Happy Ever After

By On Wednesday, April 30th, 2014 Categories : Cerita

Cerpen persahabatan – Ini dia, tempatku. Tempat dimana semua cerita tercipta. Tempat Tuhan membuka mataku tentang arti kebahagiaan. Tempat dimana ada air mata yang tak beralasan dan bahkan tanpa penyesalan. Banyak cerita indah bak puisi senja yang kita gurat dengan gelak tawa berdua Kak! Kakak? Iya! Pantas kurasa untuk memanggilmu begitu. Jangan bertanya berapa lama aku mengenalnya? Jangan tanya seberapa dekat aku dengannya? Satu yang perlu diketahui. Aku begitu menginginkannya. Embun penyejuk di setiap ku buka mata. Hangat mentari di tengah cerahnya dunia. Kejora malam penerang cakrawala. Satu hal yang mampu merubah sosokku menjadi pujangga cinta dalam sekejapan mata. Itu kamu!

Sesuai rencana, Sabtu ini ada Happy Camp di danau yang terletak tepat di belakang sekolahku. Tentu saja malam ini, akan ku lewati saat tibanya hari berganti bersama teman-temanku dan tentu saja juga bersamanya.

“Asik, seharian bakalan bisa barengan terus sama Kak Aro! Hari ini kamu bakalan ada di saat aku terlelap berlangitkan bintang kejora dan akan tetap ada saat ku buka mataku tuk menatap indahnya dunia”, pikirku.

Kejadian yang kurasa kebablasan akhirnya terjadi juga saat aku tiba di bumi perkemahan sore itu. Inilah hal terbodoh yang pernah kulakukan. Ku dapati lagi mata indah itu. Mata ini kembali bersua! Terjaga aku dalam perangkap waktu. Lama ku pandang cintaku berada. Tuhan! Bangunkan aku! Tak seharusnya ini terjadi. Tapi Kak! Mengapa kau terima saja tatapan itu? Segera ku alihkan pandanganku dan melanjutkan membangun tenda yang kurasa belum pantas untuk kusebut sebagai tenda. Lihat saja, tendaku tinggi sebelah. Bisa-bisa tak tidur aku malam nanti karena tendaku dipenuhi angin malam.

Ada pepatah mengatakan, cinta yang tulus itu tak pernah membutuhkan jawaban. Tapi bukan kak Aro namanya bila tak bisa membuatku meleleh dan terbang melayang ke luar angkasa. Dia selalu berhasil membuatku salah tingkah.

“Gini loh sayaaang!”, ucapnya padaku sembari membenarkan tendaku yang sempoyongan.

Spontan saja aku terkejut akan kalimat yang baru saja diucapkannya. Tidakkah kau sadari bahwa di luar sana ada wanita yang selalu menjaga hatinya untukmu Kak!

Malam ini, ku renungi apa yang telah terjadi. Tuhan Maha Cinta. Tapi inikah cinta yang diberikan Tuhan untukku? Ini memang mendamaikan risau hatiku. Tapi ini juga membawaku dalam peperangan dan menjeratkaku pada posisi yang jelas salah.

Itu dia! Bayangan Kak Aro berada tepat di belakangku. Sejauh inikah rasa yang telah kudapati untuknya? Dan bahkan hanya dengan melihat bayangnya saja aku tau kalau itu benar dia. Pelan tapi pasti langkah kaki itu berhenti tepat di sisiku. Dapat ku rasa rona kehangatan menyeruak di nadiku. Dia turut bersamaku menapaki indahnya langit malam itu. Malam ini, langit ini menjadi saksi bahagiaku bersamamu. Kak! Kau tau? Itulah aku! Kerlip bintang yang kau sapa sedari tadi. Kak! Andai matamu melihat aku, disanalah letak semua rahasia ku simpan. Sering kudapati mata indahmu itu. Tenggelam aku menikmati indah waktu yang ada. Seakan ada makna di baliknya. Tapi aku hanya bisa menerka. Ah bukan, aku rasa kita. Dan itu berarti.. ada apa? Entahlah, yang ku tau. Setelah kupejamkan mata di penghujung hari ini, ku tau ini semua akan kita sebut sebagai kenangan semata.

Pagi ini hujan turun lagi. Mungkin Tuhan tau, ada percikan api kali ini. Semakin panas dan kian menjadi. Tapi ini lucu sekali. Salahku! Harusnya ku buang saja rasa ini semenjak dulu. Harusnya ku tinggal saja rinduku agar malam yang kelam menenggelamkannya. Tapi ya sudahlah. Ini terlalu lambat untuk terus disesali. Kau bukan milikku. Dia yang telah bersamamu. Dia juga yang kurasa mampu melukis pelangi tuk indahkan duniamu. Happy Aniversary Kak Aro! Happy ever after. Aku turut bahagia. Aku rela menjadi malam yang kelam, pun kamu mampu bersinar terang dalam kelamku. Bintangku.

Karya: Vira Diana Ulnazilla
Facebook: Vira Diana Ulnazilla