Ketika Cinta Senja Menghampiri Kisahku

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Kala senja mulai muncul, kutatap langit yang mulai berubah warna keemasan. Menambah ucap syukurku kala itu kepada-Nya, ya Tuhan terimakasih engkau telah anugerahkan aku untuk melihat hasil karyamu untuk manusia yang begitu indah. Itulah ucapan yang selalu kuucapkan kala melihat langit keemasan.

Perkenalkan namaku Senja, nama membuatku menyukai senja mentari, aku berumur 16 tahun yang menjadikanku anak SMA dan aku hidup bersama kedua orangtuaku dan kedua kakak kembarku David dan Vino memang nama yang berbeda sekilas wajah mereka akan terlihat sama, tapi akan berbeda jika dilihat secara dekat. Aku cewek manis yang penurut dan bukan siswa yang terlalu bodoh dalam mata pelajaran kecuali olahraga dan wajahku pun lumayan cantik dan sedap dipandang.

Aku sekolah di sekolah yang sama dengan kedua kakak kembarku, mereka cukup populer di kalangan para gadis dan mereka pun memanfaatkan aku sebagai adik satu-satunya untuk memberikan kado untuk kakak kembarku. “Sekali-kali kek, ngasih kado buat adiknya, jangan nitip mulu”, ya kadang aku berbicara seperti itu kepada mereka. Tak terkecuali kepada sahabatku Tina, dia ngefans banget sama kak Vino karena bagi dia kak Vino bagaikan Kai (EXO) di dunia nyata –ya dia EXO L-.

“Senja, nitip buat kak Vino dong.” kala Tina menyapaku.
“Yaelah, kasih sendiri sana ke kak Vino, noh dia lagi main basket!” ucapku.
“Ya Senja kok gitu sih, katanya sahabat selamanya masa gak mau bantu gini?”
“Ah apaan sahabat selamanya? Aku kayak tukang pos aja buat kamu.”
“Ah Senja gitu, nitip ya nanti aku beliin bakso sama es degan deh? Yaya mau ya?” bujuk Tina.
“Beneran nih? Oke deh! Emang apaan sih isinya?” tanyaku.
“Udah, kamu jangan kepo! Kasih aja ke kak Vino.”
“Iya, tapi janji loh aku ditraktir nanti!”
“Iya Senja yang cantik”

Ya itulah percakapan pendekku kala Tina memintaku menyerahkan hadiahnya buat kak Vino, kenapa gak diserahin langsung? Kan lebih enak? Bisa kenal malah? Dasar wanita dibutakan cinta. Cinta? Iya aku belum merasakan apa itu cinta, karena menurutku cinta itu tidak mendasar untuk kehidupanku sekarang ini apalagi ditambah dengan wanita-wanita penggemar kakak kembarku, membuatku lebih muak akan arti cinta.

Suatu pagi di lapangan, aku mendapat kejutan tendangan bola dari pemain sepak bola sekolah, ya aku pingsan seketika. Saat aku sadar aku pun sudah ada di UKS bersama Tina, kak David dan satu orang yang tak kukenal.
“Kak?” Panggilku.
“Eh, Senja kamu sudah sadar? Kamu baik-baik aja? Masih pusing? Mana yang sakit? Sini kakak lihat!” terdengar kekhawatiran Kakakku ini.
“Aku udah baikan kok, Kak. Aku sudah tidak apa-apa, Kakak jangan khawatir” Pintaku.
“Senja? Maaf tadi aku yang nendang bola itu. Gimana keadan kamu? Masih sakit? Aku minta maaf ya Senja” Kata seseorang yang tak kukenal tadi.
“Oh, iya santai saja, aku udah baikan kok.” Jawabku.
“Beneran? Kenalin aku Dion, temennya David di tim sepakbola.”
“Iya beneran kok, aku Senja adiknya Kak David.” Sapaku memperkenalkan diri.
“Maaf aku tidak bisa mengantarkan kamu ke kelas, aku dan David harus melanjutkan pertandingan tadi.” Pinta Kak Dion.
“Oh, iya kak. Kakak cepat kembali ke lapangan saja. Nanti aku balik sama Tina.”
“Oke, maaf dan salam kenal ya.” Dengan menampilkan senyum di antara lesung pipinya, aku terpana.
“Ya udah Senja, nanti kamu kabarin aku ya kalau udah masuk kelas. Aku ke lapangan dulu. Nanti aku tunggu di gerbang.” Ucap kak David seraya berlari kembali ke lapangan.
“Senja, kalau sudah baikan, yuk balik kelas. Bentar lagi pelajaran udah dimulai.” Pinta Tina.
“Iya Tina, yuk!”

Setelah kejadian tadi pagi, aku mulai sedikit memikirkan Kak Dion. Matanya, senyumnya dan tak lupa lagi lesung pipinya. Sadar akan lamunanku, Tina pun bertanya apa gerangan yang membuatku melamun saat ini, aku pun hanya tersenyum menjawab pertanyaannya. Karena pemikiranku belum bisa memastikan benar atau tidaknya dengan perasaanku untuk Kak Dion.

Pulang sekolah aku langsung ke gerbang sekolah untuk menemui Kak David, tapi ada yang membuatku terkejut ketika aku sampai. Ada Kak Dion dengan sepeda maticnya, dia ikut menungguku dengan Kak David.
“Kak, maaf lama nunggu.” Sapaku.
“Ah enggak Senja, aku juga barusan sampai kok. Ini Vino ada kerja kelompok katanya, jadi kita langsung pulang ya?”
“Iya, Kak. Tapi itu Kak Dion kok sama kakak?” Tanyaku.
“Oh, Dion? Dia mau ke rumah, ada tugas yang mau aku kerjakan dengan Dion. Dia jagonya matematika di kelas. Jadi aku minta dia membantuku mengerjakan tugas. Kenapa?” Tanya kak David.
“Ah, enggak kok Kak. Ya udah yuk pulang. Nanti mama khawatir.”
“Oke, yuk naik.”

Saat aku naik ke sepeda kak David, aku pun tersenyum juga ke Kak Dion dan menyapanya. Dan apa yang kulihat? Ya senyumnya! Oh manis sekali. Aku terpana seketika. Aku, Kak David dan Kak Dion langsung berangkat menuju rumahku.

Di Kamar
Memandangi langit kamar, aku berfikir apa yang kulakukan? Kenapa aku terus mengingat senyum kak Dion? Ada apa denganku? Apa aku jatuh cinta? Tidak mungkin! Aku tidak mungkin jatuh cinta. Aku tidak pernah merasakannya. Ah! Toktok suara ketukan pintu terdengar. Dan aku pun langsung bergegas membukakan pintu. Ya itu kak David.

“Ada apa, Kak?”
“Oh enggak, itu kamu bisa ke kamarku? Ada yang mau aku bicarakan denganmu Senja!”
“Kenapa harus di kamar kakak? Di sini kan bisa?”
“Tidak bisa di sini. Kamu harus ke kamarku secepatnya. Aku tunggu di kamar” Pinta kak David. Kak David pun langsung lari menuju kamarnya. Dengan terheran-heran aku menutup pintu kamarku dan menuju kamar kak David.

Di Kamar Kak David
Tok tok
“Iya Senja, kamu masuk aja.”
“Iya, Kak.” Aku terkejut, di kamar hanya kak Dion. Di mana kak David?
“Loh, Kak Dion? Mana kak David, Kak? Katanya tadi langsung ke kamar.” Tanyaku.
“Iya tadi dia barusan keluar. Emm kamu duduk sini, ada yang mau aku bicarakan denganmu.” Pinta Kak Dion. Akupun langsung menuju kursi yang ada di sebelah kak Dion.
“Ada apa, Kak?” dengan degupan jantung yang terus memompa, aku menahannya.
“Emma ada yang mau aku bicarakan denganmu. Boleh aku menyita waktumu sebentar?”
“Iya, Kak boleh. Emang mau bicara apa?”
“Gini. Emm kamu udah punya pacar?”
Deg..
“Oh, eh, emm. Be belum Kak. Kenapa kak?”
“Belum ya? Yauda. Gini, kakak mau jadiin Senja pacar kakak. Senja mau?” tanya Kak Dion.
Deg..
Deg..
“Kakak tidak salah? Tapi kan kita barusan kenal, Kak. Itu pun karena insiden bola tadi pagi.” Jawabku.
“Iya Senja, aku beneran. Sebenarnya aku udah lama tertarik sama kamu. Tapi aku tidak berani dekat denganmu, karena yang aku lihat kamu cuek kalau ke cowok. Jadinya aku dekati David yang kakakmu itu. Mencari tau tentangmu dari David. Dan karena insiden tadi aku bersyukur, aku dapat mengenalmu secara langsung. Mungkin kamu kaget kenapa aku menyatakannya sekarang, tapi aku memang benar-benar sudah tertarik denganmu sebelum insiden tadi. Maukah kamu jadi pacarku?”
Deg..
“Emm, maaf Kak. Aku belum siap jawab. Bolehkah aku menjawabnya dua hari lagi? Dan bolehkah hanya dengan dua hari, kakak membuktikannya? Membuktikan kalau kakak benar-benar menyukaiku?” Pintaku.
“Boleh, tentu saja boleh. Aku akan membuktikannya.” Ucap Kak Dion meyakinkanku.
Aku melempar senyum dan Kak Dion pun membalasnya.

Keesokan harinya, Kak Dion menjemputku, berpamitan dengan mama dan papaku dan tentu saja bertengkar dengan dua kakak kembarku. Bagi mereka aku masih gadis kecil yang harus dijaga, jadi mereka belum rela jika Kak Dion menjemputku apalagi berpacaran denganku. Tapi tetap saja, aku berangkat bersama Kak Dion.

Setelah sampai, aku berterimakasih dan langsung masuk kelas, dan tentu saja sahabatku Tina langsung membanjiriku dengan seribu pertanyaan tentang kejadian barusan.
“Kamu pacaran sama Kak Dion? Terus kenapa berangkat bareng? Dijemput? Terus kakakmu tidak marah? Mama Papamu gimana? Ayo cerita!” Tanya Tina terhadapku.
“Sabar dong Tin, iya aku bakalan cerita semuanya ke kamu. Tenang aja.” Jawabku. Dan aku pun lagsung cerita panjang lebar dengan Tina sampai bel masuk berbunyi menghentikan ceritaku.
“Waw, Kak Dion keren yaa. Dia langsung nembak kamu gitu. Tapi kenapa kamu masih ingin waktu untuk menjawabnya? Bukannya kamu suka sama Kak Dion?”
“Iya Tina aku suka, tapi yaa kan aku cuma ingin Kak Dion buktiin ke aku kalau Kak Dion beneran suka sama aku. Wajar kan. Lagian pasti aku terima kok, tenang aja.” Jawabku meyakinkan Tina.
“Ya udah kalau gitu, aku lega. Selamat yaa Senja. Akhirnya kamu punya pacar selain dua kakakmu itu.” Ejek Tina.
“Ye kamu mah gitu, lagian kamu juga suka sama kakakku hayo? Haha.”

Selama dua hari ini, Kak Dion menunjukkan betapa seriusnya dia menjalin hubungan denganku, walaupun Kak Dion belum mengetahui perasaanku kepadanya, tapi Kak Dion tetap berusaha untuk meluluhkan hatiku. Bayangkan saja, dengan tatapan matanya saja membuatku luluh, apalagi dengan perhatian-perhatian kecil yang diberikan kepadaku. Mulai dari mengajakku makan siang bersama, menungguku waktu pulang sekolah dan banyak hal kecil lagi yang membuatku semakin luluh dengan Kak Dion. Oke, aku JATUH CINTA!

Ya hari ini, hari ini adalah hari aku akan menjawab perasaan Kak Dion. Oke aku siap. Tapi hari ini Kak Dion tidak menampakkan wajahnya saat jam pulang sekolah, kemana Kak Dion? Biasanya di jam ini Kak Dion sudah memanggilku keluar untuk pulang bersama. Aku jadi khawatir. Melihat kekhawatiranku, Tina pun beraksi.
“Senja, kenapa? Kok wajahmu kayak orang yang bingung gitu?”
“Ah tidak Tina, hanya saja aku khawatir sama Kak Dion. Kok tumben jam segini belum nyuruh aku ke luar ke gerbang, kan biasanya udah nyuruh. Hpnya juga ini tidak aktif. Padahal tadi pagi masih jemput aku.” Jawabku penuh kekhawatiran.
“Ciye yang khawatir, eh hari ini hari kamu ngejawab perasaanmu ke Kak Dion, ya? Gimana jawabanmu?”
“Iya hari ini, ya masak kamu belum melihat dari ke khawatiranku saat ini?”
“Hehe iya aku tau kok. Sukses deh. Aku pulang dulu ya, laper. Kamu tidak ikut? udah sore loh?”
“Enggak deh, aku nunggu Kak Dion dulu.”
“Oke, aku tinggal dulu ya.”
“Iya Tina.”

Beberapa saat setelah melihat Tina keluar kelas, aku mendengar hpku bergetar. Secepat kilat aku lihat hpku itu. Dan ya benar sms dari Kak Dion, menyurhku keluar. Aku pun keluar kelas dan melihat tak ada tanda-tanda Kak Dion ada di sekitar kelasku. Hpku bergetar, tanda telepon masuk.
“Halo, Kakak ada di mana? Kok aku tidak liat?” tanyaku.
“Coba kamu liat ke lapangan deh, aku ada di sini”
“Emang di lapangan ada apa?” aku pun melihat ke lapangan, dan apa yang aku lihat? Aah, Kak Dion kenapa seromantis ini. Kata bertuliskan “I LOVE YOU SENJA” terlihat dengan jelas saat aku melihat ke lapangan. Ada kakak kembarku dan ah Tina, dasar sahabatku ini. Kak Dion pun ada di lapangan dan apa yang akan terjadi? Kak Dion berteriak!
“Di langit keemasan ini, di bawah langit yang kamu sukai ini. Senja. Aku mencintaimu Senja, apa kamu mau jadi pacar aku? Aku perlu jawabanmu sekarang!”
Senyum mengambang dari wajah Kak Dion, dan teriakan teman-teman sekolah pun menghiasi kejadian romantis ini dengan menyuruhku menerimanya. Aku pun mengangguk dan tersenyum. Ya, wajah kebahagiaan terlihat jelas dari Kak Dion mau pun penonton. Kak Dion pun menghampiriku dan mengenggam tanganku menunjukkan ke lapangan, menunjukkan ke penonton kalau kami sudah berstatus pacaran. Kedua kakak kembarku pun ikut menghampiri dan mengucapkan perintah untuk Kak Dion.
“Oke kalian udah kita restui, jadi kamu Dion jangan pernah sakiti bidadari kecil kami, sanggup?”
“Iya, aku tidak akan pernah nyakitin bidadari kecil kalian, atau bidadariku saat ini.”
“Dan tolong, jangan terlalu lama memegang tangannya!” Seru Kak Vino. Kedua kakak kembarku menarik dan menggenggam tanganku dengan erat. “Kamu harus sayang dia ya, Senja. Kalau dia sakitin kamu bilang aja ke kakak. Pasti kita hajar nih anak!”
“Iya, Kak siap” jawabku. Kamipun tersenyum dengan akhir yang bahagia ini.

Di senja ini, aku dengan nama yang sama, Senja. Yang sudah muak akan cinta, luluh oleh Kak Dion yang selalu membuatku percaya akan cintanya kepadaku. Terimakasih, Kak Dion. I Love you.