Di Bawah Langit Agustus (Part 1)

By On Sunday, March 5th, 2017 Categories : Cerita

Entah bagaimana aku harus memulai, sebagai seorang perempuan yang menyebut dirinya sebagai pengagum rahasia, sampai akhirnya saat itu tiba…

Jatuh cinta untuk sekian kalinya pada orang yang sama, membuat aku mengenal arti rindu yang tak semestinya. Mencintai makhluk ciptaan-Nya yang bernamakan laki-laki. Aku mengaguminya sebelum akhirnya aku sadar bahwa aku mencintainya. Laki-laki yang mempunyai paras tak terlalu menawan namun membuat hatiku tertawan. Laki-laki yang bertingkah menyebalkan namun selalu mengesankan. Laki-laki yang kukira baik namun nyatanya lebih baik dari yang kukira. Iya, dia adalah laki-laki yang kucintai selama satu tahun ini.

Menjadi secret admirer bukan perihal yang mudah, sungguh aku tak berbohong. Tentang bagaimana seseorang menaruh hati namun tak bisa mengungkapkannya. Awalnya memperhatikan diam-diam namun hal tersebut telah menjadi kebiasaan. Tentang merindu yang tak terbalas yang kemudian menjadi hobby yang diprioritaskan. Hal yang lumrah terjadi, namun aku yakin tak sedikit diantara para secret admirer yang bertahan dengan statusnya. Akan ada fase dimana perasaan kagum berkembang menjadi rasa sayang terhadap lawan jenis. Akan tumbuh rasa cemburu meski dia bukan milikmu. Termasuk aku.
Aku mengaguminya, dia adalah seseorang yang aku kenal lewat media sosial. Ya, aku termasuk berkepribadian introvert.

Tiga tahun lalu aku mengenalnya, laki-laki yang saat itu sedang disibukkan dengan skripsinya dan aku yang tengah mempersiapkan Ujian Nasional tingkat SLTA. Dia adalah orang yang ramah dan sungguh tingkahnya yang menyebalkan itu sudah dia tunjukkan di awal perkenalan kami. Aku tak pernah mengira bahwa pada akhirnya aku menjatuhkan hati pada orang seperti dia. Saat itu aku tak terlalu melirik dia, aku hanya ingin menambah teman. Mungkin di antara kalian pernah mengalami hal sepertiku, belum pernah bertemu namun bisa bercerita panjang lebar seperti tak ada ragu meski baru mengenal. Ya, dia membuatku ketergantungan akan sosok yang menampung keluh kesahku.

Entah sebab dan alasan apa aku merasa nyaman untuk menceritakan apa yang membuat dada ini sesak padanya. Meski sesi cerita hanya terhubung oleh handphone. Saran demi saran dia lontarkan meski kerap kali aku mengajukan keberatan namun entah malaikat bersayap putih darimana yang membuat aku menerima tiap masukan darinya. Dia membuat aku nyaman, dia seperti sosok kakak yang selama ini aku rindukan. Sosok yang mampu menjadikanku adik yang meminta ditenangkan. Dan sosok yang mampu membuat aku kecewa pada akhirnya. Dan aku tak pernah menyesal telah mengenalnya meski keadaan tetap menginginkan hubungan kami hanya sebatas adik dan kakak.

Adik dan kakak, klise memang. Adik yang mencintai kakaknya dengan menaruh harapan yang tak sewajarnya. Ya, aku adalah adik kelasnya. Tak kusangka dia satu SMP denganku. Kami pernah menimba ilmu di tempat yang sama dengan rentan waktu empat tahun. Percakapan itu terjadi.
“Lah kakak rumahnya daerah situ, jangan-jangan SMPnya di 12 ya?”
“Iya kakak alumni 12 haha”
“Wah berarti pernah diajar sama mario bross ya yang kalau gak bisa jawab atau jawabannya salah disuruh skotjump hahaha”
“Iya hahahaha”
Singkat cerita, sejak saat itu aku tahu bahwa ternyata kami satu alumni dan tinggal di daerah yang berdekatan.

Dan ternyata kami juga punya banyak kesamaan, dari yang sama-sama suka nonton Running Man (K-popers pasti tahu), pencinta jus alpukat (ini tahu dari hasil stalking twitter), dan sama-sama pernah berhubungan dengan seseorang yang beda keyakinan. Hal tersebut membuat aku semakin mudah mengeskplor percakapan kami, banyak yang dapat dijadikan bahan sharing. Meski kenyataannya aku yang lebih banyak nanya sehingga dia menyebutku “wartawan kejar setoran”. Walau aku telah nyaman, aku tak menaruh perasaan lebih padanya saat itu. Bahkan tahun kedua kami kenal pun tak pernah bertatap muka juga padahal rumah kami pun tak jauh. Sampai pada akhirnya…

Senin, 8 Juni 2015.
Itu menjadi pertemuan pertama kami. Dua hari sebelumnya dia memposting foto dengan terpasang alat infus. Aku lihat kolom komentarnya dia menyebutkan bahwa dia dirawat di RSSM Cibinong. Hari minggunya aku chat BBM dia.
“Kakak sakit?”
“Iya de”.
“Sakit apa kak?”.
“Awalnya tifus tapi pas hasil tesnya keluar ternyata DBD”.
“dirawat di mana kak?”.
“Di sentra de”.
“Sentra mana kak?”.
“Cibinong dek”.
“Ruang apa kak, aku mau jenguk haha”.
“Ruang anggrek kamar 312 (kalau tidak salah), ya udah ajak pacarmu sekalian de”.
“udah END, itu di lantai berapa kak?”
“Hahaha, di lantai 2”.
“Jam besuk kapan aja kak?”.
“Jam 5 sore sampai jam 7 malam”
“Oh ya udah”
“Besok aja de, sekarang kaka mau istirahat”
“Haha siapa juga yang mau sekarang, aku juga mau cari temen dulu”

Aku langsung BBM temenku semasa sekolah, Imeh. Aku bilang sama dia minta diantarkan jenguk teman. Sepulang kerja aku langsung jemput dia di kantornya dan kami langsung ke rumah sakit. Setiba di depan ruangan aku tidak langsung masuk, aku kebingungan. Aku akan bertemu pada seseorang yang sudah 2 tahun aku kenal, yang kubagikan cerita tentang kehidupanku. Di ruangan tersebut ada 4 tirai dengan 2 tirai yang tertutup, aku tak tahu dia di tirai yang mana. Kuputuskan untuk BBM dia tapi tak juga ada jawaban. Akhirnya aku tanya perawat, dia ada di tirai pojok kiri. Aku cerita sama Imeh bahwa aku tak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Dan ketika masuk pun, Imeh duluan bukan aku. Tapi syukurlah, dia mengenaliku. Mama dan kakaknya baik dan ramah, dia pun juga. Ada hal yang membuat aku terkekeh, ketika mamanya hendak menyuapi anggur dia enggan dan aku bilang seperti ini “Perlu aku suapin gak kak?” kami saling melihat dan mamanya seakan menyodorkan anggurnya ke aku tanda mengiyakan, dan aku refleks kaget dan bilang “enggak kok bu bercanda” ah malunya aku saat itu. Mamanya nanya sama aku “temen apa? Temen kuliah atau temen kantor?”, aku langsung menoleh ke dia “temen apa kak?”, dia jawab “temen ya temen”, kakaknya bersuara “temen BBM-an”. Itu awkward moment untukku.

Pada saat itu pun aku belum ada rasa bahkan mengagumi pun tidak. 27 Juli 2015, kami bertemu kembali di tempat yang sama. Sahabatku Fifi dirawat di rumah sakit yang sama, di ruangan yang sama dan kamarnya hanya berbeda satu kamar. Saat itu, aku dengannya janjian bertemu karena suatu hal. Aku baru tahu Fifi dirawat pun karena Leni, itu pun senin pagi. Aku berniat menjenguk Fifi, aku kabari pacarku Adit. Iya saat itu aku sedang berpacaran dengan mantanku semasa aku lulus SMP. Dia tak janji dapat menemaniku karena urusan kerjaan. Aku bilang sama Fifi bahwa aku akan menjenguknya bersama pacarku, dia, atau Leni. Sampai akhirnya pukul 15.30 aku PING!!! dia berkali-kali namun hanya ceklis. Sepuluh menit kemudian dia membalas.
“Eh iya sampe lupa de haha”
“Kaka sibuk gak?”.
“Enggak, kenapa emang?”.
“Temenin aku jenguk temen yuk di tempat kakak dirawat cuma beda satu kamar doang kok haha”.
“Oh ya udah”
“Ketemu di sana atau gimana kak?”.
“Ketemu di sana aja kali ya”
“Ya udah berarti aku langsung ya”
“Emang kamu darimana?”.
“Dari arah Citeureup”.
“Oh ya udah, kakak otw sekarang”

Aku senang bisa berjumpa dengannya lagi, namun sekali lagi saat itu aku belum ada rasa apapun. Sampai pada akhirnya 30 Agustus 2015. Aku terbangun dari tidurku karena mimpi. Mimpi yang kini baru kusadari menjadi mimpi terburukku. Andai saja aku tak membawa perasaanku pada mimpi tersebut, mungkin kini hatiku tak lagi patah. Disinilah awal diriku mengkukuhkan diriku sebagai secret admirer. Aneh memang, namun inilah kenyataannya. Aku bermimpi dia menyatakan perasaannya padaku. Percaya atau tidak, sejak hari itu aku mulai memperhatikannya diam-diam, rasa penasaranku macam api yang sedang membara. Biasanya aku selalu menceritakan padanya jika aku mimpi tentang dia, namun tidak untuk kali ini.

Minggu, 30 Agustus 2015.
Pertemuan ketiga aku dengannya dan sampai aku menulis ini aku belum pernah lagi melihatnya. Hari itu kami bertemu di gang rumahku tepat di jembatan sekitar jam 13.00. Aku memberinya hadiah atas timbal balik dia menghadiahiku jaket EXO, yang kini saat aku menulis ini jaket itu sering aku pakai, entah rindu atau apa aku hanya sedang ingin memakainya saja. Ah, itu sama sekali tak layak disebut hadiah. Aku bahkan tak membungkusnya, hanya berselimut plastik putih dimana aku membelinya. Sungguh dia begitu ramah dan baik. Tak heran bila dia sangat dekat dengan teman perempuannya.

Kini hanya tentang aku dan perasaanku. Perasaan yang tak bisa aku kendalikan. Perasaan yang tanpa mampu aku cegah, perasaan itu datang tanpa kata permisi. Hari-hariku dibaluti rasa ingin tahu yang begitu menggebu. Biasanya aku kuat untuk menahan perasaan semacam ini, namun tidak padanya. Aku terus berpikir bagaimana caraku berkomunikasi dengannya, dekat dengan dia tanpa harus menampakkan kecintaanku terhadapnya. Sampai akhirnya aku tak bisa lagi menahannya. Usiaku saat itu 19 tahun. Awalnya aku berpikir tuk bertahan dengan status secret admirer 1-2 tahun ke depan. Dia pernah berkata bahwa dekat dengan seseorang butuh waktu minimal satu tahun. Aku berpikir untuk mencoba satu tahun ke depan kalau memang tak ada respon masih ada tahun depannya. Toh aku berpikir jika aku menunggunya hingga 2 tahun, usiaku baru 21. Namun entah bisikan darimana, aku akan mengakhirinya.

Tekadku kuat, aku akan mengakhiri. Entah berakhir dengan bahagia atau kecewa yang aku dapat. Dengan menahan malu dan gengsi yang dulu kujunjung tinggi, aku mengatakan semua kepadanya. Tepat 27 Nopember 2015. Aku mengirim sebuah email untuknya, aku utarakan apa yang selama tiga bulan telah mengganggu pikiranku. Berusaha menetralisir guncangan demi guncangan yang terjadi dalam hati ini. Bahkan aku tak peduli dia akan cap aku perempuan seperti apa, bagiku itu berada di nomor sekian. Yang terpenting adalah aku lega, tak ada lagi beban yang kutopang demi melawan rindu. Meski apa yang aku terima pada akhirnya berujung kecewa.

Aku ingin bangkit, mencari celah cahaya untuk aku berdiri dengan tegak. Keputusanku tak semata-mata tanpa alasan. Beberapa hari itu aku mencoba mencari jawaban yang bisa kuterima dengan logika. Aku ingat sekali ketika aku bertanya apa salah jika seorang perempuan mengungkapkan perasaan terlebih dulu. Dia menjawab dengan enteng “kentut aja kalo ditahan sakit apalagi perasaan”. Dan ketika aku berkata “Tapi gak pernah komunikasi cuma bisa menceritakannya dengan Tuhan”, Lanjutnya “Gak pernah komunikasi tapi cerita sama Tuhan? Siapa tahu Tuhan denger terus gak sengaja ketemu di Alfamart beli teh pucuk terus bilang suka eh ternyata dia juga suka” ya ampun orang macam apa dia yang mudah mengatakan hal itu. Jawaban yang buat aku kesal namun membuat aku terkesan. Dia dapat menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan bahasa yang mudah untuk kumengerti dan dapat kuterima dengan logika.

Jika kalian di posisiku mungkin kalian pun akan rentan untuk menyukai sosok dia. Yang tak jarang membuat kesal namun itulah sisi dia yang membuat diri selalu ingin berkomunikasi dengannya seakan tak ingin cepat berlalu. Sosok yang supel, ya itulah dia di mataku. Perihal aku mengungkapkan rasa, seperti aku bilang pada akhirnya aku menerima kekecewaan. Kisahku harus berakhir bahkan sebelum dimulai. Dia membalas e-mailku 2 hari kemudian, itu pun karena aku berkata “ah pasti kakak belum cek email”. Ketika aku berkata demikian, aku dengan ragu mengirimnya video dengan puisiku di dalamnya. Video yang menyebutkan diriku sebagai secet admirer dia. Tepat jam 9 malam aku mengirimnya melalui akun whatsapp namun sinyal tak berpihak padaku, akhirnya beberapa saat kemudian aku ulangi dan berhasil terkirim. Aku menunggu deg-degan hingga aku tertidur. Dini hari itu aku terbangun, aku lihat ada balasan dari dia, namun sungguh aku tak sanggup untuk membacanya. Pagi ketika aku berangkat kerja, aku cerita dengan temanku dan akhirnya temanku yang membacanya. Balasnya seperti ini “Videonya bagus, cek email ya” dengan emot senyum pipi merah diakhirnya.

Detak jantungku berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Aku membuka email dengan ragu. Dibalasnya dengan isi “kayaknya gak cukup dibaca aja yak, tapi jangan dibales lagi yak de hehe”. Hanya dengan kalimat seperti itu saja berhasil buat aku lunglai. Aku mengunduh file yang dia kirim, inti dari surat tersebut “maaf dan terima kasih”. Mungkin kalian sudah bisa menduga maksudnya. Ya, aku perempuan yang saat itu telah dipatahkan hatinya. Yang dibuatnya takut untuk jatuh cinta atau tepatnya tak siap untuk jatuh lagi.

Tentang Adit pacarku yang sekarang sudah menjadi mantanku “lagi”. Kami putus tepat di hari kemerdekaan Indonesia, disaat rakyat Indonesia suka cita menyambutnya, tidak untukku saat itu. Akhirnya dia memutuskanku setelah menggantungkan hubungan kami. Bukan karena kedekatanku dengan pria lain, bukan sama sekali. Jika aku boleh jujur, aku tak terlalu patah hati, bahkan tak ada separuh dari lukaku karena menjadi secret admirer. Ini lah yang aku sesali, aku kembali padanya bukan karena murni aku sayang dia, namun karena aku sendiri. Kesendirian yang membuatku berani menjalin kasih setelah 4 tahun kami berpisah. Aku sedang sendiri dan dia yang memang pernah hadir datang lagi, aku sudah tahu bagaimana sifat dan wataknya jadi aku tak harus mengenal dan memahaminya dari awal lagi, pikirku saat itu. Picik sekali otakku, dan aku sungguh minta maaf jika kamu membaca tulisan ini, Aditya Pratama Putra.

“Yang pisah aja bisa balik lagi apalagi cuma lari, suatu saat pasti kembali cuma Tuhan yang tahu” kataku di pesan terakhir sampai akhirnya dia cuma membaca pesan dariku. Pesan berantai yang membuat aku terkekeh sendiri, sahut-menyahut aku dan dia di whatsapp. Setelah moment tersebut, niatku memang move on namun niat hanyalah niat, aku dibuat gagal untuk bangkit olehnya sampai satu tahun telah berlalu. Dia tetap seperti dia yang dulu, dia yang selalu meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku entah tentang apapun itu, tidak ada rasa canggung. Aku tak menutup hati untuk siapapun namun memang belum ada seseorang yang tepat untuk mengukir cerita dengan aku dan dia yang lain menjadi tokoh utamanya.