Luka Perjuangan

By On Saturday, March 11th, 2017 Categories : Cerita

Mengapa memberiku alasan perpisahan? Bahkan di awalpun kau tak memberiku pertanyaan “Mengapa kau memilihku”. Coba ingat, berapa puluh kilo meter kita berjalan di atas kaktus? Berdiri dalam deras badai?. Aku mencari jawaban yang sebenarnya tak patut untuk kudengar, Aku bertanya yang sebenarnya tak patut untuk aku tanyakan. “Mengapa kau kalah dengan jarak?”, “Mengapa memilih dia mantanmu? yang sekarang jaraknya berada dekat denganmu?”, “apa Begitu lemah cintamu? Sehingga jarak pun mengalahkan perasaanmu?”. Ribuan pertanyaan lagi yang tersimpan dalam fikiranku, tapi ya sudahlah, mungkin hanya aku yang tulus mencintaimu.

“Sarah.. are you ok?” Tanya Tami, sahabatku.
“Yeah.. i’m fine” balasku datar.
“Ibu dokter gak boleh galau” ucap Tami, merangkulku.
“Aku memiliki pertanyaan, tapi aku tak menemukan jawabannya”
“Apa itu?” Tanya Tami menatapku.
“Aku kuliah kedokteran, aku kuliah di Yogya, sedangkan pacarku Tomi dia kuliah di Jakarta, Bahkan sesingkat hari liburpun aku berusaha pulang ke Jakarta hanya untuk bertemu dengannya, dia bilang jarak akan menguatkan cintanya, tapi nyatanya? Dia mengakhiri semuanya dan balik dengan mantannya” jelasku, lalu air mata jatuh di pipiku.
“Kamu harus kuat, kamu harus menyelesaikan kuliahmu, kamu akan menjadi Dokter. Sudahlah, kamu ini pintar Sarah, kamu harusnya dapat menyimpulkan, berarti Tomi tak memiliki Cinta yang besar seperti apa yang kamu kira” Kata Tami tersenyum menatapku.

Aku memang berusaha berfikir positif dan menyimpulkan semuanya, aku tau, aku salah. Aku salah telah mengira Tomi memiliki perasaan yang besar, sama sepertiku. Aku hanya heran saja, mengapa dia balik ke mantannya. Apa alasan dia? Apa karena Mantan dia berada dekat dengannya? Tak sepertiku yang jauh dipisahkan jarak. Aku merajut helai demi helai benang hingga menjadi satu wujud, itu rinduku. Aku berjalan tersenyum meski hati merintih perih, itu karena cintaku. Aku fikir, aku bodoh karena mencintaimu. Aku fikir, mencintaimu adalah kutukan, karena setelah kehilanganmu aku merasa sebagian hidupku hilang. Tapi kini aku tak menghancurkan mantra kutukan itu, melainkan aku hanya berusaha mengganti setengah hidupku yang hilang agar menjadi utuh.

“Tami.. tapi hatiku mencintainya” ucapku, dengan air mata membanjiri pipiku.
“Menangis selama yang kamu mau, berteriak sesukamu. Kamu mencintainya? Kamu harus siap kehilangannya. Kamu masih bisa mendapatkan orang yang lebih dari Tomi, lagian Tomi itu fikirannya sedikit kaya bocah Sarah, umur kalian aja beda 2 tahun. Sarah kamu lebih dewasa dari Tomi, emang cinta gak memandang umur, status, atau apalah. Tapi setidaknya, ini juga kan Tomi ego nya tinggi. Masa iya, baru aja putus sama kamu dia langsung balikan sama mantannya?” Jelas Tami yang terlihat kesal.
Aku pun hanya diam dan mulai memahami kata demi kata yang terucap oleh Tami.
“Aku mengerti..” ucapku tersenyum lalu mengusap air mataku.
“Apa?” Tanya Tami mengerutkan keningnya.
“Aku akan menangis hanya hari ini, aku harus fokus untuk lulus kuliah ini. Aku mencintainya, tapi aku tak mau hatiku dikuasi oleh cinta. Aku mulai mengerti.” Jawabku tersenyum menatap Tami.
Tami tersenyum lalu memelukku.

Mencintai itu bahagia, tetapi alangkah lebih bahagia lagi bila dicintai oleh seseorang yang tulus. Aku akan menjadi Dokter, aku harus kuat. Meski aku telah berjalan di atas kaktus, berdiri dalam derasnya badai, tersenyum saat hatiku menjerit, aku tak menyesal pernah berjuang untukmu. Setidaknya dalam kisah ini aku menjadi peran utama, meski peranku tak seindah dalam drama, tapi coba fikir, mungkin ini kebahagiaannya. Kejadian ini mungkin adalah sebait doa ku “jauhkan aku dari orang orang yang jahat”, aku sadar begitu baiknya Allah terhadapku, meski menggores luka tapi aku tetap bersyukur, setidaknya Allah menolongku sebelum aku jatuh ke dalam danau.

“Lalu, bagaimana sekarang?” Tanya Tami menatapku.
“Bagai mana apanya?”
“Sebuah cerita Putri dan Pangeran” ucapnya tersenyum.
“Sang Putri tersesat dalam perjalanan mencari pangeran, dia terluka sangat dalam. Lalu seseorang menguatkan sang putri, dan ia berdiri kembali untuk mencari Pangeran, meski ia sedang terluka parah, tetapi ia harus menemukan pangeran. Meski membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menemukan Pangeran, tetapi sang putri terus berusaha” ceritaku sambil tersenyum menatap Tami.
“Aku yakin, sang putri akan menemukan Pangeran suatu saat nanti, dan mengobati luka itu. Dan aku percaya, waktu akan membawa sang putri bertemu dengan Pangeran, seorang pria yang mencintainya dengan tulus” balas Tami tersenyum.

Entah bagaimana cerita sang Putri dan Pangeran itu, ntah kapan sang Putri akan bertemu dengan separuh hatinya. Tapi aku percaya, waktu akan membawa pangeran bertemu dengan sang putri, entah bagai manapun itu caranya. Dan aku percaya, tanpa dikejar cinta akan datang. Tanpa ditahan cinta akan bertahan, dan tanpa diminta cinta akan hadir. Mungkin aku sedang tersesaat kali ini, hingga membuat goresan luka dalam. Tapi apa boleh buat? Mungkin ini kisahku, bukankah untuk mencari berlian itu sulit? Tak seperti mencari Perak. Sama seperti mencari Pangeranku, untuk mendapatkannya butuh suatu pengorbanan, hingga suatu saat tiba aku bertemu dengan Pangeran seperti dalam mimpiku, biarkan menjadi rahasiaku, rahasia pengorbanan mencari Pangeran. Ini sebuah luka perjuanganku, meski terasa berat tapi tetap aku pikul, karena aku percaya Luka akan membawaku bertemu pangeran…