Just Give Me A Reason

By On Thursday, March 16th, 2017 Categories : Cerita

Teringat masa SMP. Masa dimana aku tak pernah punya sahabat. Teman memang banyak, namun tak ada satupun dari mereka yang bisa disebut sahabat. Aku kadang penasaran bagaimana rasanya mempunyai sahabat itu? Tapi pasti mempunyai sahabat sangatlah menyenangkan. Di Masa SMA banyak siswa maupun siswi yang mulai jatuh cinta dan ingin punya pacar. Benar memang tak bisa dipungkiri aku pun pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, namun aku ingin masa SMA adalah masa dimana bersenang-senang dengan sahabat bukan dengan pacar.

Air mata kembali menetes. Dalam sujud terakhir shalat malamku. Aku meminta kepada allah agar Dia mengirimkan sahabat untukku, untuk setiap hari-hariku. Berdoa dengan sangat dalam, seakan berbicara padanya-Nya tentang keinginan kecilku itu. Aku pernah mendengar jika kita yakin bahwa allah akan mengabulkan doa kita, insyaallah allah akan mengabulakannya. Aku sangat yakin suatu hari nanti, setelah aku bersekolah di SMA Negeri 1 Talaga aku akan mendapatkan sahabat terbaik.

Aku terdampar di kelas asing, tanpa teman yang pernah satu sekolah. Walau begitu, aku punya banyak teman yang menyenangkan. Namun rasanya ada yang kurang dari kelasku ini, dari 37 siswa tak ada seorang pun yang lebih dekat denganku dari sekedar teman. Aku ingin bersahabat, sungguh. Walau semua orang menganggap remeh kata “bersahabat” itu tidak berlaku untukku, untuk seorang gadis yang belum pernah memiliki seorang sahabat. Apa Allah tak akan mengabulkan doaku? Tidak tidak Allah pasti mengabulkannyya, namun bukan sekarang. Apa bersahabat hanyalah akan menjadi mimpiku saja?

Aku sedang mendengarkan lagu menggunakan headset di balkon depan kelas. Tak sadar ada astri di sisiku, dia adalah teman sekelasku. Aku baru menyadarinya ketika headset sebelah kiriku terlepas dari telinga. Aku membuka headset kananku, dan mematikan lagu yang terputar di smartphoneku. “Sudah lama astri?” Tanyaku “tidak kok arda” jawabnya “arda, boleh aku bercerita?” Lanjutnya bertanya “tentu saja” jawabku tersenyum. Dia menceritakan soal laki-laki yang dia sukai, yang kebetulan laki-laki itu adalah kakak kelas yang satu ekstra denganku. Dia meminta bantuanku untuk mendekatkannya pada laki-laki itu, dia bernama kak rafid, dia duduk di bangku kelas 12. Aku pun menjawab “ya” untuk membantunya.

Aku berhasil mendekatkan astri dengan kak rafid, walau mereka belum menjadi pacar, tapi intinya aku telah berhasil membuat mereka dekat yang lebih dari sekedar teman. Semenjak saat itu, entah kenapa aku jadi dekat dengan astri. Kami selalu kemana-mana berdua, saling berbagi tentang cerita asmaraku dan asmaranya. Walau tak pernah ada kata “astri dan ardha bersahabat” dari mulut satu orang pun, namun sedikitnya aku sudah tau apa itu sahabat atau pun apa itu bersahabat. Sangat menyenangkan, saling berbagi rasa, saling membantu. Inilah yang aku harapkan, mempunyai seseorang sahabat. Entah dia hanya menganggapku sebagai teman, namun dalam hatiku aku telah menganggapnya sebagai seorang sahabat. Dia adalah orang asing pertama yang aku sayangi.

Madu menjadi racun, kebahagiaan hanya sekejap mata. Tanpa alasan astri seakan menjauhiku, walau kami masih suka mengobrol bersama namun dia mulai berubah tanpa sebab. Apa karena aku menyebalkan? Tapi tidak tidak, aku selalu menjaga sikap agar membuatnya tetap nyaman berada di dekatku. yang ia katakan hanya hal-hal umum saja, hanya tentang pelajaran. Berbeda dengan sebelumya ketika ia mengeluarkan keluh kesahnya, susah senangnya semuanya hanya padaku. Tapi tidak dengan sekarang. Kalau dia tak mau menjadi sahabatku, pergilah namun aku hanya ingin berkata “just give me a reason!” Alasan kenapa ia tak mau bersahabat denganku, hanya itu.

Seminggu penuh astri menjauhiku. Yap, dia hanya kuat seminggu tak berterus terang padaku. Setelah itu, dia kembali seperti biasanya tanpa sebab pula. Tak ingin bertanya kenapa alasan dia yang menjauhiku pada waktu itu, aku takut akan melukai hatinya. Aku takut dia akan pergi seperti sebelumnya, kembali menjauhiku jika aku sedikit saja menggoreskan luka ataupun kesal di hatinya. Kini, kesenanganku dalam bersahabat kembali mekar. Ketika kami duduk di balkon ruamahku, astri berkata “ardha, aku ingin selalu menjadi sahabatmu” “aku pun begitu astri” jawabku. Kami berpelukan saat itu. Baru kali ini dia berkata kalau aku sahabatnya, sungguh itu sangat membuatku amat senang. Lagu yang pas waktu kita berpelukan adalah lagu yang berjudul “kemesraan” yang dinyanyikan oleh iwan fals. Kemesraan ini janganlah cepat berlalu…

6 bulan berlalu, kini memasuki semester dua. Ada yang mulai berubah, astri kembali berubah namun kali ini ada alasannya. Tapi tetap saja dia Tak megatakan apapun tentang alasannya, aku ingin berkata kembali “just give me a reason!” Namun berbeda, kali ini aku meminta alasan kenapa dia mempunyai sahabat baru dan seakan menyampakanku begitu saja.

Bisa dikatakan persahabat kami mulai pudar, ada sahabat lain yang sudah menggantikan posisiku. Tapi setidaknya aku pernah bersahabat walau hanya setengah tahun. Walau sedih kehilangan sahabat, tapi aku pun senang pernah memiliki seorang sahabat. Tak ingin memintanya untuk kembali menjadi sahabatku karena bagiku sudah cukup hanya sekedar mempunyai kenangan tentang persahabatan, satu lagi keinginanku tentangnya sekedar berkata “just give me a reason!” Tentang persahabatan kami yang hanya bertahan sekejap.

25084677, 25084678, 25084679, 25084680, 25084681, 25084682, 25084683, 25084684, 25084685, 25084686, 25084687, 25084688, 25084689, 25084690, 25084691, 25084692, 25084693, 25084694, 25084695, 25084696, 25084697, 25084698, 25084699, 25084700, 25084701, 25084702, 25084703, 25084704, 25084705, 25084706, 25084707, 25084708, 25084709, 25084710, 25084711, 25084712, 25084713, 25084714, 25084715, 25084716