Kisah Bawang Putih dan Bawang Merah

By On Wednesday, October 30th, 2013 Categories : Cerita

Ketika Bawang Putih pergi ke sungai untuk mencuci, baju kesayangan ibu tirinya hanyut terbawa arus sungai. Bawang Putih melapor kepada ibu tirinya. Namun, bukannya mengasihaninya, ibu tiri Bawang Putih malah menyuruh untuk mencarinya sampai ketemu. Jika tidak, Bawang Putih tidak diperbolehkan pulang.

Bawang Putih menyusuri sungai untuk menemukan baju kesayangan ibu tirinya. Namun, sejauh kakinya melangkah tidak ditemukannya baju kesayangan ibunya. Padahal hari sudah malam. Bawang Putih hampir saja menangis jika tidak melihat lampu minyak di gubuk tepi sungai. Bawang Putih pun menghampirinya.

Tok. Tok. Tok. Bawang Putih mengetuk pintu gubuk itu. Selang berapa lama kemudian muncullah seorang nenek tua dari dalam. Nenek tua itu memperhatikan Bawang Putih dan berkata, “Hai, gadis manis, apa yang kamu lakukan malam-malam?”
“Begini, Nek, aku kehilangan sebuah baju dan sedang mencarinya , apakah Nenek melihatnya?”
“Apakah baju yang kamu cari berwarna merah?”
“Ah, iya benar sekali, Nek. Bisakah Nenek memberikannya padaku?”
Nenek itu tersenyum,”Dengan satu syarat. Kamu harus tinggal di sini dan membantu Nenek selama seminggu, Bagaimana?”
Bawang Putih berpikir sejenak. Jika dirinya tidak mau, ibu tirinya tentu akan marah lagi. “Baiklah, Nek, aku mau.”

Tinggalah Bawang Putih selama seminggu di gubuk Si Nenek. Selama tinggal di sana, bawang Putih melakukan apa yang sudah dijanjikannya dengan rajin dan tanpa mengeluh sedikitpun.

Seminggu pun lewat. Akhirnya . nenek itu memanggil Bawang Putih untuk mengembalikan baju ibu tirinya. Bahkan si Nenek memberikan Bawang Putih bonus sebuah labu. Ada dua labu yang disodorkan untuk dipilih Bawang Putih, labu besar dan labu kecil. Bawang Putih mengambil labu yang kecil. Si Nenek bertanya padanya, ”Kenapa kamu mengambil labu yang kecil, Nak?”

“Tangan-tanganku kecil dan tanganku hanya kuat mengangkat labu yang kecil. Jadi, aku memilih labu kecil.”

Si Nenek pun tersenyum. Bawang Putih pulang dengan riang gembira. Sesampainya di rumah, setelah memberikan baju kepada ibu tirinya. Bawang putih membelah labu kecil miliknya. Tak disangka isinya emas-berlian yang sangat banyak. Bawang Merah yang mengintip tak jauh dari situ segera memanggil ibunya. Melihat emas-berlian itu, ibu Bawang Merah segera merebutnya dari tangan Bawang Putih. Kemudian bertanya, “Dari mana kau mendapatkan ini semua?”

Saat itu Bawang Putih melamun, sambil membersihkan rumah dia ingat akan masa lalunya. Saat ayahnya belum menikah, Bawang Putih yang sangat disayang dan dimanja, tapi sekarang setelah ayahnya menikah Bawang Putih merasa menderita dan tersiksa karena ibu tirinya dan saudaranya. Bawang Putih pun ingat dulu sesudah ibunya tiada, ibu tirinya yang sekarang menjadi keluarganya, dulu sering datang kerumah Bawang Putih, yang pada awalnya ibu Bawang Merah dan putrinya hanya berbincang saja.

Namun, lama-kelamaan, timbul pikiran ayah Bawang Putih untuk mempersunting ibu Bawang Merah, tapi ternyata setelah menikah diam-diam Ibu tirinya Bawang Putih merencanakan untuk menyingkirkan Bawang Putih.
Saat itu Bawang Putih tak sengaja mendengar percakapan ibu tirinya dan saudaranya, Bawang Putih hanya bisa menangis dan terdiam.

Bawang Putih menceritakan dengan jujur tanpa kurang satu detail pun. Ibu Bawang Merah kemudian punya ide.Dia memerintahkan Bawang Merah untuk melakukan hal serupa yang dilakukan Bawang Putih.

Bawang Merah pun setuju. Dia Pergi kerumah Nenek itu dan tinggal selama seminggu. Namun, dasar pemalas, Bawang Merah tidak melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh. Pada akhir minggu, Bawang Merah dipanggil oleh si Nenek yang hendak mengembalikan bajunya. Waktu si Nenek hendak beranjak, Bawang Merah bertanya, “Mana labu untukku?”

Si Nenek bingung mendengar pertanyaan itu. Namun, akhirnya dia mengerti. Kemudian, membawakan dua labu kecil dan besar, kepada Bawang Merah. Tentu saja, Bawang Merah mengambil labu yang besar. Si Nenek tersenyum dan bertanya kepada Bawang Merah. “Kenapa kamu memilih labu yang besar?”

“Yang besar tentu isinya banyak.” Bawang Putih yang sedih mengetahui dirinya sebatang kara tetap tak bias berbuat apapun dihadapan ibu tiri dan Bawang Merah. Satu-satunya hal yang bias dilakukannya adalah mematuhi perintah ibu dan saudara tirinya. Bawang Putih beraharp keduanya bias berubah. Namun, mereka malah semakin menjadi-jadi.

Tak lama kemudian Bawang Merah pulang kerumah. Ibunya yang sudah tidak sabar segera menyambut kedatangan putrinya. Keduanya kemudian membelah labu besar pemberian si Nenek. Bukannya keluar emas-berlian, yang keluar justru binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking dan sebagainya yang segera mematuk merke berdua. Keduanya langsung meninggal di tempat.

Pesan: jangalah menjadi serakah dan mau menang sendiri. Karena hal itu, tidak baik dan akan menerima balasannya.