Kulit Pisang Solusi Sumber Karbohidrat Terjangkau

By On Tuesday, July 17th, 2012 Categories : News

(Kulit Pisang Solusi Sumber Karbohidrat Terjangkau) – Masalah gizi buruk telah lama menjadi  masalah kompleks yang berskala nasional di Indonesia. Berdasarkan sumber dari metrotvnews.com, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada awal Desember ini menemukan 58 penderita gizi buruk di Kabupaten Buton Utara. Hal ini menunjukkan bahwa kasus gizi buruk perlu mendapat perhatian lebih.

Akar dari permasalahan tersebut sebenarnya adalah rendahnya pemenuhan asupan karbohidrat akibat mahalnya harga sumber karbohidrat, seperti beras, jagung, dan sebagainya.  Oleh karena itu, diperlukan alternative baru sumber karbohidrat yang mudah diperoleh dan memiliki harga terjangkau.

Sudah banyak mengakui kelezatan dan kandungan gizi yang terdapat pada buah pisang. Buah pisang biasanya dimakan langsung atau diolah menjadi pisang goreng, pisang kukus, kue getuk pisang, kolak, atau aneka kudapan lainnya. Dari pemanfaatan tersebut, tentu saja timbul suatu persoalan baru berupa sampah kulit pisang. Sangat disayangkan sekali, belum banyak orang yang berpikir tentang pengolahan kulit pisang. Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa komposisi kulit pisang banyak mengandung air yaitu 68,90% dan karbohidrat sebesar 18,50%. Kandungan karbohidrat yang cukup tinggi dalam kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai substituen tepung terigu dalam pembuatan mie.

Potensi kulit pisang sebagai alternative tepung terigu.
Indonesia adalah salah satu Negara penghasil komoditas pisang terbesar, karena tumbuhan ini tumbuh dengan baik di daerah tropis. Selain itu, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap pisang juga cukup tinggi. Akibatnya, sangatlah mudah untuk memperoleh sediaan kulit pisang dalam jumlah skala yang besar.

Kulit pisang merupakan salah satu buah yang memiliki potensi besar untuk diolah menjadi tepung substituent terigu, mengingat kandungan karbohidratnya yang cukup besar. Tepung kulit pisang merupakan suatu sumber yang sangat prospektif dalam pengembangan pangan yaitu sebagai sumber makanan baru yang memiliki beberapa keunggulan. Kulit pisang mengandung serat yang cukup tinggi, vitamin C, B, kalsium, protein, dan karbohidrat. Hasil penelitian tim Universitas Kedokteran Taichung Chung Shan, Taiwan, memperlihatkan bahwa ekstrak kulit pisang ternyata berpotensi mengurangi gejala depresi dan menjaga kesehatan retina mata. Selain kaya vitamin B6, kulit pisang juga ternyata banyak mengandung serotonin yang sangat vital untuk menyeimbangkan mood. Selain itu, ditemukan pula manfaat ekstrak pisang untuk menjaga retina dari kerusakan cahaya akibat regenerasi retina.

Pada dasarnya, semua jenis kulit pisang dapat diolah menjadi tepung, namun yang terbaik adalah kulit pisang Raja karena memiliki struktur serat yang lebih tebal dan memiliki kandungan kalsium yang cukup tinggi.

Pembuatan tepung kulit pisang
Tepung kulit pisang dapat dibuat melalui cara berikut.

Bahan:
Kulit pisang/pisang
Natrium tiosulfat (dapat dibeli di toko bahan kimia)

Peralatan:
Pisau. Digunakan untuk memotong pisang menjadi ukuran kecil-kecil sebelum dilarutkankedalam bahan natrium tiosulfat.
Alat pengering. Pengeringan dilakukan dengan menggunakan plastik sebagai alas tepung. Pengeringan dapat dilakukan di bawah sinar matahari.
Alat penghancur/penggiling. Digunakan untuk menghancurkan potongan pisang menjadi tepung.
Ayakan/saringan. Digunakan untuk menyaring/mengayak hasil tepung, guna mendapatkan tepung yang baik dan halus serta berkualitas
Pembungkus kantong plastik.

(Kulit Pisang Solusi Sumber Karbohidrat Terjangkau) – Masalah gizi buruk telah lama menjadi  masalah kompleks yang berskala nasional di Indonesia. Berdasarkan sumber dari metrotvnews.com, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada awal Desember ini menemukan 58 penderita gizi buruk di Kabupaten Buton Utara. Hal ini menunjukkan bahwa kasus gizi buruk perlu mendapat perhatian lebih.

Akar dari permasalahan tersebut sebenarnya adalah rendahnya pemenuhan asupan karbohidrat akibat mahalnya harga sumber karbohidrat, seperti beras, jagung, dan sebagainya.  Oleh karena itu, diperlukan alternative baru sumber karbohidrat yang mudah diperoleh dan memiliki harga terjangkau.

Sudah banyak mengakui kelezatan dan kandungan gizi yang terdapat pada buah pisang. Buah pisang biasanya dimakan langsung atau diolah menjadi pisang goreng, pisang kukus, kue getuk pisang, kolak, atau aneka kudapan lainnya. Dari pemanfaatan tersebut, tentu saja timbul suatu persoalan baru berupa sampah kulit pisang. Sangat disayangkan sekali, belum banyak orang yang berpikir tentang pengolahan kulit pisang. Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa komposisi kulit pisang banyak mengandung air yaitu 68,90% dan karbohidrat sebesar 18,50%. Kandungan karbohidrat yang cukup tinggi dalam kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai substituen tepung terigu dalam pembuatan mie.

Potensi kulit pisang sebagai alternative tepung terigu.
Indonesia adalah salah satu Negara penghasil komoditas pisang terbesar, karena tumbuhan ini tumbuh dengan baik di daerah tropis. Selain itu, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap pisang juga cukup tinggi. Akibatnya, sangatlah mudah untuk memperoleh sediaan kulit pisang dalam jumlah skala yang besar.

Kulit pisang merupakan salah satu buah yang memiliki potensi besar untuk diolah menjadi tepung substituent terigu, mengingat kandungan karbohidratnya yang cukup besar. Tepung kulit pisang merupakan suatu sumber yang sangat prospektif dalam pengembangan pangan yaitu sebagai sumber makanan baru yang memiliki beberapa keunggulan. Kulit pisang mengandung serat yang cukup tinggi, vitamin C, B, kalsium, protein, dan karbohidrat. Hasil penelitian tim Universitas Kedokteran Taichung Chung Shan, Taiwan, memperlihatkan bahwa ekstrak kulit pisang ternyata berpotensi mengurangi gejala depresi dan menjaga kesehatan retina mata. Selain kaya vitamin B6, kulit pisang juga ternyata banyak mengandung serotonin yang sangat vital untuk menyeimbangkan mood. Selain itu, ditemukan pula manfaat ekstrak pisang untuk menjaga retina dari kerusakan cahaya akibat regenerasi retina.

Pada dasarnya, semua jenis kulit pisang dapat diolah menjadi tepung, namun yang terbaik adalah kulit pisang Raja karena memiliki struktur serat yang lebih tebal dan memiliki kandungan kalsium yang cukup tinggi.

Pembuatan tepung kulit pisang
Tepung kulit pisang dapat dibuat melalui cara berikut.

Bahan:
Kulit pisang/pisang
Natrium tiosulfat (dapat dibeli di toko bahan kimia)

Peralatan:

  • Pisau. Digunakan untuk memotong pisang menjadi ukuran kecil-kecil sebelum dilarutkankedalam bahan natrium tiosulfat.
  • Alat pengering. Pengeringan dilakukan dengan menggunakan plastik sebagai alas tepung. Pengeringan dapat dilakukan di bawah sinar matahari.
  • Alat penghancur/penggiling. Digunakan untuk menghancurkan potongan pisang menjadi tepung.
  • Ayakan/saringan. Digunakan untuk menyaring/mengayak hasil tepung, guna mendapatkan tepung yang baik dan halus serta berkualitas
  • Pembungkus kantong plastik.

Cara pembuatan:

  • Pisang yang telah tua dikupas kulitnya, dipisahkan daging buahnya. Dapat juga menggunakan kulit pisang langsung.
  • Kemudian dipotong kecil-kecil berukuran kurang lebih 1cm x 0,5 cm dengan pisau atau alat pengiris.
  • Kemudian kulit pisang direndam dalam larutan natrium tiosulfat, setelah itu ditiriskan. Penggunaan zat kimia Natrium tiosulfat bertujuan untuk menghambat terjadinya proses oksidasi pada kulit pisang, sehingga dapat mencegah timbulnya pencoklatan kulit pisang. Sehingga tepung yang dihasilkan akan lebih bersih.
  • Kemudian potongan kulit pisang harus dikeringkan.
  • Jika pengeringan dengan sinar matahari perlu waktu kurang lebih dua hari. Jika menggunakan alat pengering gabah (dengan suhu 60 derajat celsius) proses pengeringan lebih cepat. Untuk mengeringkan dua kwintal kulit pisang segar hanya perlu waktu 1 jam 20 menit.
  • Setelah kering atau kadar air kurang lebih 14 %, potongan kulit pisang dapat digiling/dihancurkan dengan menggunakan hammer mill atau ditumbuk.
  • Hasil penggilingan kemudian diayak.
  • Tepung pisang yang lolos dari ayakan dikemas dalam kantong plastik.

(Buletin Teknopro Hortikultura Edisi 72, Juli 2004, yang diterbitkan oleh Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura)

  • Pisang yang telah tua dikupas kulitnya, dipisahkan daging buahnya. Dapat juga menggunakan kulit pisang langsung.
  • Kemudian dipotong kecil-kecil berukuran kurang lebih 1cm x 0,5 cm dengan pisau atau alat pengiris.
  • Kemudian kulit pisang direndam dalam larutan natrium tiosulfat, setelah itu ditiriskan. Penggunaan zat kimia Natrium tiosulfat bertujuan untuk menghambat terjadinya proses oksidasi pada kulit pisang, sehingga dapat mencegah timbulnya pencoklatan kulit pisang. Sehingga tepung yang dihasilkan akan lebih bersih.
  • Kemudian potongan kulit pisang harus dikeringkan.
  • Jika pengeringan dengan sinar matahari perlu waktu kurang lebih dua hari. Jika menggunakan alat pengering gabah (dengan suhu 60 derajat celsius) proses pengeringan lebih cepat. Untuk mengeringkan dua kwintal kulit pisang segar hanya perlu waktu 1 jam 20 menit.
  • Setelah kering atau kadar air kurang lebih 14 %, potongan kulit pisang dapat digiling/dihancurkan dengan menggunakan hammer mill atau ditumbuk.
  • Hasil penggilingan kemudian diayak.
  • Tepung pisang yang lolos dari ayakan dikemas dalam kantong plastik.

(Buletin Teknopro Hortikultura Edisi 72, Juli 2004, yang diterbitkan oleh Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura)