Karena Senyummu Senyumku

By On Wednesday, March 1st, 2017 Categories : Cerita

Al meraih jemari Ziya dan mengenggamnya erat. “Gagal itu hal biasa, ntar dicoba lagi ya,” Al mencoba menenangkan sang istri. “Tapi kan tinggal satu langkah lagi,” Ziya menangis. “Itu berarti kamu harus berusaha lebih keras lagi. Jangan menyerah gitu dong Ziya nya aku, Semangat ya sayang,” Al tersenyum lembut. “Sini aku peluk pasti lebih tenang,” Al memeluk Ziya. Tangis Ziya menjadi dengan perhatian Al yang begitu besar terhadapnya. “Nangis aja, biar lega. Gak papa deh baju aku basah kena air mata kamu, yang terpenting kamu tenang,” Al mencoba mencairkan suasana dengan guyonan khasnya. “Garing,” Ziya manja. “Garing mana sama kerupuk? hihi..” Al cekikikan. “Abi,” Ziya melepaskan pelukannya menatap Al dengan wajah cemberut. “Iya ya maaf, jangan marah gitu dong sayang. Ntar cantiknya hilang,” Al membelai lembut kepala Ziya. Ziya memeluk Al erat.

“Makasih ya, kamu selalu bisa buat aku tenang.” Ziya melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap Al. “Gitu dong, jangan sedih lagi ya,” Al membalas senyuman Ziya. “Tapi sedihnya aku akan hilang 100 persen kalo kamu beliin ice cream”. Al hanya diam, berpura-pura tidak mendengarkan permintaan Ziya. “Gimana mau gak beliin?” Ziya memandang Al. Al hanya tersenyum tanpa menjawab. “Abi,” Ziya menggoyangkan tubuh Al. “Iya iya iya, apa sih yang gak buat kamu” Al mencium kening Ziya. “Gombal,” Ziya menjulurkan lidahnya. “Ih kok gombal sih? ya gak lah aku tulus,” Al menatap Ziya sambil tersenyum. Ziya tersenyum dan menundukkan pandangannya karena malu melihat tatapan Al.

“Udah ah Bi, Bunda mau siap-siap dulu. Abi juga siap-siap ya,” Ziya seraya berlalu dari hadapan Al. Melihat tingkah sang istri Al tersenyum. “Ziyaa, Ziya,” Ucapnya pelan sambil menggelengkan kepalanya.

“Makasih ya buat malam ini. Makasih kamu selalu bisa buat aku tenang, makasih untuk segalanya” Mata Ziya berbinar. Al tersenyum dan meraih jemari Ziya yang halus. “Makasih buat siapa?” Al menaikkan alisnya. “Makasih buat kamu lah.” “Kamu siapa?” tanya Al lagi. “Ya suami aku dong”, Ziya tertawa. “emang suaminya siapa?” Al menggoda Ziya lagi. “Al ku tersayang,” Ziya mnjulurkan lidahnya. “Cie.. sayang,” Al tertawa. “Abi,” Ziya manja. “hehe.. dia nya malu”. “Sini peluk dan cium kening sekali lagi,” Al memeluk Ziya erat dan mengecup keningnya.

“Kamu gak perlu berterima kasih, karena senyummu senyumku juga. Jangan sedih-sedih lagi ya Ziya nya aku. Aku gak bisa liat kamu sedih,” Al mencubit pipi Ziya. “Iya aku gak akan sedih-sedih lagi. Liat aku udah kasi senyum termanis buat kamu,” Ziya tersenyum. “Hhehe iya iya,” Al mengacak-ngacak rambut panjang Ziya yang sudah rapi. “Kamu,” Ziya manyun. Al tertawa puas karena berhasil menggoda sang istri. “Nyebelin, awas ya aku bales,” Ziya tersenyum sinis. “Lari,” Al sudah siap untuk beranjak dari tempat tidur. “Curang,” Ziya coba mengejar Al.