Keluargaku Harta Yang Paling Berharga

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Riuh ramai canda dalam panti asuhan pagi ini. Mereka sudah seperti saudaraku sendiri. Iya memang aku sejak dilahirkan telah diberikan kepada pengurus panti ini. Menyedihkan ya. Tapi aku di sini hanya belajar untuk percaya dan berharap yang positif pada orang-orang yang akan mengasuhku.

“Lihat ada yang datang!” kata Adeline saat ada mobil yang masuk ke pekarangan panti.
“Waah siapa ya kali ini yang akan diadopsi?” kataku bertanya-tanya. “Kemarin Jeremy, sekarang siapa?”

“Pagi anak-anak…” kata seorang wanita muda keluar dari mobilnya.
“Pagiii…” kata kami ramah.
Aku masih berpikir jika orang ini yang mengadopsiku sepertinya aku akan lebih bahagia. Tapi ini belum tentu terjadi. Bisa juga yang diadopsi Adeline, Nona, Johan atau Bill.
Kami melanjutkan bermain dan wanita muda itu masuk ke dalam bersama suaminya. Masih dengan keceriaan, kami lanjut bermain engklek, mainan tradisional yang masih suka kami mainkan di sini.

Tak lama kemudian…
“Christie!” panggil Bu Ati, pemilik panti.
“Ya sebentar, Bu!” aku meletakkan batu yang masih aku bawa ke tanah. “Ada apa, Bu?”
“Ini, Bu Zahra ingin mengadopsimu…”
“Apa? Yang benar?” tanyaku. Bu Ati mengangguk. “Tapi aku…”
“Iya, Saya sudah tau kamu cacat, tapi bagi Saya itu bukan masalah. Saya tertarik dengan keceriaan dan keramahanmu.” Sahut Bu Zahra.
Spontan aku bersorak. Meski dalam hatiku sangat berat untuk meninggalkan teman-temanku di sini. Tapi aku tahu suatu saat nanti mereka juga akan diadopsi oleh keluarga yang siap untuk menerima segala kekurangan mereka.

Aku senang rasanya keluargaku yang baru sangat mengasihiku. Mama, Papa dan Kak Rani sangat baik padaku. Mereka keluargaku yang sangat berharga.

Hari ini adalah hari ulangtahunku. Entah apakah mereka tahu hari ini aku ulangtahun? Tapi setidaknya aku sudah cukup bahagia di sini.

“Christie!” Mama dan Kak Rani masuk ke kamarku sambil membawa kue ulangtahun.
“Selamat ulangtahun ya, adikku!” Kak Rani memeluk dan menciumku.
“Selamat ulangtahun ya, Nak…” Mama tersenyum dan menyodorkan kue ulangtahun. Aku membuat harapan dan meniup lilinnya.
Aku tahu mereka memang berbeda kepercayaan denganku, tapi itu bukan halangan bagiku untuk mengasihi mereka. Berbeda itu justru adalah suatu keindahan.
“Makasih, Mama dan Kak Rani…”

“Jangan bela-belain anak durhaka seperti Rani!”
Astaga suara apa itu? Ada apa dengan Kak Rani? Aku nggak bisa diam saja di sini. Memang aku hanya anak angkat tapi aku bisa merasakan apa yang Kak Rani rasakan. Aku menutup bukuku dan keluar kamar.
“Papa hentikan!” aku berlari dan memeluk Kak Rani yang menangis.
“Christie?”
“Ngapain kamu di sini? Masuk sana!” bentak Papa. “Kamu bisanya cuma mengganggu!”
“Pa, tolong hentikan. Kasihan Kak Rani!”
“Nggak usah sok kasihan kamu! Saya nggak butuh kasihan dari anak pungut yang cacat seperti kamu.” Mama menampar Papa. “Ooh kamu berani juga nampar?”
“Jaga bicaramu!” bentak Mama.
“Hentikan! Tolong jangan saling menyakiti!” kataku. “Aku memang bukan siapa-siapa dan aku nggak punya apa-apa tapi aku punya keluarga yang selama ini telah menaungiku, mengasihiku. Kalian keluargaku yang sangat berharga. Tolong jangan biarkan kemarahan dan bujukan Iblis merusak keluarga kita. Tuhan paling nggak suka kalau anak-anak-Nya terpecah-belah…”
“Iya tapi kan Kakakmu ini sudah berani mencuri!” kata Papa.
“Maaf, Pa…”
“Sudahlah Rani kan dari tadi sudah minta maaf…” kata Mama membela Kak Rani.
“Tidak bisa!” Papa menyeret Kak Rani keluar dan mengusirnya.
Aku nggak habis pikir dengan keputusan yang Papa ambil. Kak Rani sudah meminta maaf berkali-kali tapi Papa masih nggak bisa memaafkan Kak Rani. Ya, Tuhan lindungilah Kak Rani dimanapun Kak Rani akan melangkahkan kakinya…

Suatu hari saat aku, Mama dan Papa pergi ke mall dan dalam perjalanan saat di perempatan jalan…
“Ma, itu kan Kak Rani!” aku menunjuk Kak Rani yang tengah menyodorkan gelas air mineral yang sudah berisi sedikit uang dari beberapa orang.
“Lihat dong akibat keputusanmu sekarang Rani jadi pengemis seperti itu!”
“Ya, gimana lagi… Papa waktu itu emosi…” jawab Papa.
“Tapi sudah tiga tahun dan Papa nggak cari Kak Rani dan minta maaf? Jangan gengsi dong, Pa!” kataku.
“Sudahlah biarin saja!”
“Nggak bisa gitu. Rani tetap anak kita. Seperti apapun Rani kita tetap terus berusaha mendidiknya dengan baik bukan dengan cara seperti ini!”
“Nanti sajalah, ini kan lampu sudah hijau, kita jalan saja dulu!”
Aduuh, kenapa sih Papa egois banget. Aku aja ini sudah hampir lulus kuliah. Itu artinya Papa sudah menyimpan dendam pada Kak Rani. Aku tetap harus bisa ngajak Kak Rani kembali ke rumah.

Sepulang dari kuliah aku mencoba lewat jalan yang kemarin aku lewati saat mau pergi ke mall. Aku berharap Kak Rani masih ada di situ dan bisa aku ajak kembali ke rumah. Aku memarkirkan motorku di depan sebuah toko kecil di pinggir jalan.
“Mas, Saya mau tanya, biasanya pengemis di pinggir jalan ini kok nggak ada pada kemana ya?” tanyaku.
“Ooh mereka ada di pangkalannya, Mbak. Masuk aja di gang kecil itu. Nanti ada rumah kecil berwarna hijau, nah di situ pangkalan mereka.”
“Baiklah. Terimakasih ya, Mas!” aku keluar dan mencoba mengikuti petunjuk si penjaga toko.

Aku menyusuri dan memperhatikan setiap rumah-rumah yang ada di sepanjang jalan sempit ini. Nah, itu Kak Rani…
“Kak Rani!” aku memarkirkan motorku. “Kak!”
“Ngapain kamu ke sini, Dik? Kakak sudah nggak pantas kamu cari lagi!” kata Kak Rani. “Pulang sajalah kamu!”
“Kak… Papa sudah bilang kalau dia sudah memaafkan Kak Rani dan menyuruhku mengajak Kakak pulang.” Jelasku. “Mau ya Kak?”
“Emm…” Kak Rani terdiam sejenak. Dan ia menganggukkan kepala.