I’m Not Your Choice

By On Sunday, March 12th, 2017 Categories : Cerita

Namaku Aldy, aku memiliki masa kuliah yang sangat membosankan, karena rutinitas yang selalu begitu-begitu saja setiap harinya. Namun aku bertemu dengan mahasiswa transferan yang menarik perhatianku.

Setelah beberapa kali Masuk kuliah di kelas yang sama, aku pun memberanikan diri untuk berkenlan dengannya.

“Hei Mbak, nama kamu Rin ya?” Aku langsung menyebut namanya, karena tahu dari teman-teman.
“Eh Iya, masnya siapa ya?”
“Perkenalkan, Aku Aldy yang biasanya satu kelas sama mbaknya,”
“Oh iya, maaf mas saya gak terlalu memperhatikan,”
“Oh gak papa kok mbak,”

Awal aku mengenalnya aku belum ingin mendapatkan hatinya, walaupun aku sadar bahwa hati ini mulai tergetar padanya dengan sikapnya yang friendly.

Aku pun mencoba untuk mendekatinya, tapi banyak yang bilang kalau aku dan dia tidak perlu pendekatan yang lebih jauh, karena aku dan dia memiliki tembok penghalang yang begitu kuat dan tinggi.

Aku bertanya-tanya dalam hati, apa benar dia berbeda keyakinan denganmu? Namun aku tak mempedulikan hal itu. Suatu ketika, aku memiliki satu kesempatan yang membuatku bisa berbincang lebih lama dengannya.

“Hei pesek, kamu kuliah apa malam ini?” Tanyaku.
“Kuliahnya Pak Sam,”
“Lho kok belum Masuk?”
“Iya nih tumben dosennya belum datang,” jawabnya.
“Mau aku temani?”
“Jangan ah, masa kamu bolos kelas,”
“Ya sudah aku masuk duluan ya,”

Lalu aku masuk kelas, karena aku memang ada kuliah di jam yang sama dengannya. Kulihat dia sendirian duduk di bangku panjang di depan kelasku saat masuk kelas. Dia terlihat begitu manis dengan wajah lelah sepulang kerja dan langsung kuliah.

Aku hanya bisa mengaguminya saja dari jauh, karena perbedaan keyakinan yang membuatku merasa tidak mampu menggapainya. Bahkan aku sempat bercerita pada temannya yang terlihat cukup dekat dengannya bahwa aku begitu suka dengan Rin.

“Riz, aku suka dengan Rin, apa kau bisa membantuku?” Ucapku memelas.
“Gampanglah kalau soal itu,” jawabnya santai.

Aku sadar betapa pecundangnya diriku sehingga meminta bantuan pada temannya. Namun bantuan itu pun tak kunjung datang hingga aku pun memendam perasaanku pada Rin sampai hari kelulusanku tiba.

Kontak bbm milik Rin masih tetap berada di smartphoneku, setiap hari aku hanya bisa memandangi kontaknya layaknya stalker yang kurang kerjaan. Di sela hariku yang sibuk aku selalu menyempatkan diriku untuk say hello padanya, walaupun hanya via bbm.

Suatu ketika, saat kuhampir memiliki perasaan pada cewek lain, tiba-tiba sontak aku melihat display picture bbm milik Rin yang benar-benar membuatku terkejut. Aku pun memberanikan diriku kembali untuk menulis pesan di status bbmnya.

“Cantiknya kalau lagi memakai kerudung” tulisku pada kolom komentar di status bbmnya.
“Alhamdulillah, oh iya aku sekarang sudah menjadi mualaf loo!!!” Jawabnya di bbm.
“Wah Alhamdulillah, kok tiba-tiba jadi mualaf? Kemauan sendiri atau ikut suami?”
“Ini murni kemauanku sendiri, belum nikah kali’ akunya,” balasnya.
“Oh begitu, cocok nie jadi calon pendampingku, hahaha,” jawabku dengan maksud bercanda.

Hatiku kembali meleleh, seolah aku mendapat perintah dari pengendali Alam Semesta untuk terus mendekati dan jatuh hati pada Rin. Bahkan aku pun seketika melupakan seorang wanita yang menemaniku selama ini.

Setelah ia menjadi mualaf, aku belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Pernahku mengajak Rin keluar demi melakukan pendekatan padanya, namun ia menolakku karena suatu alasan yang ia simpan.

Demi mendekati sang pujaan hati, wanita yang selama ini menemaniku pun aku relakan pergi dengan lelaki lain. Aku juga melakukan gambling dengan hatiku sendiri yang taruhannya adalah kebahagiaan dan kesedihan, karena aku sendiri pun buta mengenai kondisinya yang masih single atau sudah memiliki calon sendiri.

Aku pun sempat berpikir untuk lari dan melepaskannya dengan suka rela, namun hati kecil terus bergerak seakan menyuruhku jangan berhenti. Bingung bimbang menjadi satu dalam adonan penggerak tubuh yaitu otak.

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, karena setiap melakukan obrolan di bbm dengannya, saat aku ungkapkan perasaanku dia hanya menganggapnya sebagai gurauan belaka.

“Hai apa kabar calonku?” Chatku di bbm.
“Hahaha calon apa? Nanti pacarmu marah-marah lo!!! Jangan aneh-aneh,” balasnya.
“Aku gak ada pacar kok,”
“Hahaha tetep aja kayak gitu dari dulu,”
“Kan aku sukanya sama kamu, ngapain pacaran sama orang lain,”
“Hadeh, dasar jagonya gombal, sudah-sudah jangan bercanda terus hahaha,”

Melihat dan membaca chat dari dia, dalam hatiku berkata, apalagi yang harus aku lakukan untuk meyakinkan dia tentang perasaanku. Aku tersesat dan dangkal soal hal seperti ini. Aku pun terfikir untuk menjadi alarm jam beribadah padanya di waktu-waktu sholat setiap harinya, namun dia tak merespon sedikitpun. Aku pun mencoba rutin melakukan hal itu, namun tak ada respon sedikitpun darinya.

Kini telah kucapai titik putus asa yang membuatku ingin berhenti mengejarnya, aku sadar usahaku memang tak maksimal terhadapnya. Responnya yang hanya menjadikanku bahan candaan membuatku tersadar betapa tidak pentingnya aku di hidupnya.

Aku pun juga tersadar, mungkin di sampingmu bukanlah tempatku, mungkin aku hanya memiliki tempat di belakangmu dan berusaha tersenyum melihatmu bahagia dengan laki-laki lain nantinya. Dan perasaanku padamu ini akan aku simpan sebagai kenangan yang tak akan terlupakan.

1649301, 1649302, 1649303, 1649304, 1649305, 1649306, 1649307, 1649308, 1649309, 1649310, 1649311, 1649312, 1649313, 1649314, 1649315, 1649316, 1649317, 1649318, 1649319, 1649320, 1649321, 1649322, 1649323, 1649324, 1649325, 1649326, 1649327, 1649328, 1649329, 1649330, 1649331, 1649332, 1649333, 1649334, 1649335, 1649336, 1649337, 1649338, 1649339, 1649340