Julie

By On Wednesday, March 8th, 2017 Categories : Cerita

“eh.. liat deh. miss sinting itu mau ke sini.”
“ayo buruan kita cabut, ntar ketularan sinting kita.”
“iya. ayo cepetan.. cepetan..”

Belum sampai aku di bangku taman sekolah, gerombolan cewek itu buru-buru pergi meninggalkan bangku tempat mereka duduk. sebelumnya aku sempat melihat mereka berbisik-bisik tentang sesuatu. Dan aku yakin akulah topik yang mereka bicarakan.

Oh ya.. Perkenalkan namaku Julie. Aku sekolah di sma X di kudus. Gerombolan cewek yang menjauhiku tadi adalah sahabatku. ya, setidaknya jika mereka masih menganggapku sebagai sahabat. Belakangan ini orang-orang yang kukenal selalu menghindar dariku. setiap aku menghampiri, mereka buru-buru pergi menjauh dariku. Aku juga bingung mengapa mereka menjuluki aku miss sinting. padahal aku kan nggak gila?

Aku adalah anak ke tiga dari tiga bersaudara. Kakak pertamaku seorang perempuan namanya Anggita. Dia seorang wanita yang lembut namun tegas dalam bertindak. Dia seorang dokter yang bekerja di salah satu RS ternama di Kudus.
Kakak keduaku laki-laki namanya Anggara. Aku biasa memanggilnya kak ara. Dia adalah seorang guru mtk di sekolah sma, namun bukan di sekolahku. Kedua kakakku ini belum mau menikah, jadi kami masih tinggal bersama.

Ayahku seorang dosen di universitas X di kudus. Ibuku seorang ibu rumah tangga. Ibu yang selalu mengantarkan aku, kak anggi, dan kak ara berangkat, karena ayah juga harus berangkat kerja. Dan arah tempat kerja ayah tidak sama. Jadi ayah hanya berangkat sendirian dan kami diantar ibu kami. Kami sekeluarga hidup bahagia dan sejahtera. Hari-hari kami selalu terhiasi dengan keharmonisan keluarga.

Tapi, itu dulu. sekarang semuanya berubah. semenjak terjadi kecelakaan mobil yang dikendarai ibu bersama aku dan kedua kakakku saat akan berangkat.

FLASHBACK ON
Pagi itu seperti biasa, ibu akan mengantarkan aku, kak anggi, dan kak ara berangkat. Sedangkan ayah sudah berangkat dari pagi karena ada urusan penting.

“ayok kak cepetan.. ntar aku telat nih” ucapku pada kak ara.
“iya. ini kan juga baru jam 7.30.”
“iya sih kak. hehe..”

Setelah kami siap, ibu pun segera mengantarkan kami. Di dalam mobil kami selalu bercanda tawa. Seperti biasa ibu mengendarai mobil dengan kecepatan rendah. Ibu selalu berhati-hati dalam mengendarai. perjalanan berangkat berjalan lancar seperti biasa.

Sampai suatu ketika sebuah truk datang dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Truk tersebut oleng. mobil ibu berusaha menghindar.
“Aaaa…” teriak kami bersamaan.
Brraaakkk..

Aku mencoba membuka mata. Samar-samar terlihat sebuah ruangan yang putih. hidungku mencium bau obat obatan yang sangat menyengat. Aku berada di rumah sakit.

Aku melihat ayah sedang menangis di sampingku.
“Kamu tidak apa-apa nak?” tanya ayah khawatir.

Aku hanya mengangguk karena masih lemas. badanku terluka parah.
Aku melihat ibu, kak anggi dan kak ara berdiri di sampingku. Ternyata mereka juga selamat. Kulihat mereka bertiga tersenyum senang melihatku masih hidup. Aku pun turut tersenyum.

Setelah beberapa minggu di RS akhirnya aku diperbolehkan pulang.
Aku sangat senang karena tidak harus berurusan dengan obat-obatan lagi. Dan yang paling penting aku bisa berkumpul dengan keluargaku lagi.

Dalam perjalanan pulang dari RS, kami semua tidak banyak bicara. ketika aku mengobrol dengan kak anggi, kak anggi hanya tersenyum. Dan setiap saat aku mengobrol dengan ibu, kak anggi dan kak ara. ayah selalu menatapku dari kaca spion dengan tatapan kawatir. Setelah beberapa menit akhirnya kami tiba di rumah.

Setelah beberapa hari di rumah, aku merasa aneh. setiap hari aku sering pingsan tanpa sebab yang kuingat. Ayah dan ibu sekarang juga jarang sekali berkomunikasi. Setiap kali aku mengobrol dengan ibu dan kedua kakakku, ayah melihatku dengan kawatir. Apa mungkin ayah bertengkar dengan ibu karena telah membuatku sakit?.

Kebiasaan kami juga berubah. Biasanya aku berangkat diantar oleh ibu tapi sekarang ayah yang selalu mengantarku pergi. Kak anggi dan kak ara pun tak ketinggalan.

“ayah, kenapa sekarang ayah yang selalu mengantarku? biasanya kan ibu?” tanyaku heran.
“Ibumu tidak bisa menjagamu lagi nak.”
“Ayah bertengkar dengan ibu ya?”
Ayah hanya diam, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

Sesampainya di sekolah aku pun berpamitan pada ayah dan langsung turun. Aku bingung karena kedua kakakku juga ikut turun. Ayah langsung memutar arah laju mobil ayah tanpa mengantarkan kedua kakakku.

“Ayah juga marah pada kak anggi dan kak ara ya?” tanyaku
Kak anggi dan kak ara hanya tersenyum. kak anggi melambaikan tangan padaku. Dia lalu berangkat dengan berjalan kaki.
“kasihan sekali kak anggi. dia harus jalan kaki gara-gara aku” batinku sedih.

“oh ya. kak ara gak barengan sama kak anggi?” tanyaku pada kak ara karena arah kerja kak ara dan kak anggi sama.
“kak ara sekarang pindah ke sini untuk menjagamu sampai kamu benar-benar sembuh.” kira-kira itulah jawaban yang diucapkan kak ara padaku.
“yaahh.. jadi sering diawasi nih..” candaku pada kak ara.
“Kakak janji deh.. Setelah kamu sembuh, kakak tidak akan mengajar di sekolahmu lagi dik. kak anggi pun tidak perlu berjalan kaki lagi..” jawab kak ara. Aku hanya tersenyyum.

Di sekolah, ternyata aku tidak pernah diajar oleh kakakku. Mungkin kak ara mengajar di kelas lain. Jadi aku dan kak ara selalu ngobrol saat jam istirahat. Kami ngobrol dengan akrab karena kami memang kakak adik.
Setiap saat aku mengobrol dengan kak ara, semua orang selalu menatapku dengan tatapan aneh. Aku pun membiarkan dan cuek saja.

Setelah beberapa lama bel pulang pun berbunyi. Kami pun berhamburan keluar dengan riangnya. Kulihat dari gerbang sudah ada kak anggi yang sedang menungguku pulang. Kak ara pun keluar dari kantor dan menghampiri kami. Tak selang berapa lama, ayah pun datang menjemputku.

Di dalam mobil kami masih tidak banyak bicara. Setibanya di rumah, masih seperti hari sebelumnya. Kurasa ayah masih bertengkar dengan ibu karena mereka juga tidak pernah lagi berkomunikasi.
FLASHBACK OFF

Aku masih duduk sendiri di bangku taman sekolah. Hatiku masih sakit memikirkan sikap para sahabatku yang meninggalkanku tadi. kak ara tiba-tiba menghampiriku. Aku lalu mengobrol dengannya. Setiap kali aku mengobrol dengan kak ara, teman-teman menatapku aneh. Apakah mereka iri karena aku bisa akrab dengan guru?

Semakin hari teman-teman semakin menjauhiku. Aku selalu menjadi topik dalam obrolan mereka. Bahkan semua sahabatku selalu menjauh dariku.

“julie.. kamu sinting ya.. haha!!”
“iya. udah sinting tuh anak. ayo. aku gak mau temenan sama orang sinting”.

Itulah ejekan yang setiap hari selalu menemaniku saat di sekolah. Aku bingung, kenapa mereka menganggap aku sinting. Apakah karena aku terlalu akrab dengan guruku yaitu kak ara.
ataukah mereka mengira aku berpacaran dengan kak ara karena terlihat sangat akrab. Jadi mereka menganggapku sinting? ah.. aku bingung.. aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Di rumah pun sama sekali tak pernah kulihat ayah pernah berkomunikasi dengan ibu, kak anggi dan juga kak ara. Kenapa ayah harus berlama lama bertengkar dengan mereka?. Aku semakin bingung dan tertekan dengan keadaan ini.

“jangan kawatir julie. Semua masalah ini akan terjelaskan. Kau akan segera mengetahuinya.” ucap kak anggi
“karena luka di tubuhmu sudah sembuh, Kak ara juga akan segera pergi dari sekolahmu. Kamu nanti jangan sedih ya.. ibu, kak anggi, kak ara secepatnya akan segera pergi dari rumah.” jelas kak ara.
“julie jangan bandel ya. julie harus nurut sama ayah. ayah tau yang terbaik buat juli. Ibu, kak anggi dan kak ara sudah tidak bisa menjagamu lagi nak.” jelas ibu
“apa maksud ibu tidak bisa menjaga? ibu kan masih bisa merawat julie bu?” tanyaku keheranan
“tidak bisa nak, ibu, kak anggi dan juga kak ara harus segera pergi.” jelas ibu.
“kenapa kalian harus pergi? apa karena ayah tidak mau bicara dengan kalian? Saya akan membujuk ayah bu.. agar ayah mau baikan dengan ibu, kak anggi dan juga kak ara..” ucapku hampir menangis
Ibu, kak anggi dan kak ara hanya tersenyum tak menjawab sepatah katapun.

Tak selang berapa lama suara mobil ayah terdengar. Aku akan membujuk ayah agar bisa baikan lagi.

“Ibu, kak anggi dan kak ara tunggu sebentar ya. Aku akan membujuk ayah agar mau baikan lagi. Tunggu sebentar ya.” ucapku

Aku pun segera keluar menyusul ayah. Setiba diluar aku sangat terkejut. Ayah bersama dengan seorang wanita di sampingnya

“Siapa dia ayah!! apa dia yang membuat ayah tidak mau bicara sama ibu, kak anggi dan kak ara!!” teriakku pada ayah.
“Apa maksud kamu julie?” tanya ayah heran.
“Jadi ibu kak anggi dan kak ara akan pergi karena ayah usir? hah!!” tanyaku marah.
“Kenapa ayah tega sekali..!! ke.. naa.. pa.. yaah…!!!” bentakku sambil menangis.
“julie.. dengarkan ayah dulu. Ayah tidak mengusir ibu, kak anggi dan kak ara. tapi..” ucap ayah terpotong karena aku keburu menyahut.
“Alahh.. ayah pembohong. ayah jahat. ayah tidak sayang kami.. hiks..”
“julie. dengarkan ayah dulu..”
“tidak. ayah pembohong. aku akan pergi dengan ibu saja..!!”
“Apa? ibu?” ucap ayah seperti keheranan.
“iya. ibu lebih menyayangi kami. tidak seperti ayah.. hiks..”
“julie dengarkan dulu penjelasan ayah…”
“tidaakkk..!!!” teriakku
Aku menangis sesenggukan.

“julie.. ayah mohon dengarkan ayah dulu.”
Ayah memegangiku tidak membiarkanku pergi.
“tolong dengarkan dulu penjelasan ayah” pinta ayah padaku.
Aku hanya diam. menunggu penjelasan ayah.
“ibu, kak anggi dan kak ara. mereka sudah nggak ada!! Mereka sudah meninggal nak.”
“apa maksud ayah!! aku masih sering bicara dengan mereka…!!!”
“kamu salah nak. mereka semua telah tiada.”
“enggak.. nggak mungkin.. mereka sekarang masih ada di dalam rumah. menunggu ayah agar mau bicara dengan mereka. kalo ayah tak percaya lihatlah ke dalam rumah. pasti semua sedang menunggu ayah.”

Aku pun berlari ke rumah. mencari ibu. tapi telah kucari ke setiap sudut rumah ibu dan kakak tidak ada.

“nak. percayalah pada ayah. ibu, kak anggi dan kak ara telah tiada. mereka meninggal di tkp saat kecelakaan mobil yang dulu terjadi nak. hanya kamu yang selamat. ayah sudah sering memberitahumu tapi kamu selalu pingsan dan lupa setelah mendengarnya” jelas ayah
“nggak!! nggak mungkin. ibu dan kakak masih hidup. mereka tadi sedang menungguku di dalam. ibuu… kakaak… kalian di mana… jangan ngumpet dong buu…” ucap julie
“ahh.. pasti ibu, kak anggi dan kak ara mau maen petak umpet ya…” teriak julie.

“maaf pak. bisa saya tangani sekarang julie nya?” tanya perempuan tadi yang berada di samping sang ayah. ternyata wanita tadi adalah dokter kejiwaannya julie.

Semenjak peristiwa kecelakaan yang menimpanya terjadi, julie terlihat sering bicara sendiri. teman-teman di sekolahnya sering melihat julie ngobrol sendirian di bangku taman sekolahnya.

“Silahkan dokter.. anda boleh memberi julie obat penenang sekarang.. saya tidak tahu harus berbuat apa lagi dok..” ucap sang ayah.