Kemajemukan Berdasarkan Ras

By On Thursday, March 2nd, 2017 Categories : Artikel

Dalam artikel kali ini akan dibahas tentang kemajemukan (difereniasi sosial) di Indonesia berdasarkan perbedaan unsur ras. Secara alamiah, setiap manusia pasti memiliki perbedaan kondisi fisik. Perbedaan itu tampak pada perbedaan warna kulit, bentuk kepala, indeks muka, warna rambut, dan perbedaan fisik lainnya.

Ras merupakan suatu golongan manusia dengan ciri tubuh tertentu dalam suatu frekuensi yang besar. Ras merupakan suatu hal yang ditinjau secara biologis, bukan ditinjau secara sosiokultural. Jadi, pengertian ras melibatkan ciri-ciri yang dimiliki seseorang. Dengan demikian, secara umum, klasifikasi ras didasarkan pada ciri biologis atau fisik.

Pada umumnya, manusia di dunia ini dibedakan ke dalam tiga kelompok ras utama. Ketiga kelompok ras utama tersebut adalah ras Mongoloid, Kaukasoid, dan Negroid. Secara garis besar, tanda-tanda fisik yang digunakan untuk mengklasifikasikan ras, antara lain bentuk badan, bentuk kepala, bentuk muka, bentuk tulang rahang bawah, bentuk hidung, warna kulit, warna mata, warna rambut, dan bentuk rambut.

Dan ketiga kelompok ras di atas, terdapat dua kelompok yang hidup saling berhubungan, saling memengaruhi, dan saling berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia, yaitu Melayu Mongoloid dan Papua Melanesoid. Kelompok ras Melayu Mongoloid umumnya hidup di Pulau Sumatra, Pulau Jawa dan Madura, Pulau Sulawesi, dan kepulauan di sekitarnya. Adapun kelompok ras Papua Melanesoid umumnya hidup di Pulau Irian (Papua) dan pulau-pulau sekitarnya.

Sementara itu, kelompok ras Negrito dan Weddoid merupakan saudara-saudara kita yang masih hidup secara terisolir di daerah pedalaman. Mereka masih sulit untuk membaur dengan saudara-saudaranya dari kelompok ras/suku bangsa lain yang memang lebih dahulu mengalami kemajuan dan saling berintegrasi.

Selain keempat kelompok ras tersebut, masyarakat Indonesia diperkaya dengan kelompok ras yang lain, yaitu kelompok keturunan Cina (termasuk ras Mongoloid) dan kelompok keturunan Arab, Pakistan, India, dan sebagainya (termasuk ras Kaukasoid). Mereka ini termasuk kelompok ras pendatang di luar ras penduduk asli atau pribumi. Seperti telah dibahas di atas, ras adalah suatu konsepsi biologis yang berdasarkan ciri-ciri fisik dan bukan suatu konsepsi kebudayaan. Dengan demikian, pengertian ras tidak berjalan sejajar dengan pengertian kebudayaan. Dengan kata lain, perbedaan ras tidak menentukan perbedaan bahasa, adat istiadat, apalagi agama. Misalnya, kelompok ras Melayu Mongoloid seperti yang terdapat dalam suku bangsa Bali dan Jawa, keduanya memiliki bahasa, adat istiadat, maupun agama yang saling berbeda, walaupun berasal dari ras yang sama. Bahasa-bahasa yang digunakan oleh suku yang ada di Indonesia termasuk satu keluarga, yaitu keluarga bahasa Austronesia.

Dalam pergaulan sosial masyarakat di Indonesia, perbedaan sifat-sifat fisik antara kelompok yang satu dan kelompok yang lain tidak memberikan pengertian adanya superioritas. Artinya, tidak ada suatu kelompok berdasarkan ciri fisik tertentu dianggap lebih istimewa atau lebih unggul dibandingkan kelompok lain. Masyarakat Indonesia tidak menganut paham rasialisme, yakni suatu paham yang meyakini bahwa kelompok ras tertentu lebih tinggi statusnya dibandingkan dengan kelompok ras lain.