Gadis di Balik Jendela

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita
Gratis Samsung

“Eh, apa itu.. di balik jendela rumah sana?”
“Apakah itu seorang gadis?”
Tuk… Tuk… Tuk…
“Gadis itu ngetuk-ngetuk jendela, ya? Dia manggil kita?”
“Kita datangi, yuk.”
GEDOR DORR DORRR DORRR!!!!!
“Ya, tuhan.. ada apa dengan gadis itu?”
Seketika si gadis di balik jendela menampakkan wajahnya. Mukanya penuh dengan warna merah pekat. Matanya tampak begitu ketakutan, memanggil bantuan. Rambut panjang yang hitam lekat melumuri setengah bagain wajahnya. Tangannya terus menggedor kaca jendela hingga mengeluarkan cairan merah.
PRENGGGGG
Kaca jendela pun pecah dan berserakan kemana-mana. Kedua lelaki yang hendak menghampiri gadis di balik jendela tersebut kabur, berlari secepat kilat. Berusaha menjauh dari rumah si gadis di balik jendela.

Rumah tua kosong. Tampak begitu besar dan megah. Memang banyak orang yang mengidam-ngidamkan rumah seperti itu. Namun sudah dua tahun rumah tersebut tidak terjual. Banyak warga sekitar membicarakan bahwa rumah tua tidak terjual karena terdapat hantu yang gentayangan. Setiap kali seseorang melewati rumah tua, mereka akan merasakan bulu kuduknya merinding.

Beberapa bulan kemudian seorang ayah, ibu, dan anak gadis pindah ke rumah tersebut. Seminggu setelah para anggota keluarga tinggal di rumah tua yang besar, tiba-tiba mereka semua menghilang. Entah mereka menghilang ke mana, tidak ada yang tahu keberadaan mereka di mana. Rumah itu kembali kosong. Siapa yang berani masuk ke dalam rumah tersebut? Tidak ada satu pun orang. Kemisterian rumah tua kosong diperbincangkan lagi oleh warga-warga.

Matahari berjalan ke arah ufuk barat, terlihat tiga remaja dengan santainya duduk dan bercakap-cakap. Bercakap mengenai sang rumah tua.
“Kalian tahu tidak, kalau rumah tua kosong sebelah.. berhantu?” tanya Felly.
“Semua orang juga tahulah tentang rumah tua itu. Katanya kalau jam 9 malam ada kuntilanak lho di balik jendela situ,” jawab Adrian.
“Ah masa, sih? Biasanya tidak ada hantu yang menampakkan diri deh,” kata Deni.
“Belakangan ini pada jam 9 malam kalau orang lewat rumah tua pasti dipanggil-panggil kuntilanak di balik jendelanya. Sepertinya kuntil anak itu minta tolong,” perjelas Adrian.
“Apa benar? Jadi penasaran dengan rumah tua.. Aku punya ide!” seru Adrian.
“Ide? Jangan bilang.. kamu mau coba.. masuk ke rumah tua itu,” kata Felly terbata-bata.
“Ayolah, sudah terlalu banyak orang yang membicarakan cerita-cerita rumah tua. Sekarang aku tanya, siapa yang berani masuk ke dalam rumah tua? Sejauh ini tidak ada kan? Lebih baik kita buktikan apakah semua cerita kuntil anak itu benar atau tidak,” ajak Adrian.
“Ok. Aku ikut! Kamu gimana, Fell? Ikut sajalah! Emang kamu tidak berani?” kata Deni.
“Siapa bilang tidak berani? Ayo, kita masuk ke rumah tua. Jam 9 malam teng ini?” ujar Felly.
“Pasti? Tidak ada yang boleh kabur ya,” kata Adrian.
“Pasti!!!” jawab Felly dan Deni berbarengan.

Ketiga remaja tersebut sepakat akan mengunjungi rumah tua tepat pada jam 9 malam. Mereka mencoba untuk menantang nyalinya terhadap kondisi rumah tua. Sebelum Adrian, Felly dan Deni mendatangi rumah tua, mereka membawa beberapa peralatan untuk berjaga-jaga seperti senter dan silet.

Pada pukul setengah 9, Adrian, Felly, dan Deni siap untuk berjalan ke rumah tua. Mereka saling bertemu lalu bersama-sama memasukki rumah tua.

“Eh, kamu kenapa bawa makanan ringan, Den?” tanya Adrian kebingungan.
“Deni berasa akan nonton bioskop, ya?” ejek Felly.
“Ya, siapa tahu saja di dalam rumah tua kita akan terjebak tidak bisa keluar dan perlu makanan pengganjal kalau lapar,” jelas Deni.
“Terserah kamulah, Den. Yuk, kita masuk rumah tua,” ujar Adrian.

Ngek… Pintu rumah tua dibuka oleh Adrian. Terlihat ruang tamu yang sangat besar, dipenuhi dengan debu yang menggeliat di setiap sisi barang dan dinding. Lantai rumah pun terasa rapuh. Setiap kali mereka melangkah, debu berloncat-loncatan.
“Wah.. tiap kali kumelangkahkan kaki di rumah ini… bulu kudukku selalu merinding,” ucap Deni.
“Ssshhh.. jangan berisik, Den. Kalau si gadis hantu itu dengar kita gimana?” tanya Felly.
“Hantu ada di mana-mana, Fell. Bahkan di sebelah kamu juga ada,” kata Adrian.
“Ih, Adrian bercanda terus!”
“Hahaha.. kamu takut ya, Fell?” tanya Deni.

Tuk… Tuk…
“Kalian dengar, tidak?” tanya Felly yang terkejut.
“Dengar apa? Suara hantu nangis? Haha–”
Tuk… Tuk… Tuk…
“Itu siapa yang mengetuk-ngetuk pintu..” ucap Deni kebingungan.
“Mari kita cari tahu! Den, kamu ke ruang sebelah sana, Felly ke lantai dua!” perintah Adrian.
“Lah? Aku sendiri ke lantai dua? Di sana kan letak jendelanya!” kata Felly ketakutan.
“Tidak, aku juga ke atas. Tapi kita nanti berpencar.”

Adrian, Felly dan Deni mulai berpencar. Deni tampak terlihat paling takut karena dia hanya sendiri. Ia pun ikut berlari ke lantai dua, ketakutan terhadap suasana yang seram di lantai satu.
“Aduh, Deni. Kamu kenapa ikut kami?”
“Hehe, aku takut di bawah, Dri.”
“Sssttt.. kalian berdua berisik dong. Siapa tau ada suara mencurigakan lagi.”

Tuk… Tuk… Tuk…
Suara ketukan tersebut berasal dari pintu persis di depan ketiga remaja. Mereka pun saling menengok ke satu sama lain, bingung memutuskan untuk membuka pintunya atau tidak. Setelah beberapa menit, Adrian dengan pelan-pelan membuka pintu tersebut.
Krik…
Suara pintu terbuka. Adrian telah membuka pintu tersebut lebar-lebar, tapi nyatanya tidak ada apapun di balik pintu dan dalam ruangan tersebut. Mereka menyebar dan memperhatikan barang-barang di setiap sudut dan juga dinding kamar. Terpampang besar bingkai foto yang menggambarkan tiga anggota keluarga; seorang ayah, ibu dan anak perempuan. Anak perempuan tersebut merupai rambut hitam pekat panjang yang dimiliki oleh gadis di balik jendela.
“Apakah foto anak perempuan itu… si gadis di balik jendela…?” tanya Felly.
“Mungkin saja…” kata Adrian.

GEDUBRAKKK!!!
Suara benda jatuh terdengar sangat keras sampai Adrian, Felly dan Deni terkejut melompat. Suara itu berasal dari dalam lemari besar yang berkayu cokelat tua. Hati mereka berdegup kencang, mengamati sosok lemari tersebut. Adrian melangkah maju mendekati lemari tersebut.
“Adrian, kamu mau ngapain?” tanya Deni.
“Aku akan membukanya.”
“Jangan, Den! Kalau isinya berbahaya bagaimana?” ucap Felly.
“Tidak mungkin, bisa saja suara itu hanyalah anak kucing jatuh,” jawab Deni.

Adrian membuka pintu lemari perlahan-lahan. Namun tidak ada apa-apa di dalam lemari tersebut. Hanya terdapat baju-baju yang tergantung. Adrian kembali menengok kepada teman-temannya, memberi tahu bahwa tidak ada apa-apa di dalam lemari. Ia pun menutup pintu lemari.
“Suara apa ya tadi?” Deni terbingung-bingung.
“Aku ada perasaan aneh dengan lemari itu..” ujar Felly.

DUBRAKKK!!!
Suara keras tersebut muncul lagi, berasal dari lemari itu juga. Ketiga remaja tersebut saling melihat satu sama lain. Mata mereka memperlihatkan rasa tekejut, bingung, dan ketakutan. Karena merasa penasaran dan kebingungan, Adrian membuka pintu lemari lagi. Mereka bertiga sangat kaget, Deni sampai melompat. Terlihat kaki berukuran mungil muncul di antara baju-baju yang tergantung. Adrian melihat teman-temannya, apakah hanya dia yang melihat kaki tersebut? Namun kedua temannya memberikan tatapan terkejut dan mengatakan jangan disingkirkan bajunya, biarkan saja dan tutup pintu lemari itu. Adrian mengabaikan temanya, ia menyingkirkan semua baju yang tergantung. Seorang perempuan duduk, memeluk kaki, menundukkan kepalanya. Wajah perempuan itu tidak terlihat, rambut hitam panjangnya menutupi seluruh kepalanya. Adrian, Felly dan Deni bertambah kebingungan dan takut. Apakah ini gadis di balik jendela? Si hantu yang selama ini warga ceritakan?

“…Kamu siapa?” tanya Adrian.
“Apakah… kamu si… gadis… di balik… jendela?” Deni bertanya sambil terbata-bata menelan ludah.
Tak berani mengatakan apa-apa, Felly terdiam, mengumpat di belakang punggung Adrian dan Felly. Semuanya diam, ketiga remaja menunggu jawaban, si perempuan itu tidak menjawab pertanyaannya. Perempuan yang menyerupai si gadis di balik jendela terlihat sangat ketakutan, ia sampai gemetaran.
Memberanikan diri, perempuan tersebut bertanya, “…Apakah dia ada di luar?”
“Siapa yang ada di luar…?” tanya Adrian kebingungan.
“Dia.. yang membunuh kedua orangtuaku… dia.. yang selalu kembali setiap waktu… dia.. yang menggunakan topeng menyeramkan… dia.. yang memegang pisau tajam.. yang mencabik-cabik perut ayah dan ibu…”
“Jadi… mari kita pulang saja, Fell, Den. Kamu.. apa… ikut kami saja?” ujar Adrian.
“Kamu tidak apa-apa ke rumah kami, di sana aman, kok,” tambah Deni.
“Tapi.. aku tidak bisa keluar dari rumah ini…”
“Mengapa seperti itu?” kata Felly.
“Dia.. ada di mana-mana. Aku pernah mencoba berkali-kali untuk keluar dari rumah ini. Namun dia selalu ada di sana. Untungnya.. dia masih belum tahu keberadaanku sekarang. Lebih baik kalian pulang dari rumah ini.. sekarang juga.”
“Ikut kita saja, di luar benar-benar tidak ada orang satu pun,” ajak Adrian.
“Tetapi…”

Krek… Krek… Krek…
Langkahan kaki seseorang menaiki tangga terdengar. Suara tersebut menjadi semakin keras. Adrian, Felly, Deni dan si gadis di balik jendela terdiam seketika. Ketakutan, tidak tahu harus melakukan apa-apa. Ya, Dia telah muncul.
Si gadis berbisik kepada ketiga remaja, “Kalian… cepat bersembunyi.. lalu segera pulang… abaikan aku saja,” ia menutup pintu lemari, bersembunyi dari Dia.

Mereka bertiga tidak tahu harus bersembunyi di mana. Akhirnya Adrian dan teman-temannya memutuskan untuk keluar dari rumah itu tanpa ketahuan oleh Dia. Saat memutar ke belakang, berjalan menuju pintu kamar untuk keluar.. mereka melihat sosok Dia yang menggunakan topeng menyeramkan, memegang pisau yang terlihat sangat tajam di tangan kanannya.
Si gadis di balik jendela mendengar suara teriakan yang begitu keras, berkali-kali. Suara tusukan pisau pun terdengar, berkali-kali. Ia memeluk kaki, menundukkan kepalanya, gemetar ketakutan. Berharap semua yang telah terjadi hanyalah sebuah mimpi buruk.

Cilla Lee-Jenkins: Future Author Extraordinaire, The Twits, Jacked Up (Birmingham Rebels, #3), Pachinko, The Virgins, I Could Pee on This And Other Poems by Cats, Blizzard, Hooray for Fish!, The Art of Peace, Head Start, The Red Pyramid (Kane Chronicles, #1), Bonded by Blood, Round Robin (Elm Creek Quilts, #2), Food Swings: 125 Recipes to Enjoy Your Life of Virtue and Vice, On Tyranny: Twenty Lessons from the Twentieth Century, The Master Will Appear, A New Jersey Love Story: Troy & Camilla, Turbulence (Kennedy Stern #5), The Hating Game