Kisah Laskar Wanita Zaman Penjajahan Belanda, Sophia Menyamar Jadi Penjaja Telur

By On Friday, March 3rd, 2017 Categories : Sains

Kisah Laskar Wanita Zaman Penjajahan Belanda, Sophia Menyamar Jadi Penjaja Telur

 

Tak terbayang kisah seorang wanita berusia 14 tahun semasa penjajahan Belanda. Ia adalah Laskar Wanita Indonesia di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Saat itu, wanita bernama Soepia Subiyati (82) bertugas untuk mengirimkan surat komando gerilya.

Meski Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945, gencatan senjata belum sepenuhnya terhenti. Seperti halnya pertempuran yang terjadi antara tentara Belanda dengan para pejuang Indonesia di Gombong

Pemerintah Republik Indonesia dan Belanda pada 17 Agustus 1947 melakukan penandatanganan persetujuan Renville, tapi pertempuran masih terjadi antara tentara Belanda dengan berbagai laskar-laskar, serta TNI.

Pada Juli 1947 di Gombong masih terjadi gencatan senjata. Di Kebumen, pasukan Belanda memusatkan tangsi militer di sekitar Benteng Van Der Wijk Gombong.

Maka pasukan pejuang Republik Indonesia yang ada di sekitar Gombong berhadapan langsung dengan Belanda. Soepia yang berusia 14 tahun saat itu, mau tak mau harus berjuang demi mengusir Belanda dari tanah air Indonesia.

“Umur saya 14 tahun waktu itu. Saya tak megang senjata, tapi saya memegang granat. Granat itu dikirimkan ke batalyon-batalyon, karena Belanda punya tank pada saat itu,” cerita wanita kelahiran Gombong, Kebumen, Jawa Tengah saat ditemui di Jakarta, Selasa (11/8/2015).

Ia sempat menceritakan bagaimana dirinya sempat menjadi ‘kurir’ surat yang isinya memberitahukan, “Lewat mana pejuang Indonesia harus menyerang tentara Belanda. Karena saat itu juga banyak ranjau-ranjau, isi surat itu adalah jalur-jalur yang aman untuk melakukan gerilya,” tambahnya.

Tapi Laskar Wanita ini, mengaku tak hentinya mengeluarkan air mata saat melihat ledakan yang terjadi di Candi Gembong. Tentara dan rakyat banyak yang mati saat itu, “Saya begitu banyak melihat jenazah,”

Soepia merasa bersyukur selama melaksanakan tugasnya, dirinya tak pernah sekalipun tertangkap tentara Belanda. Ia kerap kali melakukan penyamaran demi memuluskan pengiriman surat.

“Saya lakukan penyamaran menjadi penjual telur untuk dapat menyampaikan surat komando militer. Alhamdulillah, saya tak pernah tertangkap tentara Belanda. Kalau kejadian hingga menyebabkan luka di kaki, itu sih sering,” cerita wanita yang saat ini tinggal di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Ia berujar akan melakukan sumbangsih apa pun untuk membantu rakyat Indonesia di masa penjajahan. Tak ada pelatihan militer yang diemban Soepia. Wanita kelahiran Gombong 1933 Maret ini, menyadari kematian bisa kapan pun terjadi pada dirinya. Saat ini, di usianya yang terbilang tak muda lagi, Soepia masih aktif di organisasi-organisasi.

Dirinya berpesan kepada para penerus bangsa terutama kaum wanita untuk melanjutkan perjuangan para pejuang terdahulu. Karena perjuangan masih belum selesai.

“Wanita sama saja dengan pria, generasi kita harus berjuang, tapi perjuangannya tentu berbeda dengan zaman dulu. Kalau dulu itu berjuang melawan penjajah, kalau sekarang itu kita harus berjuang melawan penjajah negaranya sendiri seperti para koruptor. Banyak sekali rakyat kita yang korupsi hingga merugikan negaranya sendiri,” ujar Soepia.

Menurutnya kalau saja tak ada koruptor di negeri ini, seharusnya rakyat Indonesia bisa makmur. Soepia sakit hati kerap kali ada kabar petinggi negara yang mengambil uang rakyat.

“Saya sakit hati, banyak masyarakat kita yang menghancurkan negaranya sendiri. Sedangkan, banyak pejuang zaman dulu yang berjuang mati-matian demi kemerdekaan bangsa,” kata Soepia.