Gangguan dan Penyakit pada Sistem Indra

By On Monday, February 27th, 2017 Categories : Sains

Aristoteles (384 SM – 322 SM) mendapat pujian dengan klasifikasi tradisional lima organ indra: penglihatan, penciuman, rasa, sentuhan, dan pendengaran.

Tahun 1760-an, filsuf terkenal Immanuel Kant mengusulkan bahwa pengetahuan kita tentang dunia luar tergantung pada cara kita mempersepsi. Dalam rangka untuk menentukan apa yang “ekstrainsrawi” kita perlu mendefinisikan apa itu “indera”.

Masing-masing dari 5 indera terdiri dari organ dengan struktur selular khusus yang memiliki reseptor untuk rangsangan tertentu. Sel-sel ini memiliki link ke sistem saraf dan dengan demikian ke otak. Penginderaan dilakukan pada tingkat primitif dalam sel dan diintegrasikan ke dalam sensasi dalam sistem saraf. Penglihatan mungkin indera yang paling maju pada manusia, diikuti oleh pendengaran. Alat-alat indra dapat mengalami gangguan dan kelainan. Gangguan pada sistem indra tercantum berikut ini.

1.    Gangguan pada indra pendengaran

Gangguan yang terjadi pada indra pendengaran tercantum berikut ini.
a.    Gangguan pendengaran yang disebabkan karena tersumbatya telinga luar oleh kotoran, kerusakan pada tulang pendengaran, atau infeksi membran timpani.

b.    Gangguan yang berhubungan dengan telinga sebagai organ keseimbangan adalah vertigo. Vertigo adalah sensasi tubuh berputar. Hal ini dapat terjadi karena radang di telinga dalam atau melebarnya pembuluh darah (karena oksigen berkurang), sehingga saraf keseimbangan akan tertekan dan membangkitkan impuls ke otak.

c.    Hilangnya pendengaran akibat pencemaran suara. Suara yang keras dapat menyebabkan kerusakan telinga seperti pecahnya gendang telinga. Akibatnya pendengaran terganggu bahkan pendengaran dapat hilang.
d.    Tuli/kurang tajam pendengaran dibedakan menjadi dua.
1)    Tuli konduksi dapat terjadi karena
a)    Penyumbatan telinga oleh serumen (minyak telinga)
b)    Penebalan/pecahnya membran timpani
c)    Pengapuran tulang pendengaran
d)    Kekakuan hubungan stapes pada fenstra ovali
2)    Tuli saraf dapat disebabkan oleh
a)    Kerusakan saraf auditori dan
b)    Kerusakan saraf pendengaran

2.    Gangguan pada indra penglihatan

Berikut gangguan pada indra penglihatan:
a.    Miopi, merupakan ganggua penglihatan yang disebabkan oleh lensa mata terlalu cembung, sehingga bayangan benda jatuh di depan retina. Miopi disebut juga rabun jauh. Untuk menolong penderita miopi, dipakai kacamata lensa cekung (lensa negatif).

b.    Hipermetropi, merupakan gangguan penglihatan yang disebabkan lensa mata terlalu cekung, sehingga bayangan retina jatuh di belakang retina. Untuk menolong penderita hipermetropi, dipakai kacamata lensa cembung (lensa positif).

c.    Presbioipi, merupakan gangguan penglihatan yang disebabkan berkurangnya daya akomodasi lensa mata. Presbiopi umumnya dialami oleh orang lanjut usia. Untuk menolong penderita presbiopi, dipakai kacamata lensa rangkap (cembung dan cekung).

d.    Astigmatisme, merupakan gangguan penglihatan yang disebabkan oleh kecembungan permukaan kornea atau permukaan mata yang tidak rata, sehingga sinar sejajar yang datang tidak difokuskan pada satu titik. Untuk menolong penderita astigmatisme dipakai kacamata silindris.

e.    Katarak, yang gangguan yang disebabkan adanya pengapuran pada lensa mata, sehingga daya akomodasi dan penglihatan menjadi kabur.

f.    Glaukoma, yaitu gangguan yang terjadi karena tekanan cairan di ruang depan lensa meningkat, sehingga menghambat aliran darah. Akibatnya dapat terjadi kebutaan.

3.    Gangguan pada indra pengecap

Berikut gangguan yang terjadi pada indra pengecap.
a.    Ageusia, yaitu ketidak mampuan lidah untuk mengecap karena rasa tidak memiliki reseptor pengecap.
b.    Hipogeusia, yaitu menurunnya sensitivitas daya pengecap
c.    Disgeusia, yaitu ketidak mampuan mengecap rasa tertentu.
d.    Glositis, yaitu radang pada lidah karena pengaruh obat atau keadaan demam.

Gangguan dan Penyakit pada Sistem Indra

Gangguan dan Penyakit pada Sistem Indra

4.    Gangguan pada indra penciuman

Gerikut gangguan yang terjadi pada indra penciuman
a.    Anosmia, yaitu tidak punya reseptor bau, sehingga tidak mampu mendeteksi bau
b.    Hiposmia, yaitu menurunnya sensitivitas daya pembau
c.    Disomia, yaitu tidak mampu mendeteksi bau tertentu.
d.    Sinusitis adalah peradangan pada rongga hidung bagian atas. Gejala sinusitis berupa sakit kepala, ingus bening, tenggorokan sakit, dan batuk.