Gadis Berayun

By On Friday, March 17th, 2017 Categories : Cerita

Aku Rini. Aku masih duduk di bangku SMA. Aku adalah orang pemurung dan pendiam di kelasku tepatnya kelas XI-2. Mereka sering menjauh dariku.. mungkin karena aku memiliki kemampuan yang jarang dimiliki mereka. Hahaha itu sudah biasa terjadi semenjak aku duduk di kelas VI SD. Aku tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi? Tapi aku hanya mendiamkan saja dan acuh menakutkan memang tapi lama-kelamaan aku terbiasa. Teman-teman SMA-ku jarang bersamaku, mungkin mereka takut kalau aku akan melukai atau menakut-nakuti mereka. Sore itu sepulang aku kerja kelompok di sekolah aku melewati halaman belakang sekolah untuk pulang.. tapi.. ada yang aneh, tidak seperti biasanya. Aku melihat seorang wanita yang berayun di bawah pohon yang rindang dan besar. Aku mencoba menghampirinya. Aku melangkah perlahan tapi entah apa yang membuatku terkedip. Sosok wanita itu hilang begitu saja.. aku mulai bertanya di situ.

“Hei kamu siapa? Ayo keluar!!”

Namun tak ada sahutan dari pertanyaanku itu. Aku mungkin berkhayal. Pintaku dalam hati.. namun wanita itu itu seolah mengikutiku. Tapi ketika aku berpaling tidak ada siapa pun di situ. Aku bertanya lagi, “Hei ayo ke luar jangan main-main ini sudah senja?” Tapi sama saja, tidak ada sahutan untuk itu. Seolah tak peduli aku pun pergi tanpa menghiraukan apa pun lagi. Namun ketika aku berdiri dari kejauhan sosok itu duduk dan berayun lagi sambil menundukkan kepalanya. Aku ingin menghampirinya tapi, aku merasa malas untuk kembali. 30 menit berlalu untuk menuju rumahku, waktu menunjukkan pukul 17.23 Wib.

Orangtuaku mengatakan jika sudah senja jangan di luar rumah. Tapi entah kenapa aku lupa tentang hal itu, aku tidak sadar berada di luar rumah untuk membeli sesuatu ketika itu, padahal aku bisa membelinya setelah pukul 18.30 Wib. Tapi aku malas untuk ke luar larut. Entah kenapa komplek sekitar rumahku sepi semua. Tidak ada warga atau siapa pun di luar kecuali aku. Angin berhembus lagi. Aku melewati belakang sekolahku lagi. Saat itu sudah gelap tapi aku bingung kenapa masih ada orang di sekolah pada saat seperti itu? Aku menyapanya untuk ketiga kali.

“Hei.. kamu? Iya kamu? Sedang apa kamu di situ.” Dia pun menoleh, tapi dia menoleh ke arahku dengan tatapan mata yang merah dan raut muka yang datar. Dia hanya terdiam dan membisu. Ku lontarkan lagi perkataanku, “Hei. Kamu dengar tidak?” Dengan rasa geram dia beranjak dari ayunan itu dan masuk ke dalam sekolah melalui pintu belakang. Tapi pertanyaanku bagaimana dia bisa masuk ke sekolah padahal ada penjaga di situ? Apa penjaga sekolah tidak melihat dia. Lontaran dari penjaga sekolah pun ke luar.

“Kamu? Ada apa kamu malam-malam di sini? Kamu pulang sana!! Kalau kamu di sini dan terjadi apa-apa kami tidak tanggung jawab! Lagi pula apa yang kamu lakukan?” aku terdiam sebentar mendengar itu lalu ku jawab perlahan. “Tadi aku melihat seorang gadis masuk melewati pintu belakang Pak.”
Penjaga sekolah itu menjawab, “Kamu jangan mengada-ada saya dari tadi menjaga pintu belakang sekolah ini dan tidak ada siapa pun yang masuk.”
Jawabku lagi, “Tapi..” terpotong jawabanku karena penjaga itu menyuruhku pulang. Dengan rasa sangat penasaran aku pulang dengan pemikiran teka-teki siapa itu.

Keesokan harinya sepulang sekolah aku berusaha mencari dia di setiap sudut sekolah. Tapi tidak ku temukan dia. Hingga aku teringat ayunan belakang sekolah. Aku bergegas dan pergi menuju ayunan belakang sekolah itu. Benar dugaanku dia duduk dan berayun di situ. Aku menghampirinya dengan perlahan dan menyentuh bahunya dan bertanya lagi “Kamu ini siapa? Kenapa misterius sekali?” Tapi hal yang sama terjadi dia diam saja.

loading…

Ada seorang guru lewat di situ dia bertanya kepadaku. “Apa yang kamu lakukan di sini Rani? Kenapa kamu sendiri? Kenapa belum pulang?” aku bingung mendengar pertanyaan ibu guru itu. “Sendiri? Aku tidak sendiri. Aku bersama seorang gadis di sini. Itu yang sedang berayun itu Bu.” guru itu terdiam, sedangkan aku melihat gadis itu dengan penuh tanya siapa dia. Tapi dia selalu diam. Lalu guru itu bicara lagi, “Ahh kamu. Mengada-ada saja kamu hanya sendiri di sini.”
“Tidak Bu.. aku bersama gadis itu. Lihat ayunan itu.. itu dia sedang berayun di situ,” merasa ada yang aneh ibu itu pun pergi meninggalkan aku. Gadis pendiam yang berayun itu pun bicara kecil denganku, tetap dengan raut wajah datar ia bicara.

“Untuk apa kamu meyakinkan semua orang jika kamu sedang bersamaku? sedangkan aku saja sudah tiada..”
Aku terkejut. Dan menjawabnya, “Su.. sudah tiada? Apa maksudmu?”
“Iya, sudah tiada. Kamu mengerti kan?”

“Tapi kenapa? Kenapa sudah tiada?”
“Aku sakit.. tapi sakit itu bukan mauku. Aku koma selama setahun di rumah dan aku adalah siswi kelas XII-2 harusnya sekarang.. tapi ajal menjemputku sebelum aku bisa bahagia dan naik kelas..”
“Lalu kenapa kamu tidak pergi jauh dari dunia ini? Padahal kan kamu sudah tiada?”
“Ada satu hal yang membuatku ragu pergi jauh.”
“Apa?”
“Orang yang membuatku sakit,”
“Ya. Sudah ku katakan padamu, aku sakit bukan karena kemauanku. Ada seseorang yang melakukan itu.”

“Siapa orang itu?”
“Bukan siapa-siapa. Kamu sebaiknya pergi jangan membuang waktumu seperti orang gila di sini. Orang banyak memperthatikanmu karena kamu seolah bicara sendiri. ”
“Aku sudah biasa seperti ini.” Ketika aku menengok ke arah lain dan kembali menengok dia ternyata dia sudah tidak ada. Ketika itu ada temanku bernama Toni dia melihatku dan dia bertanya, “Kamu gila ya? Ngapain kamu ngomong sendiri tadi?”
“Bukan urusan kamu.” jawabku judes.

Waktu pun menunjukkan pukul 17.14 Wib. Aku bergegas pulang dan di rumah aku selalu bingung siapa gadis itu sebenarnya. Rahasia gadis berayun itu membuatku semakin penasaran. Keesokan harinya. Aku memperhatikan ayunan itu dari balik jendela kelasku. Dan yaa.. benar saja ada gadis yang berayun di situ. Aku berlari meninggalkan kelasku sambil berkata, “Tunggu!” dan teman-temanku merasa ketakutan karena aku langsung berlari dan meninggalkan kelas. Toni mengikutiku.

Aku bertanya lagi kepada gadis berayun itu, “Kamu ini siapa sih? Kenapa sangat rahasia?”
“Aku.. Aku Shanti.. sudah apakah kamu puas?”
“Kenapa kamu selalu di sini? Pergi jauh sana!”
“Ada hal yang ingin aku tahu.”

“Apa?”
“Toni,”
“Hah?! Toni kenapa dengan dia?”
Tiba-tiba ada suara ranting yang terinjak. Dan ternyata itu adalah Toni.
“Toni? Apa yang kamu lakukan?”
“Tidak ada. Aku hanya mendengar kamu menyebut namaku.”
“Tonii.”

Bisikan itu terdengar di telinga Toni Dan Rani.. Toni pun menjawab, “Shanti? Shanti kamu di mana?”
“Di sini? Di ayunan seperti yang kamu sering lihat.. ”
“Kamu masih ada. Tapi kamu tidak bisa disentuh?”
“Aku sudah tiada.. kita berteman baik. Dan hingga kamu menyampaikan itu aku tidak bisa menjawabnya karena sakit itu.”

“Shanti?”
“Aku mau pergi jauh. Kamu nggak apa-apa kan?”
“Tapi?”
“Aku nggak bisa di sini. Kita udah beda.. jadi aku minta maaf. Aku haru pergi.. makasih udah mau jadi teman aku walaupun aku banyak penyakit dulu dan tragedi itu aku harap kamu lupain,”
“Shanti.. ”
“Aku pergi.. baik-baik ya.. Ran jaga dia ya,”
“Aku?” Sontakku bingung.
“Ya.. akhirnya aku bisa pergi jauh dengan senyum.”

Lalu entah apa. Yang membuat aku dan Toni terdiam. Sosok Shanti yang sering berayun di situ sudah tidak pernah ada lagi dan itu membuat kami merasa kalau dia benar-benar pergi dengan senang tanpa beban. Akhirnya setelah berhari-hari mencari tahu dan mengungkap rahasianya aku bisa tahu yang sebenarnya.

TAMAT

696646, 696647, 696648, 696649, 696650, 696651, 696652, 696653, 696654, 696655, 696656, 696657, 696658, 696659, 696660, 696661, 696662, 696663, 696664, 696665, 696666, 696667, 696668, 696669, 696670, 696671, 696672, 696673, 696674, 696675, 696676, 696677, 696678, 696679, 696680, 696681, 696682, 696683, 696684, 696685