Jangan Menangis Ukhti

By On Saturday, March 11th, 2017 Categories : Cerita

Bukan saatnya aku mengeluh, tapi saatnya aku merubah duniaku. Pantaskah aku menggapai angan ketaatan seorang hamba muslimah yang pernah aku cela. Terdiam dan terus memikirkan bagaimana jalanku kedepan nanti, seperti orang-orang muslimah di luar sana.

Pohon rindang terus melewatiku begitu saja saat aku duduk di bangku kereta gerbong lima. Tatapanku hanya menuju kawanku yang sudah lama berada satu bangku tepat di depanku, hati yang dingin dan ketenangan kurasa. Entah apa yang sedang aku lihat, hanya kedamaiannya yang aku irikan pada kawanku itu.

Satu jam lebih, aku duduk di bangku kereta dengan memandang sisi kiri yang penuh dengan pemandangan. Mentari mulai menyebar sinarnya melalui jendela kaca yang mengarah ke tanganku yang dingin. “Aduh panas..” Teriakan kecilku menggugah kawanku yang tertidur. “Ada apa sin?” tanya fafa dengan penuh kekhawatiran dengan mata merah yang terkantuk. “Panas kak, ini kena sinar.” ku menjawab sambil mengelus tangan kiriku. “Ah kau.. aku kira apa” katanya sambil melanjutkan tidurnya.

Lamanya di dalam kereta saat itu membuat kepalaku menjadi berat. Terpikir apa yang terjadi nanti, jika sampai aku sakit. “Jangan.. jangan sakit ya Alloh” perkataan dalam hatiku. Aku melihat jam tanganku yang menandai pukul 09:45, sebentar lagi kereta akan berhenti dan mengantarkanku pada Stasiun yang aku tuju, ya Stasiun Tugu sebagai stasiun kereta ini berhenti. Pukul 09:54 Sampailah kereta ini pada stasiun tujuanku. Turun dan berjalan mengarah pintu ke luar bersama 3 kawanku.

Berjalan, mencari becak, sampai menaiki becak berkeliling mencari buku yang kita cari di kota Jogja itu. Rimbunan pohon saat itu menjadi penonton bagiku yang sedang melangkah dengan penuh keyakinan. Sorak sorai orang dipasar, lalu lalang orang berjalan. Aku melihat kesibukan kota Jogja yang begitu nyata saat aku pertama menginjak turun dari becak.

Aku melihat jam mulai menunjukkan pukul 12:00, waktunya aku dan kawanku menuju masid untuk mempersiapkan shalat dhuhur. Shalat di masjid dekat Pasar Bring Harjo. Mulai dari sinilah awal aku banyak bertanya dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

“Mbak, tolong dirapatkan shafnya ya, mba’e ke depan aja jangan di pinggir ini toh. Ini buat jalan jangan dirapatkan dulu.” Kata si ibu yang sepertinya orang jogja asli. Pikirku kenapa hanya aku, kenapa ibu tadi tidak menegur ibu-ibu yang lain yang berbaris di shaf belakang persis tanpa merapatkan dan mengisi shaf depan. Aku sedikit kesal.
“Oh ya ibu” kataku sambil menarik sajadah dan pergi ke shaf paling belakang.
“Mbak’e, mbak’e sini jangan ke belakang.” tegas ibu sambil berteriak kecil memanggilku.
“Ah bodoh amat” dalam hatiku berkata dan lanjut berjalan menuju shaf paling belakang.

Dari kejauhan aku melihat dan memperhatikan ibu tadi, hingga qamat terlantunkan oleh muadzin Masjid. Kejadian yang tak pernah jarang kuperhatikan adalah melihat shaf. ”Mengapa ibu tadi sibuk mengurus shaf orang lain yang berbaris di belakang sedangkan dirinya tidak menempatkan posisinya langsung untuk shalat hingga qamat dilantunkan” kataku sambil bertanya-tanya dalam hati. Sesaat setelah shalat, aku duduk menunggu tiga kawanku menemuiku di tangga depan masjid. Aku turun lalu duduk di tangga masjid depan. terpikirkan dengan perkataan ibu tadi.

“Eh kak, tadi kenapa ya ada ibu-ibu yang sibuk mengurus shaft orang, padahal dirinya malah belum nyari shaft yang di depan” tanyaku kepada ira salah satu kawanku.
”Seharusnya tadi kamu ke depan, bukan malah ke belakang Encun..” ledeknya sambil nyubit pipiku yang kempot.
“Lah kok kamu lihat aku? iya kan aku nggak ada temannya di depan, kan nggak salah ya toh?” memandang dengan penuh keyakinan.
“Hahha encun.. dasar baru ke jogja langsung buat malu.” kata ines.
“Lagian.. aneh juga kenapa si ibu itu malah sibuk ngurus shaft padahal udah qamat juga dirinya belum siap nyari shaf?!” kataku sinis.
“Sudahlah.. yuk kemana, makan atau langsung ke stasiun lagi?” kata ines, meredamkam emosiku.
“Cuss cari makan.” kataku yang sedari tadi memang menahan lapar.

Aku berjalan meniggalkan masijd, melangkah lebih jauh dari masjid. Melewati pasar yang ramai dengan orang berjualan, pembeli yang mondar-mandir dari seberang jalan menuju pasar dan ada pula yang hanya melihat-lihat dagangan. Semua berjalan begitu cepat. Banyak sekali warung makan yang terletak di bagian tempat parkir. Aku memilih masakan padang bersama kawan-kawan.

Setelah makan, aku dan kawanku menuju Stasiun Tugu kembali. Mencari tiket hingga menunggu kasir dibuka. Waktu yang aku pakai menunggu tiket sekitar dua jam. Saat itu pulalah aku merasa ada yang kurang dalam diriku. Lalu lalang orang berpakaian terbuka, berpakaian hijab tetapi masih seksi. Sedangkan aku yang berhijab saja masih seperti ini. “Apa yang harus aku pelajari dari semua ini, Ya Alloh” hatiku tak menentu saat itu.

Aku berjalan memasuki Stasiun Tugu, sambil menunggu pemberangkatan, aku dan ira menuju mushola di stasiun itu. Aku shalat dan setelah itu aku menuju kamar mandi. Aku bersama ines menuju Kamar mandi untuk berdandan. Tapi entahlah, aku menghiasi wajahku tapi aku melihat wajahku ini tetap saja ada yang kurang. “Bukan malah tambah cantik kok malah menor gak karuan, Nggak nyaman dan nggak perfect.” gerutu dalam hati. Terpikir kembali olehku, apa yang sebenarnya yang harus aku ubah. Kebimbangan saat itu, membuatku merasa sedih yang mendalam. Tak kuasa hati ini ternyata mengeluarkan air mata juga.

Di deretan bangku-bangku pinggiran ruang tunggu, aku melihat ada sebuah keluarga yang benar-benar bisa membuatku memberikan senyuman. “Ibu yang bercadar, suami yang berjenggot, tapiii aku takut” saat memandang mereka yang asyik bercengkrama dengan anak balita mereka. Ah sudahlah.. Keluarga itu sangatlah ramah, dengan pakaian mereka yang serba menutup aurat terkecuali suaminya. Aku terlena melihat kegembiraan yang dibawakan mereka, tanpa tersadari aku mengingat kembali banyaknya pertanyaan yang harus aku tanyakan.

“Ira, mengapa ya? Aku melihat mereka damai, tenang, dan sepertinya tanpa ada beban?” tanyaku
“Alhamdulillah mungkin saja. Tapi kita tidak tahu, hanya mereka yang bisa memposisikan bagaimana mereka membawakan kebahagiaan itu di depan umum.” jawabnya
“Oh ya ra, aku merasa banyak sekali beban, banyak sekali dosa yang aku perbuat. Terutama pada orangtuaku. Bukan hanya saat ini, tapi dahulu juga. Bagaimana aku bisa diampuni segala dosaku. Sedangkan aku masih seperti ini. Terlalu berat untukku melangkah karena terpikir dosa yang pernah aku lakukan, tetapi aku pun tak bisa melihat masa dimana aku terlalu banyak menyakiti orang dan diriku sendiri!” tak kuasa kataku keluar hingga berlinang air mata.
“Semua dosa dapat dikabulkan asal kau tidak mengulanginya kembali. Dan teruslah berbuat baik selagi kau mempunyai kesempatan hidup yang diberikan oleh Alloh.” Kata ira
“Lalu apa yang harus aku ubah?”
“Perbaiki sholatmu, lalu kau perbaiki akhlakmu.” katanya dengan rasa tenang tapi mengena dalam hati.
“Ira…” tangisku membelah rasa keheningan bersamanya. Menangis tersedu, menangis dalam pelukan, dan menangis menyimpan luka.
Tak kuasa air mata terus mengalir. Tak kuhiraukan orang-orang di depan, dan di sampingku. Aku yang hina, aku yang berdusta pada agama, dan aku yang menentang kuasa ilahi. Saat ini, sedang menangis tak terhenti.

“Menangislah.. aku tahu apa yang kau pikirkan.” Tangan yang lembut mengelus pundakku.
“Aku.. aku minta maaf, aku telah mengatakan ini padamu. Aku malu.” tangisku
“Sudahlah.. tidak apa, kau berhak untuk itu. Sekarang berubahlah untuk kehidupanmu, masa depanmu, dan orangtuamu.” Sembur senyum yang menentramkan
“Iya ra,” jawab mantap
“Aku harus berubah, aku tak mau hidup seperti ini, dan aku yakin Alloh akan mengampuniku.”
“Pasti” jawabnya

Tak lama, kereta pun datang. Ku menaiki gerbong yang tertuju di depanku. Duduk dan menunggu kereta ini berhenti di stasiun tujuan pulangku. Kerudung yang aku pakai sekarang adalah kerudung saksi airmata tumpah di depanmu, Ira. Sekarang, aku mulai belajar lebih menutup aurat dari bayanganku. Nyaman untukku saat ini.