Kado Untuk Rafa

By On Saturday, March 4th, 2017 Categories : Cerita

Rafanda Raditya Putra, seorang anak yang tak punya impian yang banyak. Dia hanya punya satu mimpi, dia hanya ingin punya buku gambar dan alat mengambar lainnya. Impian dimana semua orang menganggap itu hal biasa dan tak berarti tapi bagi Rafa itu hal yang sulit untuk ia raih, tak semudah membalikan telapak tangan.

“Bun, sebentar lagi Rafa ulang tahun boleh Rafa minta sesuatu?”
“Kamu mau apa memangnya? InsyaAllah bunda akan belikan”
“Rafa hanya ingin perlengkapan melukis” Bundanya kaget dan menggelengkan kepalanya.
“Astafiruglah, nak bunda tak mungkin bisa membelikan perlengkapan melukis yang semahal itu. Kamu tahu kan untuk makan saja kita sulit”
“Tapi, Rafa ingin menjadi pelukis”
Bunda hanya tersenyum melihat semangat Rafa. “Ya udah, Bun Rafa mau main dengan teman-teman yang lain” Rafa keluar dari rumah kecilnya dan menuju tanah lapang di dekat tempat pengumpulan sampah.

“Heiii, Fa apa yang sedang kau lakukan hanya duduk saja lebih baik kau ikutlah bermain bola bersama kami” ajak tipang teman sepermainan Rafa.
“Tak lah, hari ini rasanya aku tak ingin bermain bola”
“Lalu apa yang sedang kau lakukan? Berakhyal menjadi kaya itu percuma saja, kita hanya orang pinggiran ujung kota Jakarta”
“Tak aku hanya sedang menikmati lapangan ini serta kehidupan masyarakat di sini dan aku ingin mengambarnya dalam sebuah kertas”
Tipang hanya tertawa dan memanggil teman-teman yang lainnya. “Heiii, sini lah kalian semua” semua anak yang berdiri di tengah lapang berlari menuju Tipang dan Rafa.
“Lihat, Rafa mau menggambar tempat kumuh macam ini. Kau bodoh atau apa sih, tempat sekumuh ini ingin kau gambar? Sama saja gambarmu itu sampah”
Yang lain ikut tertawa dan Rafa hanya diam dan terus mengoreskan pensil pada selembar kertas. “Sudahlah, biarkan anak ini melakukan hal yang ia anggap baik sekarang kita lanjutkan saja bermain”
Ia menyelesaikan gambar yang memperlihatkan anak-anak yang sedang bermain bola di lapangan yang berdekatan dengan tempat pembuangan sampah.

Saat ia berjalan pulang, ia melihat tulisan selebaran yang tertempel pada tembok rumah Pak RT. “Wahh, ada lomba melukis” gumam Rafa dalam hatinya “Hadiahnya juga cukup besar ada uang tunai beserta peralatan melukis”
Rafa mencopot lembaran itu dan membawannya pulang ke rumah. Dia masuk dengan hati berbung-bunga. “Bun, lihat-lihat ada lomba melukis bertema lingkungan sekitar. Hadiahnya juga lumayan, Bun selain ada uang tunai serta penghargaan ada pula peralatan melukisnya. Boleh yaa, Bun aku ikut ini”
Bunda menatap Rafa dengan miris “Bunda memperbolehkannya tapi dari mana kamu mendapat alat untuk mewarnainnya bunda tak sanggup untuk membelikannya itu karena sangat mahal, kamu harus tau kita makan saja susah” Rafa langsung masuk kamar dengan perasaan kecewa.

“Rafa, cepat ke Masjid sebentar lagi sholat Maghrib”
Ia pun berangkat ke Masjid untuk menjalankan ibadah sholat maghrib. Di saat perjalanannya ia bertemu dengan Pak Arif seorang saudagar kaya di daerahnya.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, Pak”
“Wajahmu kenapa, Fa? Apa kamu punya masalah coba ceritakan pada saya”
“Tidak kok, saya tidak punya masalah”
“Hmmm, kalau begitu kenapa wajahmu seperti itu”
“Aku hanya ingin hadiah ulang tahun”
“Hadiah ulang tahun? Memang kapan kamu ulang tahun?”
“Besok”
“Memangnya apa yang kau inginkan sampai kamu seperti itu?”
“Aku meminta pada bunda, aku ingin hadiah perlengkapan melukis karena aku sangat ingin mengikuti lomba melukis agar aku jadi pelukis terkenal, pak” mendengar azan berkumandang ia menghentikan obrolannya dengan Pak Arif dan mengambil wudhu untuk menunaikan sholat maghrib.

Seusai sholat maghrib Pak Arif kembali menemui Rafa.
“Kenapa kamu ingin menjadi pelukis?”
“Aku tak sekolah apa yang bisa kubanggakan. Aku orang yang bodoh dalam ilmu tapi aku mau sukses dengan keterampilanku. Aku tak ingin bernasib sama seperti kedua orangtuaku”
“Ya, sudah lebih baik kamu sekarang pulang mungkin bunda menghawatirkanmu karena ini sudah hampir larut malam”
Rafa pun berpamitan pulang kepada Pak Arif.

Keesokan harinya Rafa, pergi mengumpulkan barang-barang plastik untuk dijual 15 ribu per karungnya. Rafa memang tak sekolah, karena ia harus membantu ibunya bekerja. Ibunya hanya seorang buruh cuci para tengkulak dan pembantu rumah tangga paruh waktu di rumah seorang pengusaha kaya. Saat ia melihat anak seusianya sekolah, ia berbanding terbalik. Ia harus menikmati masa kecilnya untuk membanting tulang. Kemana ayah Rafa? Ayah Rafa telah meninggal karena penyakit gagal ginjal kronis akibat sering merok*k dan berj*di.

“Rafa? Kamu sedang apa, nak?” tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya. Mobil Pak Arif.
“Saya sedang mengumpulkan barang bekas, pak”
“Kamu bisa tinggalkan itu semua dan naiklah ke mobil” Rafa terdiam dan bingung “Sudah letakkan saja karungmu di balik semak itu kemudian ikutlah dengan saya”

Rafa pun naik ke mobil dan diajak pergi oleh Pak Arif entah ke mana. Rafa baru pertama kali naik mobil dan melihat gedung-gedung besar di pusat kota. Setelah bermacet-macetan, mobil Pak Arif berhenti di sebuah tempat perbelanjaan.
“Pak, kita mau ngapain di sini?”
“Cepat turun dan ikutlah masuk ke dalam”
Pak Arif mengajaknya ke sebuah toko Buku. “Pilihlan peralatan melukis yang kau inginkan” perintah Pak Arif sontak membuat Rafa bingung.
“Untuk apa, pak”
“Hari ini kamu ulang tahun kan, anggap saja ini kado untuk kamu dan batu awal kamu jadi pelukis”
“Serius, bapak ingin membelikan saya perlengkapan melukis?”
“Untuk apa saya bohong. Segera kamu pilih yang ingin kau beli. Apapun itu dan belilah buku pelajaran untuk kamu sekolah karena saya ingin mensekolahkanmu”
“Tak lah, bapak sudah membelikan saya perlengkapan melukis saja saya sudah bersyukur jadi tak perlu lah bapak mensekolahkan saya”
“Saya ingin mengangkatmu menjadi anak angkat saya. Saya adalah seorang duda dan tak punya anak jadi saya ingin mengangkatmu sebagai anak angkat saya”
“Tapi, Pak saya harus izin kepada Bunda”
“Untuk apa kau izin, ibumu akan menikah dengan bapak, tinggal saya yang minta izin kepada kamu. Mau atau tidak kamu jadi anak saya?”
“Apaa? Bunda mau menikah dengan bapak? Bagaimana bisa?”
“Bundamu adalah teman saya sejak SMA, saya memang pernah menyukai bundamu namun terhalang izin bundamu sudah dijodohkan dengan ayahmu. Pada saat itu aku hanya anak kampung tempat kamu tinggal bersama ibumu dulu. Aku baru sadar ibumu yaitu temanku adalah pembantu di rumahku. Dan saat aku bertemu ibumu dia menceritakan bahwa suaminya telah meninggal dan mempunyai seorang anak putra”
“Sesempit itukah dunia ini? Lalu bagaimana bapak bisa sukses?”
“Apa yang kita tahu kehendak Tuhan? Saya bisa begini karena saya punya tekad dan berani untuk maju meski harus mulai dari tangan kosong. Intinya satu jangan pernah menyerah dan jangan pernah takut gagal”
“Aku senang bertemu dengan orang seperti bapak. Dan saya nggak masalah bunda menikah lagi selama bunda bahagia saya pun turut bahagia. Apalagi saya punya ayah baru yang baik dan pekerja keras seperti bapak”
“Sekarang ambil barang yang kau butuhkan. Lalu berjanjilah padaku di masa depan nanti kau akan sukses dengan bakat dan kepandaianmu itu”