Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim

By On Saturday, March 22nd, 2014 Categories : Sains

Kinerja enzim dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja enzim.

1. Suhu
Setiap kenaikan 10 derajat Celcius, kecepatan reaksi enzim meningkkat hingga 2 kali lipat. Hal ini berlaku pada batas suhu yang wajar. Meningkatnya suhu berkaitan dengan peningkatan energi kinetik pada enzim dan molekul substrat. Dalam suhu yang lebih tinggi, kecepatan molekul substrat mengalami peningkatan. Sehingga, ketika bertumbukan dengan enzim, energi molekul substrat mengalami pengurangan. Hal ini mempermudah molekul substrat terikat pada sisi enzim yang aktif. Meningkatnya suhu secara ekstrim dapat menyebabkan bergetarnya atom-atom penyusun enzim sehingga ikatan hidrogen terputus dan enizm mengalami denaturasi. Denaturasi merupakan kerusakan bentuk tiga dimensi enzim dan membuat enzim terlepas dari substratnya. Hal ini membuat aktivitas enzim mengalami penurunan. Denaturasi bersifat tidak dapat balik (irreversible). Tiap-tiap enzim memiliki suhu optimum, mayoritas enzim memiliki suhu optimum 37 derajat Celcius. Mayoritas enzim tumbuhan memiliki suhu optimum 25 derajat Celcius.

2. pH (derajat keasaman)
Enzim memiliki kepekaan tinggi terhadap perubahan derajat keasaman dan kebasaan (pH) lingkungan. Enzim bisa tidak aktif jika berada pada basa kuat atau asam kuat.

Enzim intrasel pada umumnya bekerja secara efektif pada kisaran pH 7,0. Apabila pH ditingkatkan atau diturunkan di luar pH optimalnya, maka aktivitas enzim akan mengalami penurunan secara cepat. Namun, terdapat enzim yang mempunyai pH optimal agak basa, seperti amilase, dan sangat asam, seperti pepsin. Amilase mempunyai pH optimum sekitar 7,5 (agak basa). Sedangkan, pepsin mempunyai pH optimal sekitar 2 (sangat asam).

3. Inhibitor
Kinerja enzim bisa terhambat oleh adanya zat lain. Zat yang menghalangi kerja enzim dinamakan inhibitor. Inhibitor dapat menghalangi kerja enzim secara tetap atau hanya untuk semnetara. Inhibitor enzim dibedakan menjadi 2 jenis, antara lain inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif.

a. Inhibitor kompetitif
Inhibitor kompetitif merupakan molekul penghalang yang bersaing dengan substrat untuk memperoleh sisi aktif enzim. Misalnya, sianida bersaing dengan oksigen agar memperoleh hemoglobin dalam rantai respirasi terakhir. Penghambatan yang dilakukan oleh inhibitor kompetitif sifatnya sementara dan bisa diatasi dengan menambah konsentrasi substrat.

b. Inhibitor nonkompetitif
Inhibitor nonkompetitif yaitu molekul penghambat enzim yang cara kerjanya dengan menempelkan diri pada bagian luar sisi aktif enzim. Sehingga, bentuk enzim mengalami perubahan dan sisi aktif enzim tidak bisa berfungsi. Hal ini membuat enzim substrat tidak bisa masuk ke sisi aktif enzim. Inhibitor nonkompetitif enzim sifatnya tetap dan tidak bisa terpengaruh oleh konsentrasi substrat.

Selain inhibitor, ada juga aktivator yang berpengaruh terhadap kinerja enzim. Aktivator adalah molekul yang mempermudah enzim berikatan dengan substratnya. Misalnya, ion klorida yang memiliki peran aktif dalam aktivitas amilase di dalam ludah.