, menatap wajah tampannya yang begitu tenang. Sampailah kami di depan kelasku “sudah aku mau duduk di koridor saja!” Kataku. Dia mendudukanku di koridor tepat di depan kelasku yaitu kelas 11 ipa 1.

Seminggu penuh aku tak masuk sekolah. Karena kejadian pada pagi itu yang menyebabkan tulang telapak kaki kiriku retak. Yang mengharuskannya untuk digips. Hari pertama aku bersekolah kembali. Menggunakan tongkat menuju kelas. Ketika istirahat aku duduk di koridor kelas. Tempat yang sama ketika ibrahim mendudukanku pada pagi itu. Aku tersenyum sendiri mengingatnya juga ketika mengingat aku menangis waktu itu. Entah kenapa wajah ibrahim selalu mendiami kepalaku saat di rumah begitupun sekarang saat aku di sekolah. Banyak siswa dan sisiwi berlalu lalang membawa makanan masing-masing. Seseorang menghampiriku saat itu, seseorang yang ketika di rumah selalu aku pikirkan.

Ibrahim duduk di sebelahku. Aku hanya tersenyum melihatnya. Dia hanya memandang kakiku tanpa berkata apapun. “Aku minta maaf membuatmu seperti ini” katanya “bukan salahmu juga” jawabku. Dia mengalihkan pandangannya memandangku. Terus memandangiku dengan lama. Orang-orang yang berlalu-lalang menatap kami dengan heran, karena biasanya ibrahim terkenal sangat pendiam dan tak jarang beberapa siswa yang menyebut dia orang aneh karena dia jarang berkata pada siapapun. Namun dia mulai berkata padaku, walau tak begitu panjang. “Berhentilah menatapku seperti itu.” Kataku yang mengerutkan kening dengan sedikit agak melotot. Tanpa jawaban dia memalingkan pandangannya lalu pergi begitu saja tanpa pamit. “Dia tak seburuk aku dan banyak orang pikirkan, dia tidak aneh dia hanya sangat pemalu. Banyak orang yang tak mengerti dirinya.” Ujarku pelan.

Aku menunggu jemputan di depan sekolah, duduk di teras sendiri. Kini aku tak lagi menggunakan tongkat karena kakiku sudah sembuh, namun untuk kembali mengendarai motor orangtuaku belum memperbolehkannya. Aku dan ibrahim menjadi agak dekat, walau tak saling mebgobrol seperti yang lain. Tapi aku dan dia sering duduk berdua di koridor walau tanpa kata-kata. Langkah kaki terdengar di belakangku, aku menegoknya. Lalu Ibramin duduk di sebelahku, seperti sebelumnya tanpa berkata-kata. Ada telepon masuk aku mengangkatnya “ya kak” “ya gak papa kak, ya udah hati-hati ya bye”. “Apa apa?” Tanya ibramim “kakakku berkata tak bisa menjemputku karena ada temannya yang terkena musibah, hmm aku harus naik ojek” jawbaku “aku akan mengantarmu pulang” katanya “jaraknya jauh” “tak masalah” “kalau begiku, terkimakasih”

Kami menuju tempat parkir. Tak butuh waktu lama sampailah kami di tangga menuju ke tempat parkir. Ibrahim tiba-tiba duduk di tangga itu tanpa berkata. Aku yang menyadari hal itu hanya menaikkan kedua alisku seakan bertanya “kok duduk di sana?” Dia menjawabnya hanya dengan tepukan di tangga itu menandakan kalau dia menyuruhku untuk duduk di sebelahnya. Aku tak banyak protes, aku pun mengikutinya duduk di tangga itu.

Kami hanya diam, tak ada satupun yang berkata. Tapi setelah beberapa lama ibrahim menatapku, membuatku merasa malu. “Jangan kembali menatapku seperti itu.” Dia hanya tersenyum “fadilah mau tidak jadi pacarku?” Tanyanya yang menbuat jantungku berdetak tak teratur “pacar?” Tayaku. Ibrahim mengangguk. Aku berfiktr sejenank tak mengatakan apapun “yah, tapi ada satu keinginanku” jawabku yang menatapnya “apa?” Tanyanya? “Berubahlah untukku!”

Ibrahim terdiam mendengar perkataanku yang menyuruhnya berubah. Beberapa menit tak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya. Aku hanya menatapanya yang sedang menatap ke bawah. “Apa yang harus aku rubah?” Tanyanya yang mulai berbicara “mulailah berbicara pada yang lain, jangan terus memasang headsetmu di dalam kelas” jawabku “bukankah cinta harus menerima apa adanya?” Tanyanya kembali “ibrahim dengar aku, aku menerimamu dengan senuh hati. Aku hanya ingin memperbaiki imagemu di depan mereka. aku ingin memperlihatkan kalau kau tidak seperti yang mereka pikirkan, hanya itu. Tapi jika kau tak mau sudahlah aku tak memaksa” kataku yang mulai menundukan kepala “ya aku akan berubah hanya untuk seorang fadilah. Jangan bersedih.” Jawabnya yang mengangkat daguku.

Sejak saat itu, kami berpacaran. Ibrahim muali memperbaiki dirinya yang dulu selalu mereka anggap sebelah mata. Mulai berbicara, mulai berargumen ketika belajar. Ibrahim tidak aneh, dia hanya terlalu pendiam. Namun tak banyak yang mengerti dirinya, aku fikir aku adalah orang pertama selain keluarganya yang mengerti dirinya. Ibrahim pun mengerti, bukan maksudku tak menerimanya apa adanya aku hanya ingin memperbaiki dirinya menjadi lebih baik lagi. Setidaknya membuat ibrahim berkata pada teman-temannya.

Dirty Little Virgin: A Submissives' Secrets Novel, The Golden Valkyrie (Sedikhan, #2), Angels in America, Part Two: Perestroika, The Breaker Volume 10, Perry Rhodan 63: Die Mikro-Techniker (Perry Rhodan - Heftromane, #63), Safir, Wild Ride (Wind Dragons MC, #4.5), Irresistible: The Rise of Addictive Technology and the Business of Keeping Us Hooked, The Crown of Ptolemy (Percy Jackson & Kane Chronicles Crossover #3), Flora and Ulysses: The Illuminated Adventures, Diamondhead (Mack Bedford, #1), Anno's Journey, Watership Down (Watership Down #1), A Cold Day For Murder (Kate Shugak, #1), Anton's Mate (Secret Shifters of Spokane Book 4), Wrecking Ball (Hard to Love, #1), Liar, Waking Gods (Themis Files #2), Paintball Tips For Beginners - Essential Facts About Paintball, Lady Sings the Blues