Horror Homework

By On Friday, March 17th, 2017 Categories : Cerita

Aku adalah satu-satunya anak SD kelas VI yang paling penakut di kelasku. Teman-temanku selalu menakutiku dengan cerita-cerita seram yang selalu mereka perbincangkan ketika waktu istirahat sekolah dan anehnya aku selalu merinding ketika diceritakan, padahal aku tahu itu semua tidak benar adanya.

“Nanti malam kerjain pr di rumahku yuk?” kata Rio salah seorang temanku.
“Yuk boleh-boleh, biar kita bisa saling tanya jawab kalau ada yang gak ngerti,” jawab temanku yang lain.
Aku pun ikut serta dalam kelompok belajar temanku, karena ku pikir juga tidak ada salahnya mengerjakan pr bersama-sama dan kebetulan rumah kami semua berdekatan.

Malam sudah tiba, waktu menunjukkan pukul 7 malam dan kami sudah berkumpul di rumah Rio. Orangtua Rio saat itu sedang berada di luar rumah dikarenakan ada rapat meeting dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Jadi yang berada di rumah hanyalah kami berenam. Kami mulai mengerjakan tugas pr dan tidak terasa sudah pukul 9 malam. Tiba-tiba Rio bercerita tentang sesuatu yang sangat tidak ku suka, “Kalian tahu gak, dulu rumah di sebelahku ini adalah bekas penguburan massal zaman belanda loh. Sampai sekarang aja aku masih suka denger suara aneh-aneh saat aku sedang di kamar belajar atau kalau mau tidur.” mendengar cerita Rio membuat kami semua -terutama aku – menjadi merinding.

“BLAMM!!”

Terdengar suara hentakan dari kaca jendela kamar setelah Rio selesai bercerita. Seakan-akan seperti burung menabrakkan diri ke jendela dengan sangat kuat. Kami semua terhentak kaget dan diam dengan posisi sangat terpaku melihat ke arah jendela kaca.

loading…

“Itu apa Rio, kok kayak ada yang nabrak jendela?”
“Gak tahu aku, baru pertama kali ada kejadian begini. Mungkin aku seharusnya ngak ngomong aneh-aneh sama kalian.”
“Aaaaaa!!!” teriakan salah satu teman kami membuat kami berfokus padanya.
“Ada yang megang aku tadi di belakang, seolah-olah aku dicengkeram sekuat tenaga.” selagi kami semua terpaku dengan omongannya, tiba-tiba Rio menunjukkan jari ke arah atas lemari bajunya dan berkata, “Li.. Li.. Lihatt d.. Di.. Di atas itu.. Aaaaa!!!!” Rio berteriak ketakutan sekali.

Aku yang tepat di sebelahnya, tidak sempat melihat arah yang ditunjukkan Rio, aku langsung menundukkan kepala ke lantai sambal ikut berteriak sekencang-kencangnya. Ketakutanku bertambah ketika kami mendengar suara langkah kaki dari lantai 1 rumah Rio menuju kamar tempat kami berada di lantai 2. Hentakan langkah kaki semakin lama semakin terdengar dekat sekali dengan tempat kami berada dan tidak ada satu pun dari kami yang berani menutup pintu kamar. Sekali lagi kami berteriak. “Tolong!! Tolong!!” tapi seolah-olah suara kami tidak sampai terdengar ke luar rumah. Keheningan mendadak melingkupi kami. Kami pun terdiam dan menengok ke arah depan dengan perlahan. “Su.. Suar.. Suara lang.. Kah.. Su.. Sudahh.. Tidak terdengar…” kataku dengan nada tertatih-tatih.

“Drap.. Drap.. Drap.. Drap.. Drap…”

Ternyata langkah kaki berubah menjadi langkah cepat -berlari- dan entah hanya ilusi, aku melihat seseorang dengan muka yang penuh dengan darah dan luka berlari ke arahku dengan cepat sambil membuka mulutnya seolah akan memakanku sambil mengeluarkan suara yang sangat menakutkan. Aku berteriak sekencang-kencangnya, lebih kencang dari teriakan sebelumnya. Seolah-olah tenggorokanku langsung mengering karena teriakan ketakutan yang ku alami sambil membungkukkan badan dan mengeratkan kepalaku ke lantai sambil menutup kedua telingaku dengan tanganku untuk meredam teriakan hantu itu. Tak lama, ada yang memegang pundakku dan mereka adalah mama papa Rio.

Sambil merangkulku, mereka meredam ketakutanku dengan berkata, “Jangan takut, jangan takut. Semua sudah tenang sekarang.” aku pun mencoba menenangkan diri dan kembali berpikir, “Apakah tadi semua itu nyata? Atau hanya aku sendiri yang dibuat takut oleh hantu?”

TAMAT