Kopi Tanpa Cream

By On Friday, March 17th, 2017 Categories : Cerita

Jomblo itu kenapa identik dengan kegalauannya ya? Galau sendiri, Apakah aku sedang galau sekarang? Karena aku jomblo? Ya aku akuin memang aku jomblo, atau single, tetapi aku tidak pernah galau. Artinya sedih karena aku sendiri. Karena aku gak punya pacar lagi, sejak putus dari Tio aku biasa saja. Tidak terlalu terpuruk, malahan aku selalu happy. Aku selalu banyak kesibukan. Banyak sahabat-sahabat yang selalu menemaniku dimanapun aku berada. Meski sekaranglah di coffeshop biasa aku nongkrong ngobrol ngalor ngidul dengan teman-temanku. (Dulu sih biasanya ada Tio juga). Apalagi Rudy.. sahabatku yang satu itu paling tauuu banget apa mauku. Dulu waktu aku bertengkar dengan Tio, Rudy pasti tau aku larinya ke sini. Paling tau juga apa yang kusuka kalo duduk sendiri di sini, karena Rudy selalu dengerin semua keluh kesahku. Dan dia juga… buk!! “aduh apaan sih, kaget tau!” ringisku, tepukan Rudy dari belakang mengejutkanku dan tepukannya berasa panas bekasnya. “maap gak sengaja” kata Rudy sembari menarik bangku kosong di sampingku. “sedang apa kau Kei?, sudah kuduga kau di sini, ku sudah cari kau kemana-mana” ucap Rudy sambil nyeruput sedikit kopi krim milikku. Sembari aku geser kembali cangkirnya mendekatiku. Aku memang menyukai kopi dengan krim. Rudy pasti selalu pesan kopi hitam kesukaannya. Tapi karena belum memesannya dia rela nyeruput kopi krimku. Huh! Umpatku kesal.

Di sini, di tempat ini memang tempat favoritku dan Tio, Tio yang memperkenalkannya. Asal saja mantannya dulu juga tidak pernah ke sini bersamanya, atau bahkan cewek barunya sekarang? Tapi sampai saat ini aku tidak pernah melihat Tio jalan bersama seorang cewek di sini, ehmmm.. sudahlah bukanlah urusanku lagi. Aku beralih mendelik ke arah Rudy yang sedang memesan Kopi juga roti bakar kegemarannya kalau berada di sini. “sudah makan kau Keisa?” tanyanya langsung kepadaku sambil tangannya masih memegang menu makanan. Aku mengangguk pasti tanda bahwa aku sudah makan. “oke mbak ini saja” lanjut Rudy.. sambil menyerahkan buku menunya. Aku tetap diam menunggu Rudy mengeluarkan suaranya. Karena memang dia yang paling banyak bicara, aku dengan mengobrol bersama Rudi saja sudah nyaman, apalagi dengar dia ngoceh.
“Keisha..!” suara Rudy terdengar rendah. “ada apa Rud?” jawabku langsung. Rudy diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi dengan pasti. “Temenku sabtu depan ulang tahun. Kamu bersedia nggak menemani aku ke sana?” ajak Rudy, yang wajahnya kelihatan harap-harap cemas gitu, harap-harap supaya ku mau menerima ajakannya. Aku tersenyum, senyumku aku buat lama, supaya Rudy penasaran. “Rudy.. Rudy, memang si Nina kemana? Bukannya kamu lagi PDKT ma Nina? Ajak saja dia Rud, sapa tahu dia mau, coba deh,” jawabku dengan terkekeh, “Aduh Kei.. dia itu susah, setiap aku ajak jalan, alasannya shopping terus sama teman-temannya, padahal aku saja pake perjuangan tuuh ngajaknya, eh ditolak” sungut Rudy menjelaskan, aku manggut-manggut sok ngerti. Memang Nina itu kesehariannya sangat modis, penampilan yang sempurna, cantik, fashionable, dan semua mode-mode baru tak pernah ia tertinggal, cuma Nina memang terlihat menyukai Rudy, cowok sederhana yang tampan, namun tak bermobil, hanya motor butut yang Rudy modifikasi hingga terlihat apik, yang sedikit membantu penampilan Rudy sedikit, hahaha.. tawaku dalam hati. Aku suka jalan dengan Rudy yang banyak fans-fans cewek-cewek kampusku. Rasanya seperti semua mata memandang ke arahku jika kuberjalan bersebelahan dengan Rudy, padahal Rudy itu sahabatku saja. Di samping itu pun Rudy selalu menemani keluh kesahku. Hanya Nina cewek kampus yang Rudy deketin sejak dulu, Ninanya sebenarnya suka juga, hanya saja terlalu meng-PHPkan Rudy. Kalau diajak jalan banyak alasan, belanjalah, ke salonlah dan sebagainya, meski Rudy tak pernah lelah dan menyerah. Biasanya kalau jalan bareng, ya Nina yang ajak dan itu biasanya sih ke salon minta Rudy untuk menemaninya. Hem.. kasian Rudy. “aku gak bisa deh Rud,” jawabku pasti, “aku musti anter mama ke tempat tanteku, dan janji dari kemaren aku yang harus anter” terangku langsung. Rudy langsung menggangguk mengerti, walau wajahnya sedikit terlihat kecewa. “nggak apa-apa deh Kei, oh ya aku kemarin bertemu Tio dan berpapasan deket pintu gerbang kampus, dia keluar bareng cewek, sepertinya bukan anak kampus sini deh Kei,” alih Rudy langsung seperti melupakan pokok pembicaraan sebelumnya. Aku gak tau mau bilang apa, sebenarnya bukanlah urusannya lagi, lah kan Tio bukan pacarnya lagi, aku kembali sedikit minum krim kopiku yang tinggal sedikit. Biasanya kalau bersama Tio aku bisa nambah lagi, sambil ngobrol lamaa banget di tempat ini, sambil ketawa-ketawa, sambil bercanda, dan selalu ada saja cerita untuk kita dulu di tempat ini.

Aku memang suka Kopi pake krim di sini, enak banget, bikin otak tenang, apalagi yang disajikan panas, aku pandangin cangkirnya sembari memainkan sendok kecil pengaduknya, membayangi sejenak saat-saat dengan Tio. Begitu indah, saat itu. Saat hati Tio hanya ada aku, saat hatiku cuma ada Tio seorang, semua indah adanya. Ah masa aku galau sih? Kan ada Rudy di depanku, gak enak kalau bersedih-sedih. “maapin aku kalau buatmu sedih Kei, bukan maksudku…” “udah gak papa Rud, bukan salah kamu” potongku ke Rudy, “aku sudah gak mau memikirkan Tio kok,” ucapku senyum, “aku cuma pengen bisa bebas saja sekarang, gak terlalu banyak termenung” lanjutku, dibarengi acungan dua jempol dari Rudy.

“hey.. kopi krimmu habis Kei,” Rudy langsung nyelutuk, aku meng-iyakan. “nih, minum aja kopi aku hehe, atau mau pesen lagi?” Rudy menyodorkan kopi cangkirnya kearahku, aku menariknya perlahan, seperti mau meminumnya, dan aku minum saja. Bibirku sudah menyentuh ujung pinggiran cangkirnya, Sluuruup.. masih panas, Cuma sudah sedikit masuk ke tenggorokan, hangat rasanya, baru sekarang aku merasakan kopi hitam, karena dulu Tio sama denganku pesan kopi krim. Sedikit mengingatkan akan Tio. Makanya aku gak tau kalau kopi hitam ini sangat enak, terasa lebih alami, Rudy manggut, aku balas dengan manggut-manggut “sangat alami dan enak Rud..”, kataku tanpa basa-basi. Dan memang aku menikmatinya. Rudy terlihat melambaikan tangannya kearah pelayan, seperti hendak memesan sesuatu lagi?

“Mbak, kopi hitam seperti ini pesen satu lagi ya,” pesan Rudy sambil pelayan itu langsung berjalan meninggalkan mejaku dan Rudy tuk mengambil kopi pesenan Rudy. Aku Cuma senyum saja artinya terima kasih. “Makasih ya Rud,” ucapku ke Rudy yang sedang menggigit sepotong roti bakarnya. Rudy itu sangat cekatan, tau yang aku mau, meski kadang aku sungkan menyebutkan kemauanku, dia sepertinya mendengar ucapan di dalam hatiku, sampai dia langsung memesankan kopi hitam kesukaannya kepadaku, meski dia tau aku hanya suka kopi yang pakai krim.

Pagi ini amat indah untuk aku sempat bayangkan, masih pagi yang perawan, karena embun masih belum kering menempel di dedaunan depan rumahku. Mama dan adikku sudah rapi dan siap buat ketempat Tanteku, karena kita sudah lama tidak main kesana sejak kepergian Papa 5 tahun silam. Barang-barang, makanan kecil biasa adikku suka ngemil sudah masuk mobil semua, aku yang menyetir, aku sekilat menenggak habis susu coklatku yang sudah dingin, dibuatin mama sedari tadi pagi saat aku tidur. “Sudah siap semua?” perintahku, adikku berlari kecil ke dalam mobil. Starter mobil kunyalakan, dan jalanlah.. sambil menikmati pagi indah yang belum penuh dengan kendaraan lalu lalang di jalan raya. Kami menikmatinya sekeluarga.

“Kringggg!!” bunyi telepon rumah yang model jadul itu, teriak-teriak mengagetkanku yang tertidur ayam disofa ruang tamu. “siapa sih?!” batinku bersungut-sungut, sambil mataku hanya terbuka sedikit, dengan malas kusapa penelepon disana. “Ya.. dengan Keisha, siapa ini?”, “Ini Tio”, hah!! Aku amat terkejut, langsung saja spontan mataku melotot terbelalak, langsung hilang rasa malas dan kantuk, namun berusaha tenang kembali, agar tidak seperti berlebihan. “Ya,” itu saja jawabku. “meski sebenarnya hati masih bertanya, tumben Tio telepon, dan untuk apa lagi dia telepon? Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku diiringi suara Tio di seberang sana. “apa kabar Keisha?” sapa Tio dari seberang sana. “aku baik saja” jawabku datar, datar sekali. “besok aku jemput kamu ya di fakultasmu, ada yang ingin kubicarakan,” langsung Tio pada pokok permasalahan. Aku bengong, sampai tak tahu harus berkata apa. “iya” hanya itu saja tanggapanku, sedikit terdengar mengambang. “iya aku tunggu” aku langsung melengkapi. Karena bagiku memang aku dan Tio sudah bubar dan tak ada apa-apa lagi. Apalagi denger-denger Tio sekarang sudah punya pacar. Membuatku malas untuk lebih dalam mengurusinya. Kalau memang dia mau ngobrol atau mengungkap sesuatu itu haknya. Atau bisa jadi dia mau pamer pacar barunya. Silahkan.. toh sekarang mereka berdua berteman.. Hufttt! Keluhku.. “oke sampai besok Keisha” Tio menutup telepon, aku pun langsung meletakkan gagang telepon sambil membuang jauh pemikiran yang menurutku tidak penting tentang Tio.

Pagi banget, pastinya, dan aku sudah berada di kampus tercinta. Ngomong-ngomong bukan karena Tio mau jemput aku nanti loh. Entah kenapa pengen saja langsung di sini. Di kejauhan kulihat dari lurusan pintu kelas, Rudy menuju ke arahku, kekelasku. Setelah dekat, aku coba tersenyum. “pagi-pagi sudah senyum-senyum maksain Kei?” sindir Rudy pas di depanku. “kamu juga Rud, tumben pagi sudah datang, biasanya kau terlambat terus.” kataku sambil memukulnya pelan pakai buku Ekonomiku yang lumayan tebal. “iya nih, tadi kebetulan aku anter adikku sekolah dulu, ya aku mending langsung saja kekampus, meski 3 jam lagi mulai. Biasanya aku pulang dulu nih Kei ke rumah.” Terang Rudy panjang kali lebar. Aku hanya memajukan bibirku sembari membuka-buka buku tak membacanya. Entah apa yang sedang membelenggu pikiranku, campur aduk. Rasanya seperti membuat lagi yang dulu, yaitu bagaikan merekatkan kembali gumpalan kertas yang sudah terkoyak. Yaitu mengiyakan, dan menyetujui untuk bertemu seorang Tio, meski aku tidak cerita atau bilang ke Rudy. Biasanya memang aku langsung cerita kepada Rudy. Kali ini tidak.

Jam kuliah kedua hampir selesai, namun bagiku cukup lama juga. Karena memang pikiranku melayang entah kemana. “Baiklah sampai disini dulu, minggu depan kita lanjutkan lagi, berhubung waktu sudah tidak cukup”, suara dosen terdengar olehku, dan hanya kalimat itu saja. Dan aku bernafas lega. Kumasukkan bukuku ke tas dan ku melenggang ke luar kelas.

Tepat banget memang dia dari dulu tidak pernah ngaret, pas ada di depan ke arahku berjalan. Tio.. Ya Tio sudah menepati janjinya. Baiklah aku harus mendekati dia, dengar baik-baik apa kata dia nanti. Sebenarnya dia mau bilang apa ya? Sepertinya dia sendiri, tidak bersama cewek, seperti yang sempat aku bayangkan.

Akhirnya kita berhadapan, Tio seperti hendak membuka suara. “kita ngobrol di coffe shop saja yuk”, ajaknya. Aku spontan mengangguk sambil tersenyum. Ya itu memang tempat kita dulu bertemu dan Tio menyatakan cintanya pertama kali kepadaku. Kataku dalam hati. Itu pun dulu.

Aku sudah nangkring dengan manisnya di dalam mobil Tio.. kudiam sejenak, Tio juga diam. Kami membisu di dalam mobil, aku pun diam tak mau bicara lebih dulu. Menunggu Tio lebih dulu bicara. Apapun itu, namun dia juga diam. Kupandangi sepanjang jalan sebelah kiri jalan. Sambil sesekali melirik ke arah setir yang dikendalikan Tio. Kutetap diam.. dan kami diam saja di mobil sampai tempat tujuan.

“Sudah sampai Kei, yuk turun,” Tio membuka suara. Suara pertamanya yang bisu sejak tadi.
Aku mengangguk kecil, membuka pintu sendiri. Dengan langkah santai aku lebih dulu berjalan menuju ke dalam Coffe shop itu. Duduk lalu memesan kopi Cream. Tio mengintiliku dari belakang, hanya saja dia langsung memanggil pelayannya untuk memesan. Kemudian duduk berhadapan denganku. “Mbak, cream kopinya ya,” pesan Tio. “kau pesan apa Kei?” tanya Tio langsung. “Aku.. ehm… kopi hitam ya satu,” pesanku santai tanpa ragu. Tio spontan melirik kearahku agak lama, sepertinya dia agak aneh aku pesan kopi hitam, kenapa? Aku memang lagi mau itu kok, dan kemarin lusa sudah merasakannya bersama Rudy, dan enak lebih enak dari kopi krim yang biasa banget aku pesan, sejak mengenal Tio. Dan itu pun bukan masalah bagi hubungan aku dan Tio yang sudah bubar.

“Jadi kamu suka dengan kopi hitam?” Tio bertanya dengan wajah renyahnya. “iya betul” jawabku pasti, “sejak kapan?” tanya nya lagi, “sejak kita gak sama-sama lagi” Tio diam sejenak, kemudian seperti berpikir hendak berbicara apa lagi, kelihatan bingung, mungkin kebetannya tertinggal, hehehe.
“Jadi kamu ajak aku ketemu cuma mau bahas kopi?” Tanyaku menyindir. “oh tidak bukan, Kei, aku.. aku hanya mau mengobrol berdua saja denganmu,” aku sejenak mengerutkan keningku heran dengan pernyataan Tio, dia kelihatan gugup, aku tau banget tanda dia terserang gugup. Ya begitu itu. Ada sesuatu namun sulit ia ungkapkan.

Seketika saja Tio menarik tanganku yang tergeletak di atas meja, aku agak terkejut, dan kubiarkan ia menggenggam jemariku, karena aku juga ingin tahu kata-kata apa sih yang keluar dari mulutnya.
“Kei…” Ucap Tio amat lembut. Kuhanya diam dan memandang tajam matanya. Itu saja gak lebih. “Kei.. Aku ingin kita sama-sama lagi”, kata-kata lembut Tio seolah menghujam jantungku, dan sempat terasa berhenti berdetak. Terkejut namun seperti mimpi, pengen cubit tanganku, tapi tertahan. Tio semakin meremas jemariku, seperti ketakutan raut wajahnya, ya dia takut aku menolaknya. Dia takut aku marah, dia takut aku lari, dia takut aku menangis. Tio menunggu sembari memejamkan matanya, diam! Itu yang cuma aku lakukan, Tio masih menunggu tanggapanku. Entah datang darimana, segala bayangan masa itu, saat itu. Amat sakit kuingat, namun ada! Bahkan makhluknya di sini, di depanku! Dulu itu menyakitkan Tio, dulu aku mencintai kamu, dulu kita bersama. lamaaaa Tio, dan kamu campakkan aku, karena kamu selingkuh dengan cewek lain. Dan aku melihat dengan mata kepalaku, kamu bukannya minta maaf, tapi kamu campakkan aku, meski sejak itu kamu pun putus dengan cewek itu, dan sendiri. Namun lukanya masih terasa sakit, teramat sakit.
Sekarang kamu datang, dan ingin kita bersama kembali?. hatiku bertanya seakan ingin teriak keras.
Aku menarik genggaman tangan Tio, dan kulepas tangannya yang masih memegang jemariku. Tio menurut. Aku menggeleng. “Tidak Tio, aku sudah bersama orang lain”, jawabku pasti dan tanpa ragu. Tio menegakkan duduknya. Kaku terlihat. “Siapa dia?” tanya Tio. Akupun juga bingung siapa, karena sebenarnya tak ada siapa-siapa. “a..ada, ehm.. dia masih di kampus, iya.. masih jam kuliah,” jawabku terbata. Kumenarik napas, pelan. Agar tak terlihat gugup.
Kulihat Tio melihat ke arah belakangku, ku menoleh kepengen tau saja apa yang dilihat Tio sebegitu seriusnya.
“kamu di sini kan? Sudah kutebak” ya itu ternyata Rudy. “ehm.. kebetulan, duduk sini sayang.. ini Tio traktir aku, nih.. kopi hitam kesukaan kita,” aku sesantai mungkin ngoceh, dan Tio kelihatan kebingungan, apalagi Rudy, yang terheran-heran dengan ucapanku, namun syukurlah dia gak banyak omong seperti biasa. Tio menunjuk Rudy. “jadi.. Rudy?” tanyanya sambil tersenyum dipaksakan. Kulangsung menggangguk. “kami sudah lama jadian,” aku menarik tangan kiri Rudy, yang kebetulan duduk di sebelah kananku, Rudy menyeret kursinya mendekatiku, sepertinya dia nalar. “pantas, tumben kamu suka kopi hitam” ucap Tio, sembari mengangkat secangkir kopinya menawarkan ke arah Rudy, Rudy mengangguk sopan, Rudy langsung tak terlihat gugup seperti tadi, sepertinya dia paham maksudku.

Sepuluh menit berlalu, setelah kami bertiga isi dengan obrolan gak penting, mengingat, Tio yang sudah berubah mimik setelah tau aku berpacaran dengan Rudy, Rudy cukup bisa lancar menjawab pertanyaan Tio seputar kami. Hubungan kami, aku dan Rudy. Sampai beberapa saat kemudian dia pamit kepadaku dan Rudy, aku hanya mengiyakan, begitupun Rudy. Tio berlalu menjauhi kami. Langkahnya biasa, dan aku tahu dia kecewa, amat kecewa dan sedih. Namun dia terlihat kuat, di depanku.

Giliran Rudy sekarang, memberondong beribu pertanyaan kepadaku. “apa maksudmu Kei?” benar juga pemikiranku, Rudy langsung lontarkan pertanyaan itu.
Jadi begini, aku memang sudah melupakan Tio selama ini, aku sering jalan dengan Rudy, aku sering ke Coffe shop berdua Rudy, kami saling sharing, apapun itu, itulah yang bagiku Rudy sanggup membuatku lupa sosok Tio, Rudy juara telah membuatku nyaman didekatnya, meski belum ada perasaan suka kepada Rudy lebih sebagai sahabat saja, namun sejak kuminum Kopi Hitam, Kopi Tanpa Cream, aku mencoba membuang rasa jatuh cintaku pada Rudy, dia sahabatku, dan dia sangat dekat dengan Tio, masa iya aku jatuh cinta dengan Rudy? Itu jauh pikiranku sejak kami sering bersama. Rudy memang lebih tampan dari Tio, tapi dia sederhana tak pernah menonjolkan atau memperlihatkan ketampanannya, begitulah sedikit penilaianku tentang Rudy.
Nah, entah angin dari mana.. setelah aku bertemu Tio kembali, dan Tio mengajakku bersama kembali, ku menolak secara tiba-tiba karena, terlanjur sakit olehnya, entah kenapa ada bahan di benakku spontan lepas keluar, berujud kata-kata bahwa aku sudah punya pacar, dan entah kenapa, aku langsung punya bahan, bahwa orang itu Rudy, dan kebetulan saja Rudy datang disaat yang tepat! Sooo.. aku gak terlihat bohong, meski padahal aku berbohong pada Tio. Itulah sedikit, kurang lebihnya.
“karena aku gak mau kembali dengan Tio, sudah cukup bagiku sakit itu, dan aku gak mau sakit lagi olehnya,” terangku. Rudy menopang dagunya, kemudian menatapku tajam. Meminum sedikit kopi hitamku yang sudah dingin. Aku biarkan saja kali ini, karena bagiku sudah biasa. Rudy sepertinya hendak mengatakan sesuatu yang serius.

“Aku menyukai kamu Kei..” ucap Rudy terdengar parau bagiku. Dan sangat to the point. Aku lembut memandang bola matanya yang tak berkedip menatapku, “baiklah aku memang salah”, “aku gak seharusnya ngomong gini, sebenarnya sejak kamu jadian dengan Tio dulu aku sudah menyimpan sukaku padamu Kei, aku mencintai kamu, dan aku harus simpan dalam-dalam jangan sampai Tio maupun kau tau” jelas Rudy tak berhenti bicara. “aku juga harus mendekati Nina, karena aku ingin menutupi dan aku kira aku gak mungkin sama kamu yang saat itu milik Tio,” “dan kau tau Kei?” tanyanya lagi. “aku selama kamu putus dengan Tio aku masih tak berani ucapkan rasa ini padamu” , tukas Rudy kemudian.
Aku masih terdiam mendengar ucapan Rudy yang bagiku amat jelas. Nggak tau kenapa, hatiku seperti langsung terpanah. Dan panah itu terasa hangat menancap di jantung dan hatiku. Berat tuk mengeluarkan kata-kataku lagi. Aku hanya seperti mau mengucapkan bahwa aku pun menyukainya. Dan Rudy utarakan lebih dulu. Ternyata Rudy menyukaiku sejak aku masih bersama Tio? Aku memang menyukai Rudy, walau itu sejak kuputus dengan Tio, dan merasakan kebersamaanku dengan Rudy. Ternyata kami sama-sama menyimpan rasa itu. Meski rasaku baru datang sejak kumeneguk kopi hitam milik Rudy beberapa hari sebelumnya.

Sekarang nama Tio sudah tertepis di hati, kini aku merasakan indah dan betapa bunga bermekaran di hati, Rudy sudah sanggup menghapus nama Tio di hatiku, dan sanggup mengubah air mata sakit masa laluku dengan kehadirannya. Rudy.. ya Rudy tetap menjadi sahabat ku meski dia adalah sahabat terindah yang akan kumiliki, cinta baruku, namun cinta lamaku juga, karena kami sudah lama bersama, meski hanya sahabat. Sekarang ada cinta di dalam persahabatan kita.. sahabat yang saling mencintai.. Rudy dan Keisha.

Aku tersenyum, seraya memejamkan mata, senyumku begitu puas, hatiku seperti terasa luas, sakitku yang lalu seperti, Blasttt!! Hilang seketika. Rudy begitu indah bagiku. Rudy menatapku begitu manis, dan semua hanya aku dan Rudy yang rasakan, tanpa kami harus saling mengeluarkan ucap-ucap kata, senyum kami adalah jawaban dari segala pertanyaan tentang kita berdua saat itu…
Cintaku bukan kopi cream tapi kopi hitam ini. KOPI TANPA CREAM

Prakata
Bismillahirrohman nirrohim..
Selesai juga meski sempat lama terhenti, karena banyak kerjaan tak terduga, Alhamdullilah selesai, meski mohon maaf jika ada yang tak berkenan di hati jalan ceritanya, karena nama dan tokoh dalam cerita tidak ada menyinggung siapa-siapa. Semua fiktif belaka.
Makasih buat mama yang ngertiin aku yang kadang serius didepan kompi, hehhehe. Buat anakku tercantik, Early Meidiasa P. yang suka baik, minjemin laptopnya kemama. Meski kadang suka dibawa ke sekolah. Semoga nilaimu selalu yang terbaik ya nak.
Tulisan baru rampung, karena aku juga membuat puisi.
Akhir kata terima kasih buat yang mau sempatkan waktu membacanya. Jika ada masukan atau kritik membangun silahkan, karena akupun masih baru belajar. Silahkan Email: Putriearly[-at-]ymail.com, IG: Ari_widiyastuti, www.widiearly.tumblr.com.
Tulisan ini juga kupersembahkan buat seseorang yang selalu di hati, yang pernah mengisi hari-hariku meski jarang.. (yahh.. jarang).

7039967, 7039968, 7039969, 7039970, 7039971, 7039972, 7039973, 7039974, 7039975, 7039976, 7039977, 7039978, 7039979, 7039980, 7039981, 7039982, 7039983, 7039984, 7039985, 7039986, 7039987, 7039988, 7039989, 7039990, 7039991, 7039992, 7039993, 7039994, 7039995, 7039996, 7039997, 7039998, 7039999, 7040000, 7040001, 7040002, 7040003, 7040004, 7040005, 7040006 25687277, 25687278, 25687279, 25687280, 25687281, 25687282, 25687283, 25687284, 25687285, 25687286, 25687287, 25687288, 25687289, 25687290, 25687291, 25687292, 25687293, 25687294, 25687295, 25687296, 25687297, 25687298, 25687299, 25687300, 25687301, 25687302, 25687303, 25687304, 25687305, 25687306, 25687307, 25687308, 25687309, 25687310, 25687311, 25687312, 25687313, 25687314, 25687315, 25687316