Love You More

By On Friday, March 17th, 2017 Categories : Cerita

Saat ini aku sedang tengkurap di atas kasur sambil membaca novel karena hari ini adalah hari libur. Aku sangat menyukai novel dan tak jarang aku dibuat menangis oleh ceritanya. Oh ya, aku punya sahabat cowok namanya Bryan. Bryan itu bad boy tapi dibalik itu Bryan merupakan orang yang baik. Aku dan Bryan bersahabat baru sebulanan tapi kita udah berteman sejak TK. Tak ada yang mengetahui kalau aku dan Briyan bersahabat kecuali 2 teman SMP ku. Orangtuaku bahkan melarangku untuk berteman dengan Bryan tapi aku malah bersahabat dengannya. Orangtuaku hanya melihat Bryan dari sisi negatifnya saja, mereka tak melihat sisi positifnya. Bayangin aja ya sampe kapan aku dan Bryan terus menyembunyikan persahabat ini? aku pun nggak tau.

Saat aku tengah membaca nove tiba-tiba ada notif bbm dari Bryan.
“hei keluar yok.”
“ke mana?”
“ke mana aja lagi suntuk nih.”
“kebiasaan dah. Suntuk kenapa?”
“ntar bakal aku ceritaiin. Cepet keluar, aku udah di depan rumahmu.”
“Iya bentar.”

Aku mengganti bajuku lalu turun ke bawah dan pamit kepada orangtuaku.
“ma, pa aku ke luar bentar ya” ucapku kepada kedua Orangtuaku yang sedang menonton tv.
“ke mana, sama siapa?” tanya papaku.
“sama Ranisya paling ke mall bentar pa”. Ucapku membohonginya karena papa pasti tak akan mengizinkanku pergi kalau aku bilang perginya sama Bryan.
“ya udah hati-hati”. Kata papa dan mamaku. aku pun segera ke luar rumah dan menemui Bryan.
Bryan tengah duduk di atas motornya sambil memainkan hpnya dan tidak menyadari kehadiranku. Aku menepuk pundaknya dan dia menoleh.
“hai, maaf nunggu lama” ucapku kepada Bryan dengan tersenyum.
“nggak papa, ayok cepet naik” ujarnya sambil menyerahkan helm kepadaku.
“eh Yan ke rumah Ranisya dulu ya… aku tadi bilang ke mama papa pergi sama Ranisya” ujarku.
“oh, ok” jawab Bryan.

Sesamapainya di rumah Ranisya aku turun dan mengetuk pintu rumahnya. Tak lama Ranisya pun keluar dengan berpakaian rapi.
“eh kamu, ada apa?” tanya Ranisya
“kamu mau kemana Ran?” tanyaku
“mau pergi sama Adit. Kamu ke sini sama Bryan?” tanyanya karena melihat Bryan yang tengah duduk di atas motor.
“iya, aku ke sini cuma mau minta tolong seperti biasa Ran” ucapku ke Ranisya dan dia sudah tau kelakuanku jadi dia bilang…
“elah tenang aja. Aku bakal selalu bantu kamu kok. Asal jaga diri sama cowok macem si Bryan. Ok” ucapnya.
“oke Ran, ya udah aku pergi dulu. Makasih banyak Ran.” Ucapku lalu segera beranjak ke tempat Bryan.
Bryan yang mengetahui aku sudah selesai minta tolong ke Ranisya, ia pun memberikanku helm tadi dan aku segera naik ke motornya.
“mau kemana nih Yan?” tanyaku kepadanya.
“gimana kalo ke kedai kopi deket taman kota” tanyanya aku pun menyetujuinya.

Sesampainya di kedai kopi tersebut Bryan memilih duduk di tempat out door yang langsung menghadap ke taman kota yang sangat ramai dengan pengunjung mulai dari anak-anak, muda-mudi, sampai lansia. Bryan memesan 2 cappucino untuk kita dan dia memulai obrolan.
“sampe kapan ya kita terus-terusan sahabatan sembunyi-sembunyi kayak gini?” tanyanya sambil menghadap ke arahku.
“aku juga nggak tau Yan. Kalau aja kamu bisa buktiin kalo kamu bisa berubah jadi lebih baik persahabatan sembunyi-sembunyi ini pasti berakhir” ucapku ke Bryan.
“aku udah berusaha buat berubah saat ini. Tapi masih banyak banget rintangannya, dan jauhin temen-temen b*ngsatku tiba-tiba itu juga nggak mudah. Jadi please ngertiin aku, dan terus bantu aku buat berubah ya. Aku juga capek hidup dalam dunia gelapku yang sekarang” ujarnya sambil memegang tanganku.
“aku selalu ngertiin kamu Yan, dan aku bakal berusaha buat ngerubah kamu” ucapku ke Bryan. Setelah itu kopi pesanan kami datang.

Bryan melanjutkan obrolan. “maaf aku selalu nyusahin kamu, maaf gara-gara aku kamu jadi sering bohongin Orangtua kamu, dan maaf sampe sekarang aku belum bisa berubah” ucap Bryan dari hati dan itu membuatku ingin menangis.
“kamu gak perlu minta maaf Yan, karena itu aku lakuin agar sahabatku ini bisa berubah meskipun aku nggak tau kapan semua ini berakhir” ujarku sambil menguatkan diriku agar tidak menangis di hadapannya.
“makasih buat ketulusan dan kebaikanmu, aku janji aku bakal berubah secepatnya” ujar Bryan lalu mencium keningku dan aku hanya bisa memejamkan mata dan mencoba tersenyum meskipun tak terasa air mataku mengalir perlahan di pipiku.
Setelah cukup lama Bryan mengecup keningku dia pun melepaskannya dan aku membuka mata. Bryan yang melihat ada air mata di pipiku langsung menghapus dengan tangannya dan berkata…
“jangan pernah menangis lagi apalagi untuk seorang sahabatmu yang nggak berguna ini, sekalipun aku meninggalkan dunia untuk selamanya jangan pernah menangis dan tapi teruslah tersenyum,”
“udah senyum gih, jelek tau kalo kamu nangis itu” lanjutnya dan aku pun tersenyum ke arahnya.
“aku sayang kamu sahabatku” ujar Bryan.
“aku juga sayang kamu sahabatku” balasku.

Setelah itu Bryan mengajakku ke taman. Bryan mengajakku ke arah sekumpulan anak-anak kecil yang sedang bermain dan ada juga yang tengah menggambar.
“kakak…” ucap anak-anak tersebut kepada Bryan. Aku hanya bisa bertaya dalam hati ‘mereka kenal Bryan?’.
“hai…” ucap Bryan kepada anak-anak itu dengan senyum sumringah.
“siapa kakak cantik itu kak?” tanya salah satu anak perempuan yang kira-kira umurnya masih 4 tahun.
“oh ya, kenalin ini sahabat kakak namanya Thania” ucap Bryan memperkenalkanku kepada anak-anak itu.
“hai semua” sapaku kepada anak-anak itu dengan senyuman yang sangat lebar.
“hai kak Thania” jawab anak-anak itu sangat mengemaskan.
Lalu aku dan Bryan ikut larut bermain bersama anak-anak tersebut. Bryan sangat bahagia bersama mereka, dan aku bisa merasakan kalau Bryan sangat menyayangi mereka.

Sudah hampir larut aku dan Bryan memutuskan untuk pulang. Di perjalanan Bryan menceritakan tentang siapa anak-anak tadi sebenarnya karena aku bertanya padanya.
“Yan anak-anak tadi itu siapa? Kok akrab banget sama aku” tanyaku kepada Bryan.
“anak aku” jawab Bryan dengan tersenyum geli di balik helmnya.
“ha, serius Yan?” tanyaku tak percaya.
“hahahaha, … ya nggak lah sebad boynya aku gak mungkin lah aku punya anak di usia yang masih 16 tahun” ujar Bryan disertai tawanya yang khas.
“ya bisa aja secara mantan kamu kan segudang” ujarku sambil tertawa sinis.
“sembarangan,” ujarnya dengan nada kesal.
“mereka itu anak jalanan, tapi mereka udah ada relawan yang bersedia memberikan kehidupan yang lebih baik untuk mereka, dan setiap minggu itu mereka selalu main di tempat itu” jelas Bryan kepadaku dan aku hanya ber-oh ria.
“eh Yan tumben kamu dari tadi nggak nger*kok?” tanya ku karena dari tadi aku tak melihatnya mer*kok.
“ya nggak mungkin lah aku nger*kok deket kamu dan anak-anak tadi, bahayanya lebih besar Than. Aku juga udah bisa ngurangin nger*kok.” Ucap Bryan.
“bagus deh kalo gitu”.

Hari-hariku aku lewati bersama sahabatku ini dan dia udah mulai berubah dia udah nggak nger*kok lagi, udah nggak pernah datang ke club lagi, dan udah bisa jauhin teman-temannya yang bawa dampak buruk buat dia.
Sulit awalnya untuk Bryan jauh dari teman-temannya tapi aku terus bantu dia untuk menolak ajakan temen-temennya berbuat buruk, akhirnya aku pun bisa dan temen-temennya tersebut yang meninggalkan Bryan bukan Bryan yang meninggalkan mereka.

Bryan selalu sempetin buat nganter jemput aku ke sekolah meskipun jarak sekolah kita gak searah. Hari ini sepulang sekolah aku dan Bryan pergi ke rumah singgah anak-anak jalanan dan membawakan mereka buku, mainan, serta cemilan. Aku dan Bryan bermain bersama mereka hingga larut sore, melihat tawa Bryan dan anak-anak tersebut menjadi hal yang membahagiakan bagiku. Aku bangga Bryan bener-bener menepati janjinya untuk berubah.

“Yan main nanti habis sampe rumah ku kamu mampir dulu ya” ucapku kepada Bryan yang tengah memasang helmnya.
“ha, ngapain?” tanyanya.
“aku mau persahabatan kita diketahui Orangtuaku, aku nggak mau bohongin mereka lagi.” Ucapku.
“oke, aku bakal mampir” jawabnya.

Sesampainya di rumah kulihat papa dan mama sedang duduk diteras. Papa menyadari kehadiranku dan Bryan.
“pa, ma aku dan Bryan mau jelasin sesuatu. Pertama aku juga minta maaf karena udah sering bohongin kalian, dan aku udah langgar apa yang kalian larang untuk nggak temenan sama Bryan. Maafin Thania ma, pa.” Ucapku sambil menangis.
“emm om, tante ini juga salah aku. Aku udah buat Thania bohong sama om dan tante. Maafin aku om tante. Seharusnya aku gak ngejauh dari hidup Thania”. Ujar Bryan sambil menunduk.
“udah tau harusnya kamu jauhin Thania tapi kamu malah dekat dan buat Thania bohongin saya” ujar papa dengan nada marah.
Sementara mama hanya tersenyum dan kemudian tertawa.
“hahahahaha, papa aktingnya lucu” ujar mama sambil tertawa terbahak-bahak. Aku dan Bryan melihatnya hanya dengan tatapan binggung.
“papa dan mama udah tau kok kalo kalian selama ini sahabatan dan kita juga udah tau kalo Bryan itu gak senegatif yang kita lihat” ucap mama sambil memelukku
“iya papa udah pantau apa aja yang kalian lakuin selama ini dan papa diam karena papa ingin kalian datang memberitahu kami” ucap papa.
“mama sama papa maafin kalian kok, dan selamat ya Bryan udah bisa buktiin ke om dan tante kalo kamu bisa berubah dan bisa jagaiin Thania” ucap mama lalu memeluk kita berdua.
“makasih om, tante” ujar Bryan.
“Orangtua kamu juga udah tau Yan kalo kamu sama Thania sahabatan jadi sekarang kalo pergi berdua gak usah bohongin kita lagi, dan sering-sering main ke rumah ini biar rame” ujar papa.
“itu mah pasti om” ujar Bryan.
Terima kasih tuhan, aku bahagia dengan semua ini tuhan, aku mohon jangan pernah ambil kebahagiaaku bersama mereka. Jangan pernah pisahkanku dari mereka, dan aku nggak mau kehilangan seorang pun dari mereka.

Aku dan Bryan kian dekat, kita tak pernah seharipun berpisah. Hari ini Bryan mengajakku pergi ke suatu tempat tapi dia tak memberi tahuku tempat apa dan di mana itu. Bryan memasangkanku helm dan aku segera naik ke atas motornya. Sesampainya di tempat itu aku benar-benar dibuat takjub olehnya. Bryan membawaku ke sebuah tempat yang di sana terdapat hamparan kebun mawar putih yang sangat luas.
“kamu suka?” tanya Bryan aku pun hanya menganguk sambil tersenyum antusias. Lalu Bryan memberiku sebuah cincin dan boneka anjing yang ukurannya sedang.
“makasih Yan” ucapku lalu aku memeluknya dan dia membalas pelukanku lalu mencium keningku.
“ini cincin agar kamu selalu inget sama aku, sahabatmu yang berhasil kamu perbaiki” ucap Bryan sambil mengenggam tanganku.
“aku sayang kamu sahabatku” ucap Bryan.
“aku juga sayang kamu sahabatku” jawab ku.

Tiba-tiba aku melihat darah keluar dari hidung Bryan, aku kaget tapi Bryan tak menyadari kalau hidungnya berdarah.
“Yan hidung kamu” ucapku.
“ha, oh cuma mimisan dikit” ujarnya enteng sambil membersihkan darah itu.
“kok bisa berdarah Yan?” tanyaku.
“aku juga nggak tau Than, udalah gausah dipikirin” ucapnya dan aku pun diam.
Setelah itu aku dan Bryan memutuskan untuk pulang.

Sudah dua minggu setelah Bryan mengajakku ke tempat itu, Bryan nggak ada kabar sama sekali bahkan rumahnya pun tak ada orang sama sekali. Aku terus mencari Bryan hingga sudah hampir 3 bulan ini aku merasa lelah dengan semua ini. aku berhenti mencarinya tapi aku berharap ada kabar tentangnya entah itu kapan.
“Yan kamu di mana? Kamu nggak kangen sama aku? Apa kabar kamu? Kamu udah nggak mau jadi sahabatku lagi? Kamu nggak mau kenal aku lagi? Sampe-sampe kamu pergi tinggalin aku gitu aja? Yan kembali dan temui aku, aku mohon” aku menangis sambil memeluk boneka anjing pemberian Bryan waktu itu.

Pagi ini aku benar-benar malas buat pergi sekolah tapi aku harus sekolah. Semenjak Bryan menghilang papa yang setiap hari mengantarkanku ke sekolah. Saat didalam mobil tiba-tiba hp ku berdering dan ada sebuah nomor tidak dikenal terpampang di layar lalu aku menjawabnya.
“halo ini nak Thania ya? Saya mamanya Bryan. Maaf selama 3 bulan ini Bryan tidak menghilang tak ada kabar karena selama 3 bulan ini Bryan harus menjalani pengobatan, dia terkena kanker paru-paru stadium akhir, saat ini dia sedang kritis, jadi saya mohon datanglah untuk menjenguk Bryan. Saya akan sms alamat Rumah Sakitnya.” Ucap mama Bryan di seberang sana. Tubuhku langsung lemas seketika dan aku tak bisa menahan tangisku. Papa yang menyadari itu langsung menepikan mobilnya dan bertanya.
“kamu kenapa nak?” tanya papa.
“Bryan pa, Bryan dia kritis. Ayo pa kita ke Rumah Sakit ini” ujarku ditengah tangis sambil memberikan sms dari mama Bryan tadi.

Sesamapainya di rumah sakit aku langsung berlari menuju ruangan tempat Bryan dirawat sambil menangis diikuti oleh papa di belakangku. Aku telah sampai di ruangannya dan melihat mama Bryan yang sedang duduk di kursi tunggu.
“tante, Bryan” ucapku yang masih menangis
“iya Than tapi kamu berusahalah tersenyum saat kamu masuk kesana nanti, karena Bryan pernah bilang ke tante jangan pernah ada yang menangis karena dia” ucap mama Bryan.
Aku menghapus air mataku dan memakai pakaian khusus untuk masuk keruangan Bryan. Aku berusaha tersenyum untuknya.
Aku saat ini sudah berada di ruangan Bryan dan mencium keningnya serta menggengam tangannya. Melihatnya seperti ini aku tak bisa menguatkan diriku untuk tidak menangis.
“Yan ini aku Thania, aku mohon bangun Yan, aku kangen kamu, aku pengen kita lewati hari-hariku sama kamu Yan, ayok Yan kamu pasti kuat. Bangun Yan aku mohon. Mana janji kamu buat selau jagain aku? Mana Bryan yang kuat dulu? Mana Bryan yang dulu selalu bisa naklukin rintangannya? Mana Bryan dulu yang bisa habisin seluruh musuhnya saat tawuran? Mana Yan?”. Ucapku sambil menangis terisak di samping Bryan.

Tiba-tiba kurasakan jari Bryan yang kugenggam mulai bergerak dan ia berusaha membuka matanya. Aku tersenyum kepadanya dan ketika aku hendak ke luar untuk memberitahu mama Bryan, ia mencoba menahanku dan aku pun menurutinya. Bryan mencoba untuk berbicara denganku namun sulit tapi dia terus mencoba.
“Than makasih buat semuanya, maafin aku karena udah sering buat kamu nangis. Saat aku udah menutup mataku untuk selamanya aku minta kamu selalu tersenyum, aku udah nggak kuat lagi Than. Maaf aku nggak bisa terus jagain kamu. Aku cinta kamu sahabatku.” Setelah mengucapkan itu Bryan menutup matanya dan ia meninggalkanku untuk selamanya.
Aku ke luar ruang rawat dengan tersenyum menguatkan diriku karena itu permintaan Bryan yang terakhir. Kemudian, dokter masuk dan tiba-tiba kepalaku pusing dan semuanya gelap.

Aku terbangun dan orang yang terlihat di sampingku adalah papa dan mama.
“Than kamu udah sadar, pemakaman Bryan akan dilaksanakan sebentar lagi. Kamu ikut ke sana?” tanya papa.
“iya, ayo pa” jawabku.

Pemakaman Bryan sudah selesai dan sekarang aku sudah keluar dari tempat pemakaman itu, lalu mama Bryan memanggilku dan memberiku sebuah amplop hijau mudah.
“Than ini surat dari Bryan. Bryan menitipkan ini saat ia selesai menjalani oprasi 2 bulan yang lalu” ujar mama Bryan.
“iya tante makasih”

Sesampainya di rumah aku langsung menuju ke kamarku dan membuka isi amplop itu. Isinya adalah sebuah surat.

“hai sahabatku…
Saat kamu baca surat ini aku udah nggak ada lagi di sampingmu.
Maaf aku udah terlalu sering buat kamu jengkel, marah, keecewa, dan nangis.
Makasih karena udah mau jadi sahabatku dan selalu ada buatku meskipun disaat aku dulu berada dalam keadaan yang sangat buruk.
Makasih kamu udah merubah aku jadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
Makasih udah buat hidupku jadi lebih berwarna.
Aku sengaja tak memberitahumu tentang penyakit ini.
Aku nggak mau liat kamu sedih dan aku nggak mau liat kamu nangis lagi untukku, karena udah cukup air matamu kamu buang untuk orang yang gak berguna seperti aku ini.
Terima kasih untuk 13 tahun ini dan maaf karena aku meninggalkanmu terlalu cepat.
Tersenyumlah dalam keadaan apapun Than.
Aku mencintaimu sahabatku
BRYAN”

Begitulah isi suratnya, Bryan mencintaiku.
“i love you more sahabatku” sambil memeluk boneka anjing dari Bryan dan mengusap cincin dari Bryan waktu itu.
“selamat jalan sahabatku”

3127913, 3127914, 3127915, 3127916, 3127917, 3127918, 3127919, 3127920, 3127921, 3127922, 3127923, 3127924, 3127925, 3127926, 3127927, 3127928, 3127929, 3127930, 3127931, 3127932, 3127933, 3127934, 3127935, 3127936, 3127937, 3127938, 3127939, 3127940, 3127941, 3127942, 3127943, 3127944, 3127945, 3127946, 3127947, 3127948, 3127949, 3127950, 3127951, 3127952