Ketika Tak Lagi Sama

By On Sunday, March 12th, 2017 Categories : Cerita

“Kenapa?”
“Kadang, kebahagiaan tidak pernah memihak pada orang baik.” Ven menyeka air matanya, Fajri di sampingnya membuang nafas. Tahu sekali tadi perempuan yang tengah duduk itu baru usai membaca artikel save to Suriah.

Ven mematikan layar komputernya, matanya berputar lalu membuang nafas saat Fajri masih menungguinya sambil tersenyum.

“Kau tidak pernah secengeng ini.” Fajri menepuk-nepuk kepala Ven, perempuan itu hanya mengangguk lesu. Matanya mengekori Fajri yang sudah berjalan duluan ke kantin kantor.
“Bagi manusia di dunia, semua hal seperti itu adalah masalah kecil.” Ven mengangkat wajahnya, Fajri mengangkat alis. Benar, kan? Lalu dengan berat hati mengangguk.
“Ya, mungkin.” Ven lalu menyedot coffe mocanya. Fajri sudah mengangguk-angguk. “Karena manusia di dunia ini sudah tidak peduli lagi.”

Fajri melirik, ya, dunia seakan tidak pernah berpihak pada orang baik sekalipun. Bahkan orang yang menganggap dirinya baik tidak pernah mengambil tindakan baik itu. Mungkin bisa jadi karena keterbatasan. Tapi Fajri lebih yakin karena memang tidak ada niat untuk melakukannya.

“Ven, kau mau tahu manusia yang masih memiliki sikap peduli?” Tanya Fajri, Ven yang tengah menyuapkan sup ikan ke mulutnya menggeleng.
“Aku tidak mau tahu.” Kata Ven, lalu kembali menyantap makan siangnya. Fajri membuang nafas, lalu melirik jam tangannya dan kembali melirik Ven. Perempuan ini, ah.

“Ayo naik.” Kata Fajri, matanya mengendik ke arah jok belakang motornya, Je mengangkat hidungnya tinggi-tinggi.
“Seharusnya kamu beli mobil baru, minggu lalu kan kau naik jabatan.” Kata Ven, segera ia duduk di jok motor butut Fajri.
Pria itu hanya berdecak. Lagi-lagi soal mobil baru, jabatan naik, dan motor butut ini? Untuk apa? Dia sudah banyak berjasa selama ini. Ven sudah menepuk bahu Fajri memberitahu kalau dirinya sudah duduk dengan benar, Fajri yang sudah menyalakan mesin motor segera melajukan motornya. Sore ini tidak cukup banyak pekerjaan di kantor jadi mereka bisa pulang dengan cepat.

Ven menyantap makan siangnya, Fajri yang baru mematikan sambungan telepon dengan seseorang, melirik. Ven. Dia bukan Ven yang dulu.

“Ven,” suara Fajri membuat Ven melirik. Ven yang tengan minum segera mengangkat kepala.
“Ada apa?” Tanya Ven, Fajri membuang nafas ingin tersenyum membalas cengiran Ven yang khas, tetapi urung.
“Kau masih mencintaiku?” Tanya Fajri membuat Ven jadi terlihat keki. Untuk apa membahas masa lalu?
“Untuk apa? Lagian kau tidak mencintaiku.” Kata Ven, tegas. Fajri mengangguk. Menelan ludah pahitnya dengan dorongan coffe.

Ven kembali makan, sejenak curi-curi pandang pada Fajri yang menunduk. Dulu, amat berbeda. Sangat amat berbeda. Dan Ven tidak mungkin seperti dulu. Dan Fajri begitu pula sebaliknya.

Langkah Fajri terdengar amat tidak berselera. Ia sudah menghabiskan makan siang dengan amat mengerihkan. Ven yang masih berkutat dengan pekerjaannya membuat Fajri menghela nafas.

“Kita tidak pulang cepat seperti kemarin.” Kata Ven, bangkit saat sadar Fajri sudah mematung di sebelahnya.
“Ayo, pulang.” Ven menyeret Fajri yang nampak lesu. Sepertinya gadis ini sudah tidak peduli pada topik makan siang tadi. Tapi Fajri justru tengah memikirkannya.
“Kenapa?” Tanya Fajri.

Ruang kerja sudah sepi, karena memang hanya Ven dan Fajri yang belum ke kantin kantor. kali ini Ven tidak membaca artikel yang menyangkut negara atau dunia, Fajri tahu karena sekilas ia melihatnya. Ven membuang nafas.

“Orang yang mencintai gak selamanya dicintai.” Kata Ven, ia sudah beranjak lebih dulu sebelum Fajri meninggalkannya. Oh, berarti kali ini Ven membaca artikel mengenai hati.
“Ya, memang.” Kata Fajri, Ven mengangguk-angguk. Lalu berderap lebih dahulu menuju kantin kantor. Fajri sejenak menatap komputer Ven yang belum sempat dimatikan itu.

Cinta bukan sekedar kata memiliki, apalagi mendapatkan sepenuhnya. Entah sadar atau tidak, ada saatnya kita mencintai seseorang yang selama hidupnya tidak akan pernah mencintai kita. Hingga pada saatnya ia mulai mencintai kita, justru kita yang mulai tidak mencintainya. Bukan karena kita intorvert, tapi karena memang kesempatan itu sudah tidak ada.

“Ya, itu aku.” Gumam Fajri, ia mematikan komputer Ven lalu membuang nafas.

Sampai kapanpun kita akan mencintai seseorang yang salah terlebih dahulu sampai akhirnya kita menemukan yang benar. Karena pada dasarnya kita akan menyukai sesuatu yang sudah tiada.

21192928, 21192929, 21192930, 21192931, 21192932, 21192933, 21192934, 21192935, 21192936, 21192937, 21192938, 21192939, 21192940, 21192941, 21192942, 21192943, 21192944, 21192945, 21192946, 21192947, 21192948, 21192949, 21192950, 21192951, 21192952, 21192953, 21192954, 21192955, 21192956, 21192957, 21192958, 21192959, 21192960, 21192961, 21192962, 21192963, 21192964, 21192965, 21192966, 21192967