Hantu Palsu Di Sekolah

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Aku berjalan terburu-buru dari parkiran menuju kelas. Aku datang sangat pagi, motorku pun terparkir pertama di tempat parkir Yang masih luas. Datang jam 6 kurang 15 menit, sehingga belum Ada seorang pun Yang Ada di sekolah. Cuaca mendung dengan kabut yang menyelimuti, sehingga pandangan terbatas. Alaskanku datang sepagi itu karena hari ini, yaitu hari jumat adalah jadwal piketku. Teman-temanku yang lain sudah piket kemarin setelah pulang sekolah. Biasanya ketika aku selesai rapat osis pintu kelas belum terkunci, namun kemarin pintunya sudah terkunci, jadi aku tak piket kemarin dan merupakan suatu keharusan bagiku untuk piket karena jika tidak akan didenda sebesar uang jajan yang orangtuaku berikan untuk jatah 1 hari. Rasanya konyol jika harus didenda karena tak piket kelas.

Sampailah di kelasku yaitu kelas 11 Ipa 1. Tak butuh berfikir terlebih dahulu untuk mengambil sapu, lalu mulai menyapu dari mulai ujung kelas. Ternyata belum ada satu orangpun yang piket, atau mungkin ada kumpulan di kelasku karena kelasnya sangat kotor dan juga banyak sampah plastik. Aku tak percaya akan adanya hantu, jadi awalnya tak sedikitpun merasa takut sendirian di kelas yang sepi. Namun baru beberapa bagian berhasil ku sapu, ada suara tangisan seseorang di luar sana karena penasaran aku berjalan menuju arah suara itu dengan terburu-buru karena rasa penasaran menyelimuti otakku.

Setelah kulihat, tak ada siapapun. Namun terlihat kursi taman yang sudah rapuh tak berdiri tegak sedang bergerak mengeluarkan suara “kreket kreket” mulai itu bulu kudukku berdiri, aku masih tak percaya soal hantu itu jadi aku memutuskan untuk meneruskan kembali pekerjaanku di kelas. Kuteruskan dengan kuhiraukan suara orang menangis yang kembali bersuara, namun kali ini ada suara seseorang yang batuk. Awalnya aku menghiraukan suara itu namun lama kelamaan rasa perasaanku kembali muncul.

Aku kembali berjalan, kini menuju ruang belakang karena arah seseorang yang batuk itu berasal dari kelas yang berada tepat di belakang kelasku. Aku berjalan namun dengan pelan, agar jika ada seseorang yang mengerjaiku orang itu tak bisa mendengar suara langkah kakiku. Semakin dekat dengan kelas itu, namun tak ada suara apapun lagi. Keyakinanku tentang tak adanya hantu mulai berubah, mungkin benar adanya makhluk lain di dunia ini juga di sekolahku saat pagi hari. Aku membalikan badan, serentak aku kaget, aku melihat seorang siswa yang berjalan pelan melewati sudut ruangan itu dengan baju di belakangnya yang berwarna merah seperti warna darah segar. Mulutku mulai bergerak juga bergetar, sebisa mungkin aku berdoa, membaca ayat-ayat al-quran juga membaca ayat kursi.

Sambil berjalan, Mulutku tetap membacakan doa-doa untuk mengusir setan itu. Aku kembali memasuki kelas karena area yang aku sapu belum apa-apa, mungkin masih 1/4nya. Baru sedikit aku menyapu, ada suara cewek yang berteriak meminta tolong namun tak sekeras tangisan sebelumnya. “Ya allah lindungi hamba, suara apa itu? Hentikan saja waktu ya allah, lebih baik aku didenda dari pada seperti ini” gerutu dengan pelan. Beberapa lama, suara teriakan meminta tolong itu mulai mereda dan berada di titik tak ada suara itu lagi.

Ketika aku melihat ke jendela dekat pintu aku melihat tangan yang dilambaikan. Aku yakin, mungkin seseorang mengerjaiku namun aku kembali berfikir di suasana sehening ini pasti suara kaki terdengar jelas namun ini tidak. Aku berjalan pelan, ketika aku membuka pintu tetap sama tak ada siapapun di sana.

Tapi ketika aku memutar badan untuk kembali masuk suara seseorang yang batuk kembali bersuara. aku kembali memutar badan, terlihat kembali sesosok pria berdarah yang berjalan ke arah lorong kecil, aku mencoba mengikuti makhluk di sana memastikan ia hantu atau hanya manusia yang tak punya kerjaan untuk mengerjaiku. Terdengar suara segala macam kali ini, burung yang menakutkan, tangisan, batuk, suara seseorang yang tertawa pelan juga suara lagu yang aku kira berasal dari handphoneku. Aku memutuskan untuk kembali menuju kelas untuk mengambil handphone yang bersuara sendiri juga tas yang sudah kusimpan di kursi tempatku duduk ketika kbm.

Tak butuh waktu lama, sampai juga di papan pintu. “Bismillah” aku membuka pintu. “Happy birthday chika, happy birthday chika.” Adrian, veti dan juga andini sahabat-sahabatku telah berdiri di depan pintu dengan kue ulang tahun juga lengkap dengan lilin berbentuk angka 17 berada di tangan veti. Aku menangis melihatnya, antara haru juga takut dengan kehorroran yang sangat menakutkan.

Ternyata suara-suara itu palsu, suara batuk seseorang, suara tangisan, suara seseorang berteriak juga seseorang yang berjalan menuju lorong itu manusia bukanlah hantu seperti yang aku duga. hanyalah suara sahabat-sahabatku yang konyol untuk membuat kejutan ulang tahun. Berkesan juga menakutkan ulang tahunku yabg ke 17.