Kisah Kopassus berani masuk sarang musuh sendiri tanpa senjata

By On Wednesday, December 30th, 2015 Categories : Artikel

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso menjemput sendiri pemimpin kelompok bersenjata Din Minimi. Padahal Din adalah buronan yang paling dicari di Aceh. Sutiyoso mengaku datang tanpa pengawalan. Dia hanya membawa beberapa orang.

Letjen (Purn) Sutiyoso dibesarkan sebagai perwira intelijen di Kopassus TNI AD. Dia kenyang dengan pengalaman tugas di Aceh dan Timor Timur.

Sebenarnya tak cuma Sutiyoso yang pernah melakukan hal ini. Sudah menjadi hal yang biasa jika perwira Kopassus masuk sarang kelompok bersenjata dan membujuk mereka kembali ke pangkuan NKRI.

Biasanya untuk menunjukkan itikad baik, anggota Kopassus itu datang tanpa senjata. Kadang malah datang sendirian dengan mata tertutup dan dijemput ke sarang kelompok bersenjata di Aceh dan Papua. Demi tugas, semua dilakukan. Jelas resikonya nyawa karena biasanya mereka bertempur berhadapan, kini harus masuk ke sarang musuh tanpa senjata. Saat perang dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), beberapa perwira Kopassus melakukan hal ini.

Jenderal Agum Gumelar juga pernah mengisahkan penugasannya di Timor-Timur tahun 1982-1983. Banyak peristiwa menarik yang dialami Agum sebagai perwira menengah Kopassus yang saat itu masih bernama Komando Pasukan Sandi Yudha.

Salah satunya saat Agum menemui pemimpin Fretilin Vincencio Vieras yang bersarang di Gunung Kablaque. Agum ingin menggunakan cara persuasif mengajak Vincencio untuk meletakan senjata dan kembali ke masyarakat.

Pertemuan ini cukup menegangkan. Vincencio mau ditemui dengan syarat Agum tak membawa pasukan lengkap. Agum setuju, dia hanya membawa beberapa anggota baret merah. Sepanjang perjalanan, mata Agum dan anak buahnya harus ditutup.

Kisah ini dituturkan Agum dalam biografinya yang berjudul Jenderal Bersenjata Nurani. Diterbitkan Pustaka Sinar Harapan tahun 2004.

“Saya sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk yaitu mati. Tapi saya bilang ke anak buah saya, kalaupun kita harus mati, sebelum itu harus lebih banyak fretilin yang mati,” kata Agum.

Namun tak terjadi hal apapun selama perjalanan. Agum bisa bertemu Vincencio dengan lancar. Dia meminta Fretilin berhenti berperang karena rakyat sudah mulai membangun. Fretilin pun tak lagi dapat dukungan internasional.

Upaya persuasif itu tak sia-sia. Banyak anggota gerombolan Fretilin yang kemudian turun gunung dan tak lagi mengangkat senjata.

Menurut Agum dia diberi tugas mengurangi kekuatan Fretilin di Timor Timur. Ada dua cara yang bisa dilakukan, cari dan bunuh mereka. Atau sadarkan mereka untuk sama-sama membangun.

“Saya pilih cara kedua,” kata Agum.

Dipublikasikan Oleh: Ramadhian Fadillah | Rabu, 30 Desember 2015 10:51 – Merdeka

The Gravity of Us (Elements, #4), The Meticulous Bachelor, How to Love a Tycoon:, The Cuckoo's Calling (Cormoran Strike, #1), Wie niet weg is wordt gezien, Infinity's Embrace (Dark Planet Warriors, #6), Undeniable (Tortured Love #4), City of Masks (Stravaganza, #1), A little Siren (Not Quite the Fairy Tale #2), P.S. I Like You, And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer, Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern, Convict, Listening Woman (Leaphorn & Chee, #3), Mercenary (Bio of a Space Tyrant, #2), Taboo For You (Friends to Lovers #1), Salt Houses: A Novel, Forging Forever, The Shattered Tree (Bess Crawford, #8), On Duck Pond