Love Me?

By On Thursday, March 16th, 2017 Categories : Cerita

Namanya Riza, anak kelas X-3 di SMA Harapan Bangsa. Cowok paling cool dan ganteng, meskipun masih kelas X namun pesonanya mengalahkan pesona kakak kelas.
Dia paling sering dibicarakan oleh siswi-siswi. Mulai dari teman sekelas, sampai kakak kelas. Selain cool dan ganteng, dia juga tergabung dalam grup band sekolah, terlebih dia sebagai vokalis, tentu saja semakin memikat hati para kaum wanita. Namun sayang untuk para penggemarnya. Riza sudah mempunyai kekasih, namanya Dera anak kelas X-1, pacar Riza semenjak SMP, cantik, atlet voli.

“Riza…” teriak penggemar-penggemarnya saat Riza lewat di tengah kerumunan siswa siswi.
“dasar cewek-cewek genit, nggak tau apa kalau ada gue” ungkap Dera kesal, menanggapi kegaduhan yang terjadi karena kedatangan Riza.
“udahlah sayang jangan dipikirin, sekarang aku ke kelas dulu ya” pamit Riza setelah mengantar Dera ke depan kelasnya.
“awas ya kalau mereka macam-macam sama kamu” ancam Dera dan langsung berlalu. Riza hanya mengelengkan kepalanya. Riza segera menuju kelasnya yang tak jauh dari situ.

Sampai di kelasnya masih sepi, baru beberapa yang datang. Riza duduk dibangkunya dan membaca sebuah buku. Tak lama teman-temannya berdatangan.
Bel masuk berbunyi, pelajaran dimulai. Kali ini adalah pelajaran Kimia. Setelah menjelaskan materi bu Vina pun memberikan tugas untuk mereka.
“tugasnya berkelompok, untuk lebih jelasnya ketua kelas silahkan membagikan lembar kerja dan kelompoknya. Jangka waktu pengumpulannya masih satu bulan, kalian sudah bisa memulai untuk berdiskusi. Selamat bekerja anak-anak” jelas Bu Vina dan langsung berlalu.

Riza pun membagikan lembar kerja sesuai dengan kelompoknya. Semua sudah mendapat kelompok, namun sedari tadi Dita tak dipanggil untuk mengambil lembar kerjanya, ada perasaan resah menggelayutinya.
“Dita, kamu sekelompok denganku” ucap Riza, membuat Dita lega. Riza langsung duduk di bangkunya. Semua anak pun sibuk membicarakan tugas ini, mereka begitu antusias. Riza pun duduk di sebelah Dita.
“kita mulai penelitiannya nanti di lab kimia ya” ujar Dita
“ok.” Sahut Riza

Pulang sekolah tiba, Dita dan Riza langsung menuju lab kimia. Namun sebelum itu Riza menemui Dera dan Dita memilih langsung ke lab.
“kenapa harus hari ini, hari ini kan aku latihan, kenapa tidak besok saja, kan aku bisa ikut” ucap Dera manja
“sayang, besok aku ada latihan band, lagian kalau kamu ikut, kamu mau apa, kan aku juga mengerjakan tugas”
“ya aku jagain kamu lah dari temen kamu, siapa tau temen kamu itu mau rebut kamu dari aku”
“ya ampun, itu nggak mungkin, Dita itu Cuma temen aku, nggak mungkin dia mau rebut aku dari kamu, lagian kamu tau kan, kalau cintaku hanya untuk kamu seorang”
“kamu bisa saja, ya udah sana, aku juga mau latihan ya”
“iya”

Riza pun menyusul Dita yang sudah berada di lab, dia langsung mengenakan jas praktek. Mereka langsung mengerjakan tugas yang diberikan bu Vina.
“jadi larutan ini tidak boleh sampai terkena kulit, kalau terkena bisa gatal-gatal,” jelas Dita
“iya iya, aku mengerti. Lalu…” mereka pun melanjutkan diskusi sampai sore.

Tak terasa sudah hampir malam, karena asyiknya mereka sampai lupa waktu.
“maaf ya sampai sore begini,” ujar Dita
“tidak apa-apa Dit, kamu tidak usah meminta maaf begitu, lagian asyik juga mengerjakan tugas ini”
“ooh ya udah aku pulang dulu ya” pamit Dita
“iya, hati-hati. Kamu pulang sama siapa?”
“sendiri”
“aku antar kamu yuk”
“tidak usah Za, rumahku kan dekat, kamu pulang saja”
“ya udah kalau begitu.”

Hari senin tiba. Semua siswa, guru dan karyawan sudah berkumpul di lapangan untuk upacara. Para petugas PMR sudah siap di belakang barisan untuk menangani anak-anak yang sakit atau pingsan saat upacara sedang berlangsung.
Sudah dua puluh menit upacara berlangsung. Riza mulai merasa pusing dan dia terus memegang perutnya. Dan lama-lama pandangannya kabur dan semuanya gelap.

Saat membuka matanya Riza sudah berada di UKS. Ada juga beberapa siswa yang lain di sana. Dita yang juga anggota PMR ikut merawat anak-anak yang sakit.
“Dita, tolong kamu rawat Riza, kakak akan mengambil obat dulu” ujar kak Alvaro. Alvaro adalah anak kelas XI IPA 2, merupakan ketua PMR.
“baik kak” jawab Dita. Dita langsung mendekati Riza yang masih terbaring lemah.
“aku kenapa Dit, kok bisa ada di sini?” tanya Riza
“tadi kamu pingsan saat upacara.” Jawab Dita. Riza kembali diam.
“kamu punya penyakit maag ya?” tanya Dita
“kok kamu tau?”
“tadi dokter memeriksa kamu, dan kamu dikasih obat,”
“ya udah mana obatnya, biar aku minum sekarang”
“tapi sebelum minum obat, kamu harus makan dulu” Riza diam.
“kamu pasti belum sarapan ya?” tanya Dita, Riza mengangguk lemah.
“sarapan itu penting, kamu jangan suka menyepelekannya loh, sekarang biar aku ambilkan makanan, kamu di sini dulu ya” Dita pun keluar, mengambil makanan. Lebih tepatnya membeli di kantin. Setelah itu dia membawakannya untuk Riza.
“maaf ya, Cuma kaya gini makanannya” ucap Dita
“tidak apa-apa kok Dit, ini saja sudah cukup, aku makan ya” Riza pun langsung memakan makanan tersebut. Dita langsung menangani siswa yang lain.

Setelah keadaan Riza membaik, ia langsung ke kelas.
“Dita, makasih banget ya, sekarang keadaanku lebih baik”
“syukurlah kalau begitu”
“kamu tidak ke kelas?”
“nanti saja, aku masih piket”
“ya sudah kalau begitu aku duluan ya” pamit Riza
“iya”.
Riza berjalan memutar lapangan, menaiki tangga untuk menuju kelasnya. Kelasnya memang jauh dari UKS, membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai ke sana, maklum sekolahnya begitu luas.

Setelah jam pelajaran selesai, semuanya berkemas dan pulang. Riza langsung menuju studio musik untuk latihan dengan teman-temannya. Tak sengaja ia melewati lapangan voli dan melihat Dera tengah bermesraan dengan anak laki-laki yang tak dikenal Riza.
“tadi kenapa Riza pingsan kamu nggak menjenguknya” tanya laki-laki itu kepada Dera
“ngapain aku jenguk dia, dia aja sering cuekin aku, dia lebih suka latihan bandnya daripada jalan sama aku, lagian juga aku nggak suka ngerawat orang sakit. Masa cowok cemen banget, upacara aja pingsan” jawab Dera. Telinga Riza panas mendengar penuturan Dera. Ia tak menyangka pacarnya bisa berkata seperti itu di belakangnya, padahal Riza pikir Dera adalah ceweknya yang paling baik. Riza hendak melangkah menuju Dera, namun terhenti mendengar penuturan Dera lagi..
“lebih baik, aku di sini sama kamu, kamu kan orang yang paling peduli denganku” penuturan itu membuat Riza tak dapat menahan amarahnya lagi, didatanginya Dera.
“oh jadi seperti ini ya kelakuan kamu di belakang aku”
“Riza, kamu kok di sini, bukannya kamu latihan?”
“mulai detik ini kita PUTUS!” ucap Riza langsung berlalu meninggalkan Dera dan teman lelakinya.

Sore hari terasa begitu hangat. Mendukung Riza dan Dita yang masih sibuk dengan tugas kimianya. Di antara kelompok-kelompok yang lain, merekalah yang paling sering praktik dan meneliti. Tidak semua kelompok begitu semangat seperti mereka.
Lama kelamaan mereka bersama membuat perasaan dihati Riza perlahan tumbuh. Ada perasaan yang berbeda ketika bersama Dita. Jantungnya berdegup lebih cepat dan dia jadi sedikit grogi saat bersama Dita.

Saat mereka hendak pulang, tiba-tiba hujan turun. Saat Riza tengah menunggu hujan reda, dari belakang Dita memayunginya. Tak lama kedaan berubah hening, Riza merasa jantungnya berdegup lebih kencang, merasakan perhatian yang diberikan Dita.
“kamu pakai saja payungku” Dita menyerahkan payungnya
“kamu sendiri?” tanya Riza, tiba-tiba seorang laki-laki datang dari balik gedung lab, membawa payung dan memayungi Dita.
“aku bersama kak Alvaro, aku duluan ya Za” pamit Dita. Deg. Baru saja Riza merasa senang dengan perhatian yang diberikan Dita, namun tiba-tiba hilang begitu saja perasaan senangnya, melihat Dita bersama Alvaro.
‘apa mereka sudah sangat dekat ya?’ Riza bertanya sendiri dalam hati. Namun ia mengacuhkan dan langsung pulang

Setibanya di rumah, ia langsung bergegas mandi. Setelah mandi Riza makan malam bersama keluarganya.
Setelah itu dia memilih untuk duduk di balkon rumahnya, sambil memandang bintang-bintang di langit, juga dengan gitarnya. Walaupun ia memegang gitar namun tetap saja pikirannya masih tertuju pada Dita. Tak lama handphonenya berbunyi, dengan semangat Riza mengangkatnya, ia pikir itu adalah Dita, namun ternyata Dera.
“ada apa Dera?” tanya Riza
“sayang, aku tidak bisa terima keputusan kamu waktu itu. Aku masih sayang banget sama kamu, kita bisa balikan lagi kan?”
“enggak, aku udah nggak percaya lagi sama kamu.” Riza langsung menutup teleponnya. Dengan langkah gontai ia menuju balkon lagi, namun handphonenya berbunyi lagi. “apaan lagi sih” umpatnya kesal. Namun begitu melihat layar ponsel, siapa yang menelepon, ia begitu semangat mengangkatnya.
“halo Za, aku nggak ganggu kamu kan?” ucap Dita diseberang
“enggak kok Dit, enggak sama sekali, ada apa?”
“buku kamu kebawa sama aku, aku takutnya kamu nyariin, besok aku bawa kok”
“oohh, iya iya iya”
“kamu udah makan belum?” tanya Dita
“hah?”
“kamu udah makan atau belum, aku takutnya maag kamu kumat lagi dan besok tidak berangkat. Besok kan kita presentasi tugas kimia, kalau kamu tidak berangkat kan aku presentasi sendiri, tidak bersama sang Raja kelas X-3”
“kamu bisa saja, aku sudah makan kok tadi, makasih ya kamu udah perhatian sama aku”
“sama-sama Za. Oh ya udah dulu ya,”
“iya”. Riza tersenyum-senyum sendiri setelah mendapat telepon dari Dita.

Pagi-pagi sekali Riza sudah berangakat, didapatinya belum seorangpun yang datang ke kelas, suasana masih lengang. Riza mengeluarkan sebuah kertas, ditaruhnya di laci meja Dita, dan langsung keluar berharap tidak ada yang melihatnya.

Jam sudah menunjukan pukul tujuh, semua anak sudah banyak yang datang. Riza berharap-harap cemas menanti di bangkunya, namun Dita belum datang juga. Dia pun menjadi pesimis. Tiba-tiba Dita datang dan mengembalikan bukunya yang kemarin terbawa.
“maaf ya Za, kamu jadi tidak belajar tadi malam ya, karena bukumu terbawa aku” ucap Dita
“tidak apa-apa, aku kan masih bisa belajar dari buku paket”
“ya udah kalau begitu, aku ke bangku aku ya” Riza mengangguk. Ia memperhatikan Dita. Namun Dita tak kunjung melihat lacinya. ‘gimana ini,’ gerutu Riza dalam hati.

Pelajaran pun dimulai, selama pelajaran Riza tak konsentrasi.
“Riza, kerjakan nomor 2” suruh bu Pipit, Riza hanya diam saja, semenjak tadi ia hanya melamun.
“Riza…” suara bu Pipit mulai meninggi, Riza pun tersadar dari lamunannya.
“iya bu”
“kamu dari tadi memperhatikan pelajaran atau tidak sih, sekarang kamu keliling lapangan sepuluh kali, sebagai hukuman karena kamu tidak memperhatikan pelajaran”
“tunggu dulu bu, Riza ini mempunyai riwayat sakit maag, kalau dia berlari ada kemungkinan kalau penyakitnya kambuh, bisa tolong diringankan bu hukumannya” Dita tiba-tiba membela Riza, dan membuat Riza tak percaya sekaligus merasa senang.
“cie… ngebelain” ucap teman-teman sekelasnya.
“tenang anak-anak. Baiklah saya akan memperingan hukuman untuk Riza menjadi lima kali, dan untuk yang lima kali untuk kamu Dita karena sudah membantah perintah saya. Sekarang kalian berlari, cepat”
“baik bu” ucap Dita. Namun Riza tak tega melihat Dita juga ikut dihukum karenanya.
“tapi Dit, ini kan hukuman untukku, kamu tidak seharusnya ikut dihukum seperti ini”
“sudah lah Za, ayo” mereka pun akhirnya berlari mengelilingi lapangan lima putaran seperti yang diperintahkan.

Selesai berlari mereka duduk di bawah pohon yang rindang di depan perpustakaan. Riza pergi meninggalkan Dita sendirian, dan dia kembali membawa dua botol minuman, satu diberikannya untuk Dita.
“maafin aku ya, tidak seharusnya aku membuatmu ikut dihukum seperti ini” ucap Riza
“enggak perlu minta maaf kali Za. Aku juga salah udah ngebantah bu Pipit,”
“untuk apa kamu membelaku seperti tadi Dit kalau hanya membuatmu tersiksa seperti ini”
“aku tidak tersiksa kok, aku malah senang bisa membantu kamu. Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu, aku takutnya kalau maag kamu kumat lagi” jawab Dita. Riza tersenyum. ‘apakah Dita punya perasaan sama gue, buktinya dia perhatian banget’ batin Riza.

Setelah menghabiskan waktu istirahat, mereka kembali ke kelas. Di kelas mereka langsung disambut oleh sorak sorai teman-teman yang mengira mereka ada hubungan.
“cie-cie pak ketua kelas dibelain sama bu dokter, jangan-jangan mereka udah jadian nih” celetuk salah satu anak. Di kelas memang Riza adalah ketua kelas, dan Dita juga di panggil bu dokter karena Dita adalah satu-satunya anak di kelas X-3 yang mengikuti ekstrakulikuler PMR dan juga Dita yang sangat aktif di PMR.
“apaan sih kalian. Ini semua tidak benar, aku dan Riza itu hanya teman,” kilah Dita
“lebih dari teman juga tidak apa-apa” jawab anak yang lain
“terserah kalian” jawab Dita. Riza sedari tadi hanya diam, sebenarnya ia ingin jadian beneran dengan Dita bukan hanya ejekan teman-temannya.

Tibalah saatnya pulang.
“Dit, tadi gue nemuin ini di laci lo, coba gih buka gue penasaran,” ucap Fira, teman sebangku Dita, Dita pun menerima kertas yang diberikan oleh Fira dan membukanya. Di kertas tersebut tidak tertera nama pengirimnya namun surat tersebut ditujukan untuk Dita, isinya…

Wajahmu, hatimu, telah lama ku dambakan
kamu yang sejak dulu aku nantikan…

“cie… cie… Dita, dari siapa tuh?”
“ngga tau” Dita hanya mengedikan bahunya, tanpa ekspresei menanggapi surat tersebut.
“jangan-jangan dari kak Alvaro tuh” ledek Fira
“gak mungkin lah ngaco aja lo, kalo itu dari kak Alvaro pasti dia nulis namanya”
“berati sekarang lo punya pengagum rahasia”
“nggak tau lah, pulang aja yuk” mereka pun pulang. Riza semenjak tadi memperhatikan reaksi Dita mengenai surat tersebut, namun ia agak kecewa karena Dita bersikap biasa saja, dia kira Dita akan senang dengan itu. Namun ia tak menyerah, hari berikutnya ia menulis surat lagi untuk Dita.

Ketika kau di sampingku, berdebar rasa di hatiku
diriku tersipu malu karena dirimu…
Ku ingin kau milikku…

Dita membuka surat tersebut lagi. Dita makin dibuat penasaran dengan surat itu, ia berfikir apa maksud orang ini. Dita juga tidak tau siapa orang yang mengirimnya, karena tidak ada nama pengirim. Dia sama sekali tidak tersentuh dengan kata-kata dalam surat tersebut, dia malah bingung. Sedangkan Riza semakin tidak sabar mengenai jawaban perasaannya terhadap Dita, dia juga semakin bingung harus bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya untuk Dita.

Acara pentas seni yang diadakan sekolah setiap tahun berlangsung hari ini. Sebagian siswa telah mendaftarkan diri untuk ikut mengisi pentas seni tersebut. Tak terkecuali Riza dan teman-temannya. Kini mereka sedang menunggu giliran untuk tampil. Sedari tadi Riza tidak melihat kehadiran Dita, bahkan di kelas pun tidak ada.
“Dita mana?” tanya Riza pada Fira, Fira menjawab tidak tahu. Riza pun cemas, ada yang ingin ia sampaikan pada saat tampil nanti, namun Dita tak kunjung terlihat juga, dan sebentar lagi Riza akan naik ke atas panggung.
“lo nyariin siapa Za, sibuk banget kayanya?” tanya Dio, temannya
“engga kok, gue nggak nyari siapa-siapa” jawab Riza datar, menyembunyikan perasaannya.

Kini tibalah saatnya Riza dan teman-temannya untuk pentas. Semua siswa sangat antusias mendengar bahwa band mereka yang akan tampil.
“Rizaaaaaaaa…” teriak Dera dibarisan paling depan, namun Riza hanya mengacuhkannya saja.
Sebelumnya Riza mengucapkan salam dan menyapu pandangan ke semua penjuru, dilihatnya Dita di barisan paling belakang yang juga ingin melihatnya tampil, namun tidak bisa melihat ke depan karena terhalang oleh banyak siswi yang juga menonton Riza, membuat Riza menjadi lebih semangat untuk tampil.
“lagu ini gue persembahkan buat orang yang spesial,” ucap Riza sebelum memulai tampil, semua siswi lebih antusias lagi mendengarnya, berharap dirinyalah orang yang dimaksud Riza.
“pasti gue lah” ujar Dera PD, langsung mendapat sorakan dari semua siswi.
Riza pun mulai menyanyikan lagunya. Lagu milik Petra Sihombing, berjudul Mine. Lirik demi lirik telah dinyanyikannya, semuanya menjadi terbawa perasaan mendengarnya.
Dita mengernyitkan dahinya, ia merasa tidak asing dengan lirik lagunya.
“Dit, itu kan kata-kata yang di surat itu, di laci meja lo, jangan-jangan beneran Riza nih yang nulis” ujar Fira
“oh ya, gue nggak inget tuh” jawab Dita pura-pura lupa. Sebenarnya ia masih ingat, bahkan sangat ingat, tapi masa Riza suka dengan Dita, pikirnya. Tiba-tiba Riza turun dari panggung dan menuju tempat para penonton, semua siswi tidak percaya, namun mereka seolah terhipnotis oleh pesona Riza, mereka hanya dapat melihat Riza yang berjalan menghampiri Dita.
“Dita, ikut aku ke depan yuk” ajak Riza
“untuk apa?” tanya Dita, tanpa menjawab Riza langsung menarik tangan Dita dan membawanya ke atas panggung. Dita semakin bingung, ia coba mengelak namun Riza tak menggubrisnya.
Sampai di atas panggung Dita merasa risih karena ia tak biasa berdiri di hadapan banyak orang.
“Za, aku mau turun aja, aku malu” bisik Dita.
“Dita, hari ini aku ingin jujur kepadamu. Aku suka dengan kamu, aku sayang sama kamu, bahkan aku bingung bagaimana caranya memberitahukan perasaanku yang sebenarnya ke kamu. Aku baru sadar selama ini ternyata kamu begitu mempesonaku, selama ini aku tak sadar betapa pedulinya kamu denganku dan aku baru sadar sekarang betapa… betapa cantiknya dirimu…” ujar Riza. Semua penonton pun menyoraki mereka, memberikan antusiasmenya.
“will you be my girl?” tanya Riza diakhir kalimatnya,
“terima… terima… terima… terima…” semua penonton pun berteriak, menyuruh Dita untuk menerima Riza. Sebenarnya Dita bingung dengan pernyataan Riza, ia saja tidak pernah berfikir kalau Riza menyukainya, bahkan menyatakan perasaannya seperti ini. Ia hanya berfikir kalau Riza itu menganggapnya sebagai teman tidak lebih. Dita menjadi bingung, lama sekali ia tidak menjawabnya. Sementara Riza menanti penuh harap. ‘duh, gimana nih, kalau aku terima aku juga nggak yakin dengan perasaanku, tapi kalau aku tolak kasihan Riza udah susah payah kaya gini, gimana ya?’ batin Dita.
“terima aja Dit..” sebuah suara tiba-tiba terdengar dari kerumunan, membuat semuanya beralih. Ternyata itu adalah Alvaro. Semuanya pun meneriaki kembali, menyuruh Dita untuk menerimanya.
“kalau kamu tidak bisa memberikan jawaban juga tidak apa-apa kok Dit” ujar Riza akhirnya dengan wajah kecewa dan hendak pergi, namun tiba-tiba Dita meraih microphone.
“sebenarnya gue juga suka sama lo” jawab Dita akhirnya dengan lantang dihadapan semua penonton. Riza pun berbalik dan senyum gembira mulai mengembang. Ia pun meraih tangan Dita dan menciumnya. Mereka pun tersenyum senang, dan juga penonton mendukung mereka.
“thank you Dit” Dita hanya tersenyum menjawabnya.
Riza menyanyikan lagi lagu Mine yang tadi dibawakan, dan di sampingnya ada Dita, orang yang dia sayang. Senyum mengembang nampak jelas terlihat dari wajah mereka.
Ternyata apa yang mereka rasakan tidaklah selalu ditunjukkan, walaupun mereka tidak saling mengungkapkan dan menunjukannya secara langsung namun ternyata hati mereka saling menyukai.

THE END