In My Eyes

By On Friday, March 17th, 2017 Categories : Cerita

Di mataku? Apa yang ada di mataku? Pupil, kornea mata, lensa, iris, retina dan bagian-bagian mata lainnya. Tapi ada yang spesial dengan mataku. Sebelumnya perkenalkan aku Putri Callista. Seseorang yang tampak biasa saja tetapi sebenarnya luar biasa. Sejak kecil aku bisa melihat hantu. Yah, mungkin hanya sekelebat bayangan putih saja. Tapi semakin aku dewasa, dan menginjak usia 14 tahun. Aku bisa melihat hal yang lebih dari bayangan putih saja.

Miris memang menyaksikan bagaimana kondisi orang yang sudah meninggal dan menjadi arwah. Tapi aku berbeda. Aku suka dengan diriku apa adanya. Tak jarang aku berteman dengan hantu, atau bermain bersama. Apakah kalian berfikir semua hantu menyeramkan?. Menurutku tidak. Mereka asyik diajak curhat atau bermain. Sama halnya dengan sahabatku Clara dan Rio. Tidak, tidak, mereka bukan manusia. Ya mungkin itu dulu. Sebelum mereka menjadi almarhum.

Clara dan Rio berbeda dengan hantu pada umumnya. Biasanya hantu itu berwajah buruk, penuh dengan darah dan luka. Tapi Clara dan Rio tidak. Clara dengan usia lebih muda dariku tampak cantik dengan gaun merahnya. Sedangkan Rio, hantu aneh menyebalkan yang dengan terpaksa kuakui dia tampan. Dia seumuran denganku. Kalian tahu apa yang menakjubkan? Rio bisa berubah menjadi tikus. Aku tidak tahu kenapa. Dia tidak pernah memberi tahukan alasannya.

Pagi ini, aku melakukan aktivitas seperti biasa. Seperti anak di bumi pada umumnya. Mandi, sarapan, dan berangkat ke sekolah. Benar-benar dihafal di luar kepala. Bahkan lebih mudah dihafal dari pada rumus matematika. Aku merenggangkan tubuhku. Menutup mataku menghirup udara sebanyak mungkin. Sebelumnya kaca jendela sudah kubuka. Aku membuka mataku dan mendapati seekor tikus putih berada tepat di atas kakiku. “Gyaaaa!!” Jeritku kencang. Aku langsung menendang meja agar tikus itu pergi. “Akhh! Aduh! Aduh! Aduh!” Aku langsung memegangi kakiku yang memerah akibat ulahku sendiri. Seperti film Cinderella saat tikus diubah oleh ibu peri menjadi kuda yang kemudian membawa Cinderella ke istana pangeran untuk berdansa. Tikus itu berubah menjadi seorang hantu yang tampan. Apa? Tampan? Ukh kutarik kembali kata-kata itu.

“Bisakah kamu tidak muncul dengan wujud tikus?” Ketusku. Aku duduk di atas kasur dan mengelus-elus kakiku. Rio membungkam mulutnya. Wajahnya tampak memerah. Kurasa dia akan tertawa. “Tertawa saja! Puas kamu kan?” Bentakku. “Hmph… hahahaha, maaf-maaf, lagipula kamu lucu jika seperti itu,” Tawa Rio. Aku mengerucutkan bibir. “Ada apa ini?” Sebuah suara di belakangku kembali mengagetkanku. “Anak ayam makan kodok!” Latahku. Hening sesaat, sedetik kemudian kamarku penuh dengan suara tawa. “Hahaha apa? Anak ayam makan kodok? Hahahaha,” Rio benar-benar puas menertawaiku. Wajahku merah padam menahan malu. “Aduh kamu ini Lista, lucu sekali!” Clara juga ikut tertawa. “Sudah ah! Aku mau pergi mandi! Kalian pergilah dari kamarku. Sebelum aku terkena teriakkan terompet tahun baru,” Ucapku dengan nada tertahan sambil mengambil handuk lalu lari ke kamar mandi. Tetapi samar-samar masih kudengar suara tawa. Dasar mereka ini. Walaupun hantu tetap saja menyebalkan.

Tuk! Tuk! Tuk!
Aku menghentak-hentakkan ujung sepatuku. “Aku berangkat bu,” ucapku sambil mencium tangan Ibu. “Hati-hati nak,” ucap Ibu. Aku membalikkan badan hendak pergi. “Hei Lista, jangan lupa kodoknya selamatkan biar gak dimakan anak ayam!” Teriak sebuah suara bersamaan dengan suara cekikikan. Aku membalikkan badan dan mendapati Rio dan Clara di belakang tubuh Ibu. Ibu memandangku heran. “Diam kamu!” Bentakku. Ibu tersentak dan menatapku tajam. Aku menutup mulut. “Kamu? Siapa? Ibu? Kamu berani membentak Ibu?” Ibu langsung menjewerku. Aduh aku lupa Ibu tidak tahu aku mempunyai indra keenam. “Aduh, bu..bukan Ibu bu! Sungguh, tadi ada cicak berantem!” Ucapku sambil meringis. Ibu melepaskan telingaku lalu menghela nafas. Aku mengelus-elus telingaku. “Sejak kapan kamu bisa tahu kalau cicak sedang berkelahi?” Tanya Ibu yang membuat Rio dan Clara semakin tertawa terpingkal-pingkal. “Barusan bu, kalau begitu aku pergi dulu bu,” aku buru-buru keluar rumah sebelum telingaku tambah lebar seperti telinga gajah.

Di sekolah seperti biasa, saat sampai aku disapa oleh banyak orang. Hah, aku bosan mengatakannya. Disapa oleh para hantu. “Halo Lista,” mereka menyapaku dengan ramah. Seolah-olah aku juga hantu. Aku hanya tersenyum. Sahabatku, Wendy mengerutkan kening. Wendy itu manusia ya. Jangan mengira aku hanya berteman dengan hantu saja. Aku juga berteman dengan manusia. “Kamu tersenyum pada siapa sih Lis?” Tanya Wendy sambil celingak-celinguk. Aku membungkam mulut menahan tawa. “Cicak terbang,” jawabku sesantai mungkin. “Haaah?” Mulut Wendy membuka lebar. “Emang ada ya cicak bisa terbang?” Tanya Wendy. Aku mengangkat bahu, “Ada aja, kalau cicaknya punya sayap pasti bisa hahaha,” Aku tertawa puas. “Dasar jahill!” Jerit Wendy. Aku langsung lari sebelum Wendy menjitakku. Aku benar-benar senang hari ini.

Di mataku ini, aku bisa melihat dua jenis makhluk. Hantu dan manusia. Berteman dengan dua jenis makhluk. Semuanya tidak terlalu buruk. Kecuali jika kalian bertemu dengan kuntilanak atau pocong hihihihi.

Baca Juga

Prilly Latuconsina Datang ke Premiere Film Danur, Netizen Malah Salfok dengan Dadanya

Seramnya Film Horor Danur 2017

Ngerinya Serangan Terror di Westminster

Bahaya Skinny Jeans Yang Wajib Kamu Tau!!

Penampakan Wajah Seram di Bendungan

Article / informasi tentang In My Eyes yang disadur dari berbagai sumber yang ada di internet. Semoga informasi mengenai In My Eyes yang sedikit ini dapat berguna dan bermanfaat untuk Anda khususnya, dan untuk semua pembaca yang tengah mencari pembahasan tentang In My Eyes pada umumnya.