I’ll Never Forget You

By On Saturday, March 18th, 2017 Categories : Cerita
Gratis Samsung

“Yuri!! Awaaaaasss!!!” Teriak seseorang dan tiba-tiba bug! Aku merasakan sesuatu menabrakku. Aku tersungkur. Aku merasakan sesuatu mengalir dari kepalaku. Cairan berwarma merah segar. Lalu semuanya menjadi gelap.

Aku membuka mataku perlahan. Samar-samar aku melihat ruangan di sekelilingku. Putih. Dan bau yang khas tercium olehku. Aku mencoba bangun. Namun, bagian kepalaku tiba-tiba terasa sangat sakit. “Aww” rintihku sambil memegang bagian kepala. Seorang laki-laki membuka pintu ruangan. Kami sempat berpandangan selama beberapa detik. Lalu laki-laki itu berlari ke arahku dan memelukku. Kenapa dia memelukku? Batinku. “Yuri kamu tidak apa-apa? Apa masih sakit? Jangan dulu bangun kamu harus beristirahat” ujarnya. Dia pikir dia siapa? Sok perhatian. Lagi lagi aku membatin. “Kamu siapa?” Tanyaku. Laki-laki itu hanya terdiam. Menatap diriku dengan tatapan kosong seolah olah tak percaya apa yang telah aku katakan. “Yuri? Ini aku! Jiro! Kamu ingat kan? Jiro Steward. Pacar kamu ri. Kita udah pacaran 3 tahun. Kamu ingat kan?” Jelas jiro sambil menggoyang goyangkan tubuhku. Aku hanya menggeleng. Pacar? Sejak kapan aku punya pacar? Kenapa aku bisa lupa dengan pacar sendiri? Batinku. “Oh yuri ayolah ini tidak lucu! Kau jangan membuatku cemas!” Ujar laki-laki yang mengaku sebagai pacarku itu sambil mengacak ngacak rambutnya. Aku hanya bisa menatapnya sambil mengingat apakah benar dia pacarku? Namun semakin aku berpikir kepalaku bertambah pusing. Laki-laki itu keluar dari ruanganku dan berlalu meninggalkanku. Aneh.

Seorang perawat datang bersama laki-laki yang bertemu denganku tadi. “Selamat siang nona yuri. Apa kepalamu masih terasa sakit?” Tanya perawat itu. Aku mengangguk. Lalu perawat itu meletakkan makanan di atas meja. “Nona, anda harus banyak makan supaya sembuh. Nah, tuan jiro yang akan menemani anda makan. Apakah anda masih ingat dengan pria ini?” Tanya perawat itu dengan ramah. Aku menggeleng. “Memangnya aku sakit apa?” Tanyaku. Perawat itu hanya tersenyum. “Makanlah yang banyak nona. Anda hanya harus banyak makan agar bisa sembuh. Saya permisi dulu nona” ucap perawat itu sambil membungkukkan badannya. Aku hanya manatapnya dengan tatapan aneh. Lalu laki-laki yang sedari tadi hanya mematung kini mulai berbicara kepadaku “yuri. Mungkin kau tak ingat apa-apa tentangku. Tapi, aku akan berusaha mengembalikan ingatanmu” jelasnya dengan mata berkaca-kaca. Aku hanya menatapnya dengan heran. “Sudahlah. Lebih baik kau makan” dia mengambil makanan yang ada di atas meja. Dia mulai menyuapkan makanan kepada mulutku. Anehnya, mulutku terbuka begitu saja dan rasanya hal ini sudah sering terjadi dan tidak asing lagi. Tapi, aku tak tahu kapan.

Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Pria yang dari awal menamaniku di rumah sakit mengantarku menuju sebuah apartemen mewah menggunakan mobil. Dia membukakan pintu mobil dan membawaku masuk menuju apartemen. Begitu sampai di lantai 5 kami keluar dari lift dan berhenti di depan kamar bertuliskan angka 65. Dia menekan beberapa tombol di samping pintu dan dengan otomatis pintu tersebut terbuka dengan sendirinya. Pria itu masuk. Aku mengikutinya. Di dalamnya terdapat barang barang yang tak asing bagiku. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu foto yang dipajang di dinding. Di foto itu terdapat seorang pria dan wanita. Sang pria merangkul wanita dan mereka tertawa lepas. Tunggu, bukannya pria di foto itu mirip dengan pria yang sedang bersamaku?

“Kak ini di mana?” Tanyaku saat kusadar pria yang tadi bersamaku sudah hilang entah kemana. Tiba tiba dia muncul dari ruangan yang sepertinya kamar mandi. “Panggil saja jiro. Tidak usah terlalu formal. Lagian, aku ini kan bukan kakakmu. Aku ini pacarmu” jawabnya sinis. Loh, memangnya salah ya? Aku kan sudah berbicara sopan. “Ini di apartemenmu” jawabnya. “Kalau ini apartemenku, kenapa ada foto kakak eh maksudku jiro bersama dengan wanita?” Tanyaku. Lalu dia masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya kamar. Tak lama kemudian dia keluar membawa sebuah cermin. Untuk apa dia membawa cermin? Dia menyodorkan cermin itu kepadaku. Aku menatapnya heran. “Coba kau bercermin dan bandingkan mukamu dengan wanita yang ada di foto itu!” Perintahnya. Lalu dia pergi menuju dapur sepertinya. Aku bercermin. Lalu melihat wanita di foto. Berulang kali aku melakukannya. Mirip. Apa yang di foto itu aku? Tapi, kapan aku berfoto dengan pria itu? Kenal saja tidak. Pria itu kembali dan membawa secangkir teh hangat. “Minumlah” dia menyodorkan gelas. Aku menerimanya. Meminumnya. Rasanya tidak asing. “Setelah ini kau harus beristirahat. Aku sudah membereskan kamarmu. Aku mengangguk. Untuk kesekian kalinya, mengapa aku selalu menurut?

Aku menjalani hari-hariku dengan pria yang asing tak asing bagiku. Mengapa dia begitu baik? Mengapa dia selalu menemaniku? Padahal aku tidak tahu dia. “Yuri, aku akan berbelanja di lawson sebentar. Kau jangan kemana-mana ya” ujarnya sambil berlalu menuju pintu. Aku merasa bosan sekali. Akhirnya, aku memutuskan untuk membaca novel. Aku menuju lemari yang dipenuhi oleh buku. Saat tengah memilih novel, mataku tertuju pada satu map berwarna coklat. Di covernya, tertulis namaku ‘Yuriva Mevida’ aku penasaran apa isinya. Aku membuka kertas itu. Di dalamnya ada kertas seperti surat resmi. Aku terbelalak saat melihat tulisan bertuliskan ‘PENYAKIT YANG DIDERITA: AMNESIA’
Apa? Amnesia? Sejak kapan aku mengidap penyakit itu? Dan penyakit apa itu? Aku segera membawa berkas itu ke kamar dan membuka laptop. Aku mencoba mencari tahu seputar amnesia. Aku membaca di sebuah website yang mengulas amnesia. Di sana tertulis bahwa amnesia adalah penyakit berupa hilang ingatan. Dan untuk menyembuhkannya sangat sulit sekali. Aku menutup mulutku sambil menahan air mata yang hendak keluar.

Terdengar suara pintu dibuka. Aku langsung berlari keluar kamar. Jiro yang baru pulang kebingungan melihat mataku yang sembab. “Yuri? Ada apa? Kenapa kau menangis?” Tanyanya sambil mengelus rambutku. Aku menepis tangannya. “Apa ini?” Tanyaku dengan nada membentak. Dia terlihat kaget. “Yu… yuri… dengar” “apa? Dengar apa? Apa yang harus aku dengar? Kenapa kau menyembunyikan penyakitku? Kenapa? Kenapa? Apa kau tidak ingin aku sembuh? Kalau kau memang benar pacarku, kau tidak akan merahasiakan penyakitku!! Dasar pembohong!!” Bentakku penuh emosi. Aku berlalu melewatinya. Namun tanganku dicekal olehnya. Dia memelukku. Menengegelamkan kepalaku di dadanya. “Maafkan aku yuri. Aku merahasiakan ini karena aku ingin kau tidak terbebani. Aku ingin kau cepat sembuh. Maafkan aku” aku menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya. Tiba-tiba segelintir ingatan hinggap di otakku. Hari dimana jiro membawaku ke taman yang sangat indah yang sudah didekor dengan hiasan gudetama. Ya, gudetama. Aku memang sangat menyukai gudetama. Dia memberiku bucket bunga yang di dalamnya terdapat tulisan ‘do you will be my girlfriend?’. Lalu ingatan lainnya muncul begitu saja. Aku dan jiro yang sedang membeli ice cream, bermain di disneyland, dan sebuah ingatan terakhir. Hari dimana aku bertengkar dengan jiro. Entah apa penyebabnya. Aku tidak tahu. Ingatanku berakhir sampai disitu. Aku melepaskan pelukan jiro. Aku menatap jiro dalam-dalam. Ya, benar. Dia jiro. Jiro Steward. Kekasihku. Sial, kenapa selama ini aku lupa dengan kekasihku sendiri? Pacar macam apa aku ini?

“Jiro” ucapku. “Aku… ma.. maafkan aku” ucapku sambil menunduk. Jiro memegang pipiku. Memaksaku untuk melihatnya. “Tidak. Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku telah berbohong kepadamu” aku menggeleng. “Bodohnya aku. Kenapa aku sampai lupa denganmu. Padahal kau sudah mengatakan berulang kali bahwa kau pacarku. Kenapa aku tidak percaya” omelku pada diri sendiri. Jiro tersenyum geli. “Sudahlah yang penting sekarang kau sudah ingat semuanya. Sekarang, kau jadi kekasihku lagi. Yubo” ucap jiro memanggil dengan nama kesayangan lagi. Sebenarnya aku benci dipanggil dengan sebutan itu. Aku meninju perutnya. “Aww” pekiknya. “Tetaplah menjadi yuri yang aku kenal. Jangan pernah melupakan aku lagi” ucapnya sambil menatapku lalu mencium dahiku dan memelukku sangat erat. “Pipimu merah seperti kepiting rebus” bisiknya. Refleks, aku langsung mencubit punggungnnya. Oh, aku merasa bahagia sekali. Akhirnya aku sudah ingat kekasih yang sangat aku sayangi. Thanks god.

The Dangerous Thief (Stolen Hearts #3), All of You (All In #3), The Intuitionist, Fear Inducer, Michael Jordan: The Life, Direğin Tepesinde Bir Adam, The View from the Cheap Seats: Selected Nonfiction, Running Blind (Jack Reacher, #4), Princes at War: The Bitter Battle Inside Britain's Royal Family in the Darkest Days of WWII, Rustler's Heart (The Kinnison Legacy, #2), Indian Summer: The Secret History of the End of an Empire, How to Speak Dog: A Guide to Decoding Dog Language, Six Months to Live (Dawn Rochelle, #1), Dikmen Yıldızı, Hug It Out!, Harry Potter and the Deathly Hallows (Harry Potter, #7), The Fix (Amos Decker #3), SilverFin (Young Bond, #1), I Surf, Therefore I Am: A Philosophy of Surfing, The Nearness of You (The Thorntons Book 1)