Hati yang Terluka

By On Friday, March 3rd, 2017 Categories : Cerita

“Jangan pergi! Tolong tetaplah tinggal!” seru Reina meraih tangan lelaki bertubuh tinggi tegap. Matanya nampak berkaca-kaca menatap lelaki di hadapannya itu. Sementara pria tersebut hanya diam tak menyahut apapun. “Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Tinggallah di sini. Aku tak bisa jauh darimu…” lanjutnya lirih.
“Maafkan aku Rei, tapi aku nggak bisa. Aku harus pergi sekarang,” balas cowok itu melepaskan pegangan Reina dari tangannya.
“Mengapa harus pindah ke luar kota? Kenapa tidak cari kerja di sini saja?” keluh Reina nampak cemas.
“Apa yang bisa aku harapkan di sini?! Tidak ada!” bentaknya membuat Reina kaget dan ketakutan.
“Mengapa kamu membentakku?” ujar Reina pelan.
“Hemmtt… maaf. Tolong mengertilah Rei, aku harus pergi. Aku ingin mengejar mimpiku,” tukasnya kemudian.
“Lalu bagaimana dengan hubungan kita?”
“Kita akhiri saja.”
“What???” sentak Reina melongo. Sedangkan pria itu cuma mengangguk saja. Bak mendapati reruntuhan, seperti itu pula rasa sakit yang tengah dirasakan Reina. Ia tak menyangka kalau kekasihnya akan memutuskan hubungan mereka, demi sebuah pekerjaan di luar kota. “Kamu tega sekali…” ucapnya dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Cowok tersebut tetap diam saja, seakan tidak peduli terhadap perasaannya. Hati Reina semakin hancur, melihat sikap lelaki yang amat dicintainya. “Apa kamu tidak memikirkan perasaanku?” tanyanya. Namun ia terus saja diam, tak berani menatap mata Reina.
“Harusnya kamu tau, tak semudah itu untukku mengakhiri hubungan kita. Apalagi setelah apa yang kita lewati bersama. Apa kamu tidak berpikir?! Sebelum mengambil keputusan!” bentaknya. Lelaki itu malah memalingkan mukanya, ketika Reina mendekatkan wajahnya. “Lihatlah aku!” serunya meraih muka kekasihnya agar menatap dirinya. Tapi lagi-lagi dia hanya mengalihkan pandangannya. “Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar! Ada banyak hari yang telah…”
“Maaf Rei, aku tak bisa berlama-lama. Aku harus pergi!” sergahnya beranjak pergi, sebelum Reina melanjutkan ucapannya.
“Galih!” teriaknya kemudian menghentikan langkah cowok itu. Kemarahan kini mendidih di kepalanya. Ia sangat kesal dengan sikap Galih yang seenaknya sendiri, tanpa memikirkan dirinya.
“Kamu benar-benar egois! Kau hanya peduli pada dirimu sendiri. Setidaknya katakan sesuatu untuk mempertahankan hubungan kita! Bukan main pergi aja, tanpa mengatakan apapun padaku!” seru Reina penuh kekesalan.
“Bukankah aku sudah katakan? Aku minta maaf atas keputusanku ini,” balasnya membalikkan tubuhnya memandang Reina.
“Kenapa kau tidak membicarakannya dulu denganku?”
“Apa yang mesti aku bicarakan? Kalau ujungnya kamu tidak mengijinkanku pergi!”
“Bukan begitu Lih, kalau kau menjelaskan dulu kepadaku mengenai keputusanmu ini. Mungkin aku bisa mengerti. Tidak mendadak seperti sekarang!”
“Sudahlah Rei, keputusanku sudah bulat! Aku akan pergi ke luar kota. Jadi mulai sekarang kita putus!” tandas Galih lalu berlalu pergi.
“Putus???” gumam Reina tak percaya. Ia masih ingin mempertahankan hubungannya. Tapi lelaki itu terlanjur menghilang dari pandangannya.
Hancur sudah hatinya menjadi berkeping-keping. Pupuslah harapan untuk dapat membina hubungan ke jenjang lebih serius bersama pria yang dicintainya. Sebagaimana dulu, yang pernah Galih bicarakan padanya.

Hari-hari yang harus dilalui gadis itu pun terasa sulit. Tidak ada lagi lelaki yang ia cintai di dalam hidupnya. Pria yang seringkali mengucapkan selamat pagi maupun malam untuknya. Kemudian menghiburnya ketika sedih, juga selalu membuatnya merasa aman dimanapun mereka berada.

Reina terus dihantui rasa penyesalan, yang amat dalam. Bukan hanya karena kehilangan sosok pria yang dicintainya, tetapi lebih dari itu. Ia benar-benar menyesal telah mencintai pria yang ternyata tidak mampu mempertahankan dirinya, dan memilih meninggalkannya hanya demi sebuah pekerjaan.

“Kamu benar-benar tega!” serunya nampak kesal sambil merobek beberapa fotonya bersama Galih. Air mata terus bercucuran, membasahi pipinya.

Penyesalan tak henti-hentinya mengisi otak Reina. Ia tidak menyangka dengan tega Galih menyakiti hatinya. Setelah dirinya berusaha mempertahankan hubungan mereka selama dua tahun. Bahkan gadis itu tidak menampik kalau pertengkaran hadir melengkapi kisah asmara mereka. Namun tak pernah terbesit sekalipun di pikirannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Galih.
Tapi lelaki itu justru bersikap sebaliknya, memilih mengakhiri hubungan yang sudah mereka jalin lama. Tanpa berpikir maupun berusaha untuk mempertahankannya. Tentu keadaan ini membuat Reina tak percaya, dan menyesal. Mengapa dirinya mencintai lelaki yang hanya sekecil itu memberikan hati untuknya.

“Aku benci kamu! Benci! Benci! Benci! Aku benar-benar membencimu Galih!” teriaknya menjatuhkan semua barang pemberian Galih yang semula tertata rapi di atas meja, rak dinding, juga di dalam lemari.
“Mengapa kamu tega melakukan ini padaku? Apa semua yang aku lakukan, tak berarti buatmu Lih?” celotehnya lirih menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Kamarnya berantakan penuh dengan barang-barang pemberian Galih.

Sudah seminggu lebih, Reina terus uring-uringan. Gadis itu selalu tertunduk lesu menjalani harinya. Terlihat tak ada lagi semangat di dalam hidupnya. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan kelulusannya. Selain mengunci dirinya di dalam kamar.

“Rei, ayo bangun! Kenapa kamu tidak bersemangat?” suara Galih mengalun ke telinganya. Gadis itu pun membuka kedua matanya.
“Galih…” ucapnya lirih.
“Iya ini aku. Ayo bangun!” suruhnya.
“Tapi badanku lemas sekali,” sahutnya tak kuat mengangkat tubuhnya. Terlihat Galih sudah beranjak dan melangkahkan kakinya ke pintu. “Galih! Bantu aku!” pinta Reina sembari berseru.
Tapi lelaki itu cuma diam dan tersenyum. Dia sudah berdiri tepat di depan pintu. Reina memandanginya heran, tak biasanya Galih mengacuhkan dirinya.
“Ayolah! Cepat bangun!” seru Galih.
“Tapi Lih, badanku benar-benar lemas!” lelaki itu justru memalingkan muka dan beranjak pergi. “Galih…! Tunggu…! Jangan tinggalkan aku!” teriaknya memanggil.
Gadis itu terbangun, tak ada siapapun di sana. Ia hanya melihat kamarnya yang berantakan oleh robekan kertas dan foto, kemudian bingkai foto, juga beberapa barang seperti boneka, penjepit rambut, serta buku-buku yang berserakan di atas lantai. Ia baru menyadari, kalau yang terjadi barusan hanyalah mimpi. Kenyataannya, Galih telah benar-benar meninggalkan dirinya.

Lagi-lagi matanya nampak berkaca-kaca. Ingatan akan perpisahannya dengan lelaki tersebut muncul lagi. Membuat dirinya tak mampu membendung kesedihan yang dirasakannya. Air matapun perlahan menetes membasahi pipi lembutnya. “Kau jahat padaku Lih… Aku tidak menyangka, kalau cintamu padaku cuma sebatas ini saja…” celetuknya lirih dengan linangan air mata.

Dua minggu pun berlalu begitu cepat. Reina mulai menjalani aktifitasnya lagi. Tentunya ia tidak sendirian, namun berkat dukungan dari ibunya. Akhirnya gadis itu mampu bangkit dari keterpurukannya. Sebulan kemudian, dia diterima di salah satu perusahaan swasta. Usai memasukkan beberapa berkas lamaran di berbagai perusahaan.
Meski begitu, terkadang ingatan akan Galih terlintas dalam benaknya. Dia tak sanggup menghapus semua kenangan akan lelaki yang dicintainya selama dua tahun tersebut. Bayangan kebersamaan mereka, selalu saja muncul di sela-sela pekerjaannya. Apalagi ketika ia sedang istirahat dari pekerjaan.

Tahun pertama usai kandasnya hubungan asmara dengan Galih, terasa sangat menyulitkan dirinya. Ingin sekali Reina melupakan semua bayangan juga kenangan tentang Galih. Namun meskipun berulang kali mencoba, ternyata ia tetap tidak bisa. Semua hal yang berkaitan dengan pria itu terlanjur melekat di hatinya. Walaupun membuang barang-barang pemberian mantan pacarnya itu, masih saja tak membuat dirinya mampu menghapus sosok Galih dalam pikirannya.
Hingga akhirnya kesibukan pekerjaan yang harus dijalaninya setiap hari, membuatnya tak ada waktu untuk memikirkan lelaki itu. Reina jadi sibuk mengerjakan tugas-tugas dari bos. Segudang tugas pekerjaan yang menumpuk, memaksa dirinya harus kerja ekstra, bahkan sampai lembur.

Ternyata kerja kerasnya, menarik perhatian beberapa kawan pria. Mereka berusaha mendekati dirinya. Karena itu, tak jarang Reina mendapati tawaran makan siang bersama, maupun dinner. Bukannya menerima lantas menikmati kehidupan barunya. Reina malah menolak ajakan mereka.
Tidak berhenti disitu, sebagian teman laki-laki yang menyukainya, pantang mundur. Mereka terus berusaha untuk bisa menarik perhatian Reina dan mencuri hatinya. Kerap dirinya mendapati perhatian kecil dari mereka. Tapi lagi-lagi ia mengacuhkannya.
Reina seolah menutup diri juga hatinya dari pria yang mencoba mendekati maupun menarik perhatiannya. Ia masih tak bisa membuka hatinya untuk orang lain. Rasa sakit yang membekas di hatinya masih sangat terasa.

Gadis berambut pirang ini pun, tak ingin memikirkan soal cinta. Baginya cinta itu tak ada lagi dalam hidupnya. Kepercayaannya akan cinta telah berakhir. Semenjak Galih menghancurkan semua impian dan hatinya untuk mencintai seseorang. Dan meninggalkan bekas luka yang teramat dalam.
Rasa sesal yang dirasakannya pun, membuatnya tak ingin lagi merasakan cinta. Memikirkannya saja tidak mau, apalagi harus menjalin kisah asmara dengan hati yang baru. Hal itu tidak mungkin. Reina sudah tidak dapat percaya lagi akan yang namanya cinta. Setelah cinta menggores hatinya dan meninggalkan rasa sakit yang tak ada henti-hentinya.
“Tidak! Sekarang tidak lagi!” celetuknya menggeleng sembari menatap langit senja di halaman rumahnya. Hatinya terlanjur terluka. Luka yang sangat dalam, hingga membuat dirinya tak lagi mampu percaya akan cinta.