Indahnya Memaafkan

By On Friday, March 3rd, 2017 Categories : Cerita

Aku masuk ke kelas yang hanya ada Reyhand. Sekolah sudah sepi, kurasa semua murid yang beragama Kristen sudah memulai ibadah. Seperti biasa Reyhand mana pernah ikut beribadah setiap hari jum’at, kelihatan dengan sifat dia selama ini. Kucoba untuk cepat mengambil Alkitab yang entah kutaruh di sisi tas sebelah mana. “Ayolah, Alkitab mana dirimu bisa mati aku digampar pak Doni kalu gak bawa Alkitab” kataku pada diri sendiri.

Tiba-tiba cipratan air membasahi baju melayuku, sudah pasti ini ulah si Reyhand yang berada pas di belakangku. Benar-benar anak ini mau cari masalah samaku.
“Hey Reyhand, Cari mati ko ya!” kataku kasar
“Yaelah, Yosi, Yosi, mau ibadah tapi ngomong jorok. Kurang memalukan apa lagi itu” katanya santai seperti orang sok baik
“Masih baik aku niat ibadah daripada kau gak pernah kuliat ibadah, sok suci lagi, sifat pun dah sama kayak iblis” bentakku
Aku mencoba berjalan cepat dengan pakaian melayu yang menyebalkan ini, setelah menemukan Alkitab aku mencoba keluar dari kelas tapi Reyhand menghalangiku di pintu
“Ngapain ko ikut ibadah, gak guna buat orang kayak kau, ngerti kau Yos?”
“Heh, dasar iblis ngehasut biar gak ibadah. Maaf lah ya aku masih ingat Tuhan” kataku mendorongnya
Dia menyandungku hingga aku terjatuh ke kubangan air yang jorok, kini aku sudah dibasahi oleh air yang jorok. Aku menamparnya, malah kurasa itu kurang untuk orang kurang ajar seperti dia.

Aku datang lama ke tempat ibadah, hanya aku yang terlambat ibadah saat ini. Dengan malunya aku duduk di luar, mengenaskannya, aku dihampiri oleh Pak Doni
“Kamu kenapa terlambat” katanya membuatku keringat dingin, aku sudah mempersiapkan diri untuk di tampar saat ini
“Tadi terlambat bangun pak” jawabku pelan
Bapak itu lalu menamparku, itu hal yang biasa untuk murid yang terlambat sepertiku. Bapak itu menyuruhku mengutip sampah yang ada di sekitar kelas tempat ibadah kami walau dengan keadaan hujan begini. Lebih malunya lagi, aku diperhatikan oleh Reyhand dari kelas, kurasa ia sudah memperhatikan aku sejak ditampar pak Doni. Aku hanya merunduk malu, mungkin tamparan pak Doni tadi setimpal dengan tamparan yang kuberi pada Reyhand.

Setelah memastikan tak ada sampah lagi aku duduk kembali di luar kelas ibadah, aku memang masih mendengar suara ibadah itu. Kudengar Pak Doni sedang berkhotbah tentang buah-buah roh, aku merenungkan khotbah pak Doni. Sejenak aku berpikir tentang sikapku pada Reyhand, aku tidak menerapkan buah-buah roh padanya. Aku tidak mengasihi dia, aku tidak pernah damai dengannya, aku gak bersikap baik apalagi sabar, aku juga tidak lemah lembut, aku juga tidak bisa menguasai diriku. Aku merenungkannya sambil memerhatikan Reyhand yang kulihat sedang di dalam kelas, sepertinya dia juga melihatku. Baiklah, sekarang aku mau bertekad untuk berubah, aku gak akan bersifat seperti itu lagi pada Reyhand. Tuhan, Bantu aku. Aku tau ini sangat sulit, apalagi menanggapi sikap Reyhand yang seperti itu.

Ibadah sudah selesai, aku ke kelas dengan wajah yang lesu. Aku melihat Reyhand yang dari tadi bingung melihatku, aku tau ini sikapku yang berbeda dari biasanya.

Beberapa hari berlalu
‘Yess aku bisa berubah’ kataku dalam hati setelah melihat sikap Reyhand akhir-akhir ini yang kebingungan dan sepertinya merasa bersalah.

“Yosi, kau marah ya samaku?” katanya tiba-tiba mengejutkanku
Aku hanya diam, aku harus ingat untuk menguasai diriku.
“Aku minta maaf ya Yos? Aku dah buatmu ditampar pak Doni”
“Akulah yang harusnya minta maaf Rey, aku dah kurang ajar kali nampar kau waktu itu” kataku seperti orang baik
“Akulah yang kurang ajar dah buat kau marah-marah waktu itu. aku nyesal kali lho Yos, aku takut kali ko gak mau ampuni aku karena waktu itu”
“Yaelah, Rey masak aku nggak mau ampuni kau. emang aku siapa? Tuhan Yesus aja mau mengampuni masak aku enggak” ucapku sambil menyengir
“Makasih ya Yos”

Selesai