Klasifikasi Bakteri Apa Bagaimana

By On Saturday, February 25th, 2017 Categories : Sains

Klasifikasi Bakteri adalah proses membedakan jenis bakteri dari satu sama lain dan mengelompokkan mereka sesuai dengan karakteristik yang dimiliki bersama

Klasifikasi Bakteri adalah proses membedakan jenis bakteri dari satu sama lain dan mengelompokkan mereka sesuai dengan karakteristik yang dimiliki bersama. Klasifikasi tersebut dilakukan dalam kerangka sistem taksonomi biologi yang diterima secara internasional, atau ilmu klasifikasi organisme.

Beberapa hal yang diperhitungkan selama klasifikasi bakteri, antara lain terutama RNA sekuen, tapi termasuk bentuk, biokimia, dan karakteristik membran eksternal.

Bakteriolog menggunakan sejumlah teknik dalam klasifikasi bakteri. Bentuk adalah cara paling sederhana untuk memberitahu bakteri terpisah satu sama lain, dan organisme ini dapat menunjukkan berbagai bentuk antara lain termasuk batang, spiral, dan lengkung. Bagaimanapun, bentuk tidak selalu merupakan karakteristik eksklusif, dan bakteri yang dikelompokkan dalam klasifikasi sangat berbeda dapat memiliki bentuk yang sama.

Ciri morfologi lainnya, seperti ukuran, dapat bervariasi secara signifikan dari spesies yang satu ke spesies yang lainnya, dan kelompok yang khas juga dapat membantu dalam klasifikasi. Banyak spesies cenderung membentuk kelompok sel individu, yang dapat sangat bervariasi jumlahnya. Adanya struktur eksternal, seperti konstruksi seperti tentakel kecil yang disebut flagela, juga dapat membantu membedakan spesies bakteri.

Alat kunci lain dalam klasifikasi bakteri adalah tes yang dikenal sebagai tes pewarnaan gram, dinamai seorang ahli mikrobiologi abad ke-19. Tes ini mengkuantifikasi bakteri sesuai dengan ketebalan membran luar mereka. Bakteri Gram negatif memiliki membran yang sangat tipis dan bakteri gram positif memiliki membran tebal.

Faktor-faktor seperti metabolisme dan perbedaan biokimia lainnya adalah alat lain untuk klasifikasi bakteri. Bakteri memetabolisme berbagai senyawa yang berbeda, dan senyawa tertentu atau senyawa yang digunakan atau dikonversi oleh bakteri tertentu dapat membantu dalam identifikasi dan klasifikasi. Analisis data biokimia lainnya juga dapat membantu proses ini.

Kemajuan dalam teknik analisis molekuler telah memungkinkan untuk bakteriolog untuk membedakan bakteri menurut perbedaan RNA, serta sekuen gen tertentu. Analisis lebih lanjut dari jumlah total RNA individu dan protein DNA dan rasio di mana mereka hadir memberikan cara lain untuk klasifikasi. Menggunakan beberapa atau semua teknik dan karakteristik yang diamati, bakteriolog mampu mengklasifikasikan bakteri sesuai dengan spesies dan kelompok spesies yang sama bersama-sama.

Klasifikasi bakteri dilakukan berdasarkan identifikasi terhadap persamaan dan perbedaan ciri sel tubuh, yang menunjukkan adanya hubungan filogenetik atau evolusioner. Bakteri diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar (kingdom), yaitu Archaebacteria dan Eubacteria.

A. Archaebacteria

Archaebacteria adalah bakteri yang dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan. Archaebacteria memiliki RNA dan protein penyusun ribosom yang sangat berbeda dengan bakteri pada umumnya, dan lebih mirip dengan RNA dan protein yang terdapat pada sel eukariot. Sebagian besar Archaebacteria hidup pada habitat yang ekstrem, misalnya di mata air panas, air laut yang terlalu asin, kawah, lumpur, dan gambut. Berdasarkan habitatnya yang ekstrem, Archaebacteria dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu bakteri metanogen, bakteri halofil, dan bakteri termofil.

1. Bakteri Metanogen

Bakteri metanogen adalah bakteri yang menghasilkan metana (CH4) dengan cara mereduksi CO2 dengan H2. Bakteri metanogen termasuk bakteri anaerob yang paling tidak toleran terhadap oksigen, atau akan teracuni bila ada oksigen. Sebagian besar bakteri ini hidup di lumpur atau di rawa-rawa yang miskin oksigen. Gas metana yang dihasilkan keluar sebagai gelembung gelembung yang disebut gas rawa. Selain itu, ada pula yang hidup di dalam saluran pencernaan hewan pencerna selulosa, misalnya pada sapi, kambing, dan rayap. Spesies bakteri metanogen saat ini dikomersialkan sebagai strain bakteri dalam pembuatan biogas dan bahan sampah dan kotoran hewan. Contoh bakteri metanogen antara lain Methanomonas dan Methano bacterium.

2. Bakteri Halofil

Bakteri halofil (Yunani, halo = garam, philos = pencinta) adalah bakteri yang hidup di lingkungan dengan kadar garam tinggi. Kondisi optimum untuk pertumbuhan bakteri ini berkadar garam sekitar 20%, namun ada pula yang hidup pada lingkungan dengan kadar sepuluh kali keasinan air laut. Contoh bakteri halofil antara lain Halo bacterium.

3. Bakteri Termofil atau Termoasidofil

Bakteri termofil adalah bakteri yang hidup pada lingkungan bersuhu panas. Lingkungan yang bersuhu panas cenderung bersifat asam karena mengandung sulfur. Bakteri yang hidup di lingkungan bersuhu panas dan asam disebut bakteri termoasidofil. Kondisi optimum untuk pertumbuhan bakteri ini sekitar 60°C — 80°C dengan pH sekitar 2 — 4. Contoh bakteri termofil atau termoasidofil antara lain Sulfolo bus, Thermus aquati cus, Bacillus caldolyticus, dan Bacillus caldotenax. Sulfolobus hidup di mata air panas sulfur di Yellowstone National Park. Bakteri Sulfolobus memperoleh energi dengan cara mengoksidasi sulfur. James Lake dari University of California, Los Angeles, mengajukan hipotesis bahwa organisme eukariot (organisme bermembran inti) berasal dan prokariot termofil yang disebut eosit (eocyte), yang berarti “sel-sel permulaan”.

B. Eubacteria

Eubacteria adalah bakteri yang memiliki dinding sel yang mengandung peptidoglikan. Eubacteria meliputi sebagian besar jenis bakteri yang dapat hidup di manapun (kosmopolit) baik yang secara saproba, parasit, maupun simbiosis mutualisme. Terdapat ribuan spesies Eubacteria yang sudah diketahui. Eubacteria dapat diklasiflkasikan berdasarkan perbandingan signature sequence (urutan basa khas) pada RNA ribosom. Berdasarkan perbedaan urutan basa khas pada RNA ribosom tersebut, Eubacteria dibagi menjadi lima kelompok utama, yaitu Proteobacteria, bakteri Gram, Cyanobacteria, Spirochaeta, dan Chlamydia.

1. Proteobacteria

Proteobacteria merupakan kelompok Eubacteria yang beragam, dan dapat dibedakan lagi menjadi tiga subkelompok, yaitu sebagai berikut.

a. Bakteri ungu

Bakteri ungu memiliki bakterioklorofil yang tersimpan di dalam membran plasma sel, sehingga dapat melakukan fotosintesis. Bakteri ini tidak menghasilkan oksigen karena tidak menggunakan air (H2O) sebagai agen pereduksi (donor elektron) dalam proses fotosintesis tetapi menggunakan zat selain air, misalnya H2S. Bakteri ungu ada yang hidup secara fotoautotrof, yaitu berfotosintesis dengan menggunakan cahaya untuk menyintesis senyawa organik, dengan sumber karbon dalam bentuk senyawa anorganik (CO2). Namun, ada pula yang hidup dengan cara fotoheterotrof, yaitu menggunakan cahaya untuk berfotosintesis, tetapi sumber karbon dalam bentuk senyawa organik. Bakteri ungu sebagian besar anaerob obligat (tidak membutuhkan oksigen), dan hidup di lumpur, kolam, atau danau. Bakteri ini ada juga yang memiliki flagela, contohnya Chromatium.

b. Proteobacteria kemoautotrof

Proteobacteria kemoautotrof dapat menyintesis makanannya sendiri dengan menggunakan energi kimia. Ada yang hidup bebas, dan ada pula yang hidup bersimbiosis dengan organisme lain (misalnya dalam bintil akar tanaman kacang-kacangan). Contohnya Rhizobium leguminosarum yang dapat mengikat N2 bebas.

c. Proteobacteria kemoheterotrof

Proteobacteria kemoheterotrofik membutuhkan zat organik sebagai sumber kàrbon dan energi. Sebagian besar hidup disaluran usus hewan, bersifat anaerob fakultatif (dapat hidup dengan oksigen maupun tidak), berbentuk batang, dan tidak berbahaya. Namun ada pula yang bersifat patogen (menyebabkan penyakit), contohnya Salmonella sp. dan Escherichia coli.

2. Bakteri Gram Positif

Nama kelompok ini sebenarnya membingungkan, karena sebagian besar memang bersifat Gram positif tetapi ada pula yang bersifat Gram negatif. Oleh karena bakteri yang bersifat Gram negatif tersebut memiliki sistematika molekul yang menunjukkan suatu hubungan dengan bakteri Gram positif, maka akhirnya dimasukkan pada kelompok bakteri Gram positif. Banyak jenisnya yang bersifat kemoheterotrof dan beberapa hidup secara fotoautotrof. Bakteri Gram positif dapat membentuk endospora yang resisten, contohnya Bacillus sp. dan Clostridium sp. Namun, ada pula yang tidak membentuk endospora, misalnya Mycoplasma sp. yang hidup di tanah dan menyebabkan penyakit paru-paru “walking pneumonia” pada manusia. Mycoplasma sp. merupakan bakteri Gram negatif, tetapi susunan genetiknya mirip dengan Clostridium sp., sehingga tetap dimasukkan dalam golongan ini. Bakteri Gram positif lainnya, kelompok Actinomycetes, berbentuk koloni bercabang menyerupai jamur dan hidup di tanah, contohnya Streiptomyces sp. (penghasil antibiotik).

3. Cyanobacteria

Cyanobacteria akan dibahas lebih khusus artikel Ciri-ciri Cyanobacteria.

4. Spirochaeta

Spirochaeta berbentuk heliks panjang (hingga 0,25 mm) dan dapat bergerak. Spirochaeta ada yang hidup bebas, dan ada pula yang parasit. Contohnya Treponema pallidum, Leptospira interrogans (penyebab penyakit leptospirosis), dan Borrelia burgdorferi (penyebb penyakit lyme atau lepuh kulit).

5. Chlamydia

Chlamydia ini berbeda dengan Eubacteria lainnya karena tidak memiliki peptidoglikan pada dinding selnya. Chlamydia bersifat Gram negatif dan hidup parasit obligat (parasit penuh) di dalam sel hewan atau manusia. Contohnya Chlamydia trachomatis.