Lupa

By On Tuesday, March 7th, 2017 Categories : Cerita

Setengah sebelas malam. Yang biasanya aku sudah sibuk dengan dunia mimpiku, sekarang aku hanya bisa duduk terdiam. Mendengarkan suara kendaraan yang masih sesekali lewat di dekat kamar kost yang aku tempati. Aku masih tidak bisa melupakan kejadian tadi siang. Saat orang yang kusukai ternyata sudah menjadi milik orang lain.

“Hei, apa coba tebak?” dengan wajah yang begitu ceria, dia mendatangiku di perpustakaan. Tempat yang sering kita gunakan untuk bertemu. Tangan kirinya membawa amplop berwarna kuning dengan motif-motif lucu. Sedangkan tangan kanannya seperti biasa, dia memegang perrmen ketika ia berbicara.
“Tebak apa?” aku yang sedikit kaget mencoba mengatur emosiku. Dengan perlahan buku yang kubacapun ditutup. Giliran mendengarkannya. Dia hanya tersenyum riang, dengan tingkah lucunya dia memperlihatkan amplop itu.
“Ting! Tada.. kemarin malam aku menemukan ini di tasku. Dan tadi pagi, tadi pagi… apa coba tebak?” wajahnya yang menggemaskan tidak bisa membuatku berpikir untuk menebaknya. Yang kupikirkan, aku hanya ingin selalu melihat wajahnya seperti ini. ceria, menggemaskan.
“Apa? Kamu mendapat surat cinta?” aku menjawab asal. Tapi mendengar jawabanku, wajahnya terlihat memerah. Kemudian ia menutup wajahnya dengan amplop itu.
“loh, kok kamu tahu sih? Jangan-jangan kamu memata-matai aku ya?” dia cemberut, bukan cemberut karena marah. Namun itulah salah satu tingkahnya yang sering aku lihat. Jujur, sebenarnya aku tidak percaya mendengarnya. Bayangkan saja, aku mendekatinya sudah lebih dari dua tahun. Sudah tidak jarang juga aku mengunjungi rumahnya, berkenalan dengan keluarganya, dan yang lainnya. Tapi, tapi kenapa hari ini. Siang tadi, dia memberiku kabar gembira yang membuatku merasa sebaliknya.

Jarum panjang sedikit lagi menyentuh angka dua belas. Sudah dua belas jam lebih aku belum bisa melupakan melupakan kejadian tadi siang. Sebenarnya, memang tidak masuk akal juga. Jika perjuanganku selama dua tahun hanya bisa dilupakan dalam waktu satu atau dua menit saja. Benarkan? Itu memang tidak wajar.

Setelah pulang dari kampus, kali ini aku tidak mengantarnya. Aku membiarkan dia pergi dengan orang lain. Tapi, beberapa jam kemudian. Pesan masuk darinya tertangkap di ponselku.
“Hei, tadi setelah pulang dari kampus kamu kemana? Tidak biasanya kamu tidak menghubungiku?” pesan itu tidak aku balas. Aku hanya membiarkannya menghiasi layar ponselku.
“kok pesannya tidak kamu balas?”
“Kamu tidak kenapa-kenapa kan?” cukup banyak pesan yang ia kirimkan kepadaku. Tapi tak ada satu pun aku membalasnya. Terlebih, pesan terakhirnya membuatku semakin dalam terjatuh ke dalam perasaan yang tidak bisa dijabarkan. Apa yang harus kulakukan sekarang? Bersikap seperti biasa kepadanya? Atau memberikan ia sedikit jarak denganku. Entahlah, bangku kuliah yang seharusnya membuatku dapat berpikir dewasa. Sepertinya saat ini sedang tidak bekerja.

Ponselku berdering, membuatku ingin segera membantingnya. Lagi pula, siapa juga orang yang berkepentingan denganku selarut ini? dengan malas, aku mengangkat telepon itu. Tanpa melihat dulu siapa-siapanya.
“Hei! Kamu dari mana saja? Kamu tidak tahu kalau aku khawatir.” Dia marah. Nada suaranya terdengar begitu marah. Tapi, kenapa juga dia harus marah kepadaku.
“Maaf, Tya. Pikiranku sekarang sedikit kacau? Maaf juga aku tadi tidak sempat membalas pesan darimu.” Suaraku terdengar tidak bersemangat, sangat lemas.
“Loh. Tidak biasanya kamu seperti ini. Coba-coba, cerita kepadaku. Kamu masih ingat kan? Teori yang pernah kamu bilang waktu itu?” apa dia sepolos itu? apa dia tidak tahu bahwa dialah yang membuatku seperti ini?
“Masih ingat, bahkan sangat ingat. Itu sebabnya aku tidak mau menceritakan ini kepadamu. Malam, Tya.” Aku akhiri teleponnya dengan menggunakan nada seramah yang kubisa. Pasti dia sekarang sedang kebingungan. Tapi biarlah, biarlah sesekali dia memikirkan perasaanku.

“Besok jumat. Sabtu tidak ada jadwal kuliah.” Batinku setelah melihat kalender duduk yang ada di meja belajar. Bergegas kucari kontak dosen. Mengetik beberapa kalimat sepertinya cukup untuk meminta izin cuti darinya.

Senin, pukul delapan pagi. Aku masih sibuk dengan sarapanku. Lagu yang yang terdengar dari laptopku sedikit memberikan kenanganku dengannya. Rasanya aneh saja, aku memikirkan dia yang sudah menjadi milik orag lain. Memang tidak ada larangannya sih, tapi entah kenapa hatiku mengatakan hal itu.

Ketukan pintu terdengar beberapa kali, sarapanku juga belum sempurna selesai. Masih tersisa beberapa lauk yang sengaja aku sisakan untuk dimakan belakangan.
“Sebentar!” aku berteriak, takut-takut suaraku kalah dengan suara dari musik yang sedang diputar.
Dia, dia tiba-tiba memelukku sebelum aku sadar siapa orang yang sebelumnya berdiri di balik pintu tadi. Aku kaget tidak mengerti, yang kulakukan hanya membalas pelukannya. Isak tangisnya mulai terdengar, sangat pas dengan lagu yang tiba-tiba sudah berganti dari lagu sebelumnya.
“Kamu tidak tahu, kalau aku khawatir.” tangannya masih erat memeluk. Memendamkan wajahnya tepat di dadaku.
Hanya anggukan yang bisa kuberikan. Terserah dia melihatnya atau tidak, tapi sepertinya dia tahu dengan jawabanku.
“Aku tidak bisa lama-lama, hari ini kamu tahu kan kalau aku ada kuliah pagi?” Dia tersenyum, wajahnya yang ceria membuatku merasa lebih tenang. Dan, aku tidak menyadarinya. Bahwa dari tadi, ada lelaki di belakangnya. Walaupun memang jaraknya lumayan jauh, tapi dia ada di sana. Berdiri tepat di belakang Tya, di depanku.
Tya tiba-tiba menundukan kepalanya. Membuatku sedikit bingung dengan tingkahnya. Sepertinya aku melupakan sesuatu.
“Aku rindu.” Tya hanya mengatakan itu, tapi itu sudah dari cukup untuk membuatku mengingatnya kembali. Belum juga satu minggu aku melakukan itu lagi kepadanya, tapi dia sudah merindukannya. Dasar anak aneh.
Aku mengusap-ngusap kepalanya, membuatnya tersenyum ceria kembali. Lelaki yang ada di sanapun, yang sedang memperhatikan apa yang kita lakukan. Terlihat sesekali mengusap matanya. Entah apa yang dia pikirkan.
Tya bergegas pergi meninggalkanku, berlari-lari layaknya anak kecil yang sudah diberi permen oleh ibunya. Dia pergi meninggalkanku, membuatku melupakan semuanya.