Keringat Darah

By On Tuesday, March 7th, 2017 Categories : Cerita

Remuk. Kurasa kata itulah yang pantas untuk melukiskan keadaanku saat ini. Hanya rasa nyeri yang menambatkan diri di seluruh tubuhku. Tulangku bagai dihunjam ribuan jarum, persendianku bagai kehilangan fungsinya sebagai penyambung tulang-belulangku. Kini, yang bisa aku lakukan hanya berbaring di atas kasur dan merutuk, betapa malangnya diriku.

Sudah sembilan jam sejak kepulanganku dari sekolah, aku menghabiskan sisa dari kegiatan belajar di sekolah dengan menempatkan diriku di zona nyaman selama tiga jam dan berakhir pada zona kesengsaraan selama enam jam. Terkutuklah oh wahai tugas! Pandanganku kabur saat aku tak sengaja membaca goresan tinta pena yang ditulis oleh guru pembimbingku pada piagam yang sengaja aku pajang di dinding kamarku. Piagam itu aku dapatkan saat aku mengikuti kompetisi debat bahasa inggris di salah satu universitas ternama di Jawa Barat. Sialnya nasibku, aku hanya masuk ke babak semi final. Yah, beruntunglah mereka yang telah mengalahkanku.

Dengan sekuat tenaga aku mengumpulkan semangat patriotisme untuk bangkit dari tempat yang kunamai sebagai pulau kapuk. Dengan itu, kau akan mengatakan bahwa pulau itu adalah pulau favorit yang sangat disukai banyak manusia di muka bumi. Bukan hanya manusia, bahkan hewan pun seperti kucing akan mengatakan hal yang sama. Pulau kapuk memang lebih nyaman dan lembut. Beda halnya dengan pulau lainnya. Mereka digenangi oleh derasnya air dan hamparan pasir yang dikelilingi oleh batu karang yang keras. Apalagi suasana panas terik matahari akan membuat kulitmu terbakar layaknya sosis panggang.

Aku mengusapkan tangan di wajahku pelan dan mendesah. Tiga tumpuk buku besar menghiasi meja komputer dengan indahnya. Salah satu buku itu terbuka. Sesekali aku mengutuk pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku belum menyelesaikan tugas yang sangat mudah ini, bahkan dalam waktu sembilan jam pun aku masih harus berkutat pada layar monitor dan tiga buku super tebal. Haruskah aku melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda? Ataukah, lebih baik aku mengucap kata selamat tinggal pada sang buku dan komputer, lalu aku akan kembali tidur dan bermimpi indah berharap besok tugas akan selesai dengan sendirinya. Ah! Opsi kedua memanglah yang terbaik. Otakku butuh penyegaran juga tak lupa dengan tubuhku yang sangat ingin menarikku pada pulau kapuk itu. Lagipula, aku sudah mengingatkan bokap untuk memberiku laptop agar aku dapat mengerjakan semua tugasku dengan cepat dan mudah.

Sebuah bohlam pembawa ide muncul dari otakku. Sebaiknya opsi kedua harus dipending untuk sementara. Aku berjalan ke luar kamar dan berjinjit menuju kamar orangtuaku. Tanpa aku ketuk, pintu sudah terbuka. Nyokap memandangku dengan tatapan tanpa ekspresi. Aku menggarukkan kepalaku dan sedikit nyegir seperti kuda. Ia menaikkan satu alisnya lalu berjalan melewatiku yang masih mematung di depan pintu yang sudah tertutup. Aku mengikuti langkahnya di belakang. Nyokap memang akan selalu merasa dehidrasi saat tengah malam. Ia akan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air.

“Kau belum tidur?” Tanya nyokap tiba-tiba membuatku sedikit terkejut.
“Eh, anu…” Aku memalingkan wajahku kebelakang.
“Ada yang ingin kau sampaikan?” Tanya nyokap.
“Huh, baiklah. Aku ingin mengatakan sesuatu pada ibu.” Ucapku sarkas.
“Silahkan.”

Ia berjalan mendahuluiku menuju ruang keluarga. Aku hanya bisa mengekorinya di belakang. Ia duduk di salah satu sofa diikuti dengan diriku yang menempatkan bokongku di sofa depannya.

“Katakan. Apa yang ingin kau katakan?” Tanyanya.
“Aku ingin laptop baru.” Jawabku singkat.
Ia mengerutkan kedua alisnya.
“Untuk apa? Bukankah kau sudah memiliki komputer? Bahkan laptop pun sudah ada.”
“Ibu, tidakkah kau lihat, sudah sejak sembilan jam yang lalu aku mengerjakan tugasku. Namun tugas itu tak kunjung hilang dari hadapanku. Dan laptop, sudah tak layak pakai bu.” Ucapku geram.
“Apa yang harus aku lakukan?” Tanyanya sambil menatapku datar.
“Membelikan aku laptop yang baru.” Jawabku.
Ia mendesah pelan.
“Mengucap syukurlah sekarang juga, karena kau tidak mengecap pahitnya neraka dunia ini. Patutlah engkau bersyukur, karena sekarang kau tengah berada di rumahmu yang nyaman dan dibalik selimut nyaman dan lembutmu, terlena oleh desir ketenangan yang perlahan mengangkatmu menuju kedamaian sejati.” Jelasnya.
“Maksud ibu?” Aku menaikkan satu alisku.
“Apakah aku harus menceritakannya?” Ia menatap jam bulat yang menempel di dinding. Jam itu menunjukan pukul 23.42 WIB.
“Apa yang ingin ibu ceritakan? Apa sebuah dongeng sebelum tidur agar aku melupakan semua persoalan ini?” Tanyaku geram.
“Hm, anak pintar.” Nyokap mengusapkan tangannya pelan di rambutku.
“Sebaiknya kau dengarkan aku dan cari posisi favorit untukmu.”
“Ugh, baiklah.”
Terpaksa aku mengikuti perintahnya agar Tuhan tak mengecapku sebagai anak durhaka untuk yang kesekian kalinya.

Tangisan bayi mungil telah terdengar, dihiasi oleh hujan air mata yang ditumpahkan para kerabatnya. Tak ada yang sanggup menahan air mata kebahagiaan melihat bayi kecil yang baru saja mengeraskan tulang belulangnya dan menangis kencang.

“Genep belas april salapan belas tujuh puluh genep. Sing jadi budak bageur, jeung budak pang geulisna di desa. Ah! Teu sanggup rasanya menahan air mata melihat anakku baru saja lahir.” Ucap wanita paruh baya yang sedang melihat bayi kecilnya dibersihkan dari lumuran darah merah yang segar.

Beranjak dewasa, bayi itu tumbuh menjadi sosok putri cantik keturunan China yang diwariskan oleh kakeknya, ki Usup. Putri itu tumbuh tanpa merasakan kejamnya kehidupan pada masa penjajahan sebelum Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun, garis tangannya berkata lain. Kisah kehidupannya sangat penuh dengan liku-liku. Baik itu persoalan ekonomi, keluarga, maupun percintaan.

Ia terlahir sebagai putri bungsu dari tujuh bersaudara. Merajut kehidupan masing-masing dengan tangan dan kaki sendiri. Apalah daya mereka jika hanya mengandalkan penghasilan orangtua yang tidak seberapa. Ucapan syukur menjadi kebiasaan sehari-hari, karena cukup untuk memenuhi isi perut mereka masing-masing. Ia tinggal di sebuah desa terpencil di dunia ini. Bahkan, 80% penduduk di muka bumi ini pun tidak mengetahui daerah yang ditempati putri itu. Rumah panggung berukuran 5×6 meter tanpa dinding, namun dilengkapi oleh beberapa biliklah yang menjadi pelindungnya dikala hujan ataupun panas. Belum ada sambungan listrik di desanya. Lampu centir di setiap dinding rumah penduduklah yang menjadi sumber penerangan di desa itu. Bahkan, untuk merapikan pakaian pun mereka harus memasakkan arang, lalu dimasukkan ke dalam penggosok pakaian cap ayam jago.

Putri cantik itu diberi julukan sebagai kembang desa. Tidak sedikit warga yang memujinya. Bahkan, kaum adam pun rela memberikan apapun untuk putri itu agar ia dapat menjadi milik mereka. Setiap hari, ia berjalan kaki untuk menimba ilmu dengan jarak tempuh 1 km. Bukan hanya itu, untuk membersihkan diri pun ia harus melewati hutan dengan jarak tempuh yang sama menuju sumber mata air, karena krisis moneterlah yang sangat ia rasakan.

Waktu berjalan dengan sangat cepat, sampai pada tahun 1995, datang sebuah mobil silver yang dikendarai oleh lelaki berdarah Jawa dengan balutan kemeja kuning yang menghiasi tubuhnya. Pria itu baru saja pulang dari acara rekreasinya dan beristirahat tepat di toko samping rumah kembang desa itu. Ia membeli secangkir kopi seharga 10 perak. Pria itu memandang seorang putri di hadapannya yang sedang disambut kedatangannya sepulang dari sekolah kursus menjahit di Bandung.

“Maaf, bolehkah saya bertemu dengan kedua orangtuanya?” Tanya pria itu pada pemilik toko yang diyakini sebagai kaka putri itu.
“Sakedap nya jang.” Ucap si penjual toko dengan bahasa daerahnya.

Si pemilik toko pun masuk ke dalam rumahnya dalam beberapa menit dan kembali diikuti oleh kedua orangtuanya.

“Aya naon ujang hayang tepang sareng abdi?” Tanya lelaki paruh baya pada pria itu.
“Saya ingin menikahinya.” Ucap pria itu singkat sambil menatap sang putri yang baru saja ia lihat pada pandangan pertamanya.

Dua tahun sudah terlewati semenjak ikatan suci pernikahan telah melekat pada sang kembang desa. Sempat ia ingin menolaknya, namun takdir berkata bahwa ialah jodohmu. Kembang desa menerima dengan pasrah agar ia bisa membahagiakan kedua orangtua dan keluarganya.

Perubahan sosial sangat kental ia rasakan. Sambungan listrik baru ia rasakan pada saat masa pemerintahan Soeharto terhenti. Bukan hanya listrik, banyak kericuhan tentang naiknya harga bahan sandang dan pangan. Pendapat para sosiolog memang benar, kita harus hidup berkembang dan berubah. Dari zaman tradisional, sampai ke tahap kejayaan atau peradaban. Naiknya harga bahan pokok, merupakan salah satu langkah agar Indonesia tidak tertinggal oleh proses modernisasi. Masyarakat hanya perlu mengatasi berbagai kekurangan sehingga dapat mencapai tahap “tinggal landas” ke arah perkembangan ekonomi.

Masyarakat berkembang dari bentuk sederhana menuju pada bentuk yang lebih kompleks. Berproses secara bertahap dan berjalan sangat lambat atau halus, nyaris tak terasa. Sehingga, tidak ada satupun manusia yang dapat merasakannya. Beda halnya dengan sang kembang desa yang sudah menempati wilayah ibu kota Jakarta. Merajut asa bersama dengan suaminya. Perubahan teknologi lebih cepat daripada perubahan budaya nonmaterial, seperti kepercayaan, norma, dan nilai-nilai yang mengatur masyarakat sehari-hari. Teknologi seringkali menghasilkan kejutan budaya yang pada gilirannya akan memunculkan pola-pola perikaku yang baru, meskipun terjadi konflik dengan nilai-nilai tradisional. Perubahan sosial itu sampai pada ketidakpuasan akan kondisi sosial yang secara pribadi sangat mempengaruhi.

Terkejut bukan main yang ia rasakan. Revolusi sangat mempengaruhi kondisi psikisnya. Sedikit demi sedikit ia mulai terpengaruh walau tidak langsung atau signifikan. Ia menyadari satu nilai, bahwa manusia harus selalu berusaha untuk memperbaiki hidup. Walaupun prasangka buruk atau stereotip terhadap nilai budaya yang baru masuk membuatnya sedikit mengangkat kepalanya.

Bising, polusi, dan bau yang tak sedap menjadi makanannya sehari-hari. Tinggal di ibu kota Jakarta dengan kepadatan yang cukup tinggi membuatnya sulit tuk bergerak. Sebagus apapun nama kota yang kau tempati, tentu lebih nyaman tinggal di kampung halaman sendiri. Banyak hal yang bisa kau lakukan dengan bebas tanpa harus menginjakkan kakimu di tanah pemerintah dan mendapat pelanggaran. Janganlah pernah kau berandai-andai berada di posisinya. Semua yang bisa dibanggakan telah terenggut. Harga, keluarga, mimpi dan segalanya. Hanyalah samudera ketidakpastian yang membentang di hadapannya yang harus diarungi demi menemukan serpih-serpih mimpi yang tercecer untuk dirajut kembali.

Begitu kuat ombak penderitaan menimpanya. Menyeret jauh meninggalkan tepian pantai asa ketika bahan-bahan makanan semakin langka karena kenaikan harga. Hari ini, seperti biasanya. Sekeping kepercayaan diletakkan pada pundak suami. Mencari nafkah ditengah kesulitan yang melanda. Gerigi mesin selalu berputar di dalam otak setiap insan. Hujan air mata sampai hujan keringat darah menjadi saksi bisu kehidupan.

Belaian lembut tangannya di rambutku sedikit menghilang. Setetes air terjatuh tepat di pelipisku. Aku membuka mataku dan tersenyum melihatnya.

“Apakah sang kembang desa itu ibu?” Tanyaku.
Ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

Aku bangkit dari posisi berbaring dan menghadap ke nyokap. Usapan lembut kulakukan untuk menghapus tetes-tetes air mata yang menghiasi wajahnya. Aku marasakan hatiku remuk melihatnya menangis. Ah! Ia tidak menangis seperti bayi. Ia hanya mengeluarkan air mata tanpa mengeluarkan suara tangisan.

“Jangan nangis dong, hatiku hancur melihat ibuku sedih seperti ini. Hiks.” Candaku.

Ia tertawa dan mencubit kedua pipiku gemas, membuatku sedikit mengumpat kesakitan.

“So, apakah kau akan terus merajuk padaku akan hal itu? Kufikir kau akan terlelap dan melupakan semuanya.” Ujarnya.
“Haha, tidak akan ibuku yang cantik, aku akan terus merajuk karena aku ini anak ibuku. Dan ya! Aku tidak akan melupakan persoalan yang tadi. Aku akan menunggunya.” Ucapku lantang dan menegakkan pandanganku padanya.
“Yeh, nih anak susah banget ya dibilangin. Huh, udah cape cape flashback, tapi kamu masih saja merajuk.” Ujarnya.
“Aku tak menyuruh ibu tuk flashback. Aku hanya mendengarkan apa yang ibu katakan. Wleee.”
Aku menjulurkan lidahku dan berlari kekamarku. Aku menoleh kebelakang dan mendapati nyokap sedang mengumpat dan menggelengkan kepalanya pelan. Ah, ini pasti sudah ribuan kali aku tak mengindahkan perkataan nyokap.

Bukkk…
“Aw!”
Terdengar suara nyokap yang sedang tercengang melihat pertunjukkan sirkus. Yak! Anggap saja ini sebuah lelucon. Bagaimana bisa aku terperangkap oleh jebakanku sendiri dan mendapati pelipisku mengeluarkan darah segar. Tidak! Ini bukan keringat darah, Ini hanyalah darah yang dikeluarkan dari segores luka yang ditimbulkan karena aku menabrak dinding sialan itu. Oh, beruntunglah dirinya karena ia tidak mengalami cedera seperti yang aku rasakan.

“Kalo lari tuh pake mata bukan pake dengkul. Hahaha.” Cetus Ani. Sahabat tapi bukan teman dekatku. Ia hanya seorang gadis cantik yang berharap menjadi pujaan hati sang raja dangdut, Roma Irama.
“Shhtt, jangan kencang-kencang nanti kedengaran orang lain kan bisa mampus deh gue.” Aku menutup mulut Ani dengan tanganku, bermaksud untuk menghentikan tawanya.
“Gue udah tau keles.”

Aku mengangkat pandanganku ke atas. Pria tampan berhidung mancung seperti pinokio dengan gagahnya menatap mataku datar.

“Bukan di situ, tapi di sini.”

Aku mengalihkan pandanganku, memutar bola mataku dan mendesah. Pria jangkung dengan kumis tipis yang menghiasi wajahnya berdiri tegak menghadapku. Inilah awal dari sebuah bencana. Ah, tersenyum mirislah diriku menyaksikan betapa sialnya diriku. Dia menggoreskan senyum di wajah tampannya, melukiskan ekspresi diri yang hendak keluar.

“Hellow?”

Aku mengerjapkan mataku saat angin kecil menerpa wajahku. Ia mengibaskan tangannya ke wajahku.

“Jangan bilang lo naksir gue ya?” Tanyanya sambil memberi sentuhan keras untuk pelipisku yang malang.
“Pede banget sih lo!” Ucapku seraya mengusap pelipisku.
“Ekhem, lepas dulu tuh tangan kotor lo di mulutnya si Ani.” Ucapnya sarkas.

Sontak, aku pun melepaskan tanganku dan menyunggingkan senyum termanis yang aku punya pada Ani. Ia hanya cemberut dan sedikit mengumpat.

“Tadi gue denger, lo itu kalo jalan pake dengkul ye? Haha emang gak salah deh.” Ucapnya sambil melipat kedua tangannya.
“Ani, menjauhlah darinya. Nanti kau akan tertular oleh kecerobohannya.” Lanjutnya.
“Maksud lo apa hey?!” Seruku.
“Maksud gue, gue gak mau dia ketularan ceroboh kalo dekat sama orang ceroboh kaya lu.” Ujarnya.

Aku membulatkan mataku menatapnya kesal.

“Gue tersinggung, boy.” Aku mendorong pundaknya dengan sekali sentakan.
“Gue emang sengaja, apakah ada yang salah oh wahai nona ceroboh?” Teriaknya memancing perhatian para penghuni kantin sekolah.
“Kau membuatku malu. Kau memalukan!” Ucapku geram.
“Kau yang lebih memalukan.” Balasnya sarkas.

Oh tuhan! Sungguh tak ada sepatah kata lagi yang bisa aku cetuskan. Manusia di hadapanku ini sungguh laknat. Ia adalah rival terkejamku di kelas. Aku sungguh tak mengira kalau ia akan menjadi seorang kritikus profesional. Oh tidak! Bukan profesional. Namun, satu-satunya kritikus terkejam di dunia ini.

“Bahkan sekarang pun kau hanya memandangku bak elang yang sedang mencari mangsa. Kau ini sungguh tak berguna, apakah tugasmu sudah kelar wahai nona ceroboh?” Ujarnya sambil memperlihatkan laporan ilmiahnya padaku.
“Tidak! Aku belum menyelesaikannya. Kau tahu, bekerja di komputer itu sangat melelahkan dan laptopku rusak. Sulit untuk menyelesaikannya.” Ucapku.
“Itu karena lo ceroboh! Haha, masa bikin ginian aja gak bisa.”

Aku menumpahkan semangkuk mie instan panas yang baru saja disajikan oleh ibu kantin ke tubuhnya, membuatnya berhenti berbicara dan mengerang.

“Gue memang ceroboh, namun gue tak selemah yang lu pikirkan. Camkan itu!”

“Fe! Ke kantor bapak sekarang juga.” Teriak seseorang dari belakang.

Oh sh*t! Ia adalah wali kelasku. Ini bukanlah pertemuan pertama kami. Bahkan, aku sudah sangat kebal mendengar nasihat darinya.

Hidup di dunia ini tak semudah yang kau bayangkan. Tak seharum buah durian dan semanis daging durian yang kita makan. Namun, hidup ini bagaikan hujan yang selalu menerpa tubuh dan sesakit lidah saat kau memakan kulit buah durian. Banyak kejadian yang datang tanpa kita sadari, menumpahkan emosi yang harus segera terlampiaskan. Janganlah kau berandai-andai ingin berada di posisi sang putri kerajaan yang terlihat tidak pernah memiliki beban yang harus ia panggul setiap harinya. Semua orang yang termasuk sebagai penghuni di muka bumi ini pasti memiliki masalahnya masing-masing, tergantung oleh siapa yang menjalankannya dan apa yang harus dilakukan untuk keluar dari permasalahan itu.

Nyokap memang benar, revolusi sangatlah mempengaruhi kondisi psikis. Perubahan sosial selalu kita rasakan setiap hari. Hujan air mata sampai keringat darah akan menjadi saksi bisu bagi setiap kehidupan yang dijalani setiap insan. Layaknya kau harus berjalan di atas batu karang yang tajam tanpa alas kaki. Menatap silaunya cahaya matahari tanpa kacamata. Berbaring di atas arang yang panas tanpa sehelai kain yang membungkusmu. Akankah kau mengatakan bahwa dunia ini seindah syurga? Tentu saja tidak, kau pasti akan mengeluh kesakitan dan perih. Kau pun akan mengaktifkan reaksi melawan atau lari yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah dan memberi suplay ke kelenjar keringat, sehingga darah masuk ke dalam pipa kelenjar keringat dan dikeluarkan ke permukaan kulit.

Tak ada satupun penghuni bumi tercinta ini yang bisa merubah nasib mereka tanpa melakukan perubahan pada takdir mereka. Seseorang bisa saja terlihat kuat dan terdengar begitu bijak dalam menjalani hidup. Namun, sebenarnya tidak semudah apa yang kau bayangkan. Sebelum sampai ke tahap itu, ia lebih dulu merasakan sakit dan mengalami hal yang menyesakkan dada. Jika kini ia berbagi pengalaman, bukan berarti ia lebih kuat. Ia hanya kebetulan lebih dulu mengalami dan berhasil melewatinya.

“Fe, apa kamu paham?”
“Uh? Iya pak. Terserah bapak.”

Aku bangkit dari posisi dudukku dan berjalan gontai keluar dari ruangan yang terkutuk ini. Aku hanya bisa berharap agar aku tidak lagi berada di posisi ini kembali, hanya untuk menata masa depan dengan perilaku yang buruk.