Hari Yang Bersamaan (Part 1)

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Mataku sudah pedas sekali rasanya sejak habis solat magrib sampai sekarang pukul 23.30 pandanganku selalu tertuju oleh leptop, entah apa yang aku lakukan itu tidak penting asalkan penat dan gelisah ini hilang, yang kesekiaan kali kupandangi deretan angka di lembar kertas yang tergantung pada tembok kamarku.

“Hari ini baru tanggal dua empat” ujarku dalam hati, sudah satu minggu ini ibu mengosongkan rumah ini, membiarkan aku sendiri dalam diamnya keheningan rasanya berat ternyata hidup tanpanya, tanpa kedua orangtuaku yang biasanya selalu memperhatikan aku, menasehatiku, dengan tutur katanya yang begitu lembut, kasih sayangnya sehalus sutra dan kini ia pergi walau tak untuk selamanya, sangat sedih rasanya, aku berusaha menyeka air mataku yang hendak menetes. Tapi… Malu ah sebagai pejantan aku terlihat tegar walau dalamnya rapuh, oh.. Tuhan!!! Aku lupa sesuatu rupanya aku belum solat isya, tapi tiba-tiba sms lebih dulu masuk ke hpku sehingga menyeret aku untuk mengembalikan langkahku ke belakang. Kubuka dan kubaca pelan,

“Dah tidur belum… ”
Received: dewi

Tanpa membalas pesan dari dewi, langsung kulempar hp ke atas ranjang, aku segera berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu entah kenapa hati ini berdetak sangat kencang. Dan selintas rasa kecewaku pada dewi muncul lagi, namun secepatnya ku buang jauh-jauh peraasn burukku itu, tidak baik juga dan rasanya juga tidak penting sekali.

Pagi yang indah mentari sudah terbit, rupanya ia sudah siap mengahangatkan dunia, menerangi bumi yang mulainya gelap, angin berhembusan ke sana ke mari, pagi-pagi aku bangun kulihat tadi fajar nenek sudah menyiapkan sarapan dan ternyata itu untukku, tapi tidak lama setelah itu ia juga harus sudah pergi ke ladang untuk bercocok tanam.
Tidak enak juga, aku makan sendirian tanpa teman dan akhirnya harus seperti ini setiap pagi sampai satu bulan lebih kira-kiranya, hingga kedua orangtuaku menginjakkan kaki lagi ke tanah air indonesia setelah empat puluh hari beribadah di tanah suci.
Di tengah sedang asyik menikmati nasi goreng buatan nenek, hpku berdering.

“Keluar yuk?”
Received: aldo

Awalnya aku berfikir untuk menolak permintaan aldo tapi setelah aku pertimbangkan ada baiknya juga untuk membuang jenuhku tanpa berfikir panjang lagi akhirnya.
“Ya” kubalas sms aldo dengan kata secukupnya. Sebenarnya malas sekali aku bertemu dengannya. Jika bertatapan dengan aldo ingin kulempar kepalan tanganku ke wajahnya biar babak belur. Lagi pula seandainya terluka, lukanya tidak sedalam perih yang kurasakan atas perilakunya kepadaku. Aku kira aldo adalah teman baikku, tapi ternyata ia lebih jahat dari seorang musuh

Tepat pukul 09.00 wib aku beranjak mengeluarkan motor vixion warna merah kehitam hitamanku dan segera kulajukan motor menuju kafe tempat aku, aldo dan teman teman berkumpul. Tidak lama dan kira kira 5 menit, akhirnya sudah sampai juga di depan kafe. Belum juga sempatku menurunkan kaki satu pesan masuk kurogohkan tangan ke dalam saku celana sambil menggerak gerakkannya karena celanaku yang terlalu sempit hingga sulit untuk mengeluarkan hp dari sakuku. Nah!!! Akhirnya dapat juga, sejauh ini aku belum pernah menyangka seorang wanita idaman, sang bidadari mau kontekan dengan aku walau hanya lewat sms. Tapi rasanya aku begitu senang, “Noura” nama yang tertera di layar hpku begitu menggaihrahkan. Pesan singkatnya mungkin tak begitu penting tapi membuat hatiku sangat berbunga bunga.

“Fin, entar sore temenin aku ke rumah wahyu ya”.
Received: dewi noura

Aku rasa sekarang juga bisa, lagi pula aldo dan damar belum sampai di sini. Lebih baik aku antarkan noura dulu nanti baru lagi ke sini. Segera kukembalikan arah motorku berhenti tadi dan melaju secepatnya ke rumah noura dan segera melaju kembali ke rumah wahyu, sesampainya di sana mungkin nasib sedang kurang ajar padaku, hujan turun sangat deras sekali dan membuat aku harus tetap tinggal di rumah wahyu. Mau tidak mau sudah lama hujan turun tapi belum mereda juga, mau sms aldo di sini signal xl troubel aku bingung karena aku masih ada janji padanya. Yang aku khawatirkan, ya satu kalau sampai dia marah padaku dan disangkanya aku seorang pengkhianat berfikir hingga sejauh ini hanya membuat tenagaku terkuras dengan seribu kebingungan lebih baik aku istirahat saja sambil menuggu hujan reda.

Setelah cukup lama aku menunggu kini tiba juga, aku segera mengundurkan diri dan pamit pulang lagi-lagi nasib buruk bertingkah tak adil, motorku mogok, dan terpaksa aku meminta tolong kepada wahyu untuk mengantarkan aku pulang.
Matahari mulai berjalan dan berlari ke ujung kulon semakin padam dan tak terlihat langit hitam sudah menyyelimuti sebagian desa wantilgung, jarum jam melangkah satu demi satu kulihat pada jam tangan hitam yang melekat di tanganku tepat pukul 18.10 wib, hari semakin gelap dan adzan maghrib sudah berkumandang sejak tadi, setibanya di rumah ternyata damar sudah menungguku di teras depan, tapi karena aku lelah aku hanya berbicara tidak banyak kepadanya.

“Ada apa mar?” tanyaku sesingkat mungkin karena badanku terasa begitu lelah. Mungkin dia sedikit kecewa dan kulihat ia hanya diam saja tanpa pikir panjang ah kubiarkan saja dan aku segera masuk ke rumah kini kegelisahan damar sudah nampak begitu besar padaku tapi aku sedikitpun tak acuh dan membiarkan dia pergi dari kediaman rumahku.

Keesokan harinya setelah pulang sekolah aku melihat dewi berdiri sendirian di halte dan kayaknya memang dia sedang menunggu bus, selintas kupandang wajah dewi terasa ada yang tersisa untukku jantungku berdeguk kencang seperti ada puing-puing pecahan logam yang berhamburan tersisa secuil rasa yang pernah tumbuh dan bersemi dalam kehangatan dan kebersamaan yang kini sudah terkhianati, masih kupandang wajah cantik sang dewi yang pernah mengisi hari-hariku tanpa kusadari ternyata dia juga melirik ke arah bengkel dan tepatnya memandang ke arahku, awalnya aku sedikit salah tingkah namun ahirnya tak kuhiraukan dan kubuang muka mungkin itu yang lebih pantas kulakukan.

Siang ini terasa panas sekali bagaikan mentari berada satu jengkal dari ubun-ubun kepalaku “Huch…” menyebalkan memang teriknya membuat keringat-keringatku bercucuran dan tenggorokanku kering, sejenak pandangku mengarah ke sebuah warung kecil yang berada di sampingku
“Buk es degannya satu” ujarku
“Ya mas tunggu dulu silahkan duduk”
“Alfin” suara lembut yang ku dengar dari arah belakang membuat aku sedikit tersentak, suaranya tak begitu asing di tlingaku dan saat aku membalikkan badan,
“Dina”. Balasku
“Apa kabar fin?”. Timpalnya lagi padaku dan cara bicaranya masih begitu sangat renyah di telingaku.
“Baik-baik saja kok, kamu sendiri?”
“Alkhamdulillah juga baik”
Di tengah panasnya terik mentari pada nuansa siang bolong seperti ini aku masih dapat asyik bercakap-cakap dan tertawa ngakak bersama dina untuk sekedar kangen oleh seorang sahabat.

Sudah lumayan lama perbincangan kami berlangsung akhirnya ia pun mengundurkan diri dan pamit pulang.
“Fin sudah sore aku pulang dulu ya…” pamitnya padaku dengan sopan.
“Iya hati-hati… ”
“Hemmt…, oh ya fin denger-denger orangtuamu berangkat haji ya?”
“Iya…” jawabku lirih.
“Sepi.. Dong di rumah, kalau butuh temen hubungi aku ya..”
“Siip dech” sahutku dengan senyum kepastian.
Dina sudah berlalu oleh laju motornya yang cepat, meninggalkan aku sendiri di depan warung, huch… Sejenak kuhembuskan nafas, tiba-tiba sms masuk di hpku

“Dasar cowok modus, playboy, buaya darat, aku gak nyangka ternyata kamu tega berbuat itu sama aku, makasih.”
Received: dewi

Aduh lagi-lagi dia berfikir negatif padaku, sukanya memang mencari-cari kesalahan pada diriku, ah masa bodoh, toh dia sudah bukan siapa-siapaku lagi sekarang, hanya mantan kekasih, mantan titik. Kenapa dia harus membuatku kecewa dan kenapa ia cemburu disaat aku bercumbu dengan gadis lain. Lalu mengapa ia berhianat padaku sering kali membuat alasan bodoh untuk menyimpan hubungannya dengan aldo dan aku khawatir pada diriku jika harus marah dan kecewa padanya karena aku tak ingin membencinya karena aku mencintai dia. Aldo juga, teman macam apa itu, kalau memang dia punya perasaan harusnya dia bisa berfikir yang lebih baik, masa pacar sahabat sendiri diembat, dewi juga tega-teganya nyakitin perasaanku. Aduh sudahlah hanya masa lalu yang butuh dijadikan pelajaran.

Tidak lama perjalanan aku lalui akhirnya sampai juga, kupandangi sosok rumah besar yang hening tanpa penghuni itu dan rasanya malah seperti rumah angker, turu dari motor aku bergegas masuk ke dalam eh.. Ternyata ada paman aku segera melangkah menghampirinya dengan senyuman yang penuh berkah tapi sepertinya tak berarti untuk paman, kali ini nampak beda, ia murung sekali tatapannya sinis dan tajam.
“Dari mana saja kamu” tukasnya kasar dan menyeramkan bagiku.
“Habis servis motor” ujar ku singkat sudah malas untuk menanggapi paman, aku kira ya aku sudah besar kenapa mesti diatur-atur melulu, setiap pulang malam pasti dapat amukan, setiap melakukan kesalahan di hukum, ah kayah anak kecil saja.
Sejenak kulirik tepat mengarah ke wajahnya nampak masih marah padaku,
“Mau jadi anak apa kamu!!! Bisa tidak diatur sama orang tua di sini, kamu kira saya siapa”
“Aku ini juga orangtuamu, orangtua yang harus kamu hormati, di sini saya hanya ingin menjalankan amanat dari ibumu nak untuk menjaga dan merawat kamu. Kenapa kamu selalu membangkang, semenjak kedua orangtuamu berangkat haji sifat kamu semua berubah, sekarang saya sudah tidak pernah bisa lagi melihat keponakkan ku jama’ah di masjid. Yang bisa ia lakukan hanya klayapan-klayapan dan klayapan sampai malam, aku tahu keterpurukanmu ditinggalkan mereka, tapi jangan mencari jalan keluar seperti ini, mereka tidak pergi… Untuk, selamanya!!!” terangnya menasehatiku.

Oh.. Tuhan, ayah.. Ibu.. Iya, aku merindukan mereka. Dan mengapa paman harus mengingat aku lagi tentang mereka aku rindu sungguh rindu, kenapa harus menangis dan siapa yang sudah menyakitiku bukankah aku yang sudah menyakiti kedua orangtuaku dengan sikapku yang kurang baik, “Hick…” air mataku sudah tak bisa kuceka lagi, akhirnya tanpa berfikir panjang aku bergegas masuk ke kamarku biarkan paman sendiri di luar. Kunikamati pilu yang menyerbuku kini.

Ayah, ibu…
Dan hanya kalian yang ada di hidup ini, pemberi kasih sayang dan memang tak pernah tergantikan, kemana ku harus mencari jejak kalian, di sini aku sedang terpuruk dan biasanya engkau yang menenangkan aku, karena kalian aku dapat mengakhiri segala beban hidup, semangat yang membara kini telah hilang, kenapa harus hilang apa mereka yang meninggalkan aku ataukah aku yang akan meninggalkan mereka. Satu ruang dalam jiwaku menyatu dalam diri kalian.

Satu jam berlalu paman sudah meninggalkan aku sendiri, terasa aku sudah begitu lelah dan ahirnya kupilih untuk istirahat saja tapi sebelumnya solat dulu, “Bodah amat.. Aku malas pergi jama’ah ke masjid” ujarku dalam hati. Jika pun harus dimarahi paman lagi aku siap.

Selesai solat kulihat hp menyala. Segera kubuka pesan yang ada.
“Besok bisa nggak tanding volly”
Received: aldo

Seperti kebiasan lama yang sering kami lakukan dulu aku, aldo dan teman-teman memang hobby sekali main volly, dulu itu dulu tapi sekarang sudah tidak sering. Kulanjutkan sms kedua.

“Aku benar-benar sakit hati padamu”
Received: dewi

Sungguh aku harus bicara berapa kali lagi sama dia, dia kira aku apa sih… Aku juga tak peduli, aku kira aku masih sayang sama dia tapi dianya saja yang terus begitu. “Pesan ketiga”

“Alfin, aku benar-benar minta maaf”
Received: fauzi

Oh.. Ada apa kali ini ada acara apa minta maaf-maafan segala, dia ini memang aneh sekali, “Fauzi.. Fauzi…” ujarku dalam hati. Dia itu memang teman yang baik untuk aku orangnya perhatian, baik dan tidak pernah menyakitiku.
Aduh malam ini rasanya perasaanku tidak enak sekali, tiba-tiba aku teringat ayah dan ibu lagi untuk yang kesekian kalinya, aku juga rindu pada dewi, sungguh perasaan ini rasanya seperti ditikam harimau mau cepat-cepat pergi dan meminta perlindungan kepada mereka.