Kisah Arloji Retak

By On Sunday, March 12th, 2017 Categories : Cerita

Kenangan, kata petuah, kadang mengesankan tetapi juga seringkali menggenaskan. Sementara musim beranjak menua, tahun-tahun terus berlalu, Ndung, sahabatku itu, masih juga terpekur, mendengkur. Dengkulnya melengkung, membentuk busur dengan jidat menempel ketat pada meja yang memelas di hadapannya, meja peninggalan orangtuanya. Kursi yang telah ia duduki bertahun-tahun lamanya kini mulai renta dan retak tak karuan. Keadaannya begitu menggenaskan, sama persis dengan Ndung sahabatku itu. Tak dihiraukannya rambut di kepalanya, dilepas begitu saja menjalar bak semak belukar, awut-awutan. Baju yang sekarang ia kenakan telah melekat pada tubuhnya berbulan-bulan lamanya, tak pernah sekalipun ia peduli. Saban hari air matanya mengalir, membentuk kubangan pada meja yang memelas di hadapannya. Ia sama sekali tak peduli pada apapun. Namun jika ada sesuatu yang ia peduli, itu adalah sebuah arloji yang ia letakkan sedemikian rupa di atas meja itu, sehingga tampak selalu anggun. Dipandanginya arloji itu saban pagi dengan mata tak pernah sekalipun berkedip, meski air matanya tetap juga mengalir. Lain waktu ia mengelus-elus arloji itu dengan perasaan haru yang mendalam sembari tersenyum dengan cara yang bagiku terasa menyedihkan, senyum yang menyulut pilu.
Perihal arloji.

Ia agak rumit untuk ukuran sebuah benda yang diciptakan untuk sekadar mengukur waktu, agak aneh atau aku lebih suka menyebutnya unik. Begitulah, arloji yang telah ia simpan lama itu perlahan menjadi bagian dari risalah kehidupan yang ditulisnya. Sepanjang hidup, setiap tepat pkl. 17.00, arloji itu akan selalu berhenti berdetak selama 5 menit, membisu. Ia seolah-olah tertidur untuk sementara waktu. Selalu begitu dan akan terus begitu, setiap hari. Barangkali orang yang menciptakan arloji itu telah membuat kesalahan. Entahlah! Pada awalnya Ndung, sahabatku itu, selalu berusaha memperbaikinya agar sang arloji kembali benar. Tetapi setelah mengenal tabiatnya itu, Ndung tak lagi pernah melakukannya. Hingga kini, setiap satu hari ia akan selalu terlambat 5 menit dari waktu sebenarnya. Selama satu minggu ia akan terlambat 35 menit! Itulah sebab Si Ndung tak pernah memakainya, hanya diletakkan di atas meja yang memelas itu. Lagi pula, jarum panjang yang menunjukan hitungan detik selalu tak pasti. Jarum itu selalu memanjang dan memendek secara tak beraturan selama ia bergerak melingkar. Bila setiap kali berhenti, titik-titk yang ditinggalkan ujung jarum itu dihubungkan dengan sebuah garis, maka akan terbentuk sebuah lingkaran bergelombang, berantakan. Sebuah lingkaran yang berdebar resah, risau. Ia tampak selalu tergesa-gesa, hingga kelihatan seperti terengah-engah. Sudah kubilang padamu, arloji itu memang aneh! Namun begitu, Ndung sahabatku itu, masih juga merawatnya dengan cinta yang menggebu-gebu.

“Ndung, kau menyimpannya untuk apa?”
Ndung tersenyum getir sembari terus memandangi arloji itu, tak ada satu pun kata yang diucapkannya. Bila malam akan tiba dengan sunyi yang paling mencekam, Ndung sahabatku itu, membuka jendela kamarnya. Dibiarkannya cahaya bulan memasuki kamarnya, lalu ia akan memeluk arloji itu erat-erat sembari merapal doa panjang-panjang. Orang-orang yang sempat melihatnya menganggap Ndung tak lagi wajar, ia telah setengah gila. Tapi aku tahu, baginya arloji itu adalah serpihan kenangan yang masih tersisa, bagian dari masa silam yang tercecer tak karuan. Arloji itu adalah masa lalu yang dengan keras ia perjuangkan untuk selalu dikenang, namun juga yang dengan sekuat tenaga berusaha dilupakannya. Itulah sebab mengapa ia masih begitu mencintai arloji itu.

Sore tadi, tepat pkl. 17.00, aku kembali ke bukit itu. Sebuah bintang redup bertahta persis di atas sebuah salib putih yang merapuh. Itulah senja paling senyap yang pernah kukenal di bukit itu. Seluruh penjuru bukit membisu, ia seolah-olah mati. Tak ada satu pun suara, hanya bisikan angin sepoi yang barangkali membawa kabar perihal perpisahan yang senantiasa mencekam pada dedaunan lesuh. Inilah kesepian paling menyesakkan dada yang pernah kualami. Bisuku menuntut, sepi terasa kian mencekam, hanya nanar yang bertahan di mata, menatap nyata yang tampak samar. Tanganku getar menggigil, saraf di seluruh tubuhku jadi kaku. Rasanya seperti hendak menangis dan menghamburkan segala resah di dada, hingga tumpah dan tumpuk pada bebatuan di bukit itu. Aku tak kuasa menahan rembesan darah yang mengalir dari goresan luka di sekujur hatiku, yang menjelma air mata pada tikungan di kelopak mataku, berhamburan. Aku menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya secara sangat perlahan, berharap ia menyatu dalam desir angin senja, agar sebagian dari diriku turut mengabarkan perihal pilu yang menyesakkan ini ke seluruh penjuru bukit, biar bukit itu tahu bahwa melodi kehidupan terkadang menyayat hati. Sebab aku telah lama merana dan menderita berkali-kali demi menahan rindu yang saban hari kian tak tertahankan.

Di bukit itu, waktu kadang berlalu terlampau cepat atau sesekali ia merangkak sangat perlahan. Seperti sore tadi, dan juga sore lain sebelumnya, aku terperosok jauh ke masa lalu, meringkuk pada suatu sudut di suatu masa yang telah lama silam, masa yang paling keras kuperjuangkan untuk dilupakan, masa yang juga kurindukan dengan sangat mendalam, rasanya ingin selalu mengenangnya. Aku paham benar, kenangan tak akan pernah sama atau sesekali ia tak akan pernah kembali untuk selamanya, meski sekali saja. Itulah sebabnya aku sangat merindukan masa itu.

Sesekali, aku mengenangmu
Meski seringkali hanya dalam mimpi
Waktu itu dengan syahdu, entah sadar entah tidak
Kau lalu tersenyum dengan cara paling memukau, sangat indah!! Aku mengaguminya hingga kini. Tersadar, aku baru ingat kini tak ada lagi orang sepertimu
Kau telah tiada. Kayendra.

Aku lalu meletakkan bait puisi itu pada batu yang berdiri tegak di kepala Kayendra, persis bersebelahan dengan sebuah bintang redup dan salib putih yang merapuh.RIP. Aku lalu meninggalkannya dengan langkah gontai. Aku merasa seperti tak ada lagi orang lain di muka bumi ini, hanya saya seorang diri. Seluruh alam ini tak lagi memihakku. Betapa pedihnya.

“Nana, arlojimu rusak?”
Ibu mendapati arloji yang tergegeletak di atas meja belajarku sedang tak berdetak. Aku tak menyahutnya, hanya membalasnya dengan senyum paling menyedihkan yang pernah kumiliki. Aku tahu, itu tepat pkl. 17.00. Aku merasa sangat sedih, rongga dadaku bergemuruh, menyebabkan nyeri pada lubuk jantungku. Aku cepat-cepat berlalu dari hadapan ibu.
Masih terang dalam ingatanku. waktu itu tepat pkl.17.00, senja manja sedang bercengkerama dengan bukit itu, itulah senja terakhir yang masih sempat kami rayakan bersama.
“Agar kau tak akan pernah melupakanku”, katanya sembari memberikan arloji itu padaku. Senyumnya begitu lembut, rasanya ingin memeluknya erat, hingga tak ada lagi kenangan yang tersisa. Kini aku mengerti, barangkali arloji itu sesekali juga mengenang Kayendra, hingga tampak selalu resah.

Tidurlah, Kayendra
Fajarmu menanti Di sana pagi masih setia
Semoga kau tenang!

Ndung sahabatku itu, menuturkan kisahnya perihal arloji itu sembari menitikkan air mata. Betapa ia merindukan kekasihnya, Kayendra.

32820032, 32820033, 32820034, 32820035, 32820036, 32820037, 32820038, 32820039, 32820040, 32820041, 32820042, 32820043, 32820044, 32820045, 32820046, 32820047, 32820048, 32820049, 32820050, 32820051, 32820052, 32820053, 32820054, 32820055, 32820056, 32820057, 32820058, 32820059, 32820060, 32820061, 32820062, 32820063, 32820064, 32820065, 32820066, 32820067, 32820068, 32820069, 32820070, 32820071 29259658, 29259659, 29259660, 29259661, 29259662, 29259663, 29259664, 29259665, 29259666, 29259667, 29259668, 29259669, 29259670, 29259671, 29259672, 29259673, 29259674, 29259675, 29259676, 29259677, 29259678, 29259679, 29259680, 29259681, 29259682, 29259683, 29259684, 29259685, 29259686, 29259687, 29259688, 29259689, 29259690, 29259691, 29259692, 29259693, 29259694, 29259695, 29259696, 29259697