Kesetimbangan Ion dalam Larutan Asam Basa

By On Tuesday, January 13th, 2015 Categories : Sains
Advertisement

Kesetimbangan Ion dalam Larutan Asam Basa, Hidrasi dan Hidrolisis Garam, Larutan Penyangga, Kelarutan, Rumus, Contoh Soal, Pembahasan, Praktikum Kimia.

Peta konsep Kesetimbangan Ion.
  1. Larutan Asam Basa

Pada materi stoikiometri, Anda sudah belajar tentang titrasi asam kuat dan basa kuat menghasilkan garam yang bersifat netral (pH = 7). Apa yang terjadi jika zat yang dititrasi adalah asam lemah dan basa kuat atau asam kuat dan basa lemah atau asam lemah dan basa lemah? Untuk dapat menjawab masalah ini, Anda perlu memahami konsep hidrolisis dan prinsip larutan penyangga.

Anda sudah memahami bahwa reaksi asam kuat dan basa kuat akan menghasilkan garam yang bersifat netral. Contoh :

HCl(aq) + NaOH(aq) ? NaCl(aq) + H2O(l)

Di dalam air, garam NaCl bersifat netral karena tidak memiliki kemampuan untuk bereaksi dengan air sebagai pelarutnya sehingga konsentrasi molar H+ dan OH dalam larutan tidak berubah, masing-masing sebesar 1,0 × 10–7 M (hasil ionisasi air). Perhatikan kurva titrasi pada Gambar 1.

Gambar 1. Kurva titrasi HCl-NaOH.

Dengan demikian, pada titrasi asam kuat dan basa kuat, titik stoikiometri dicapai pada pH = 7 (netral). Setelah titik setara tercapai, penambahan sedikit basa akan mengubah pH larutan sangat drastis. Jika asam lemah dan basa kuat atau asam kuat dan basa lemah direaksikan, garam yang terbentuk memiliki sifat berbeda dengan garamgaram netral seperti NaCl. Contoh :

HCl(aq) + NH3(aq) ? NH4Cl(aq)

Garam amonium klorida yang terbentuk bersifat reaktif terhadap air sebagai pelarutnya, khususnya ion NH4+ yang berasal dari basa lemah. Mengapa? Di dalam larutan, NH4Cl berada dalam bentuk ion-ionnya. Jika Anda bandingkan kekuatan asam antara ion NH4+ dan H2O, mana yang lebih kuat? Lihat kekuatan asam basa konjugat pada materi Asam dan Basa.

Ion NH4+ merupakan asam konjugat yang lebih kuat dari H2O sehingga ion NH4+ dapat melepaskan proton membentuk NH3 dan ion H3O+ (Gambar 2).

Gambar 2. Kurva titrasi HCl-NH4OH

Persamaan reaksinya :

NH4+(aq) + H2O(l) ? NH3(aq) + H3O+(aq)

Pada materi stoikiometri, Anda sudah belajar tentang titrasi asam kuat dan basa kuat yaitu reaksi yang menghasilkan air hingga air terurai menjadi ion-ionnya. Oleh karena dalam larutan tersebut kelebihan ion H3O+ maka dapat dipastikan larutan bersifat asam. Dengan demikian, jika Anda melakukan titrasi asam kuat oleh basa lemah, titik stoikiometri tidak pada pH = 7, tetapi di bawah 7. Setelah titik stoikiometri tercapai, penambahan NH3 tetes demi tetes tidak meningkatkan pH larutan secara drastis, sebagaimana pada titrasi HCl dan NaOH, tetapi naik secara perlahan. Mengapa?

Jika ke dalam larutan NH4Cl yang sudah terhidrolisis ditambah lagi NH3 , dalam larutan akan terjadi kesetimbangan antara ion NH4+ (dari NH4Cl) dan NH3 dari basa yang ditambahkan. Persamaannya sebagai berikut.

NH4+(aq) ? NH3(aq) + H+(aq)

Sistem reaksi tersebut merupakan kesetimbangan basa lemah dan asam konjugatnya (teori asam basa Bronsted-Lowry). Karena membentuk kesetimbangan maka semua Hukum-Hukum Kesetimbangan berlaku di sini. Akibatnya, penambahan NH3 akan bereaksi dengan proton (ion H+  dan sistem akan menggeser posisi kesetimbangan ke arah kiri. Dengan demikian, penambahan NH3 berlebih dianggap sebagai gangguan dan sistem berupaya meminimalkan gangguan dengan cara menggeser posisi kesetimbangan untuk memperkecil gangguan tersebut.

Dampak dari pergeseran posisi kesetimbangan asam basa konjugat adalah kenaikan pH larutan relatif kecil. Inilah alasan mengapa penambahan basa setelah titik stoikiometri tercapai, perubahan pH larutan relatif kecil. Sistem larutan yang membentuk kesetimbangan antara basa lemah dan asam konjugatnya disebut larutan penyangga. Salah satu sifat penting dari larutan penyangga adalah dapat mempertahankan pH larutan dari gangguan penambahan asam atau basa.

Formula dari basa konjugat selalu memiliki jumlah atom H lebih sedikit dan memiliki muatan lebih negatif dibandingkan formula asam konjugatnya.

  1. Hidrasi dan Hidrolisis Garam-Garam

Hidrolisis adalah reaksi dengan air menyebabkan air terionisasi. Suatu zat dikatakan terhidrolisis jika zat tersebut dalam larutannya dapat bereaksi dengan air sehingga air menjadi terionisasi.

2.1. Pengertian Hidrasi dan Hidrolisis

Suatu garam dalam pelarut air terurai membentuk ion-ionnya. Hasil pelarutan garam ini dapat bersifat netral, asam, atau basa. Sifat larutan garam ini bergantung pada sifat-sifat ionnya. Pelarutan garam dapat memengaruhi keadaan kesetimbangan ionisasi air. Anda sudah mengetahui bahwa air membentuk kesetimbangan dengan ion-ionnya.

H2O(l) ? H+(aq) + OH(aq)

atau

2H2O(l) ? H3O+(aq) + OH(aq)

Garam-garam yang terlarut di dalam air mungkin terhidrasi atau terhidrolisis. Suatu garam dikatakan terhidrasi di dalam pelarut air jika ionionnya dikelilingi oleh molekul air akibat antaraksi dipol antara ion-ion garam dan molekul air. Antaraksi ion-ion garam dan molekul air membentuk kesetimbangan dan tidak mempengaruhi pH larutan. Suatu garam dikatakan terhidrolisis di dalam pelarut air jika ionionnya bereaksi dengan molekul air. Reaksi ion-ion garam dan air membentuk kesetimbangan dan mempengaruhi pH larutan.

Solvasi adalah proses ion atau molekul dikelilingi oleh pelarutnya. Jika pelarutnya air, dinamakan hidrasi.

2.1.1. Hidrasi Kation dan Anion

Hidrasi kation terjadi karena adanya antaraksi antara muatan positif kation dan pasangan elektron bebas dari atom oksigen dalam molekul air. Kation yang dapat dihidrasi adalah kation-kation lemah, seperti ion kalium (K+), yaitu kation yang memiliki ukuran besar dengan muatan listrik rendah. Kation-kation seperti ini berasal dari basa kuat, seperti Na+, K+, dan Ca2+. Contohnya :

K+(aq) + nH2O(l) ? [K(H2O)n]+

Anion-anion yang dihidrasi adalah anion dari asam kuat atau anion yang bersifat basa konjugat sangat lemah. Anion-anion ini dihidrasi melalui antar aksi dengan atom hidrogen dari air. Misalnya :

NO3(aq) + mH2O(l) ? [NO3(H2O)m]

Kation dan anion dari garam-garam yang terhidrasi di dalam air tidak bereaksi dengan molekul air. Oleh karena itu, anion atau kation seperti ini merupakan ion-ion bebas di dalam air (Gambar 3).

Gambar 3. Model hidrasi dari garam NaCl dalam pelarut air.

2.1.2. Hidrolisis Kation dan Anion

Kation-kation garam yang berasal dari basa lemah di dalam air dapat mengubah larutan menjadi asam. Kation-kation ini merupakan asam konjugat dari basa lemah, seperti Al3+, NH4+, Li+, Be2+, dan Cu2+. Karena kation-kation tersebut merupakan asam konjugat dari basa lemah maka tingkat keasamannya lebih kuat daripada air. Oleh karenanya, kation-kation ini dapat menarik gugus OH dari molekul air dan meninggalkan sisa proton (H+) sehingga larutan bersifat asam.

Reaksi antara H2O dan kation logam membentuk kesetimbangan. Dalam hal ini, molekul H2O berperan sebagai basa Lewis atau akseptor proton menurut Bronsted-Lowry. Contohnya :

NH4+(aq) + H2O(l) ? NH3(aq) + H3O+(aq)

Al3+(aq) + 3H2O(l) ? Al(OH)3(aq) + 3H+(aq)

Anion-anion hasil pelarutan garam yang berasal dari asam lemah dapat mengubah pH larutan menjadi bersifat basa karena bereaksi dengan molekul air. Anion-anion seperti ini merupakan basa konjugat dari asam lemah, yaitu basa yang lebih kuat dibandingkan molekul H2O. Karena itu, anion-anion tersebut dapat menarik proton (H+) dari molekul air dan meninggalkan sisa ion OH yang menyebabkan larutan garam bersifat basa. Contohnya:

F(aq) + H2O(l) ? HF(aq) + OH(aq)

CN(aq) + H2O(l) ? HCN(aq) + OH(aq)

Semua garam yang anionnya berasal dari asam lemah, seperti CH3COONa, KCN, NaF, dan Na2S akan terhidrolisis ketika dilarutkan di dalam air menghasilkan larutan garam yang bersifat basa. Reaksi kation atau anion dengan molekul air disebut hidrolisis. Dengan kata lain, hidrolisis adalah reaksi ion dengan air yang menghasilkan basa konjugat dan ion hidronium atau asam konjugat dan ion hidroksida.

Contoh Soal Garam yang Terhidrolisis (1) :

Manakah di antara NaCl, MgCl2, dan AlCl3 yang jika dilarutkan dalam air akan terhidrolisis?

Pembahasan :

Ion Cl berasal dari asam kuat atau basa konjugat yang lebih lemah dari air. Oleh karena itu, ion Cl tidak bereaksi dengan air. Kation Na+ dan Mg2+ berasal dari basa kuat dan merupakan kation berukuran relatif besar dengan muatan rendah sehingga tidak terhidrolisis. Ion Al3+ memiliki ukuran relatif sama dengan Mg2+, tetapi muatannya tinggi sehingga dapat bereaksi dengan air. Oleh karena itu, ion Al3+ terhidrolisis membentuk Al(OH)3.

2.2. Derajat Keasaman Larutan Garam

Semua garam yang larut dalam air akan terurai membentuk ionionnya. Karena ion-ion garam dalam air ada yang terhidrolisis maka pelarutan garam-garam di dalam air dapat mengubah pH larutan menjadi bersifat asam atau basa.

2.2.1. Larutan Garam Bersifat Netral

Basa konjugat dari asam kuat tidak memiliki kemampuan menarik proton dari molekul air. Basa konjugat seperti ini merupakan basa-basa yang lebih lemah dari molekul air. Jika anion seperti Cl dan NO3 berada di dalam air, anion-anion tersebut tidak akan menarik H+ dari molekul air sehingga tidak mengubah pH larutan garam. Anion seperti itu hanya terhidrasi. Kation seperti K+ dan Na+ merupakan asam konjugat dari basa kuat. Kation seperti ini juga tidak memiliki kemampuan menarik gugus OH dari air sehingga tidak mengubah pH larutan. Ion-ion garam yang berasal dari basa kuat dan asam kuat tidak mengubah konsentrasi ion H+ dan OH hasil ionisasi air. Jadi, garam tersebut bersifat netral di dalam larutan atau memiliki pH = 7.

2.2.2. Larutan Garam Bersifat Basa

Dalam larutan CH3COONa, spesi utamanya adalah ion Na+, ion CH3COO , dan molekul H2O. Ion Na+ adalah asam konjugat yang lebih lemah dari air sehingga tidak dapat menarik gugus OH dari air, tentunya tidak mengubah pH larutan. Ion CH3COO merupakan basa konjugat dari asam lemah atau basa yang lebih kuat dari air sehingga CH3COO dapat menarik proton dari molekul air menghasilkan CH3COOH dan OH. Akibatnya, larutan menjadi basa.

Reaksi ion asetat dan air membentuk kesetimbangan, persamaan reaksinya:

CH3COO(aq) + H2O(l) ? CH3COOH(aq) + OH(aq)

Tetapan kesetimbangan untuk reaksi ini adalah :

Bagaimanakah menentukan nilai Kb dari ion asetat (Kb CH3COO)?

Hal ini dapat ditentukan dari hubungan Ka, Kb, dan Kw. Jika persamaan Ka asam asetat dikalikan dengan persamaan Kb , ion asetat akan menghasilkan nilai Kw . Penentuan nilai Kb di atas sebagai berikut.

Jadi, untuk setiap pasangan asam lemah dan basa konjugatnya terdapat hubungan Ka, Kb, dan Kw. :

Kw = Ka(asam lemah) × Kb(basa konjugatnya)

Dengan kata lain, jika Ka atau Kw diketahui maka nilai tetapan Kb dapat ditentukan. Tetapan kesetimbangan untuk ion asetat adalah :

Kb (CH3COO) =  =  = 5,6 × 10–10

Jadi, nilai Kb untuk ion asetat sebesar 5,6 × 10–10.

Dengan demikian, untuk setiap garam yang mengandung kation dari basa kuat (seperti, Na+ atau K+) dan anion dari asam lemah akan membentuk larutan bersifat basa. Nilai pH dari larutan garam yang anionnya terhidrolisis dapat ditentukan berdasarkan nilai Kb basa konjugat dan konsentrasi ion-ion dalam sistem kesetimbangan.

Contoh Soal Perhitungan pH Garam Berasal dari Asam Lemah (2) :

Hitunglah pH larutan NaF 0,3 M. Diketahui nilai Ka HF = 2 × 10–4.

Penyelesaian :

Spesi utama dalam larutan : Na+, F, H2O.

Karena F basa konjugat dari asam lemah HF maka F merupakan basa yang lebih kuat dari air sehingga dapat bereaksi dengan air. Persamaannya sebagai berikut.

F(aq) + H2O(l) ? HF(aq) + OH(aq)

Tetapan kesetimbangan untuk reaksi tersebut:

Nilai Kb dapat dihitung dari Kw dan Ka (HF) :

Kb =  =  = 1,4 × 10–11.

Konsentrasi pada kesetimbangan adalah :

Konsentrasi Awal

(mol L–1)

Konsentrasi Kesetimbangan

(mol L–1)

[F]0 = 0,3 xM [F–] = 0,3 – x
[HF]0 = 0 ? [HF] = x
[OH]0 = 0 [OH–] = x

Kb = 1,4 × 10–10 =  =  ?

Nilai x ? 2 × 10–6

Catatan:

Nilai x sangat kecil dibandingkan 0,3 maka x dapat diabaikan dalam penyebut.

Dengan demikian,

[OH] = x = 2 ×10–6 M atau pOH = 5,69

pH = 14 – pOH = 8,31

Jadi, larutan bersifat basa.

Contoh Soal SPMB 2002 :

Peristiwa hidrolisis terjadi dalam larutan ….

A. natrium asetat
B. amonium sulfat
C. kalium sianida
D. amonium asetat
E. semua jawaban benar

Pembahasan :

Garam yang mengalami reaksi hidrolisis adalah jenis garam yang mengandung ion sisa asam lemah atau ion sisa basa lemah. Dalam hal ini, natrium asetat, amonium sulfat, kalium sianida, dan amonium asetat merupakan garam yang mengalami reaksi hidrolisis. Jadi, semua jawaban benar.

Jawabannya (E).

2.2.3. Larutan Garam Bersifat Asam

Beberapa garam menghasilkan larutan asam ketika dilarutkan dalam air. Misalnya, jika garam LiCl dilarutkan dalam air, akan terbentuk ion Li+ dan Cl. Ion Cl tidak memiliki afinitas terhadap proton, melainkan hanya terhidrasi sehingga tidak mengubah pH larutan. Ion Li+ adalah asam konjugat dari basa lemah sehingga tingkat keasamannya lebih kuat daripada H2O. Oleh karena itu, asam tersebut dapat bereaksi dengan air menghasilkan proton. Persamaannya:

Li+(aq) + H2O(l) ? LiOH(aq) + H+(aq)

Umumnya, garam-garam yang kationnya merupakan asam konjugat dari basa lemah akan membentuk larutan yang bersifat asam. Nilai pH dari larutan garam seperti ini dapat dihitung berdasarkan tetapan kesetimbangan asam konjugatnya.

Contoh Soal Perhitungan pH Garam Berasal dari Basa Lemah (3) :

Berapakah pH larutan NH4Cl 0,1 M? Diketahui nilai Kb (NH3) = 1,8 × 10–5 .

Jawaban :

Spesi utama dalam larutan : NH4+ , Cl–, dan H2O.

Karena ion NH4+ merupakan asam konjugat dari basa lemah maka ion tersebut lebih asam dari air sehingga dapat bereaksi dengan air dan melepaskan proton. Persamaannya :

NH4+(aq) + H2O(l) ? NH3(aq) + H3O+(aq)

Tetapan kesetimbangannya adalah :

Nilai K(NH4+) dihitung melalui hubungan :

Ka (NH4+) = =

Ka (NH4+) = 5,6 × 10–10

Konsentrasi masing-masing spesi yang terdapat dalam keadaan kesetimbangan :

Konsentrasi Awal

(mol L–1)

Konsentrasi Kesetimbangan

(mol L–1)

[NH4+]0 = 0,1 [NH4+] = 0,1 – x
xM
[NH3]0 = 0 ? [NH3] = x
[H3O+]0 = 0 [H3O+]0 = x

Dengan demikian,

5,6 x 10–10 =  =

nilai x ? 7,5 × 10–6 .

Konsentrasi ion H+ dalam larutan adalah

[H+] = x = 7,5 × 10–6 M

Oleh karena itu, nilai pH = 5,13. Dengan demikian, larutan bersifat asam.

2.2.4. Larutan Garam Terhidrolisis Total

Selain garam-garam yang telah disebutkan sebelumnya, masih terdapat garam yang kedua ionnya memengaruhi pH larutan, seperti CH3COONH4 dan NH4CN. Garam-garam tersebut di dalam air akan terurai membentuk ion-ion yang keduanya terhidrolisis. Oleh karena perhitungan untuk masalah ini sangat kompleks maka di sini hanya akan ditinjau secara kualitatif.

Anda dapat memperkirakan apakah larutan akan bersifat asam, basa, atau netral dengan cara membandingkan nilai Ka untuk ion asam konjugat terhadap nilai Kb dari ion basa konjugat. Jika nilai Ka lebih besar dari nilai Kb , larutan akan bersifat asam. Sebaliknya, jika nilai Kb lebih besar dari nilai Ka , larutan akan bersifat basa. Jika nilai Ka dan nilai Kb sama, larutan bersifat netral.

Tabel 1. Nilai pH Larutan Garam Terhidrolisis Total

Ka > Kb pH < 7 (asam)
Kb > Ka pH > 7 ( basa)
Ka = Kb pH = 7 (netral)

Contoh Soal Penentuan Sifat Larutan Garam dari Tetapan Asam Basa (4) :

Ramalkan apakah larutan garam berikut bersifat asam, basa, atau netral:

(a) NH4COOCH3 ;
(b) NH4CN.

Pembahasan :

a. Spesi utama adalah : NH4+, CH3COO, H2O.

Nilai Ka(NH4+) = 5,6 × 10–10; Kb(CH3COO) = 5,6 × 10–10 (lihat contoh soal sebelumnya).

Oleh karena Ka(NH4+) sama dengan Kb(CH3COO) maka larutan bersifat netral.

b. Larutan mengandung ion NH4+ dan ion CN. Nilai Ka(NH4+) = 5,6 × 10–10 , dan nilai Kb(CN) adalah :

Kb (CN)  =  =  = 1,18 × 10–5 .

Oleh karena K(CN) lebih besar dari K(NH4+) maka larutan bersifat basa.

C. Larutan Penyangga

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, jika ke dalam larutan garam yang kation atau anionnya terhidrolisis, misalnya larutan NH4Cl ditambahkan NH3 maka akan terbentuk kesetimbangan antara ion NH4+ dan NH3 . Sistem larutan seperti ini dinamakan larutan penyangga. Salah satu sifat penting dari larutan penyangga adalah dapat mempertahankan pH larutan.

3.1. Prinsip Larutan Penyangga

Berdasarkan Teori Asam-Basa Arrhenius, larutan yang mengandung campuran asam lemah dan garam yang anionnya senama dengan asam lemah tersebut akan membentuk larutan penyangga. Contohnya, NH3COOH dan CH3COONa. Demikian juga jika larutan mengandung campuran basa lemah dan garam yang kationnya senama dengan basa lemah akan membentuk larutan penyangga. Contohnya, NH4OH dan NH4Cl.

Berdasarkan Teori Asam-Basa Bronsted-Lowry, larutan yang mengandung campuran dari pasangan asam lemah dan basa konjugat atau basa lemah dan asam konjugatnya akan membentuk larutan penyangga.

Contoh:

a. NH3(aq) + H2O(l) ? NH4+(aq) + OH(aq)
Basa lemah Asam konjugat
b. H2PO4(aq) ? HPO42–(aq) H+(aq)
Asam lemah Basa konjugat

Prinsip larutan penyangga berdasarkan teori asam basa Arrhenius terbatas hanya untuk campuran asam lemah dan garamnya atau basa lemah dan garamnya, sedangkan prinsip berdasarkan Bronsted-Lowry lebih umum, selain asam lemah dan garamnya (contoh a), juga mencakup campuran garam dan garam (contoh b).

Tinjau contoh (b), sistem kesetimbangan asam lemah dan basa konjugatnya dapat berasal dari garam NaH2PO4 dan Na2HPO4. Jika kedua garam ini dicampurkan, akan terbentuk larutan penyangga.

Amonium hidroksida dapat digunakan untuk membuat larutan penyangga dengan cara mencampurkannya dengan amonium fosfat sebagai garamnya.

Untuk membuktikan prinsip larutan penyangga, Anda dapat melakukan kegiatan berikut.

Praktikum Kimia Larutan Penyangga (1) :

Tujuan :

Membuktikan prinsip larutan penyangga.

Alat :

  1. Gelas kimia
  2. Batang pengaduk
  3. pH meter atau indikator universal
  4. Gelas ukur

Bahan :

  1. Larutan CH3COOH 0,5 M
  2. Larutan CH3COONa 0,5
  3. Larutan NaH2PO4 0,5 M
  4. Larutan Na2HPO4 0,5 M

Langkah Kerja :

Ke dalam gelas kimia masukkan larutan berikut.

  1. 100 mL larutan CH3COOH 0,5 M, ukur pH-nya.
  2. 100 mL larutan CH3COONa 0,5 M, ukur pH-nya.
  3. Campuran 50 mL larutan CH3COOH 0,5 M dan 50 ml larutan CH3COONa 0,5 M. Kocok dan ukur pH-nya.
  4. 100 mL larutan NaH2PO4 0,5 M, ukur pH-nya.
  5. 100 mL larutan Na2HPO4 0,5 M, ukur pH-nya.
  6. Campuran 50 mL NaH2PO4 0,5 M dan 50 mL Na2HPO4 0,5 M. Kocok dan ukur pH-nya.

Pertanyaan :

  1. Berapakah pH masing-masing larutan penyangga?
  2. Bagaimanakah kestabilan larutan penyangga tersebut?
  3. Apakah yang dapat Anda simpulkan dari percobaan ini. Diskusikan dengan teman sekelas Anda.

Pada langkah kerja (3), spesi utama yang terdapat dalam larutan penyangga adalah CH3COOH, CH3COO, Na+, H+, dan H2O. Asam asetat adalah asam lemah dan dalam larutan terionisasi sebagian membentuk kesetimbangan :

CH3COOH(aq) ? CH3COO(aq) + H+(aq)

Garam natrium asetat terionisasi sempurna membentuk ion Na+ dan ion CH3COO. Persamaan reaksinya sebagai berikut.

CH3COONa(aq) ? Na+(aq) + CH3COO(aq)

Konsentrasi ion CH3COO dari garam lebih banyak dibandingkan dari hasil ionisasi asam asetat. Akibatnya, di dalam larutan, konsentrasi ion CH3COO ditentukan oleh konsentrasi garam. Dengan demikian, konsentrasi ion-ion dalam sistem kesetimbangan ditentukan oleh konsentrasi asam asetat dan konsentrasi ion asetat yang berasal dari garam.

CH3COOH(aq) ? CH3COO(aq) + H+(aq)
Asam asetat Ion asetat

Pada langkah kerja (6), spesi utama yang terdapat dalam larutan penyangga adalah : Na+, H2PO4, HPO42–, H+, dan H2O.

Dalam larutan, garam natrium dihidrogen fosfat dan natrium hidrogen fosfat terionisasi sempurna, persamaan reaksinya sebagai berikut.
NaH2PO4(aq) ? Na+(aq) + H2PO4(aq)

Na2HPO4(aq) ? 2Na+(aq) + HPO42–(aq)

Kedua anion tersebut membentuk asam basa konjugat dan berada dalam keadaan kesetimbangan. Oleh karena ion H2PO4 memiliki tingkat keasaman lebih kuat dibandingkan ion HPO42– maka H2PO4 berperan sebagai asam dan HPO42– sebagai basa konjugatnya. Persamaan reaksinya sebagai berikut.

H2PO4(aq) ? HPO42–(aq) + H+(aq)

Oleh karena ion H2PO4 berasal dari garam NaH2PO4 dan ion HPO42– dari garam Na2HPO4 maka konsentrasi ion-ion dalam sistem kesetimbangan ditentukan oleh konsentrasi garam-garamnya.

Contoh Soal UNAS 2004 :

Larutan Ca(CN)2 memiliki pH = 11 – log 2. Jika Ka(HCN) = 4 × 10–10 dan Mr Ca(CN)2 = 92, jumlah Ca(CN)2 yang terlarut dalam 500 mL larutan adalah ….

A. 3,68 g
B. 7,36 g
C. 8,45 g
D. 14,72 g
E. 15,25 g

Pembahasan :

Ca(CN)2 ? Ca2+ + 2CN
CN + H2O ? HCN + OH
pH = 11 + log 2
pOH = 3 – log 2
[OH-] = 2 × 10–3 M

[OH–] =

2 × 10–3 =

4 × 10–6 =  [CN]

16 × 10–16 = 10–14 [CN]

[CN] =  = 16 × 10–2 M

Ca(CN)2 ? Ca2+ + 2 CN
8 × 10–2 M 16 × 10–2 M

8 × 10–2 =

x =  = 3,68 g

Jadi, jawabannya (A).

3.2. Aplikasi Prinsip Larutan Penyangga

Cairan darah dalam tubuh manusia memiliki sifat penyangga karena mampu mengendalikan pH dalam darah. Salah satu fungsi darah adalah membawa oksigen untuk disebarkan ke seluruh sel. Fungsi ini bergantung pada pH darah.

Sel darah merah, khususnya atau hemoglobin bekerja optimal sebagai pembawa oksigen pada pH sekitar 7,4. Jika pH cairan darah berubah maka kerja hemoglobin akan menurun, bahkan kemampuannya akan hilang jika pH cairan darah di atas 10 atau di bawah 5.

Cairan darah mengandung asam lemah H2CO3 dan basa konjugatnya : HCO3 (dari garam NaHCO3 dan KHCO3). Kedua spesi ini bertanggung jawab dalam mempertahankan pH cairan darah agar sel darah merah bekerja secara optimal.

Jika seseorang meminum sedikit asam atau basa, seperti air jeruk atau minuman bersoda maka minuman tersebut akan terserap oleh darah. Kemudian, cairan darah akan mempertahankan pH-nya dari gangguan asam atau basa yang dimakan atau diminum seseorang.

Jika cairan darah tidak memiliki sifat penyangga maka akan bersifat asam, yang tentunya mengganggu kinerja darah. Akan tetapi, karena cairan darah memiliki sifat penyangga, penambahan sedikit asam atau basa tidak mengubah pH cairan darah sehingga kinerja darah tetap optimal.

Air laut juga memiliki sifat penyangga yang berasal dari garam-garam dan udara yang terlarut dalam air laut. Di dalam air laut terkandung garam-garam natrium, kalium, magnesium, dan kalsium dengan anion-anion seperti klorida, sulfat, karbonat, dan fosfat.

Sifat penyangga air laut dapat berasal dari NaHCO3 dan gas CO2 dari udara yang terlarut. Di dalam air laut, gas CO2 terlarut dan bereaksi dengan air membentuk asam karbonat. Persamaan reaksinya sebagai berikut.

H2O(l) + CO2(g) ? H2CO3(aq)

Oleh karena asam karbonat adalah asam lemah dan dalam air laut terkandung garam natrium hidrogen karbonat maka kedua senyawa itu akan membentuk larutan penyangga, melalui reaksi kesetimbangan:

H2CO3(aq) ? HCO3(aq) + H+(aq)

Konsentrasi H2CO3 berasal dari gas CO2 terlarut dan konsentrasi HCO3 berasal dari garam yang terkandung dalam air laut. Jika air hujan yang umumnya besifat asam tercurah ke laut atau air dari sungai-sungai mengalir ke laut dengan berbagai sifat asam dan basa maka sifat asam dan basa itu tidak akan mengubah pH air laut. Dengan kata lain, pH air laut relatif tetap.

Jika Anda ingin memiliki larutan yang mempunyai nilai pH mulai dari 1 sampai 14 dan tahan lama di laboratorium, Anda dapat membuat larutan-larutan tersebut dari larutan penyangga. Nilai pH larutan penyangga tidak berubah walaupun disimpan dalam kurun waktu yang lama.

Penggunaan Larutan Penyangga dalam Pengembangan Padi Hibrida

Kebutuhan akan pangan terus bertambah seiring dengan peningkatan populasi penduduk. Sementara produksi pangan cenderung tetap. Hal ini terjadi disebabkan terbatasnya lahan produksi yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman pangan. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan kapasitas produksi padi nasional. Peningkatan itu dilakukan dengan cara penggunaan bibit unggul dan pemanfaatan lahan-lahan marginal di luar pulau Jawa. Salah satu lahan marginal yang kini sedang diusahakan adalah lahan pasang surut.

Kendala penggunaan lahan pasang surut salah satunya tingkat keasamannya yang tinggi. Beberapa teknik budidaya padi hibrida yang diterapkan di lahan pasang surut di antaranya dengan cara penanaman padi tidak terlalu dalam. Kemudian, menambahkan dolomit (basa) untuk menetralkan pH tanah dan larutan penyangga untuk mempertahankan pH sekitar 6–7. (Sumber: www.pu.go.id)

3.3. Penentuan pH Larutan Penyangga

Bagaimana membuat larutan penyangga yang memiliki nilai pH tertentu? Anda dapat membuatnya dari campuran asam lemah dan basa konjugat atau dari basa lemah dan asam konjugatnya, dengan tetapan ionisasi asam lemah atau basa lemah mendekati konsentrasi ion H+ atau pH yang diharapkan.

Sebagai gambaran, misalnya larutan penyangga dibuat dari asam lemah HA dan basa konjugatnya A . Persamaan kesetimbangan ionisasi asam adalah :

HA(aq) ? H+(aq) + A(aq)

Tetapan ionisasi dari asam lemah HA adalah :

Ka =

Dengan menata ulang persamaan, diperoleh persamaan untuk konsentrasi ion H+ , yaitu :

[H+] = Ka x

Persamaan tersebut menyatakan konsentrasi ion H+ dalam bentuk Ka asam lemah dikalikan dengan perbandingan konsentrasi HA dan A pada keadaan kesetimbangan. Jika [HA] dan [A] sama maka konsentrasi ion H+ dari larutan penyangga sama dengan nilai Ka.

Anda dapat menggunakan persamaan di atas untuk menentukan nilai pH larutan penyangga, yaitu :

Ruas kiri persamaan menyatakan pH. Ruas kanan dapat disederhanakan menjadi pKa , dimana pKa = –log Ka . Jadi, persamaan di atas dapat ditulis dalam bentuk sebagai berikut.

pH = pKa – log

Secara umum, persamaan tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut.

a. Berdasarkan teori Bronsted-Lowry

pH = pKa – log

b. Berdasarkan teori Arrhenius

pH = pKa – log

Untuk larutan penyangga yang dibuat dari basa lemah dan asam konjugatnya, nilai pOH diperoleh dengan cara serupa.

a. Berdasarkan teori Bronsted-Lowry

pH = pKa – log

b. Berdasarkan teori Arrhenius

pH = pKa – log

Persamaan ini dikenal sebagai persamaan Henderson-Hasselbalch.

Untuk membuat larutan penyangga dengan pH sesuai keinginan, misalnya pH ? 4,75, dapat dilakukan dengan mencampurkan asam lemah yang memiliki nilai pKa sekitar 4,74. Kemudian, dicampurkan dengan garam yang konsentrasi molarnya sama dengan asam lemah agar -log  = 0 sehingga pH = pKa.

Contoh Soal pH Larutan Penyangga dari Asam Lemah dan Garamnya (5) :

Berapa pH larutan yang dibuat dari campuran 50 mL CH3COOH 0,5 M dan 50 mL NaCH3COO 0,5 M ? Diketahui Ka (CH3COOH) = 1,8 × 10–5.

Penyelesaian :

Dalam larutan terdapat: CH3COOH, CH3COO, H+, dan Na+. Reaksi kesetimbangannya:

CH3COOH(aq) ? CH3COO(aq) + H+(aq)

Konsentrasi CH3COO lebih dominan dari garam dibandingkan hasil ionisasi asam asetat maka dalam perhitungan, konsentrasi CH3COO ditentukan dari garamnya.

Konsentrasi CH3COOH dalam campuran (100 mL) :

[CH3COOH] =  = 0,25 M

Konsentrasi CH3COO dalam campuran (100 mL):

[CH3COO] =  = 0,25 M

Nilai pH larutan dihitung dengan rumus:

pH = pKa – log

pH = pKa– log

= – log (1,8 × 10–5) – log  = 4,74

Jadi, pH larutan penyangga sebesar 4,74. Nilai ini berasal dari nilai pKa .

Contoh Soal pH Larutan Penyangga dari Campuran Garam (6) :

Berapa pH larutan penyangga yang dibuat dari campuran 60 mL NaH2PO4 0,5 M dan 40 mL Na2HPO4 0,5 M. Diketahui Ka (H2PO4) = 7,5 × 10–3.

Jawaban :

Dalam larutan terdapat: Na+, H+, H2PO4, dan HPO42–. Reaksi kesetimbangannya:

H2PO4(aq) ? HPO42–(aq) + H+(aq)

Oleh karena kedua garam tersebut terionisasi sempurna maka konsentrasi H2PO4 dan HPO42– sama dengan konsentrasi garam-garamnya.

Konsentrasi H2PO4 dalam campuran (100 mL) :

[H2PO4– ] =  x 0,5 M = 0,3 M

Konsentrasi HPO42– dalam volume campuran :

[HPO42– ] =  x 0,5 M = 0,2 M

Nilai pH larutan :

pH = pKa – log

= pKa – log

= –log (7,5 × 10–3) – log  = 1,95

Jadi, pH larutan = 1,95.

3.4. Kinerja Larutan Penyangga

Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahwa larutan penyangga memiliki kemampuan untuk mempertahankan pH larutan jika ke dalam larutan itu ditambahkan sedikit asam atau basa; atau diencerkan. Bagaimanakah kinerja larutan penyangga bekerja dalam mempertahankan pH larutannya dari pengaruh asam, basa, atau pengenceran?

Untuk mengetahui hal ini, Anda dapat melakukan kegiatan berikut.

Praktikum Kimia Kinerja Larutan Penyangga (2) :

Tujuan :

Mengamati kinerja larutan penyangga.

Alat :

  1. gelas kimia 250 mL
  2. pH meter atau indikator universal
  3. gelas ukur

Bahan :

  1. 100 mL CH3COOH 0,1 M
  2. 100 mL CH3COONa 0,1 M
  3. 50 mL CH3COOH 0,2 M
  4. 50 mL CH3COONa 0,2 M
  5. HCl 0,5 M
  6. NaOH 0,5 M

Langkah Kerja :

1. Sediakan 3 buah gelas kimia 250 mL.

a. Gelas kimia 1: 50 mL CH3COOH 0,1 M, ukur pH-nya.
b. Gelas kimia 2: 50 mL CH3COONa 0,1 M, ukur pH-nya.
c. Gelas kimia 3: 25 ml larutan CH3COOH 0,2 M dan 25 mL larutan CH3COONa 0,2 M. Kocok campuran dan ukur pH-nya.
d. Ke dalam larutan tersebut masing-masing tambahkan 1 mL HCl 0,5 M. Kocok dan ukur pH-nya.

2. Ulangi prosedur yang sama sampai langkah (c), kemudian tambahkan 1 mL NaOH 0,5 M. Kocok dan ukur pH-nya.

3. Encerkan larutan (gelas kimia 3) sampai volume 1 liter. Kocok dan ukur pH-nya.

Pertanyaan :

  1. Apakah terjadi perubahan pH pada masing-masing larutan?
  2. Bagaimanakah kestabilan pH pada larutan penyangga?
  3. Berapakah pH masing-masing larutan sebelum dan sesudah ditambah asam, basa, dan netral?
  4. Diskusikan hasil pengamatan dari percobaan ini dengan teman sekelas Anda.

Mengapa larutan penyangga dapat mempertahankan pH jika ditambah sedikit asam atau basa? Tinjau larutan penyangga pada Praktikum Kimia 2.

Larutan mengandung asam lemah CH3COOH dan basa konjugatnya CH3COO. Jika asam kuat ditambahkan ke dalam larutan penyangga, berarti memasukkan ion H+ yang dapat bereaksi dengan basa konjugatnya.

H+(aq) + CH3COO(aq) ? CH3COOH(aq)

Jika basa kuat ditambahkan ke dalam larutan penyangga, berarti memasukkan ion OH yang bereaksi dengan asam lemahnya.

OH(aq) + CH3COOH(aq) ? H2O(l) + CH3COO(aq)

Penambahan H+ atau OH ke dalam larutan penyangga akan menggeser posisi kesetimbangan CH3COOH ? CH3COO ke arah pengurangan gangguan sekecil mungkin (prinsip Le Chatelier).

Pergeseran posisi kesetimbangan menyebabkan konsentrasi asam lemah dan basa konjugatnya berubah. Jika H+ ditambahkan, konsentrasi asam bertambah, sedangkan konsentrasi basa konjugat berkurang. Pada penambahan OH terjadi sebaliknya.

Perubahan konsentrasi asam lemah dan basa konjugat akibat penambahan H+ atau OH cukup berarti, tetapi pH larutan penyangga relatif tidak berubah sebab pH larutan ditentukan oleh perbandingan [asam] :[basa konjugat], di samping pKa atau pKb. Gambar 4. menunjukkan perubahan pH larutan penyangga yang mengandung CH3COOH dan CH3COONa terhadap penambahan ion H+ dan OH . pH berkurang sekitar 0,5 satuan jika ditambahkan ion H+ atau ion OH tidak lebih dari 0,5 mol.

Gambar 4. Pengaruh penambahan asam atau basa ke dalam larutan penyangga (CH3COOH + CH3COONa).

Larutan Penyangga dalam Darah

Darah manusia mempunyai pH normal sekitar 7,35 – 7,45. Jika pH dalam darah tidak berada dalam keadaan normal maka akan mengganggu kestabilan dari membran sel, struktur protein, dan aktivitas enzim. Kondisi pH darah < 7,35 disebut asidosis dan kondisi pH > 7,45 disebut alkalosis. Darah memiliki sistem penyangga untuk mengontrol pH agar pH darah stabil. Larutan penyangga dalam darah mengandung asam karbonat (H2CO3) dan ion karbonat (HCO3). Dengan persamaan kesetimbangan sebagai berikut.

H+(aq) + HCO3 (aq) ? H2CO3(aq) ? H2O(l) + CO2(g)

Sumber: Chemistry: The Central Science, 2000

a. Penambahan Asam atau Basa Secara Kuantitatif

Gambar 5. Dua prinsip utama dalam menentukan pH larutan penyangga setelah asam atau basa ditambahkan.

Ada dua prinsip utama dalam menentukan pH larutan penyangga ketika sejumlah kecil asam atau basa ditambahkan (Gambar 5), yaitu:

  1. Prinsip Stoikiometri : diasumsikan bahwa penambahan asam atau basa bereaksi sempurna dengan ion-ion dalam larutan penyangga.
  2. Prinsip kesetimbangan : ion-ion dalam larutan penyangga membentuk kesetimbangan yang baru setelah ditambah sedikit asam atau basa.

Contoh kasus :

Berapakah pH larutan penyangga yang dibuat dari CH3COOH 0,5 M dan CH3COONa 0,5 M (lihat Contoh soal 6) jika ke dalam 100 mL larutan itu ditambahkan HCl 0,01 mol? Bagaimanakah perubahan pH yang terjadi?

Penyelesaian :

Spesi utama yang terdapat dalam larutan adalah : H+ , CH3COO , dan CH3COOH , persamaan reaksi kesetimbangannya:

CH3COOH(aq) ? CH3COO(aq) + H+(aq)

Aspek Stoikiometri :

Jumlah mol CH3COOH, CH3COO, H+ sebelum penambahan HCl adalah

CH3COOH = 0,05 mol; CH3COO = 0,05 mol; H+ = x mol.

Setelah HCl ditambahkan, jumlah mol H+ sama dengan jumlah mol HCl yang ditambahkan: H+ = 0,01 mol (hasil ionisasi asam asetat diabaikan). Diasumsikan semua ion H+ (HCl) yang ditambahkan bereaksi sempurna dengan basa konjugatnya, CH3COO .

H+(aq) + CH3COO(aq) ? CH3COOH(aq)

Berdasarkan reaksi ini akan dihasilkan komposisi mol yang baru:

CH3COOH = (0,05 + 0,01) mol = 0,06 mol = 60 mmol
CH3COO = (0,05 – 0,01) mol = 0,04 mol = 40 mmol
H+ = 0 mol

Aspek Kesetimbangan :

Setelah terjadi reaksi antara H+ (dari HCl) dengan basa konjugat dari larutan penyangga, sistem membentuk kesetimbangan yang baru.

Gambar 6. Prinsip kesetimbangan.

Konsentrasi molar sebelum dan sesudah tercapai kesetimbangan yang baru dapat dihitung sebagai berikut.

[CH3COOH]0 =  = 0,6 M; [CH3COO]0 =  = 0,4 M

Setelah kesetimbangan yang baru tercapai, konsentrasi molar dalam keadaan setimbang adalah sebagai berikut.

Konsentrasi [CH3COOH] (M) [CH3COO] (M) [H+] (M)
Awal 0,6 0,4 0
Perubahan – x + x + x
Kesetimbangan 0,6 – x 0,4 + x x

Persamaan tetapan ionisasi kesetimbangannya adalah :
Catatan :

Nilai x pada pembilang (0,6 – x) relatif kecil sehingga dapat diabaikan. Penyelesaian terhadap persamaan tersebut, diperoleh nilai x = 2,7 × 10–5 . Jadi, konsentrasi H+ setelah penambahan HCl sebesar 2,7 × 10–5 M.

Nilai pH larutan penyangga setelah penambahan HCl 0,01 mol:

pH = – log [H+] = –log (2,7 × 10–5) = 4,57.

Nilai pH sebelum penambahan HCl = 4,74 (lihat Contoh 5). Setelah HCl ditambahkan, pH larutan berubah menjadi 4,57 (sekitar 0,17 satuan).

b. Pengenceran Larutan Penyangga

Mengapa pH larutan penyangga tidak berubah jika diencerkan?

Untuk memahami hal ini, dapat ditinjau dari persamaan Henderson-Hasselbalch.

pH = pKa + log

Nilai pH larutan penyangga hanya ditentukan oleh pKa dan perbandingan konsentrasi molar pasangan asam basa konjugat. Nilai Ka atau pKa dari asam lemah tidak bergantung pada konsentrasi asam, tetapi bergantung pada suhu. Oleh sebab itu, pengenceran larutan penyangga tidak akan mengubah nilai pKa (lihat Gambar 9).

Gambar 7. Pengenceran larutan penyangga hanya mengubah konsentrasi molar spesi dalam kesetimbangan, tetapi tidak mengubah perbandingan spesi tersebut.

Konsentrasi molar pasangan asam basa konjugat akan berubah jika volume larutan berubah sebab konsentrasi bergantung pada volume total larutan. Pengenceran larutan akan mengubah semua konsentrasi spesi yang ada dalam larutan, tetapi karena perubahan konsentrasi dirasakan oleh semua spesi maka perbandingan konsentrasi molar pasangan konjugat asam basa tidak berubah. Akibatnya, pH larutan tidak berubah.

D. Kesetimbangan Kelarutan Garam Sukar Larut

Tidak semua garam dapat larut dalam air. Banyak garam-garam yang kurang larut bahkan dapat dikatakan tidak larut di dalam air. Walaupun tampaknya tidak larut, sesungguhnya masih ada sebagian kecil dari garam-garam itu yang dapat larut dalam air. Kelarutan garam-garam ini membentuk kesetimbangan dengan garam-garam yang tidak larut.

4.1. Tetapan Hasil Kali Kelarutan Garam

Banyak garam-garam yang larut dalam air terionisasi sempurna membentuk ion-ionnya, tetapi banyak juga garam-garam yang kelarutannya sedikit, bahkan nyaris tidak larut. Garam-garam yang kurang larut, di dalam air membentuk keadaan setimbang antara garam yang tidak larut dengan yang terlarut dalam keadaan larutan jenuh. Contohnya, kalsium oksalat (CaC2O4) membentuk kesetimbangan berikut.

H2O
CaC2O4(s) ? Ca2+(aq) + C2O42–(aq)

Tetapan kesetimbangan untuk kelarutan garam ini adalah sebagai berikut.

K =

Oleh karena kelarutan garam relatif sangat kecil maka konsentrasi CaC2O4 diasumsikan tetap sehingga dapat dipersatukan dengan tetapan kesetimbangan, yaitu:

K [CaC2O4] = [Ca2+] [C2O42–]

Persamaan ini dapat ditulis:

Ksp = [Ca2+] [C2O42–]

Lambang Ksp dinamakan tetapan hasil-kali kelarutan (solubility product constant) garam-garam sukar larut. Persamaan Ksp menyatakan bahwa perkalian konsentrasi ion-ion garam dalam larutan jenuh sama dengan nilai Ksp. Oleh karena nilai Ksp merupakan suatu tetapan kesetimbangan maka Ksp dipengaruhi oleh suhu larutan.

Pada persamaan Ksp, konsentrasi hasil kali kelarutan ion-ion garam dipangkatkan sesuai dengan nilai koefisien reaksinya. Hal ini sesuai dengan konsentrasi ion-ion dalam sistem kesetimbangan pada umumnya.

Contoh Soal Penulisan Ungkapan Hasil Kali Kelarutan (7) :

Tuliskan persamaan hasil-kali kelarutan untuk garam-garam berikut.
(a) AgCl ;

(b) Hg2Cl2 ;

(c) Pb3(AsO4)2

Jawaban :

Persamaan kesetimbangan dan tetapan hasil kali kelarutannya adalah

  1. AgCl(s) ? Ag+(aq) + Cl(aq)

Ksp = [Ag+] [Cl]

  1. Hg2Cl2(s) ? Hg22+(aq) + 2Cl(aq)

Ksp = [Hg22+] [Cl]2

  1. Pb3(AsO4)2(s) ? 3Pb2+(aq) + 2AsO43–(aq)

Ksp = [Pb2+]3 [AsO43–]2

Tetapan hasil kali kelarutan (Ksp) ditentukan oleh konsentrasi molar ion-ion yang terlarut di dalam air pada keadaan jenuh. Bagaimanakah menghitung tetapan hasil-kali kelarutan dari garam yang sukar larut ini. Simak contoh-contoh berikut.

Contoh Soal Menentukan Ksp dari Kesetimbangan Ion-Ion Terlarut (8) :

Berdasarkan percobaan, ditemukan bahwa PbI2 dapat larut sebanyak 1,2 × 10–3 mol per liter larutan jenuh pada 25 oC. Berapakah Ksp PbI2 ?

Pembahasan :

Nilai Ksp ditentukan dari hasil kali konsentrasi ion-ion dalam keadaan kesetimbangan

PbI2(aq) ? Pb2+(aq) + 2I(aq)
1,2 × 10–3 M 1,2 × 10–3 M 2(1,2 × 10–3) M

Ksp = [Pb2+] [I]2 = (1,2 × 10–3) (2,4 × 10–3)2 = 6,9 × 10–9

Contoh Soal Menentukan Kelarutan Garam dari Ksp (9) :

Mineral fluorit mengandung  CaF2. . Hitung kelarutan  CaF2. dalam air. Diketahui Ksp (CaF) =3,4 × 10–11.

Jawaban :

Misalkan, x adalah kelarutan molar CaF2. Jika padatan  CaF2, dilarutkan ke dalam 1 liter larutan, dari x mol CaF yang terlarut akan terbentuk x mol Ca2+ dan 2x mol F .

Lihat diagram berikut.

Ksp = [Ca2+][F]2

3,4 × 10–11 = (x) (2x)? x = 2 × 10–4

Jadi, kelarutan CaF2 = 2 × 10–4 M.

Beberapa tetapan hasil kali kelarutan garam-garam yang sukar larut ditunjukkan tabel berikut.

Tabel 2. Tetapan Hasil Kali Kelarutan (Ksp) Beberapa Garam Sukar Larut

Garam Sukar Larut Rumus K sp
Aluminium hidroksida Al(OH)3 4,6 × 10–33
Barium karbonat BaCO3 1,2 × 10–10
Barium kromat BaCrO4 1,0 ×10–6
Barium sulfat BaSO4 1,1 ×10–10
Besi(II) hidroksida Fe(OH)2 8,0 ×10–16
Besi(II) sulfida FeS 6,0 ×10–18
Besi(III) hidroksida Fe(OH)3 2,5 ×10–39
Kadmium oksalat CdC2O4 1,5 ×10–8
Kadmium sulfida CdS 8,0 ×10–27
Kalsium karbonat CaCO3 3,8 ×10–9
Kalsium fluorida CaF2 3,4 ×10–11
Kalsium oksalat CaC2O4 2,3 ×10–9
Kalsium fosfat Ca3(PO4)2 1,0 ×10–26
Kalsium sulfat CaSO4 2,4 ×10–5

Contoh Soal UNAS 2004 :

Kelarutan Ag2CrO4 dalam air adalah 10–4 M. Kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan K2CrO4 0,01 M adalah ….

A. 10–5 M
B. 2 × 10–5 M
C. 4 × 10–5 M
D. 4 × 10–10 M
E. 5 × 10–6 M

Pembahasan :

Ag2CrO4 ? 2 Ag+ + CrO42–
10–4 M 2 × 10–4 M 10–4 M
s 2s s

Ksp Ag2CrO4 = [Ag+]2 [CrO42–] = (2 × 10–4)2 (10–4) = 4 × 10–12

K2CrO4 ? 2K+ + CrO42–
0,01 M 0,01 M

Ksp Ag2CrO4 = [Ag+]2 [CrO42–]

4 × 10–12 = [Ag+]2 [0,01]

[Ag+] =  = 2 × 10–5

Jadi, kelarutan Ag2CrO4 dalam K2CrO4 :

s = 1/2 x 2 × 10–5 = 10–5

Jadi, jawabannya (A).

4.2. Pengaruh Ion Senama

Bagaimanakah kelarutan CaCO3 jika ke dalam larutan itu ditambahkan CaCl2 ? Garam yang ditambahkan sama-sama mengandung kation Ca2+ . Oleh karena kelarutan CaCO3 membentuk kesetimbangan antara CaCO3(aq) terlarut dan CaCO3 s) yang tidak larut maka penambahan ion senama akan menggeser posisi kesetimbangan garam kalisum karbonat.

Ke arah manakah pergeseran kesetimbangan terjadi?

Oleh karena yang ditambahkan adalah ion Ca2+ maka kesetimbangan akan bergeser ke arah garam yang tidak larut. Tinjaulah sistem kesetimbangan garam kalsium karbonat dalam pelarut air berikut.

CaCO3(s) ? Ca2+(aq) + CO32–(aq)

Penambahan ion Ca2+ ke dalam larutan CaCO3 akan menggeser posisi kesetimbangan ke arah pengendapan CaCO3 .

CaCO3(s) ? Ca2+(aq) + CO32–(aq)

Dengan demikian, pengaruh ion senama akan menurunkan kelarutan garam-garam yang sukar larut di dalam air. Pengaruh ion senama akan mendesak ion-ion yang sejenis untuk meninggalkan larutan.

Contoh Soal Pengaruh Ion Senama (10) :

Berapakah kelarutan CaC2O4 dalam satu liter larutan CaCl2 0,15 M? Bandingkan kelarutan CaC2O4 dalam air murni. Diketahui Ksp CaC2O4 = 2,3 × 10–9.

Jawaban :

Dua macam garam memiliki ion senama Ca2+ . Salah satunya garam CaCl2 yang larut, menyediakan ion Ca2+ dan akan menekan kelarutan CaC2O4 . Sebelum CaC2O4 dilarutkan, terdapat 0,15 mol Ca2+ dari CaCl2 . Jika kelarutan CaC2O4 x M maka akan terbentuk x mol Ca2+ tambahan dan x mol C2O42– , seperti ditunjukkan pada tabel berikut.

Konsentrasi CaC2O4(s) ? Ca2+ (aq) + C2O42– (aq)
Awal 0,15 0
Perubahan + x + x
Kesetimbangan 0,15 + x x

Dengan memasukkan konsentrasi ion-ion ke dalam persamaan Ksp (CaC2O4), diperoleh:
Ksp = [Ca2+] [C2O42–]

2,3 × 10–9 = (0,15 + x) x

Oleh karena CaC2O4 kurang larut maka nilai x dapat diabaikan terhadap nilai 0,15 sehingga :

x =  = 1,5 x 10–8

Jadi, kelarutan CaC2O4 dalam larutan CaCl2 0,15 M adalah 1,5 × 10–8 M.

Kelarutan CaC2O4 dalam air murni: 4,8 × 10–5 M, lebih besar 3.000 kali dibandingkan dalam CaCl2 0,15 M.

4.3. Pengaruh pH terhadap Kelarutan

Pada pembahasan sebelumnya, dijelaskan bahwa garam-garam yang ionnya berasal dari asam atau basa lemah akan terhidrolisis dan mengubah pH larutan. Bagaimanakah kelarutan garam-garam yang berasal dari asam atau basa lemah jika dilarutkan dalam larutan asam atau basa?

Tinjaulah kesetimbangan MgC2O4 dengan ion-ionnya yang terlarut berikut.

MgC2O4(s) ? Mg2+(aq) + C2O42–(aq)

Oleh karena ion oksalat (C2O42–) adalah basa konjugat dari asam lemah maka ion tersebut dapat bereaksi dengan ion H+ dari asam.

C2O42–(aq) + H+(aq) ? HC2O4(aq)

Menurut Le Chatelier, ion C2O42– keluar dari kesetimbangan akibat bereaksi dengan ion H+ . Hal ini berarti padatan MgC2O4 akan bergeser ke arah pelarutan.

MgC2O4(s) ? Mg2+(aq) + C2O42–(aq)

Dengan demikian, magnesium oksalat menjadi lebih larut dalam larutan asam daripada dalam air murni.

Pengaruh asam terhadap kelarutan garam dapat diamati pada peluruhan gigi. Bakteri gigi menghasilkan media yang bersifat asam akibat metabolisme gula. Secara normal, gigi tersusun dari mineral hidroksiapatit yang ditulis sebagai Ca5(PO4)3OH atau 3Ca3(PO4)2.Ca(OH)2. Garam mineral dengan anion dari asam lemah larut dengan adanya medium asam yang dapat menimbulkan lubang pada gigi.

Pasta gigi yang mengandung ion F dapat menggantikan ion OH pada gigi membentuk fluorapatit, Ca5(PO4)3F yang kelarutannya lebih rendah dibandingkan hidroksiapatit.

Penyakit gigi berlubang dapat timbul karena sering mengonsumsi makanan yang mengandung gula dan kurangnya menjaga kebersihan gigi.

Contoh Soal Pengaruh pH terhadap Kelarutan Garam (11) :

Di antara garam berikut : CaCO3 dan CaSO4 , manakah yang kelarutannya dipengaruhi oleh asam?

Pembahasan :

Kalsium karbonat membentuk kesetimbangan kelarutan sebagai berikut.

CaCO3(s) ? Ca2+(aq) + CO32–(aq)

Jika asam kuat ditambahkan, ion H+ akan bereaksi dengan ion karbonat sebab ion ini merupakan basa konjugat dari asam lemah (HCO3).

H+(aq) + CO32–(aq) ? HCO3(aq)

Oleh karena ion CO32– keluar dari kesetimbangan maka kelarutan CaCO3 menjadi tinggi. Ion HCO3 dapat bereaksi lagi dengan ion H+ menghasilkan gas CO2 . Persamaan reaksinya sebagai berikut.

H+(aq) + HCO3(aq) ? H2O(l) + CO2(g)

Gas CO2 meninggalkan larutan sehingga kelarutan CaSO4 semakin tinggi lagi.

Adapun pada garam CaSO4 , reaksi kesetimbangannya adalah :

CaSO4(s) ? Ca2+(aq) + SO42–(aq)

Oleh karena ion SO42– adalah basa konjugat dari asam lemah maka SO42– dapat bereaksi dengan ion H+ :

H+(aq) + SO42–(aq) ? HSO4(aq)

Oleh karena ion HSO4 memiliki tingkat keasaman lebih kuat dari HCO3 maka ion HSO4 tidak bereaksi lagi dengan ion H+ . Akibatnya, kelarutan CaSO4 lebih rendah dibandingkan CaCO3 di dalam larutan yang bersifat asam.

4.4. Pemisahan Ion-Ion Logam

Umumnya garam-garam sulfida kurang larut dalam air, tetapi kelarutannya tinggi dalam larutan yang bersifat asam. Sifat seperti ini dimanfaatkan untuk memisahkan campuran ion-ion logam. Andaikan suatu larutan mengandung campuran ion Zn2+ 0,1 M dan ion Pb2+ 0,1 M. Bagaimana memisahkan kedua logam tersebut?

Untuk memisahkannya dapat dilakukan berdasarkan pembentukan logam sulfida dengan cara mengalirkan gas H2S ke dalam larutan itu. Gas H2S akan terurai membentuk ion H+ dan S2– . Ion sulfida (S2–) yang dihasilkan dengan cara ini dapat bereaksi dengan ion logam membentuk logam sulfida.
Zn2+(aq) + S2–(aq) ? ZnS(s)

Pb2+(aq) + S2–(aq) ? PbS(s)

Untuk mengetahui logam sulfida mana yang mengendap dapat ditentukan berdasarkan nilai hasil kali kelarutan, kemudian dibandingkan dengan nilai Ksp-nya.

Konsentrasi ion S2– dalam larutan setara dengan Ka (H2S) = 1,2 × 10–13 sehingga hasil kali kelarutan ion-ion ZnS adalah sebagai berikut.

[Zn2+][S2–] = (0,1) (1,2 × 10–13) = 1,2 × 10–14.

Hasil kali konsentrasi molar ion Zn2+ dan S2– lebih besar daripada Ksp (ZnS) yaitu 1,1 × 10–21 maka seng (II) sulfida mengendap. Demikian juga hasil kali konsentrasi ion-ion [Pb2+] [S2–] =1,2 × 10–14 lebih besar dari Ksp (PbS) = 2,5 × 10–27 sehingga timbal (II) sulfida juga mengendap.

Oleh karena ZnS dan PbS keduanya mengendap maka kedua ion tersebut belum dapat dipisahkan. Untuk memisahkan kedua logam tersebut dapat dilakukan dengan cara mengasamkan larutan. Simak pengaruh penambahan asam kuat ke dalam larutan Zn2+ dan Pb2+ sebelum dijenuhkan dengan gas H2S . Ion H+ dari asam kuat akan menekan ionisasi H2S sehingga menurunkan konsentrasi ion S2– .

H2S(g) ? H+(aq) + S2–(aq)

Dengan mengatur konsentrasi ion H+ (pH larutan) maka kelarutan ion S2– dapat diatur, tentunya pengendapan ZnS dan PbS dapat dikendalikan. Oleh karena Ksp PbS jauh lebih kecil dibandingkan ZnS maka PbS akan mengendap lebih dulu pada pH tertentu.

Rangkuman :

  1. Garam-garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat di dalam air akan terhidrasi. Garam-garam ini tidak mengubah pH larutan.
  2. Garam-garam yang berasal dari asam atau basa lemah di dalam air akan terhidrolisis. Garam-garam seperti ini dapat mengubah pH larutan.
  3. Tetapan kesetimbangan untuk garam-garam yang terhidrolisis dapat ditentukan melalui persamaan, Kw = Ka × Kb.
  4. Penambahan ion sejenis ke dalam larutan garam yang terhidrolisis akan membentuk larutan penyangga.
  5. Menurut Teori Asam Basa Arrhenius, larutan penyangga adalah campuran asam lemah dan garamnya atau basa lemah dan garamnya
  6. Menurut Teori Asam Basa Bronsted-Lowry, larutan penyangga adalah campuran asam lemah dan basa konjugatnya atau basa lemah dan asam konjugatnya.
  7. Prinsip larutan penyangga adalah adanya kesetimbangan antara asam lemah atau basa lemah dengan basa atau asam konjugatnya. Sistem kesetimbang ini dapat mempertahankan pH larutan penyangga.
  8. Persamaan untuk menentukan pH dan pOH larutan penyangga dirumuskan pertama kali oleh Henderson- Hasselbalch.
  9. pH larutan penyangga dikendalikan oleh perbandingan konsentrasi pasangan asam lemah dan basa konjugatnya dan tetapan ionisasi dari asam atau basa lemah.
  10. Penambahan sedikit asam atau basa kuat terhadap larutan penyangga tidak mengubah pH larutan penyangga secara signifikan.
  11. Prinsip kesetimbangan juga terdapat pada garam-garam yang sukar larut dalam air. Garam-garam ini membentuk kesetimbangan di antara padatan dan ion-ion yang larut dengan konsentrasi sangat kecil.
  12. Hasil kali kelarutan garam-garam sukar larut bersifat tetap selama suhu tetap. Hasil kali ini dilambangkan dengan Ksp , yaitu tetapan hasil kali kelarutan dari garam-garam sukar larut.
  13. Penambahan ion senama ke dalam larutan garam yang sukar larut mengakibatkan kelarutan garam akan berkurang.
  14. Penurunan pH larutan (larutan dibuat asam) akan meningkatkan kelarutan garam-garam yang berasal dari asam lemah.
  15. Campuran ion-ion logam di dalam larutan dapat dipisahkan satu dengan lainnya berdasarkan harga Ksp dan pengaturan pH larutan.

Referensi :

Sunarya, Y. dan A. Setiabudi. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Kimia 2 : Untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Alam. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 250.

Advertisement (Dibawah ini adalah Iklan)
loading...

The Burbs

Beyond the Mask

Beautiful Creatures

The Bachelor

The Royal Tenenbaums

Bandits

The Spanish Apartment

All About Steve

This Is Progress

Mardi Gras Spring Break