Dipertemukan Karena Rasa Sakit

By On Monday, March 13th, 2017 Categories : Cerita

Ada banyak arti dari sebuah kata dan banyak maksud dari setiap kata yang terucap dari seseorang. Bagaikan petir di pagi hari, itulah perasaan yang kurasakan saat diri ini tersadar telah terlambat berangkat ke sekolah. Tanpa banyak acara dan tingkah yang membuang-buang waktu akhirnya aku berangkat ke sekolah dengan keadaan tergesa-gesa.

Saat ini aku sekolah dalam jenjang SMA, masa dimana aku akan menentukan bagaimana masa depanku berlanjut karena ujian nasional telah kulalui dan aku mendapatkan hasil yang memuaskan, setidaknya nilai yang kudapatkan lebih dari cukup untuk aku dapat melanjutkan kuliahku.

Aku tidak pernah percaya akan cinta sebelum aku bertemu dengan seorang pria yang dengan ketelatenannya telah dapat memikat hatiku…

“Dave…”
Teriakku menghampiri seseorang yang kulihat bayangannya dengan samar-samar sedang berjalan menjauh dari pandanganku.
“Hai Keys… mau pulang? Mau pulang bersama?” Tawarnya dengan nada dingin.
“Tentu saja…” sambil kugenggam lengannya, kuberikan senyuman tertulusku padanya. Ada kehangatan dan kenyamanan tersendiri saat berada di sampingnya sehingga menurutku, tidak butuh banyak alasan untuk terus bersamanya.

Tiba-tiba Dave berhenti dan aku terheran melihat pandangan kosongnya yang bersamaan menggenggam tanganku, ada rasa terkejut saat merasakan ada kehangatan pada seluruh permukaan tanganku.
Deggg… DEGG..
Perasaan ini muncul kembali, keringatku bercucuran saat menanti ucapan yang akan ia lontarkan. Yang aku takutkan saat ini adalah kejadian yang sama akan terulang kembali.

“Keys…” ucapnya saat keheningan terjadi antara kami.
Dengan wajah polos yang ketakutan ini aku hanya menunjukan wajah-wajah siap untuk mendengarkan sesuatu hal yang mungkin saja akan mengejutkan bagiku.
“apakah saat ini lu mau nerima gue jadi pacar lu kembali? dan untuk sekian kalinya gue akan tetap setia mendengar alasan lu menolak gue. Akankah kali ini lu akan menyakiti gue lagi keys? Selama 3 tahun gue berharap ke lu, 11 kali gue ditolak oleh lu, dan apa alasan lu akan tetap sama? Alasan dimana lu belum bisa percaya ke gue? Kenapa lu sangat membenci cowok keys?” keheningan terjadi kembali di antara kami.

Tanpa berani menatap Dave yang masih memegang tanganku, ada rasa sedih dan emosi yang bercampur dalam hatiku… ada banyak hal yang menghantui pikiranku, aku takut, aku khawatir dan aku depresi dengan semua kenyataan yang hadir dan pergi dalam hidupku, terutama keadaan keluarga yang membuatku ingin meninggalkan dunia yang kejam ini. Ayahku adalah seorang lelaki yang sangat kubenci begitupun dengan kakakku tino. Aku membenci mereka karena sejak kecil mereka tidak pernah ada untukku, kakak sibuk dengan penyesalan hidupnya dan ayah sibuk dengan istri barunya. Sehingga aku dan mama hanya bisa pasrah dengan keadaan dan akan selalau belajar untuk menerima kehancuran keluarga kami. Ingin rasanya aku berteriak dan jujur tentang semua ini padanya.

Yang terjadi hanyalah air mata yang terjatuh di pipiku, aku hanya bisa menahan semua perasaan ini tanpa mampu mengugkapkan kata-kata yang sejujurnya. “Dave andai kamu tahu, tak mudah bagiku menolak cinta yang jelas-jelas ingin kumiliki” aku berkata dalam batinku seraya aku berusaha untuk melepaskan genggaman tangan dave. Aku berniat ingin lari dan tak ingin melihat wajah kekecewaan di wajahnya apalagi saat aku sadar bahwa akulah alasan dari kekecewaannya tersebut.

Saat aku hendak lari, dave menahan lenganku dan aku menarik lenganku sekuat tenaga dengan harapan bisa terlepas dari kejadian ini. Namun apa daya tangan ini tidak mampu berbuat apa-apa yang terjadi adalah tubuh ini terjatuh di pelukannya dan apa daya aku tidak bisa menghentikan dan membohongi perasaanku sendiri bahwa aku juga sangat mencintainya. Dalam dekapannya aku merasa seakan-akan ada magnet yang menarik begitu kuat.

“Apa gue gagal? Apa gue telah kalah? Gue Cuma mau mengubah pandangan lo tentang cinta, pandangan buruk lu tentang cowok dan semua hal yang menghambat kebahagiaan lo”
Kata-kata yang begitu menyakitan untuk kudengar dan aku sangat benci mendengar suara lirihnya yang secara tidak langsung menyadarkanku tentang betapa jahatnya perbuatan yang telah aku lakukan selama 3 tahun ini. Kucoba membalas pelukannya dan dengan keberanian yang cukup aku mengutarakan hal yang selama ini ingin kukatakan.

“Dave kamu tidak gagal dan tidak akan pernah gagal, hanya saja aku takut kehilangan kamu dan jujur saja aku takut disakiti, karena aku tau disakiti oleh orang yang kita cintai seperti mati untuk mati. Rasa sakitnya akan lebih terasa dan tidak akan mudah untuk diobati” lirihku menangis di pelukannya…

Dave melepaskan pelukannya dan menatapku dengan penuh arti “keys bagaimana kamu akan merasakan cinta saat kamu menutup diri tanpa celah sedikitpun untuk aku masuki, aku mencintaimu dan selalu akan mencintaimu. Menurutku cukuplah usahaku mencintaimu tanpa satus selama 3 tahun ini, dan cukuplah bagimu untuk menanggung permasalahan hidup yang berat ini sendirian. Ada takdir yang harus segera kita laksanakan berdua”

tangis dan senyum kebahagiaan timbul dari wajahku, luluh sudah aku oleh kata-katanya dan aku sadar bahwa penyesalan selalu menghampiri orang-orang yang menyia-nyiakan cinta. Dan kugenggam tanganya dengan sekuat hatiku, dengan tulus kukatakan “ya kita kan melewati cerita cinta ini bersama, terimakasih atas kesabaran menungguku dan aku juga sangat mencintaimu dave”

Dengan cekatan tangannya menggendongku membuat semua orang tersenyum melihat tingkahnya dan kini aku sadar bagaimana kita kan melanjutkan hidup jika selalu melihat ke belakang. Jangan biarkan masa lalu melepas masa depan begitu saja. Melupakan masalah yang terjadi dan memfokuskan diri kepada hal-hal yang masih kumiliki dan sekarang bersama orang yang aku cintai, aku melewati setiap waktuku dengan kebahagiaan dan rasa syukur yang melimpah.