Jangan Menggantikan Kehadiranmu Dengan Gadget Putra-Putrimu

By On Tuesday, March 21st, 2017 Categories : Cerita
Di era multimedia digital, teknologi informasi dan telekomunikasi yang marak diterapkan di kehidupan nyata maupun di dunia maya, membuat tugas orang tua bukannya semakin gampang, justru semakin berlipat ganda. Apabila dikaitkan dengan tugas mengasuh, membesarkan dan mendidik anak – anaknya agar menjadi manusia dewasa yang seutuhnya. Waktu yang terbatas dengan tugas dan kewajiban yang seolah tak pernah tuntas, dipersempit lagi dengan keharusan untuk memonitor arus informasi dari berbagai media yang setiap saat menyerbu anak – anaknya dari berbagai penjuru.

Terkadang karena begitu derasnya arus informasi yang memasuki alam pikiran anak – anaknya, orang tua harus ternganga – nganga tak percaya saat menyaksikannya, lalu tunggang langgang kewalahan mencoba mengejar ketinggalannya. Bahkan acapkali kecolongan, karena informasi yang didapatkan anak – anaknya dari dunia di luar sana, mengandung dampak yang melekat dan pengaruh yang kuat dalam merubah cara berpikir dan berperilaku anak – anaknya.

Bak serbuan para pembajak, perompak atau sejenisnya, informasi beserta pengaruhnya hadir silih berganti setiap hari. Tanpa filter atau penyaring, informasi akan tercurah bebas masuk ke dalam pikiran anak – anak dan kemudian mengendap lekat sulit untuk dihapus sekalipun disikat dengan kuat. Tanpa penjelasan, penjernihan dan pencerahan, informasi dari berbagai media akan mengeruhkan jiwa bening anak – anak yang masih murni bak air jernih yang belum ternodai.

Foto: copyrigyht Unpopulart / Model: Belinda dan Noel

Adalah beragam gadget berteknologi tinggi yang hadir memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk membuka jendela dunia, melongok dan melihat warna – warni dunia yang terkadang tak seindah warna aslinya atau terkadang justru menghadirkan horor dan mimpi buruk akan sisi gelap yang lain dari diri manusia. Adalah dunia maya dan jejaring sosial yang terkadang justru berisi ujaran – ujaran, tayangan – tayangan yang anti sosial dan malah sengaja menyesatkan lalu menjerumuskan manusia ke jurang kehancuran yang terjal. Merekalah para ‘perompak’ dan ‘pembajak’ jiwa – jiwa anak – anak, yang mengambil keseluruhan demi keuntungan sendiri tanpa sedikitpun empati. Yang penting traffic tinggi, pengakses banyak dan syukur – syukur kemudian selalu diikuti, selalu dituruti. Jadilah anak – anak yang masih belia menjadi pengekor, pengikut atau ‘copy-cat’ yang loyal melebihi loyalitasnya kepada orang tua sendiri. Online games, pornografi, prostitusi, judi, fraud, paham dan aliran sesat, oportunis, hedonis dan banyak lagi jenis – jenis perompak dan pembajak yang berkeliaran mencari jiwa – jiwa untuk dirampas, tak peduli jiwa anak – anak. Jadilah anak – anak di masa belianya terbajak, terrampok dan terompak dari rumahnya sendiri. Rumah yang kebetulan hanya memiliki seorang orang tua yang sedang kebingungan mengatur waktu dalam tugas yang dilakoninya sendiri.

SPINMOTION (Single Parents Indonesia in Motion) merasa perlu untuk mengingatkan kepada para orang tua pada umumnya, untuk tak lengah dan selalu waspada mendampingi dan mengawal anak – anaknya setiap hari. Persempit peluang informasi sesat dan menyesatkan dengan berbagai cara dan antisipasi. Mainkan peran investigasi, persuasi dan negosiasi masalah bak seorang polisi. Juga tetap jadikian diri di mata anak – anak sebagai tujuan utama pertanyaan, sumber jawaban, tempat untuk mengklarifikasi dan sumber inspirasi. Jangan mau peran anda sebagai panutan selalu digantikan dan dikalahkan oleh ‘search engine’yang belum tentu tepat dan bijak dalam memberikan informasi.  Dan jangan mudah terlena oleh ‘air yang tenang di permukaan’, yang ditampilkan oleh anak – anak saat ber’asyik – masyuk’ dengan dunianya kecilnya bersama gadgetnya sendiri – sendiri. Justru kemungkinan besar di dasarnya, sedang bergejolak pusaran air yang sedang menunggu ditumpahkan. Dilampiaskan.

Walau begitu berat tugas yang harus diemban setiap harinya, bukan berarti harus menyerah kalah pada lelah, sibuk dan repot serta menyerahkan tugas mendidik dan mendewasakan anak kepada dunia maya dan jejaring sosial serta teknologi informasi. Dimana para ‘nabi’, para ‘dewa’ bercampur aduk dengan para perompak, pembajak dan pencuri jiwa – jiwa manusia, khususnya jiwa anak – anak. Kuncinya pada atensi dan empati. Selalu penuh perhatian memandang manusia sebagai manusia lalu memanusiakan mereka seolah anda ingin juga diperlakukan sedemikian rupa. Dan walaupun masih anak – anak, merekapun juga manusia seperti kita.

I am not saying that it’s gonna be easy. But difficulty is just a matter of ‘want’ or ‘don’t want’ never ‘can’ or ‘can’t’.