Ilusi Nyata

By On Friday, March 17th, 2017 Categories : Cerita

Tenotenotenonenot… jam dindingku menjerit. Wah! sudah jam 11 malam. Tak terasa sudah 2 jam aku menghabiskan waktu untuk membaca cerita horror. Suasana malam yang sunyi senyap membuat bulu kudukku merinding. Senyapnya suasana membuat degup jantungku terdengar jelas. Haus yang tak tertahankan ini mengajakku ke luar kamar dan membujukku menenggak segelas air es. Apa boleh buat, dengan segenap ketakutan, aku pun ke luar dari kamar.

Ku ambil segelas air dingin dan berjalan menuju sofa. Aku masih waspada. Maklum, aku termasuk anak yang penakut dan parnoan. Apalagi kalau habis membaca cerita horror, ketakutanku bertambah beribu kali lipat. Ku nyalakan televisi dan duduk di sofa. Sesekali ku tengok layar ponselku. Setelah selesai aku membalas semua pesan, ku alihkan pandanganku. Ada sesosok wanita cantik berbaju putih panjang duduk di hadapanku. Ya itu mama. Ia duduk sambil menatap lurus ke arah televisi. Tatapannya tajam bagai harimau mencari mangsa. Aku lega dengan kehadirannya di hadapanku.

Sesaat aku melirik layar ponselku. Ternyata group line. Maklumlah resiko jomblo, handphone ramai hanya karena group line. Ku baca habis pesan di group. Saat aku mengalihkan pandanganku, mama sudah tidak duduk di hadapanku. Ah paling dia sudah masuk ke kamar, pikirku. Tik, tok, tik, tok… Detik demi detik berlalu. Hari semakin larut. Suasana makin sepi dan menegangkan. Aku sudah tak sanggup untuk terjaga sendirian. Ku putuskan untuk pergi ke kamar mama. Dari kaca buram pintu kamar mama, terlihat keadaan penerangan kamar tersebut. Ya, sudah gelap. Semua lampu kamarnya telah dipadamkan. Ku tarik kenop pintu kamar mama. Tertahan. Artinya pintu dikunci. Aku pun tak hilang akal. Akhirnya ku coba untuk mengetuk pintu kamarnya sambil memanggil-manggil namanya.

“Maaa, Maa.. Mamaa,” panggilku dengan suara lantang.
Tidak ada jawaban. Gredek, gredek, gredek. Sliding door terbuka, pertanda asisten rumah tanggaku terbangun.
“Kenapa sih dek dari tadi teriak-teriak?”
“Itu loh aku mau tidur sama Mama, tapi pintunya malah dikunci”
“Loh, kan Ibu pergi dek.. Kalau kunci kamarnya mah ada di lemari kaca.”
“Loh? Pergi kemana?” tanyaku penasaran.
“Kan tadi pagi Ibu bilang mau ke puncak dek, nginep semalam,”
Aku mulai merinding. “Tapi tadi Mama duduk di sana kok,” ujarku sambil menunjuk sofa tempat mamaku duduk.

loading…

Kami berdua terkejut mendapati sebuah senyum dari wanita berbaju putih dengan wajah remuk bersimbah darah. Membeku kami dibuatnya. Tiba-tiba sosok itu menghilang. Aku menangis, tak kuasa menahan rasa takut. Tak ku sangka omongan tetangga tentang rumah baruku ini benar. Ya, aku baru pindah ke rumah ini 2 bulan silam. Rumah ini sangat besar dengan arsitektur rumah jepang, tetapi harganya sangat miring. Rumor kehorroran rumah ini tak kami gubris. Ayahku tidak percaya hal gaib dan takhayul, jadi ia tak akan terpengaruh dengan cerita seram tetangga. Lagi pula ayahku bekerja di luar kota, jadi tidak setiap hari ia menempati rumah ini.

Kilau emas menyentuh kelopak mataku, membangunkan aku dari tidurku. Aku bersyukur hari sudah pagi, aku tidak perlu ketakutan lagi. Secepat kilat ku hampiri pintu kamar mamaku. Masih terkunci dan tertutup rapat. Hening sekali rumahku pagi ini. Tak ada suara apa pun. Tak ada seorang pun. Rumahku bagai rumah mati. Apakah ini hanya mimpi? Ya, ini adalah mimpi. Ku paksa diriku untuk bangun dan meninggalkan mimpi buruk ini. Gesekan kulit membangunkanku. Aku tersentak kaget. Ternyata itu belaian tangan mama. Aku cemas apa benar ini mama sungguhan?

“Ini beneran Mama?” tanyaku tidak pasti
“Memangnya Mama terlihat palsu?” Aku menghela napas panjang, antara lega dan tidak lega.
“Gak tau Ma, aku baru aja mimpi di dalam mimpi.. Ruwet banget deh, mana serem banget lagi. Jadi malem-malem aku kan lagi baca cerita terus pas ke ruang tv ada hantu yang mirip Mama…” ceritaku panjang. “Seperti apa rupanya?” tanyanya datar.
“Kayak apa yaaa..” aku berpikir cara menggambarkannya kepada mama. Namun saat aku mengembalikkan tatapan kepada mama, wajahnya berubah. Dia bukan mama. Dia adalah wanita bermuka berantakan yang duduk di hadapanku.

Entah semua itu hanya ilusi, atau hanya khayalan yang terlalu nyata. Tetapi saat aku menceritakan cerita ini kepada mama, papa dan bibi, mereka tidak percaya. Bahkan bibi yang di dalam kejadian itu saja tidak mengingat apa pun. Bagaimana bisa ia lupa dengan kejadian seseram itu? Begitulah penyebab mengapa aku terduduk di sini. Di ruang putih tertutup rapat dengan baju yang membuat tanganku menyilang ke belakang.

Ya, ruangan pasien rumah sakit jiwa. Tak ada satu orang pun yang mempercayaiku. Kondisi kefrustasianku membawaku ke mari. Ke ruang putih hampa ini. Tak ada teman, tak ada keluarga. Hanya ada ingatan kelam tentang sosok itu. Sosok yang menghantuiku beberapa bulan lalu. Sedangkan rumah berarsitektur jepang itu? Ya, papaku menjualnya kembali dan pindah rumah. Tetapi ia tetap tidak percaya dengan sosok wanita menyeramkan itu. Asisten rumah tanggaku juga tidak memberikan kejelasan yang pasti. Dia tak bisa membantuku untuk tidak ditahan di rumah sakit jiwa ini.

TAMAT