Klasifikasi Platyhelminthes

By On Friday, February 24th, 2017 Categories : Sains

Filum Platyhelminthes terdiri atas empat kelas, yaitu, Turbellaria, Monogenea, Trematoda, dan Cestoda. Simak dalam artikel berikut

Filum Platyhelminthes terdiri atas empat kelas, yaitu, Turbellaria, Monogenea, Trematoda, dan Cestoda. Ciri tubuh Platyhelminthes meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh.

• Tubuh simetri bilateral
• Belum memiliki sistem peredaran darah
• Belum memiliki anus
• Belum memiliki rongga badan (termasuk kelompok Triploblastik Aselomata)
• Memiliki batil isap (sucker)

Ukuran dan bentuk tubuh

Platyhelminthes memiliki ukuran tubuh beragam, dari yang berukuran hampir microskopis hingga yang panjangnya 160 cm.Tubuh Platyhelminthes simetris bilateral dengan bentuk pipih.Diantara hewan simetris bilateral, Platyhelminthes memiliki tubuh yang paling sederhana.

Struktur dan fungsi tubuh

Platyhelminthes tidak memiliki rongga tubuh (selom) sehingga disebut hewan aselomata.Sistem pencernaan terdiri dari mulut, faring, dan usus (tanpa anus).Usus bercabang-cabang ke seluruh tubuhnya

Cara hidup dan habitat

Platyhelminthes ada yang hidup bebas maupun parasit.Platyhelminthes yang hidup bebas memakan hewan-hewan dan tumbuhan kecil atau zat organik lainnya seperti sisa organisme.Platyhelminthes parasit hidup pada jaringan atau cairan tubuh inangnya.Habitat Platyhelminthes yang hidup bebas adalah di air tawar, laut, dan tempat-tempat yang lembab.Platyhelminthes yang parasit hidup di dalam tubuh inangnya (endoparasit) pada siput
air, sapi, babi, atau manusia.

Reproduksi

Reproduksi Platyhelminthes dilakukan secara generatif dan vegetatif.Pada reproduksi generatif akan menghasilkan gamet.Fertilisasi ovum oleh sperma terjadi di dalam tubuh (internal).Fertilisasi dilakukan dengan pasangan lain.Reproduksi vegetatif tidak dilakukan oleh
semua Platyhelminthes.Kelompok Platyhelminthes tertentu dapat melakukan reproduksi vegetatif dengan cara membelah diri (fragmentasi), kemudian regenerasi potongan tubuh tersebut menjadi individu baru.

Sistem saraf terdiri dari ganglion otak dan saraf-saraf tepi (Saraf Tangga Tali). Beberapa ada yang mempunyai alat keseimbangan Statotista.

a. Turbellaria (cacing berambut getar)

Hampir semua Turbellaria hidup bebas di alam. Sebagian besar hidup di dasar laut, pasir, lumpur, atau di bawah batu karang. Ada pula yang hidup bersimbiosis dengan ganggang, serta bersimbiosis komensalisme di rongga mantel Mollusca dan di insang Crustaceae. Beberapa jenis Turbellaria hidup parasit di dalam usus Mollusca dan rongga tubuh Echinodermata. Planaria atau Dugesia banyak hidup di kolam dan perairan air tawar yang belum terpolusi. Planaria hidup sebagai karnivor dengan memakan hewan-hewan yang berukuran lebih kecil atau hewan yang sudah mati. Salah satu jenis Turbellaria, Pseudophaenocora dapat hidup di perairan dengan kadar oksigen yang rendah. Pseudophaenocora banyak ditemukan di daerah beriklim tropis.

Reproduksi

Reproduksi generatif terjadi melalui perkawinan silang. Pada perkawinan silang, dua Planaria melekatkan diri pada bagian ventral sehingga lubang kelamin (porus genitalis) berhadapan dan bersinggungan, maka terjadilah fertilisasi internal. Hal ini dapat terjadi jika sel kelamin sudah masak. Planaria bersifat hermafrodit. Akan tetapi, sperma tidak dapat membuahi sel telur dari tubuhnya sendiri, karena masa pemasakan sperma dan sel telur berbeda.

Reproduksi vegetatif dengan regenerasi, contohnya pada Stenostomun dan Microstomun. Pada awalnya individu membentuk sekata melintang dan tiap potongan beregenerasi sehingga terbentuk zooid (bakal cacing). Zooid akan melepaskan diri dari induknya dan tumbuh menjadi individu baru. Dugesia tidak menghasilkan zooid, tetapi bila bagian tubuhnya terpotong, maka tiap potongan akan melakukan regenerasi menjadi individu baru.

Saluran pencernaan

Saluran pencernaannya terdiri dari mulut, faring, dan usus. Hewan ini tidak mempunyai anus. Saluran pencernaan makanan berawal dari mulut yang terdapat di bagian ventral, kurang lebih di bagian tengah tubuh. Faring dapat dijulurkan dan berhubungan dengan anus (rongga gastrovaskuler). Beberapa Planaria mempunyai usus yang bercabang tiga: satu cabang ke arah anterior dan dua cabang ke arah posterior. Tiap-tiap cabang usus tersebut bercabang lagi ke seluruh tubuh. Ketiga cabang usus tersebut bergabung kembali di faring. Makanan masuk melalui mulut, dan hasil pencernaan diedarkan ke seluruh tubuh melalui cabang-cabang usus, sedangkan sisa makanan yang tidak tercerna dikeluarkan melalui mulut.

Sistem ekskresi

Hewan ini mengekskresikan sisa-sisa metabolisme berupa nitrogen melalui permukaan tubuhnya. Sistem osmoregulasi berupa protonefridia yang terdiri dari sel-sel api yang tersebar di tepi tubuh. Sel-sel api ini berupa pipa berongga yang dilengkapi seberkas silia. Jika silia bergetar, maka cairan dalam tubuh terdorong masuk ke dalam saluran yang berhubungan dengan pori-pori permukaan tubuh.

Sistem saraf

Sistem saraf terdiri dari ganglia yang terdapat di kepala. Dari masing-masing ganglia ini terdapat seberkas saraf yang memanjang ke arah posterior pada bagian tepi/lateral tubuh. Setiap berkas saraf bercabang-cabang secara horisontal menghubungkan kedua berkas saraf lateral hingga membentuk sistem saraf tangga tali. Ganglia ini dapat dianggap sebagai otak hewan tersebut. Saraf lateral bercabang-cabang ke arah luar dari tali saraf ke otot-otot tubuh. Cabang-cabang saraf ini sebagai saraf tepi. Kedua tali saraf tersebut bertemu di ujung depan dan ujung belakang. Pada bagian ujung anterior tubuh terdapat alat yang peka terhadap rangsang cahaya, yakni sepasang bintik mata.

 

cacing berambut getar (Turbellaria)Bentuk tubuh Turbellaria pada umumnya lonjong hingga panjang, pipih dorsoventral, dan tidak beruas-ruas. Ukuran tubuh antara 0,5 mm – 60 cm, namun sebagian besar berukuran sekitar 10 mm. Sisi-sisi kepala melebar membentuk tentakel yang disebut aurikel. Tubuh berwarna hitam, cokelat, kelabu, merah, atau hijau karena bersimbiosis dengan ganggang. Pada bagian ventral, terdapat silia untuk merayap. Tubuh ditutupi oleh epidermis yang banyak mengandung lendir. Lendir berfungsi untuk melekat dan membalut mangsanya. Turbellaria memiliki rhabdite pada lapisan epidermisnya, berupa struktur seperti batang yang dihasilkan saat sekresi mukus dan berfungsi untuk pertahanan diri.

Turbellaria memiliki sistem pencernaan yang terdiri atas mulut, faring, dan rongga gastrovaskuler yang disebut enteron (usus). Dinding usus hanya terdiri atas satu lapisan sel-sel fagosit dan sel kelenjar. Dinding usus mengalami pelebaran lateral yang berfungsi memperluas penyerapan sari makanan. Hal ini untuk mengimbangi ketiadaan sistem transportasi (sistem peredaran darah). Turbellaria tidak memiliki anus.

Sistem saraf bervariasi, ada yang berbentuk jala saraf, dan ada pula yang berbentuk benang saraf. Turbellaria memiliki sepasang atau lebih bintik mata untuk mendeteksi cahaya. Pada umumnya Turbellaria menunjukkan gerak fototaksis negatif atau menjauhi cahaya. Turbellaria juga memiliki indra peraba berupa sel-sel kemoreseptor.

Alat ekskresi berupa protonefridia, berbentuk saluran bercabang-cabang yang berakhir pada flame bulb atau flame cell (sel api). Sel api berbentuk seperti bola lampu yang di dalamnya terdapat beberapa silia. Sisa metabolisme berupa amonia yang dikeluarkan secara difusi melalui permukaan tubuh.

Turbellaria bereproduksi secara vegetatif, generatif, atau keduanya. Pada umumnya hermafrodit, tetapi ada pula yang tidak hermafrodit. Reproduksi secara generatif dengan cara mutual, yaitu dua individu saling bertukar sperma untuk membuahi sel telur pada individu pasangannya. Reproduksi secara vegetatif dengan pertunasan atau membelah diri, contohnya pada Stenostomum dan Microstomum. Pada awalnya individu membentuk sekatan melintang dan tiap potongan beregenerasi sehingga terbentuk zooid (bakal cacing). Zooid akan melepaskan diri dari induknya dan tumbuh menjadi individu baru. Dugesia tidak menghasilkan zooid, tetapi bila bagian tubuhnya terpotong, maka tiap potongan akan melakukan regenerasi menjadi individu baru. Pada beberapa jenis Turbellaria, misalnya Phagocata, pada saat musim kemarau yang panas dan kering akan membentuk sista (cyst) yang keras. Dalam waktu beberapa minggu atau beberapa bulan, sista akan menetas dan keluarlah cacing baru.

Terdapat sekitar 3.000 spesies Turbellaria, antara lain Symsagittifera roscoffensis, Mesostoma, Dugesia, Bipalium, dan Leptoplana.

b. Monogenea

Monogenea hidup ektoparasit pada ikan air laut, ikan air tawar, amfibi, dan reptilia. Cacing ini memakan lendir dan sel-sel permukaan tubuh inang. Cacing dewasa berukuran 0,2 – 0,5 mm. Pada umumnya, monogenea bersifat hermafrodit dan mengalami pembuahan sendiri. Cacing ini memiliki alat penempel pada bagian anterior yang disebut prohaptor dan opistaptor di bagian posterior. Opistaptor dilengkapi dengan duri, kait, jangkar, atau alat pengisap, dan biasanya lebih sering digunakan untuk menempel pada tubuh inang. Contohnya Gyrodactylus salaris.

c. Trematoda (cacing isap)

Trematoda disebut juga flukes. Mereka memiliki tubuh berbentuk lonjong hingga panjang yang dilapisi kutikula. Cacing dewasa berukuran 0,2 mm – 6 cm. Trematoda hidup endoparasit pada ikan, amfibi, reptilia, burung, mamalia, termasuk juga manusia. Namun ada pula yang ektoparasit. Pada daur hidupnya, cacing ini memiliki inang utama sebagai tempat hidup saat dewasa dan inang perantara sebagai tempat hidup saat stadium larva. Trematoda memiliki satu atau dua alat pengisap untuk menempel pada tubuh inang. Cacing ini memakan serpihan sel, lendir, dan darah inang. Contohnya cacing hati pada hewan ternak herbivor (Fasciola hepatica), cacing hati pada manusia (Clonorchis sinensis), dan blood flukes (Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni).

cacing isap (Trematoda)Fasciola hepatica memiliki inang perantara siput air tawar (Radix auricularia, sinonim Lymnaea auricularis rubiginosa). Pada saat dewasa menjadi parasit di hati hewan ternak, dan bisa hidup di hati manusia.

Daur hidup Fasciola hepatica adalah sebagai berikut.

1)      Cacing dewasa parasit di hati hewan ternak (manusia), kemudian bereproduksi secara generatif dan menghasilkan telur. Melalui aliran darah, telur berpindah ke empedu dan usus, kemudian keluar bersama feses (tinja).

2)      Telur menetas menjadi larva bersilia mirasidium.

3)      Mirasidium menginfeksi siput air Lymnaea.

4)      Di dalam tubuh siput, mirasidium menjadi sporosista. Sporosista berkembang menjadi redia.

5)      Redia berkembang menjadi serkaria bersilia, kemudian keluar dari tubuh siput dan menempel pada tumbuhan air atau rumput. Serkaria menjadi kista metaserkaria.

6)      Bila kista metaserkaria yang menempel pada rumput termakan hewan ternak, maka akan tumbuh menjadi cacing baru di usus ternak, kemudian melalui aliran darah masuk ke hati hingga menjadi cacing dewasa.

Pada Clonorchis sinensis, inang perantaranya adalah ikan air tawar dan siput, sementara cacing dewasa hidup parasit pada hati manusia. Cacing dewasa berukuran 2,5 cm, dapat menghasilkan telur hingga 4.000 butir setiap hari, dan umur nya mencapai 8 tahun. Manusia dapat tertular klonorkiasis bila memakan ikan mentah yang mengandung serkaria.

Schistosoma menginfeksi manusia melalui pori-pori kulit telapak kaki dan tangan atau tertelan melalui mulut, kemudian mengikuti peredaran darah, ke paru-paru, ke hati, dan menetap di pembuluh darah dinding usus. Cacing jantan berukuran panjang sekitar 6 mm dengan diameter 0,5 mm. Cacing betina berukuran lebih kecil dan dapat menghasilkan 300 butir telur per hari. Telur dapat menembus dinding usus dengan menggunakan enzim dan duri.

d. Cestoda (cacing pita)

Cacing pita hidup parasit di usus vertebrata, misalnya manusia, sapi, anjing, babi, ayam, dan ikan. Tubuh cacing pita ditutupi oleh kutikula, tidak memiliki mulut dan alat pencernaan, serta tidak memiliki alat indra. Tubuh cacing dewasa terdiri atas kepala (skoleks), leher pendek (strobilus), dan proglotid. Skoleks dilengkapi alat pengisap (sucker) dan alat kait (rostellum) untuk melekat pada organ tubuh inang. Leher merupakan daerah pertunasan, dengan cara strobilasi menghasilkan strobilus berupa serangkaian proglotid dengan jumlah mencapai 1.000 buah. Proglotid yang paling dekat dengan leher merupakan proglotid termuda. Semakin jauh dengan leher, proglotid semakin berukuran besar dan dewasa. Setiap proglotid memiliki alat kelamin jantan maupun betina. Pembuahan dapat terjadi dalam satu proglotid, serta antar proglotid dari individu yang sama maupun yang berbeda. Telur yang sudah dibuahi akan memenuhi uterus yang bercabang cabang, sedangkan organ lainnya berdegenerasi. Proglotid yang mengandung telur akan terlepas bersama tinja.

Daur hidup cacing pita membutuhkan satu atau dua inang perantara. Contohnya Taenia solium yang hidup parasit pada manusia dan hewan karnivor, dengan inang perantara babi. Dibothriocephalus latus memiliki inang utama manusia dan hewan karnivor, sedangkan inang perantaranya ikan. Taenia saginata merupakan parasit di usus manusia dengan inang perantara sapi. Skoleksnya tidak memiliki alat kait sehingga mudah diberantas. Echinococcus granulosus parasit di usus anjing dan Choanotaenia infundibulum parasit di usus ayam.

Daur hidup cacing pita (Taenia sp)

  • Taenia solium

Reproduksi dan daur hidup Taenia solium dimulai dari lepasnya proglotid tua bersama fesses dari tubuh manusia. Tiap ruas berisi ribuan telur yang telah dibuahi. Kemudian, ruas-ruas tersebut hancur dan telur tersebar kemana-mana. Zigot terus berkembang menjadi larva onkosfer di dalam kulit telur. Jika telur termakan babi, kulit telur dicerna dalam usus, sehingga larva onkosver menembus usus masuk ke pembuluh darah atau pembuluh limfa dan akhirnya masuk ke otot lurik. Di otot, larva onkosfer berubah menjadi kista yang terus membesar membentuk cacing gelembung (sistiserkus). Pada dinding sistiserkus berkembang skoleks. Jika seseorang memakan daging tersebut belum matang, kemungkinan sistiserkus masih hidup. Di dalam usus manusia yang memakannya, skoleks akan keluar dan menempel pada dinding usus, sedangkan bagian gelembungnya akan di cerna. Dari bagian “leher” Taenia solium, kemudian tumbuh proglotid-proglotid. Selanjutnya proglotid tua akan menghasilkan telur yang telah di buahi.

Daur hidup cacing pita (Taenia sp.) adalah sebagai berikut.

1)      Cacing dewasa hidup di usus manusia dan menghasilkan proglotid yang mengandung telur yang sudah dibuahi.

2)      Proglotid terlepas dari cacing induk, keluar bersama feses, bisa menempel pada rumput, kemudian termakan oleh hewan (sapi/babi).

3)      Di usus hewan tersebut, telur menetas menjadi larva onkosfer.

4)      Onkosfer menembus usus, masuk ke peredaran darah hewan tersebut, kemudian di dalam jaringan otot membentuk kista sistiserkus.

Bila manusia memakan daging yang mengandung kista sistiserkus, maka sistiserkus akan berkembang menjadi cacing pita baru dan tumbuh hingga dewasa di usus manusia.

  • Taenia saginata

Taenia saginata tidak mempunyai rostelum (kait) pada skoleknya, dan secara umum tubunya mirip dengan T. solium. Cacing dewasa hidup sebagai parasit dalam usus manusia, masuk ke dalam tubuh manusia melalui sapi sebagai hospes intermediet. Cacing ini tidak begitu berbahaya dibandingkan T. solium. Namun demikian cacing ini merugikan, karena menghambat penyerapan makanan dalam tubuh manusia. Siklus hidup cacing ini dimulai dari terlepasnya proglotid tua bersama feses manusia. Di dalam tiap proglotid terdapat ribuan telur yang telah dibuahi (zigot). Zigot tersebut kemudian berkembang menjadi larva onkosfer di dalam kulit telur. Jika telur tersebut termakan sapi, larva onkosfer akan menembus masuk ke dalam pembuluh darah atau pembuluh limfa dan akhirnya sampai di otot lurik. Didalam otot sapi, larva onkosfer berubah menjadi krista dan berkembang menjadi cacing gelembung atau sistiserkus yang membentuk skoleks pada dindingnya. Ketika daging sapi tersebut dimakan manusia (kemungkinan sistiserkus masih hidup), didalam usus manusia skoleks tersebut akan keluar lantas menempel pada dinding usus, kemudian tumbuh dewasa dan membentuk progloid-progloid baru. Kemudian siklus hidupnya terulang kembali.

Contoh soal

1. Pencegahan penularan cacing hati (Fasciola hepatica) pada manusia dapat dilakukan dengan cara berikut, kecuali………
A. Memutus rantai hidup cacing hati
B. Memberantas siput air sebagai inang sporokist
C. Berusaha tidak memakan daging domba
D. Mengonsumsi daging yang benar-benar matang atau aman
E. Memasak tumbuhan sebelum dimakan

Pembahasan :
Dalam upaya mencegah penularan cacing hati bukan berarti kita tidak boleh memakan daging domba, namun yang terpenting adalah memasak daging domba tersebut sampai benar-benar matang.
Jawab : (C)