Hukum kekekalan energi kalor dalam Fisika

By On Monday, September 29th, 2014 Categories : Sains
Advertisement

Kekekalan energi Kalor – Ilmuwan yang pertama kali mengemukakan bahwa kalor merupakan salah satu bentuk energi adalah Julius Robert Mayer (1814-1878) dari jerman, yang sekitar tahun 1840an bekerja sebagai Dokter Kapal pada angkatan laut hindia belanda di surabaya.

Mayer mengamati bahwa darah pasien orang-orang di Jawa berwarna lebih merah terang dibandingkan dengan darah pasiennya dari eropa. Ini berarti bahwa darah penduduk daerah tropis mengandung lebih banyak oksigen. Mayer menyimpulkan bahwa didaerah tropis diperlukan lebih sedikit pembakaran makanan untuk menjaga agar suhu tubuh constant, dan panas daripada pembakaran makanan itu lebih banyak dipakai untuk melakukan kerja dari individu.

Jika ternyata panas dapat di ubah menjadi kerja, hal ini berarti bahwa ke- duanya merupakan bentuk energi. Mayer mempublikasikan pemikiran itu tatkala ia kembali ke eropa tahun 1842.

Pada tahun 1850 an para ilmuwan mulai mengakui panas (kalor) sebagai salah satu bentuk energi. Hal ini berkat beberapa eksperimen dari James Prescott Joule (1818-1889), seorang murid John Dalton di Inggeris. Dari berbagai eksperimennya, Joule merumuskan Asas Kekekalan Energi, yang berbunyi: “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, tetapi dapat diubah dari bentuk energi yang satu menjadi bentuk energi yang lain”. Nama Joule diabadikan dalam satuan energi menurut System International d’Unites (S.I.), satu Joule adalah kerja yang dilakukan jika gaya 1 Newton bergerak sepanjang 1 Meter.

Pada abad 21, oleh para ilmuwan fisika dan ilmuwan kimia teori- teori mengenai suhu dan kalor mulai diaplikasikan pada bentuk-bentuk penemuan baru, contohnya bisa kita lihat dibidang komunikasi seperti pembuatan antena dengan menggunakkan Pita Frekuensi Ka. Sistem kerja dari Pita Frekuensi Ka ini pada dasarnya rumusnya mengacu pada teori- teori suhu dan kalor.

Penerapan teori suhu dan kalor juga banyak digunakan pada sistem keamanan (kemiliteran) contohnya dalam perumusan nuklir, pada Depleted Uranium (DU) yang biasa digunakan dalam bentuk senjata antitank (atau anti kendaraan lapis baja lainnya). Aktivitas jenis bagi DU cukup rendah, hanya 14,8 Bq/mg (58 % saja dari aktivitas Uranium alam). Secara kimiawi Uranium merupakan logam berat berwarna keperakan yang sangat padat.

Sebuah kubus Uranium bersisi 10 cm memiliki massa mendekati 20 kg dan secara umum 70 % lebih padat dibanding timbal (timah hitam). Pada suhu 600 -7000C dalam tekanan yang sangat tinggi logam DU akan menyala dengan sendirinya, membentuk kabut aerosol DU yang bersifat cair dan sangat panas.

Advertisement (Dibawah ini adalah Iklan)
loading...

North to Alaska

Beyond the Mask

Terjebak Nostalgia

The Bachelor

The Royal Tenenbaums

The Spanish Apartment

All About Steve

Up for Love

Conspiracy Theory

S


Grabs Books