Macam-macam Masalah Konflik karena Kemajemukan Masyarakat Indonesia

By On Tuesday, February 14th, 2017 Categories : Sains

Masalah konflik sering terjadi di Indonesia baik itu konflik antar suku, etnis maupun Agama dengan timbulnya masalah tersebut bisa merugikan bangsa dan menghilangkan harta ataupun nyawa sekalipun, dan itu merupakan kerugian yang tak ternilai.

Untuk itu marilah kita jaga keutuhan dan bisa mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa, jangan sampai kejadian yang sudah terjadi terulang lagi, karena merupakan pengalaman yang pahit.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dengan keanekaragamannya dan kita harus patut bangga akan hal itu. Karena dengan keanekaragamannya itu Indonesia dikenal dengan Negara yang paling kaya akan kesenian dan budayanya. Jangan sampai kejadian seperti kesenian atau budaya kita diklaim lagi oleh Negara lain karena itu bisa merugikan kita.

Pada kesempatan kali ini akan kita bahas secara mendalam tentang beberapa alternatif pemecahan masalah yang disebabkan oleh adanya kemajemukan masyarakat Indonesia.

Masalah Konflik Antaretnis

Akibat dari bertemunya individu-individu dengan latar belakang etnis yang berbeda tersebut akan menyebabkan munculnya:

a. Saling menolak (konfrontasi), apabila pihak-pihak yang bertikai tidak dapat saling menyesuaikan diri.

b. Asimilasi, pihak-pihak yang berinteraksi dapat saling menyerap sehingga muncul budaya baru demi berlangsungnya kehidupan di masyarakat tersebut.

c. Akulturasi, apabila keduanya saling mengambil unsur sehingga terjadi saling menyesuaikan diri.

Munculnya konflik antaretnis biasanya disebabkan oleh hal-hal berikut ini:

a. Perbedaan pendirian antarindividu.

b. Perbedaan kebudayaan.

c. Perbedaan kepentingan.

Menyadari kondisi di atas, maka diperlukan adanya penanganan konflik yang cepat dan tepat, sehingga konflik yang awalnya bersifat individu tidak menjalar menjadi konflik antaretnis. Kita harus mampu menyadari perbedaan yang ada. Setiap suku bangsa mempunyai tata nilai dan tradisi yang berbeda-beda. Dengan demikian, sudah saatnya setiap warga negara bersikap terbuka dan mau menerima kebudayaan etnis lain. Pandangan primordial yang akan membawa pada suatu sikap picik perlu segera diubah sehingga munculnya perasaan superior harus segera ditingaIkan.

Masalah Konflik Antaragama

Menurut Clifford Geertz,agama adalah unsur perekat yang menimbulkan harmoni sekaligus unsur pembelah yang dapat menimbulkan disintegrasi. Dalam pandangan fungsional, agama adalah sesuatu yang mempersatukan inspirasi yang paling luhur, memberikan pedoman moral, memberikan ketenangan individu, dan kedamaian bagi masyarakat. Namun pada saat yang sama, kadang-kadang agama dijadikan sebagai alat untuk memecah belah persatuan bangsa. Agama dijadikan sebagai kedok untuk mencapai ambisi yang diinginkan. Akibatnya, masyarakat yang mempunyai pemikiran sempit akan gampang terbakar dengan segala macam isu yang coba diembuskan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kondisi demikian harus segera diatasi secepatnya. Banyak pengalaman yang dapat dijadikan hikmah. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mengembangkan toleransi antar umat beragama dan membiarkan orang lain melakukan kegiatan keagamaannya.

Masalah Konflik Antara Mayoritas dengan Minoritas

Di Indonesia, masih banyak dijumpai adanya perasaan sebagian etnis yang merasa paling berkuasa di wilayahnya. Akibatnya, etnis lain yang secara ekonomi lebih mapan dapat menjadi pemicu terjadinya konflik. Oleh karena itu, setiap etnis harusnya dapat menghargai setiap perbedaan yang ada bahwa perbedaan adalah sebuah anugerah bukan musibah.

Masalah Konflik Antara Pribumi dan Nonpribumi serta Perlakuan Diskriminatif

Sentimen rasial dan etnis di Indonesia merupakan sebuah isu yang sangat potensial dalam memunculkan terjadinya konflik. Diskriminasi mempunyai dua pengertian, yaitu:

a. Diskriminasi merupakan penyangkalan hak-hak suatu kelompok warga negara yang sebenarnya berIaku untuk semua warga negara.

b. Diskriminasi merupakan penyangkalan terhadap hak-hak minoritas.

Bangsa Indonesia dapat hidup damai berdampingan satu sama lain. Budayakan sikap toleransi antarsuku bangsa, agama, dan antargolongan.